
“Sebaiknya kamu menjelaskan ini, LUCIEL DAWNBRINGER.”
Mendengar ucapan dari saudarinya, ekspresi Ciel tampak agak buruk. Pemuda itu hanya bisa tersenyum pahit sebelum menjawab pelan.
“Bisa kita bicarakan hal itu nanti?” tanya Ciel.
“Katakan. Siapa ibu putrimu ini? Gadis kecil ini berusia empat atau lima tahun. Itu berarti, kamu melakukannya lima atau enam tahun yang lalu.
Lima tahun yang lalu … kamu masih berusia 12 tahun! Pelayan yang mana? Katakan padaku.”
Melihat bagaimana Julia berkicau, sudut bibir Ciel berkedut. Dia mengalihkan pandangannya ke arah putrinya.
“Maaf, Eve. Papa sedang sibuk sekarang. Papa akan menemani kamu nanti, Okay?”
Eve kecil menatap Julia lalu kembali ke arah Ciel.
“Papa … selingkuh?”
Gadis kecil itu mengedipkan matanya dengan ekspresi polos. Tidak ada kemarahan atau semacamnya, hanya ada rasa ingin tahu dalam pertanyaannya.
“Pfftt …” Julia hampir tersedak. Dia menutup mulutnya, menatap Ciel sambil menahan tawa.
Sedangkan ekspresi Ciel berubah menjadi gelap.
“Siapa yang mengajari kamu, Eve?”
Memiringkan kepalanya dengan ekspresi polos, gadis itu tampak ragu.
“Apakah Eve salah, Papa? Kata Clark, kalau ada laki-laki yang pergi bersama dengan perempuan lain padahal sudah punya istri … itu selingkuh. Begitu pula sebaliknya?”
“...”
Kadal konyol … aku akan membalasmu untuk yang satu ini! AKU BERJANJI!
Ingin mengumpat, Ciel menahan diri di depan Eve. Dengan senyum lembut di wajahnya, dia menjelaskan perlahan.
“Itu tidak sepenuhnya benar atau salah, Eve. Namun sekarang sangat salah karena Papa sedang bicara dengan kakak perempuan Papa. Berarti … itu Bibi kamu, Eve.”
“Eh? Aku … Bibi?”
Julia yang awalnya menahan tawa langsung tercengang. Menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi yang tak terlukiskan. Melihat gadis kecil yang menatapnya dengan ekspresi ‘mengerti’, Julia langsung menatap adiknya dengan penuh kebencian.
“Jadi begitu …” Eve kecil mengangguk dengan ekspresi polos. “Kalau begitu Eve tidak akan mengganggu Papa. Bye bye Papa … Bibi juga.”
Melihat gadis kecil yang keluar dari ruangan, Ciel dan Julia melambaikan tangan mereka. Bedanya, Ciel memiliki senyum lembut di wajahnya. Sedangkan Julia, terlihat senyum yang dipaksakan dan suram di wajahnya.
Setelah Eve kecil pergi, Julia menatap Ciel dengan ekspresi penuh penghinaan.
“Kamu harus menjelaskan semuanya …. LU-CI-EL.”
...***...
__ADS_1
Satu minggu sebelum musim semi berakhir.
“Aku tidak percaya bahwa kita akan pergi ke Kerajaan Natrace.”
Duduk di ruang tamu, sosok gempal menatap Ciel dengan ekspresi kagum. Di sebelahnya, tampak seorang lelaki tampan yang tenang. Jubahnya menutupi sebagian tubuhnya, lebih tepatnya … menutupi lengannya yang hilang. Ya, mereka adal Ferel Guldebell dan Savian Raevern.
Selain Ciel, Savian, dan Ferel … masih ada satu orang lagi di dalam ruangan. Dia adalah Clark. Sosok dengan tubuh yang lebih besar dibandingkan lainnya, tetapi memasang wajah konyol di wajahnya.
“Saya benar-benar tidak menyangka anda akan menjadikan seorang ksatria hebat dari ras Dragonborn sebagai bawahan, Pangeran Luciel.”
Mendengar ucapan Savian, sudut bibir Ciel berkedut. Sementara itu, Clark yang sebelumnya melamun langsung menatap ke arah Savian.
“Anda dengar itu, Tuan? Dia benar-benar memanggilku ksatria hebat.” Clark berbisik ke Ciel dengan nada bangga.
“...”
Kamu? Ksatria hebat? Bercermin dulu, wahai bawahanku yang baik … bercermin dulu!
Ciel mengeluh dalam hatinya, tetapi hanya memandang Clark dengan tenang. Makna dalam tatapan itu sangat jelas. Ya, pemuda itu menyuruh Clark diam.
“Kamu terlalu memujinya, Savian. Jangan berlebihan, kalau tidak … dia akan besar kepala.” Ciel berkata santai.
“Namun yang saya ucapkan benar. Dibandingkan saya yang tidak berbakat atau Ferel, Mr Clark memang lebih hebat. Terlihat masih muda, tetapi sudah berada di level 4 (akhir).
Tentu saja, Anda adalah pengecualian … Pangeran Luciel.”
