
“Aku akan mengingat semua nasihatmu, Pangeran Luciel.”
Melihat ekspresi serius Savian, Ciel mengangguk ringan. Dia tidar terlalu memperdulikan hal semacam itu. Bahkan jika seluruh bangsawan South Duchy menyerangnya, pemuda itu masih memiliki cara untuk mengatasi mereka semua.
“Ngomong-ngomong … apakah pelayan dilarang mengikuti pesta?” tanya Ciel.
“Anda pasti bercanda, kan? Baik di lingkaran atas atau bawah bangsawan, tetap saja sama. Para pelayan dilarang untuk ikut pesta.” Ferel berkata santai.
“Ya. Namun Arla adalah kasus khusus,” ucap Savian.
“Maksudmu?” tanya Ciel heran.
“Itu … Arla adalah selirku,” ucap Savian agak malu.
Arla yang biasanya tampak tegar di belakang Savian juga menunduk dengan rona merah di pipinya. Ciel langsung mengarahkan skill ‘Eye of The Lord’ ke arah Arla. Pemuda itu sedikit terkejut ketika melihat Arla telah naik ke level 4 (menengah). benar-benar menyusul Shana yang telah dia sembuhkan dan latih.
Tidak apa-apa. Elena, Isabella, Asterious, Jean, dan Clark … mereka akan segera naik ke level 4 (akhir).
Menurut Ciel, naik level itu tidak sesulit yang orang-orang katakan. Ada dua syarat utama. Pertama, memiliki bakat yang baik. Terakhir, memiliki cukup uang untuk terus memasok nutrisi, ramuan, dan bahan-bahan berharga untuk meningkatkan kekuatan. Ya, bagi seorang Pangeran dari kekaisaran besar sekaligus pemilik skill Eye of The Lord … itu memang tidak sulit.
Hanya saja, jika orang lain tahu apa yang Ciel pikirkan, mereka akan mengutuk keras pemuda itu. Lagipula, tidak semua orang memiliki skill overpower dan keunganan yang banyak semacam itu.
Aku harus bersyukur karena terlahir di tempat dan posisi yang begitu nyaman.
Ciel mengangguk ringan dengan ekspresi puas. Melihat Savian yang malu, dia mengangkat sudut bibirnya.
“Selamat, Savian. Tidak menyangka kamu setegas itu.” Ciel terkekeh sambil mengangkat cangkir berisi anggur sebagai penghormatan.
“Terima kasih, Pangeran Luciel.” Savian juga mengangkat cangkir miliknya lalu meminum anggur bersama dengan Ciel sebagai balasan.
“Tetap saja, itu aneh.” Ferel yang kelihatannya cukup mabuk mulai mengoceh. “Bukankah itu aneh? Seorang budak menjadi selir? Kenapa juga kamu harus melakukannya?”
Mendengar ucapan Ferel, Arla tampak sedikit pahit. Tatapannya agak sedih, tetapi tidak menyangkat karena apa yang Ferel katakan itu benar.
__ADS_1
“FEREL!” Savian berseru, marah karena sahabatnya sendiri menghina selirnya.
“Apa? Bukankah yang aku katakan itu benar?” Ferel sama sekali tidak marah. Membalas dengan santai. Pemuda itu lebih kuat daripada Savian, jadi dia tidak takut.
“Ya … apa yang Ferel katakan benar.” Ciel menambahkan.
“Pangeran Ciel, anda …”
“Di mata banyak bangsawan, menikahi seorang budak itu salah. Itu memang benar. Hanya saja, kedua selirku (Camellia dan Elena) … mungkin akan menjadi tiga (Isabella)?” Ciel mengelus dagunya. “Ya. Mereka semua adalah budakku sendiri. Mungkin aku akan menikahi lima budak dan menjadikan mereka sebagai selir? Siapa tahu.”
Ferel yang setengan mabuk langsung terbangun, menatap Ciel dengan ekspresi luar biasa. Bukan hanya dia, setiap orang dalam ruangan pribadi itu menatap Ciel seolah sedang menatap binatang langka yang hampir punah dari dunia. Benar-benar merasa unik, agak aneh, sekaligus takjub.
“Terima kasih karena mencoba menghibur saya, Pangeran Ciel. Namun-”
“Siapa yang menghiburmu? Itu kenyataan. Tanya saja pada Shana. Bukankah itu benar, Shana?”
