
“Apakah anda baik-baik saja, Tuan?”
Mendengar pertanyaan Camellia, Ciel menatapnya sembari tersenyum pahit. Dia menggeleng ringan sebelum menghela napas pendek.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ditampar oleh kenyataan dunia.”
“Kenyataan dunia?” tanya Camellia dengan ekspresi bingung.
“Lupakan.” Ciel sekali lagi menggeleng ringan. “Aku dengar para Alkemis berkembang dengan baik.”
“Itu benar, Tuan.”
“Selain yang dibagikan untuk para ksatria. Berapa banyak yang tersisa?” tanya Ciel.
“Setiap bulan kita menyisakan 750 botol potion kelas rendah. Setelah empat bulan, sekarang terkumpul 3000 botol. Tentu saja, setiap dua minggu, barang lama akan dikeluarkan lebih dulu dan diganti dengan yang baru.”
“Pintar.” Ciel mengangguk puas.
Meski terlihat banyak, potion sebanyak itu akan langsung terjual habis di pasaran. Alasan kenapa Ciel belum menjual semua potion tentu saja karena kejadian di Kastil Jade Water.
Selain menerima kekalahan, kesempatan bisnis dengan Savian dan Ferel benar-benar harus ditunda karena hal itu. Tentu saja, mereka tidak berniat membatalkannya. Hanya saja, harus ditunda sampai situasi lebih tenang.
Melihat Camellia yang tampak bahagia, dia menghela napas lega. Menjadi seorang lelaki yang berhubungan dengan tiga wanita sekaligus membuatnya agak kebingungan. Lagipula, setiap wanita … bahkan setiap individu di dunia memiliki sikap yang berbeda.
Meski sudah budaya dunia ini, entah kenapa, Ciel merasa telah disusul oleh bawahannya sendiri, Asterious. Sebagai pemimpin yang bermartabat, dirinya merasa agak terhina. Ya … bukan karena dia iri atau semacamnya.
Ciel merasa tubuhnya ini memang kuat dan mungkin tidak akan kelelahan jika melakukan ‘hal itu’. Hanya saja, dia yang sebelumnya dari dunia modern, merasa kalau dirinya sendiri kurang dewasa. Lagipula, cangkang luarnya baru berusia hampir 16 tahun.
Setidaknya, Ciel ingin melakukan ‘hal itu’ di usia 18 tahun. Mungkin ini pengaruh pemikiran lamanya. Namun, entah kenapa pemuda itu menganggapnya tidak salah.
Aku sibuk. Belum pantas untuk terlena. Aku lihat dari informasi, teman Aragil yang bernama Celeval itu juga level 6 (akhir).
Kali ini … meski bertemu dengan si Celeval itu, aku pasti tidak akan dipukuli hitam dan biru!
Sedangkan Aragil … heh! Aku akan membalas dendam ketika kami bertemu!
Ciel membulatkan tekadnya. Dia benar-benar tidak ingin dipukuli lagi, Meski hanya luka goresan, kekalahan dan rasa malu masih membekas dalam hatinya. Namun pemuda itu juga bingung.
__ADS_1
Jika bertemu Jenderal dari Curses of Shadow di depan publik, dia bingung harus menahan diri atau tidak. Lagipula, sangat lucu membayangkan sosok iblis berusia 16 tahun yang sudah mencapai level 6 (akhir).
Bukannya takjub, Ciel yakin kalau seluruh kerajaan di sekitar Kekaisaran Black Sun akan gelap hati dan mengincarnya. Dengan kata lain … lebih banyak masalah!
“Apakah anda baik-baik saja, Tuan?”
“Aku baik-baik saja, Camellia.”
Ciel memandangi sosok Camellia. Meski sudah tahu kalau budak pertamanya ini cantik, setelah diperhatikan baik-baik, dia merasa kalau gadis itu lebih cantik. Lagipula, sudah hampir enam tahun mereka bersama. Camellia juga sudah cukup dewasa, dalam beberapa tempat, bahkan lebih dari rata-rata wanita dewasa.
Tanpa sadar, Ciel menelan saliva. Memejamkan matanya sebentar, Ciel tiba-tiba terbayang sosok Camellia, Ariana, dan Elena. Sebagai seorang Dark Elf, meski di awal dua puluhan, Elena masih bisa berkembang.
Membayangkan sosok mereka yang matang sepenuhnya beberapa tahu ke depan, Ciel hampir tersedak ludahnya sendiri.
Astaga … apa yang aku bayangkan di hari yang cerah seperti ini!
Ciel menyeka keringat di dahinya. Diam-diam pemuda itu bahkan menyalahkan Asterious yang membawa dampak negatif kepadanya. Ekspresinya agak suram.