Mendengar pujian Savian, Ciel hanya bisa menghela napas panjang. Jika orang itu tahu bahwa bawahan setia yang langsung di bawahnya minimal berada di level 4 (awal), orang itu pasti akan pingsan karena terkejut. Ciel tidak berniat pamer. Hanya menggeleng ringan dengan senyum di wajahnya.
Memang, bakat Clark sangat baik. Namun … ada beberapa yang lebih ‘berbakat’ daripada dirinya.
“Tentu saja, Pangeran Ciel. Kami telah bersiap dengan baik ketika mendapat surat undangan dari anda.” Ferel berkata dengan ekspresi bersemangat. “Melihat bagaimana para bangsawan itu iri sangat menyenangkan.”
“Jangankan bangsawan lain, saudara-saudara saya juga iri. Di antara beberapa putra Duke Raevern, hanya dua orang yang datang ke Kerajaan Natrace. Tentu saja, seharusnya hanya satu.
Saya bisa datang juga karena kebaikan Pangeran Luciel.”
“Ya. Aku akan membanggakan hal itu kepada sepupu, teman, dan orang-orang di sekitarku.” Ferel menambahkan dengan ekspresi bangga.
“Kalau begitu kita akan berangkat besok. Untuk hari ini, kalian bisa beristirahat terlebih dahulu.”
“Baik, Pangeran Luciel!” jawab keduanya secara bersamaan.
Melihat keduanya pergi ke penginapan kota dengan kereta kuda, Ciel yang duduk di sofa langsung mengalihkan pandangannya ke arah Clark.
“Apakah sisikmu gatal, Clark?”
Mendengar ucapan Ciel, ekspresi Clark langsung berubah dari sombong menjadi pucat. Dia tampak ketakutan.
“Tidak, Tuan. Saya telah menjaga jarak dari Nona Muda Eve, kenapa anda masih ingin memukuli saya?”
Kepala Clark mati rasa ketika melihat tatapan dingin Ciel.
__ADS_1
“Siapa juga yang menyuruhmu untuk mengucapkan omong kosong di sekitar Eve.” Ciel berkata dingin. Mengingat kejadian sebelumnya, pemuda itu menghela napas panjang.
“...”
Melihat Ciel dalam suasana hati yang buruk, Clark hanya bisa diam. Tidak berani membantah, takut akan dipukuli dan dilempar dari atas kastil dengan sayap terikat.
“Kamu kembali bertugas,” ucap Ciel santai. Namun langsung melirik Clark dengan dingin. “Ingat … jangan terlambat.”
Hampir menggigit lidahnya sendiri karena gugup, Clark memberi hormat.
“Baik, Tuanku!”
Keesokan harinya.
Ketika cahaya mentari pagi menyingsing, Ciel yang menatap cermin dengan memakai pakaian formal menghela napas panjang. Dia menoleh untuk menatap tunangannya sebelum bertanya pelan.
“Bukankah dalam perjalanan aku tidak perlu memakai pakaian resmi seperti ini, Ariana?”
“Tidak, Sayang. Anda harus memakainya. Kecuali anda menyamar menjadi Gin, anda tidak diizinkan memakai pakaian seperti itu ketika bepergian. Lagipula … model yang anda pakai sudah yang paling ringkas dan sederhana.”
“Tapi ini masih terlalu mencolok,” gumam Ciel.
Apa yang Ciel pakai adalah pakaian bangsawan seperti yang dia pakai ketika pergi ke pesta Keluarga Roschild sebelumnya. Dia kemudian melihat beberapa wanita yang berada dalam ruangannya. Pemuda itu kemudian memberi mereka pelukan hangat dan kecupan lembut.
“Kami akan merindukan anda, Tuan.” Para selir yang cantik berkata bersamaan.
“Aku juga akan merindukan kalian.”
Ciel tersenyum lembut. Pemuda itu kemudian merasakan pakaiannya di tarik. Ketika melihat ke bawah, dia melihat gadis kecil yang menatapnya dengan manik bulat. Tampak begitu enggan.
“Papa! Apakah kamu tidak bisa membawa Eve dan Mama ikut, Papa?”
Mengelus rambut gadis kecil itu dengan lembut. Dengan ekspresi menyesal, Ciel menjelaskan.
“Maafkan Papa, Eve. Ini tugas resmi, jadi Papa tidak bisa menolaknya.”
Mendengar ucapan Ciel, Eve memeluk kaki ayahnya itu dengan ekspresi enggan. Ciel mengangkat gadis kecil itu lalu menggendongnya.
“Papa akan pulang dengan banyak oleh-oleh. Setelah pulang, Papa akan membawa kamu pergi liburan. Bagaimana?”
“Sungguh?” Eve menatap Ciel dengan ekspresi polos.
“Tentu saja.”
“Kalau begitu Eve akan menunggu Papa pulang.”
“Gadis pintar.”
Setelah berpamitan, Ciel menatap para wanitanya dan putrinya itu lalu tersenyum.
“Kalau begitu aku berangkat.”
__ADS_1
Menginjakkan kaki keluar dari bangunan utama Kastil Black Lily, perjalanan lain Ciel akhirnya dimulai.
>> Bersambung.