Mendengar ucapan Ciel, Shana mengangguk ringan. Hal itu membuat Ferel dan Savian terdiam. Sebagai teman baru Ciel, selain sikap malas, kejam, dan tak acuh Ciel … mereka belum melihat sisi aneh Ciel itu.
“K-Kenapa anda menikahi budak, Pangeran Ciel?”
“...”
Tidak ada yang bisa berkata-kata. Pemikiran Ciel mungkin tidak salah. Hanya saja, itu terlalu berlebihan.
Sebagai reinkarnator sekaligus Pangeran, Ciel telah melihat banyak bahaya yang mengelilinginya sejak kecil. Itu membuatnya berpura-pura menjadi tidak berguna. Selain berpura-pura, pemuda itu mengembangkan sikap aneh. Dia agak terlalu berhati-hati dan curiga dengan segala hal. Agak berlebihan bahkan seperti paranoid.
“Mendengar apa yang anda katakan, saya malah mengingat seseorang.” Savian menggeleng ringan.
“Siapa?” Ciel melirik dengan curiga.
“Helena Roschild. Dia adalah putri Marquis Roschild. Salah satu dari tiga gadis paling cantik di South Duchy dalam generasi yang sama.”
“Memangnya ada apa?” Ciel memiringkan kepalanya.
__ADS_1
“Anda tahu kenapa penyerangan terhadap Keluarga Bathory bisa dimulai?”
“Jasa Marquis Roschild, kan?” Ciel menjawab dengan ekspresi tak acuh.
“Iya. Jasa Marquis Roschild untuk mencari bukti dan informasi. Anda tahu bagaimana dia melakukannya?” Savian menatap lekat mata Ciel. “Marquis Roschild menggunakan kecantikan putrinya untuk memikat putra Marcus Bathory. Setelah tergoda, memaksa pemuda itu mengatakan semua rahasia.”
“Bangsawan di bawahnya sendiri mengintai untuk mengambil kursi.” Ciel mendecak tidak puas. “Dari kejadian itu, kamu tahu yang harus dilakukan, Savian?”
“Tentu saja, Pangeran Ciel. Saya tidak akan membiarkan ayah terjebak oleh muslihat orang-orang itu.”
“Bagus.” Ciel mengangguk ringan.
“Bukankah itu tidak bisa disangkal? Lagipula, Nona Helena itu sangat cantik. Jika itu aku … aku juga tidak bisa menolak godaannya.” Ferel yang banyak minum dan semakin mabuk berkata. “Gundukan seperti gunung mempesona, pinggang ramping, kulit putih seperti salju, bibir merah muda seperci ceri, suara yang merdu. Membayangkan bagaimana ketika menaklukannya … bukankah itu membuat bersemangat?”
“...”
Semua orang terdiam. Jika Ciel itu paranoid, Ferel itu adalah sosok yang selalu mengutamakan makanan dan wanita. Ya … sikap yang tidak kalah buruk daripada sikap Ciel.
Sementara yang lain diam, Ciel tiba-tiba berkata.
“Bukankah kamu terlalu sembrono? Bagaimana kalau dia mengkitamu seperti sapi, mulai membedah perutmu ketika kamu masih hidup lalu memaksamu mengakatan seluruh rahasia? Kamu tidak memikirkan itu?”
“Kamu berlebihan, Pangeran Ciel. Nona Helena itu sama sekali tidak kuat dan rapuh. Dengan kekuatanku, aku dengan mudah-”
“Bagaimana jika dia memasukkan racun ke dalam anggurmu? Membuatmu sekarat terlebih dahulu sebelum melakukan itu.”
“...”
Ferel terdiam. Karena mabuk, dia tidak bisa berpikir dengan jernih. Hanya menatap linglung dan bingung apakah harus setuju dengan Ciel atau tidak.
Sedangkan Savian, dia jelas tidak setuju dengan Ciel. Apa yang pangeran itu pikirkan benar-benar agak berlebihan. Kekhawatiran yang tidak terlalu mendasar. Sebab, dalam lingkaran bangsawan pun masih ada aturan. Jika membunuh tanpa pandang bulu sementara orang yang dibunuh tidak bersalah … itu sama dengan menggali kuburannya sendiri.
Melihat Ciel yang begitu serius, sudut bibir Savian bergerak-gerak. Ada sebuah pertanyaan di kepalanya tetapi tidak bisa diucapkan.
__ADS_1
Pangeran Luciel, pengalaman apa yang kamu alami sehingga bisa begitu paranoid? Itu benar-benar membuat saya penasaran!
>> Bersambung.