Ini karena Asterious memperlihatkan drama sinetron seperti di televisi dalam kehidupan sebelumnya! Ya, pasti karena itu!
Meyakinkan dirinya sendiri kalau pikirannya tidak kotor dan itu salah Asterious, Ciel mengangguk. Hal yang agak kurang ajar, tetapi itu seperti sebuah dukungan kepada dirinya sendiri.
“Sesuai keinginan anda, Tuan.”
Keduanya segera pergi meninggalkan ruang kerja. Mereka keluar dari bangunan utama kastil ke bangunan kastil lainnya.
Ketika masuk ke sebuah bangunan dua lantai, Ciel langsung mencium aroma herbal. Benar-benar terasa menyegarkan. Berbeda dengan obat-obatan di dunia sebelumnya, sebagian besar potion di dunia ini terbuat dari herbal. Tantu saja, ada juga yang menggunakan beberapa bagian dari Demonic Beast.
Ciel sendiri benar-benar menyuruh beberapa pelayan untuk membuat pakaian khusus untuk para Alkemis. Daripada pakaian tradisional, dia benar-benar membuat mereka memakai jas putih layaknya dokter di kehidupan Ciel sebelumnya.
Pada awalnya, para maid bingung, tetapi tidak menyangka kalau jas itu entah bagaimana bisa cocok dengan sosok para Alkemis. Mereka memandang Ciel dengan tatapan yang lebih hormat karena itu. Di mata mereka, Ciel tampak nyaris sempurna dan bisa melakukan hampir semuanya.
Tentu saja, mereka terkadang masih merasa kalau Ciel memiliki kelainan mental karena membantai orang seenaknya.
Melihat di bagian rak yang berjajar rapi di mana ada banyak bahan pembuatan potion, Ciel melihat sosok kecil yang mengambil bahan. Sosok itu tampak familiar. Dia adalah Dhampir yang terkenal paling rajin di antara para Alkemis, Tania.
“Panggil Tania, aku ingin melihat perkembangannya,” bisik Ciel kepada Camellia.
__ADS_1
“Tania!” Tanpa menunggu lama, Camellia memanggil gadis itu.
Tania yang asyik mengambil bahan terkejut dengan suara yang tidak asing itu. Dia segera menoleh dengan ekspresi bersemangat sembari berkata, “Iya, Kak Lia-”
Sebelum menyelesaikan ucapannya, Tania melihat sosok Ciel di samping Camellia lalu buru-buru berkata, “Saya datang, Nona Camellia.”
“...”
Ciel hanya memandang dalam diam. Dia sedikit merasa lucu ketika melihat gadis itu begitu akrab dengan Camellia tetapi takut ketika melihatnya. Padahal, pemuda itu percaya diri dengan penampilannya. Khususnya sesudah meminum ‘potion penyiksa’ itu.
Bisakah kalian jelaskan bagian mana yang terlihat menyeramkan bagi anak-anak?
Apakah itu tanduk indah ini? Mata dengan warna berbeda ini? Senyum menawan ini?
Tiba-tiba Ciel merasa narsis ketika menanyakan hal semacam itu kepada dirinya sendiri.
Untung saja Ciel terlalu malah untuk mendengar rumor yang beredar tentangnya. Dalam masyarakat wilayah Blackfield, mulai beredar rumor mengerikan tentangnya.
Pemimpin wilayah yang punya hobi membunuh di waktu senggangnya.
Pemimpin wilayah yang suka mengoleksi wanita cantik di sisinya.
Bahkan ada orang tua yang mulai bercerita kepada anak mereka. Jika anak-anak menjadi nakal dan tidak tidur sesuai aturan, Marquis of Blackfield akan datang lalu memakan mereka.
Jika Ciel mendengar hal-hal buruk yang beredar di wilayahnya sendiri, dia pasti akan duduk di pojok kamar untuk merenungkan kehidupan.
Ciel memikirkan masa depannya sekaligus wilayah yang dipimpinnya. Hanya saja, apa yang dia lakukan memang sudah ‘agak’ melebihi batas. Jika itu bangsawan lain, mereka tidak akan dengan muda berkata ‘hapus semua hal kotor dalam wilayahku’ seperti yang pemuda itu lakukan.
Sekali lagi Ciel melihat Tania yang gugup lalu menoleh ke arah Camellia yang memandangnya dengan ekspresi aneh.
Kenapa kamu menatapku seperti itu, Camellia? Apakah karena aku melihat Tania?
Kamu seharusnya tau, aku bukan tipe yang menyukai gadis di bawah umur!
Jangan tatap aku seolah aku paman berbahaya!
Merasakan tatapan itu, Ciel tidak bisa tidak mengeluh dalam hatinya.
__ADS_1
>> Bersambung.