Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Tiga Warna


__ADS_3

Menyadari bahwa kedua belati di tangan lawannya adalah senjata artifak, ekspresi Ciel menjadi agak rumit. Meski setelah diperhatikan kedua belati itu lebih buruk daripada tombak di tangannya, tetap saja, dia yang seorang pangeran bahkan tidak memiliki artifak miliknya sendiri.


Dua belati itu tampak sedikit lebih besar daripada pisau dapur, tetapi entah kenapa Ciel merasa bahwa itu adalah barang bagus.


Tidakkah ada di antara kalian yang memiliki senjata artifak berbentuk pedang? Ya … setelah tombak, dua belati.


Aku tidak keberatan untuk menerimanya.


Sosok Ciel menghilang dari tempatnya dan muncul di depan Fito sambil mengayunkan tombak yang diselimuti energi es yang mengerikan.


BLARRR!!!


Ledakan keras terjadi. Dari kepulan asap, terlihat sosok yang melesat keluar dan mendarat agak jauh. Jubah yang dia kenakan compang-camping. Pemuda itu mendecak dengan ekspresi tidak puas.


Ketika kepulan asap mereda, sosok Ferdo dan Fito yang tidak terluka terlihat. Melihat keduanya entah kenapa membuat Ciel merasa agak jengkel.


Resonance … skill yang menyebalkan.


Ferdo dan Fito sama-sama memiliki dua skill. Salah satu skill anehnya sama, dan nama skill itu adalah Resonance. Sebuah skill yang bisa membuat keduanya saling mengerti dan memahami. Mungkin … melakukan semacam telepati.


Belum lagi, skill yang lainnya lebih menyebalkan. Ferdo, dia memiliki skill bernama Blaze Dragon. Sementaran Fito, dia memiliki skill bernama Frost Dragon. Selain membuat keduanya mampu menggunakan sihir api atau es yang kuat, kedua orang itu memiliki fisik yang teramat kokoh.


Ciel melepas topengnya. Pemuda itu kemudian membuang topeng serta jubahnya. Di depan tatapan terkejut Ferdo dan Fito, level pemuda itu naik dari level 5 (awal) ke level 6 (awal). Kedua orang itu kemudian saling memandang.


“Jadi tebakan Kakek Will benar, Fito. Orang gila itu telah mati ketika berusaha menyelamatkan si Mumi. Dan yang mebunuhnya adalah Pangeran …”


“Pangeran Lucy, Ferdo.”


“Ya! Pangeran Lucy.” Ferdo mengangguk. “Kamu mengingatnya dengan baik, Fito.”


“...”


Melihat bagaimana Ferdo dan Fito masih begitu santai, Ciel mengangkat sudut bibirnya. Dia teringat pada dirinya sendiri ketika melawan Aragil. Karena terlalu santai … pemuda itu akhirnya kalah.


Ciel mengembalikan tombak miliknya ke ruang penyimpanan. Meski itu senjata yang kuat, dia masih tidak terlalu cocok dengan tombak. Sebagai gantinya, dia mengeluarkan dua pedang.


Mencengkeram erat pedang di setiap tangannya, suhu di sekitar Ciel mulai berubah tidak menentu. Pedang di tangan kanannya diselimuti dengan kobaran api hitam. Sedangkan di tangan kiri pemuda itu, mata pedang dilselimuti dengan kabut dingin.


“Bukankah kalian menyukai es dan api?” Ciel menyeringai.

__ADS_1


Mendengar ucapan Ciel, ekspresi konyol di wajah Ferdo dan Fito digantikan dengan seringai bahagia. Seringai penuh keinginan akan pertarungan. Awalnya … mereka hanya sedikit tertarik dengan pertahanan Ciel.


Keduanya tidak menyangka, ternyata Ciel adalah sosok yang begitu kuat.


“Ini akan menyenangkan, FITO!” teriak Ferdo.


“Benar … kamu sangat benar, FERDO!”


Belati di tangan keduanya dilapisi dengan sihir api dan es. Tidak hanya itu, sebagian tubuh ‘Draconic’ mereka berdua mulai menyala dengan warna merah gelap dan biru cerah.


“JANGAN KECEWAKAN KAMI, PANGERAN LUCY!!!” teriak keduanya dengan ekspresi gila.


Tiga orang melesat ke depan menjadi garis cahaya. Cahaya merah gelap dan biru cerah bertabrakan dengan cahaya hitam legam.


BLAAARRR!!!


Tanah langsung berguncang hebat bagai sedang gempa. Awan-awan yang melayang di langit langsung terhempas dan sirna.


