
Melihat banyak musuh yang mengejarnya, sudut bibir Ryo berkedut. Dia tidak menyangka akan mempercayai sosok pangeran yang tidak bisa diandalkan itu. Dalam hatinya, pemuda itu cukup menyesal.
Melarikan diri sambil dikejar banyak ksatria berkuda, Ryo ingin mengeluh. Meski sebagian dari mereka adalah iblis level 2 dan level 3, tetap saja, dia memiliki mana yang terbatas untuk melawan musuh. Lagipula, tidak semua iblis dilahirkan dengan skill curang dan mana yang begitu banyak seperti Ciel.
Sadar kalau penyihir di bagian belakang musuh mulai melantunkan mantra, ekspresi Ryo menjadi lebih serius. Berhenti berlari, dia langsung mengulurkan dua tangan ke depan dengan gerakan menahan. Lingkaran sihir muncul di depan kedua telapak tangannya.
“Water magic … Black Water Barrier.”
Air hitam tiba-tiba muncul dari tanah bersalju, membentuk sebuah bola hitam di sekitar Ryo. Pada saat itu juga, sihir semacam bola api, tebasan angin, dan beberapa sihir kelas rendah menabrak barrier. Namun ekspresi pria itu begitu tenang.
Alasannya sederhana. Sihir sepele semacam itu … tidak mampu menembus pertahanannya.
Setelah hujan sihir reda, Ryo langsung menghilangkan barrier dan berlari ke arah bukit batu. Tempat di mana ksatria harus meninggalkan kuda mereka.
Memang itu pilihan yang tepat. Para ksatria akhirnya harus turun dari kuda untuk mengejar Ryo yang lari ke daerah bukit batu. Namun saat itu, Ryo tiba-tiba merasakan perasaan krisis.
Menoleh ke arah tertentu, Ryo melihat sosok lelaki tua dengan janggut panjang berdiri di dekat gerbong kereta sambil mengarahkan tongkat sihir sepanjang dua meter di tangannya ke arahnya. Lingkaran sihir besar berwarna merah menyala muncul di ujung tongkat sihir.
Melihat itu, Ryo mengeluh dalam hati.
Oh … yang benar saja.
“Water magic … Black Water Barrier.”
Tahu tidak bisa melarikan diri, Ryo langsung mengeluarkan sihir air berupa barrier hitam. Kali ini bukan satu lapis, tetapi tiga lapis. Namun, ekspresi di wajah orang itu masih sangat serius.
Dari lingkaran sihir besar, muncul sosok elang raksasa bersayap empat yang seluruh tubuhnya terbuat dari api merah menyala. Meski besar, kecepatan elang api sama sekali tidak lambat. Dalam beberapa napas, sihir itu sampai di depan Ryo.
Penyihir level 5 … terkutuk!
...***...
BLARRR!!! BLARRR!!!
Ciel membuka matanya. Mendengar suara ledakan keras dan tanah yang berguncang, pemuda itu menguap sambil menggosok matanya.
__ADS_1
“Jam berapa ini? Begitu berisik.”
Seolah menyadari sesuatu, Ciel langsung bangkit dari tempat tidurnya dan keluar tenda. Namun ketika hendak pergi, dia tiba-tiba berhenti.
Kemas tenda dulu, jangan boros meninggalkan barang mahal ini.
Jika Ryo tahu apa yang Ciel lakukan setelah bangun tidur, dia pasti sudah muntah darah. Daripada segera menyelamatkan rekannya yang mungkin melawan lebih dari seratus musuh, pemuda itu benar-benar mengemasi barang-barang di tenda dengan santai.
Beberapa menit kemudian, Ciel melihat tempat kosong yang awalnya digunakan untuk mendirikan tenda dengan puas.
“Bagus. Sudah dikemas dengan baik.”
Dalam beberapa menit sebelumnya, Ciel merasakan tanah berguncang dan mendengar ledakan demi ledakan. Bukannya cemas, pemuda itu tampak begitu santai.
“Ksatria yang dibimbing ayah … harus sedikit tahan lama, kan?”
Apabila Ryo mendengar kalimat itu, dia pasti sangat menyesal telah mengikuti pangeran yang tidak tahu diri itu. Lebih baik dirinya pergi ke medan perang dan mati secara terhormat. Daripada berpura-pura menjadi bandit kecil yang bisa mati kapan saja tetapi tidak dikenang jasanya.
Ciel kemudian segera bergegas ke sumber suara. Ketika mendekat, Ciel akhirnya melihat pemandangan luar biasa.