Mendengar suara ledakan hebat dan guncangan dahsyat itu membuat orang-orang dalam kota maupun medan perang berhenti untuk melihat ke arah tertentu. Khususnya para ksatria di medan perang.


Pertarungan antaran Charles dan Andrew saja sudah membuat banyak kerusakan dan kekacauan yang mengejutkan. Menatap ke arah sumber ledakan, mereka tidak bisa membayangkan pertempuran macam apa yang sedang terjadi.


Kepulan asap hebat terlihat di mana-mana. Pada saat Ferdo dan Fito mengamati sekitar, mereka tidak menemukan keberadaan Ciel.


“Lihat itu, Ferdo!”


Mendengar ucapan saudaranya, Ferdo mendongak. Dia melihat kelopak indah berwara hitam yang tak terhitung jumlahnya melayang di sekitar mereka. Ekspresi Ferdo langsung berubah ketika merasakan sihir api di setiap kelopak bunga.


Pada saat itu, suara dingin dan tenang terdengar.


“Sen no Hana … Black Sakura!”


Jutaan kelopak bunga langsung berputar mengelilingi mereka, berubah menjadi tornado api yang membumbung ke langit.


Bruk!


Ferdo menoleh ke arah saudaranya yang jatuh berlutut. Selain karena panasnya api, udara di dalam tornado benar-benar terbakar. Hal yang membuat keduanya agak kesulitan bernapas. Khususnya Fito yang tidak memiliki kendali atas sihir api.


Pupil Ferdo menyusut. Tubuhnya diselimuti api merah. Satu lagi sayap muncul di sisi kiri tubuhnya. Namun bukan sayap asli, melainkan terbuat dari api. Dia mengangkat belati tinggi-tinggi.

__ADS_1


Belati di tangan Ferdo menyala penuh dengan warna merah yang cemerlang. Memicu kekuatan garis darah dan sihir dalam tubuhnya, pemuda itu berteriak keras ketika mengayunkan belati secara vertikal.


“RAGE OF BLAZING DRAGON!!!”


Sosok naga barat berwarna merah yang seluruh tubuhnya terbuat dari api muncul lalu menabrak dinding tornado api hitam dengan keras.


BLAAARRR!!!


Suara ledakan keras dan guncangan hebat kembali terjadi. Kepulan asap yang lebih tebal menutupi langit dan bumi.


Dari kepulan asap, cahaya berwarna biru berkedip. Melihat sosok cahaya itu menuju ke arahnya, ekspresi Ciel menjadi serius.


Sosok Fito yang memiliki tambahan sayap es berwarna biru terang keluar dari kepulan asap sambil mengayunkan belati yang diwarnai cahaya biru secara horizontal.


“RAGE OF FROZEN DRAGON!!!”


Melihat naga barat berwarna biru yang seluruh tubuhnya terbuat dari es melesat ke arahnya dengan kecepatan luar biasa seolah ingin segera menelan dirinya, mata Ciel menyipit.


Aura tenang tetapi ganas muncul di tubuh Ciel. Sosoknya tiba-tiba menghilang dan muncul di depan naga es sambil mengayunkan pedangnya.


“Sen no Hana … Blood Saxifrage!”


BLAAARRR!!!


Ledakan kembali terjadi. Hal itu membuat orang-orang di kota dan di medan perang merinding. Bahkan merasa kulit kepala mereka mati rasa. Benar-benar tidak bisa membayangkan pertempuran antara para monster itu.


Kepulan asap mereda. Padang rumput dan hutan kecil yang subur benar-benar sirna. Dalam area yang tidak lebih sempit dari sebuah kota, semuanya diwarnai hitam. Retakan dan lubang terlihat di mana-mana.


Tidak hanya itu, pemandangan magis di mana sebagian tanah terbakar dan sebagian membeku juga bisa terlihat di sana.


Setelah kepulan asap benar-benar sirna, terlihat tiga sosok yang berdiri di jarak yang saling berjauhan. Tubuh Ferdo dan Fito penuh luka, mereka terlihat lelah dan gemetaran.


Ciel juga tidak terlihat baik. Meski tubuhnya lebih kuat karena potion dari kristal Behemoth, seluruh pakaiannya compang-camping. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Meski memiliki cadangan mana yang banyak, menggunakan serangan semacam Sen no Hana berturut-turut membuat pemuda itu kelelahan secara mental.


Ketika orang itu saling memandang. Napas mereka sudah menjadi tak karuan. Rasa sakit dan lelah menyerang tubuh mereka. Namun, mata ketiga orang itu masih terlihat cerah. Itu karena …


Tidak satu pun dari mereka ingin mengakui kekalahan!


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2