Dari atas bukit, Ciel melihat ke bawah. Di sana terlihat sosok ksatria tampan dengan armor dan pedang hitam yang melawan banyak musuh. Dengan ayunan pedangnya, gelombang air hitam seperti sedang menari di tangannya. Jelas, itu salah satu teknik pedang yang digabungkan dengan sihir air.
Akan tetapi, ksatria itu langsung berdiri dan menyambut serangan demi serangan ksatria yang mengepung dan mulai memojokkannya.
Melihat itu, Ciel memegangi dagunya dengan ekspresi berpikir.
Bukankah itu terlalu keren? Bukankah itu mirip pertarungan putus asa yang dialami protagonis?
Pada saat Ciel berpikir, teriakan Ryo terdengar. Ksatria hitam itu memuntahkan seteguk darah sambil terus bertarung dengan gaya keren dan luar biasa. Mendengar suara Ryo, Ciel baru sadar.
“Aku hampir lupa. Aku di sini bukan untuk menonton.”
Seolah menunggu sesuatu, mata Ciel terlihat memancarkan cahaya misterius.
Pada saat itu, serangan sihir besar berbentuk elang api bersayap empat kembali meluncur ke arah Ryo. Orang itu memegang pedang dengan kedua tangannya. Selain barrier di sekelilingnya, dia sudah menyiapkan serangan pedang untuk menahan sihir itu.
__ADS_1
Ketika sihir sampai di depannya, tiba-tiba lingkaran sihir besar muncul di tanah. Kemudian, sosok tembok es setinggi belasan meter muncul. Elang api bersayap empat dan dinding es bertabrakan, membuat ledakan keras. Tanah bergetar dan asap mengepul menutupi penglihatan orang-orang.
Asap mulai reda, pada saat itu, siluet muncul secara tiba-tiba. Berdiri di depan Ryo, dia berdiri tegak seolah tak bisa dirobohkan.
Pada saat asap hilang sepenuhnya, sosok itu menampakkan wajahnya. Pemuda tampan berambut perak dengan pakaian dan jubah dingin serba putih dengan garis hitam serta beberapa ornamen emas. Di tangannya, sebuah tombak yang tampak luar biasa terlihat.
“Iblis level 5 (awal) semuda itu …” Lelaki tua yang berdiri di dekat gerbong kereta tampak serius. “Siapa yang mengirim dirimu!”
Mengabaikan orang-orang yang waspada atau lelaki tua yang menanyai dirinya, Ciel menoleh ke belakang. Pemuda itu menatap Ryo yang bisa dibilang babak belur dengan ekspresi yang bisa dibilang … sok keren.
“Maaf, aku terlambat.”
Ciel berkata dengan ekspresi cool di wajahnya. Menirukan beberapa tokoh dalam cerita yang dia baca di kehidupan sebelumnya. Merasakan bagaimana menyelamatkan rekan pada saat kritis atau semacamnya, dia merasa agak bangga. Namun bukan rasa terima kasih yang dia dengar, tetapi malah keluhan Ryo.
“Kamu boleh bertindak keren. Namun … paling tidak cuci wajahmu setelah bangun tidur!”
“...”
Lokasi perang langsung sunyi. Suasana menjadi agak canggung. Hanya suara angin dingin berembus yang terdengar.
Memang, jika diperhatikan, wajah Ciel tampak kusam. Meski tidak ada air liur atau semacamnya, pemuda itu memiliki wajah seperti orang bangun tidur. Bahkan, matanya terlihat masih sedikit mengantuk.
“Anu … kamu tahu, kan? Kita menunggu agak lama, salju itu agak dingin. Jadi berada dalam tenda hangat … ketiduran itu wajar, kan?”
Ciel tersenyum minta maaf. Melihat Ryo yang babak belur seperti itu, dia merasa tidak enak. Dia pura-pura batuk.
“Ketika kembali, aku akan mentraktirmu sup ayam dengan rempah. Jadi maafkan aku, okay?”
Melihat bagaimana sosok yang keren, misterius, dan kuat yang tiba-tiba muncul langsung merubah wajahnya … semua orang terdiam. Mereka merasa sedang melihat dua orang yang berbeda.
Sup ayam dengan rempah … bahkan itu tidak berharga satu koin emas!
Melihat hidupnya yang dalam bahaya lalu mendengar bagaimana cara Ciel minta maaf, Ryo bingung harus menangis atau tertawa. Namun melihat ekspresi di wajah pemuda tampan itu, Ryo tidak bisa tidak mengeluh dalam hati.
Muncul dengan cara seperti itu, kamu pasti melihat pertarungan beberapa waktu, kan?
__ADS_1
Melakukan itu … kamu pasti sengaja!
>> Bersambung.