Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Seorang Kenalan Lama


__ADS_3

Di medan perang timur Ibukota.


KLANG!


Di antara pasukan yang saling bertempur, terlihat sebuah area kosong. Di sana dua sosok menyilangkan pedang dan tombak di tangan mereka.


“Setelah sekian lama, sepertinya kamu masih membenciku, Stedd.”


KLANG!


Kedua sosok mundur. Raja Wade menatap sosok pria seusia dengannya yang berdiri di sisi lain. Itu adalah sosok pria yang terlihat tinggi tetapi sangat kurus. Pria itu memiliki kulit pucat dengan rambut biru dan iris mata dengan warna yang sama. Dia adalah Stedd Windrivers, atau yang kerap dipanggil dengan sebutan Duke Windrivers.


“Aku akan bertanya kepadamu, Wade. Jika sahabatmu sendiri membunuh adik yang paling kamu sayangi … apakah kamu bisa melupakan itu?”


Tidak menunggu Raja Wade menjawab, Duke Windrivers langsung bergegas menuju ke arah penguasa Kerajaan Black Star itu.


Gelombang air naik dari tanah, membentuk ombak raksasa yang bergegas menuju ke arah Raja Wade. Duke Windrivers berdiri di atas ombak dengan sebuah tombak yang dilapisi energi biru yang memancarkan aura kuat.


Melihat ombak raksasa yang menuju ke arahnya, Raja Wade memegang pedang dengan kedua tangannya lebih erat.


“Sudah aku duga …” gumam Raja Wade.


Adik yang Duke Windrivers ucapkan adalah kekasih masa kecil Wade. Lebih tepatnya, tunangannya. Seorang gadis yang membuatnya merasakan cinta dan benci secara bersamaan.


Pada masa lalu, Wade bukanlah Raja yang begitu kejam dan tidak memiliki perasaan. Sebaliknya, pada masa mudanya, dia adalah sosok baik hati. Wade memiliki beberapa sosok yang sangat akrab dengannya. Stedd dan adiknya yang bernama Lenka adalah bagian dari mereka.


Mereka bertiga sangat akrab. Belum lagi, Raja sebelumnya memutuskan bahwa Wade dan Lenka akan dijodohkan. Semua orang termasuk Wade sendiri sangat bahagia.


Ya … begitulah paling tidak sampai sebuah kejadian mengerikan terjadi.


Wade masih mengingat bagaimana tunangannya itu mengembuskan napas terakhirnya dalam pelukannya sendiri. Lebih tepatnya, dia terpaksa membunuh gadis bernama Lenka itu.


Alasannya adalah … Ayahnya sendiri.


Ayah Wade, Raja sebelumnya adalah sosok yang gila dengan kekuasaannya. Melihat bagaimana Wade tumbuh dengan cepat dengan bakat yang kuat, dia merasa terancam. Seharusnya, sebagai orang tua, pria itu harus bangga. Namun sebaliknya, Raja itu malah cemas.


Takut Wade terlalu cepat tumbuh, takut segera kehilangan kekuasaannya.


Pada saat itu, Raja tiba-tiba mendapatkan sebuah kesempatan. Ya … kesempatan untuk menyingkirkan putranya sendiri.


Duke Windrivers sebelumnya, yaitu ayah Stedd dan Lenka terluka parah dalam perang. Keluarga Windrivers meminta Raja untuk membantu mereka. Raja pun mau membantu, tetapi dengan syarat.


Dalam misi tertentu, Wade dan Lenka bertugas bersama menuju garis depan. Namun sebelum sampai di medan perang, gadis itu dipaksa untuk meracuni Wade.

__ADS_1


Bingung untuk memutuskan apakah harus menyelamatkan ayahnya atau orang yang dicintainya, Lenka membuat sebuah keputusan.


Lenka mengaku kepada Wade bahwa Raja ingin meracuni dirinya. Awalnya Wade muda tidak percaya, tetapi setelah mendengarkan alasannya … dia terdiam dan merasakan rasa sakit dalam hatinya.


Tidak berhenti di sana, karena hanya ada kata berhasil atau gagal dalam misi, Lenka menyuruh dirinya. Hal itu dilakukan karena janji Raja. Selama gadis itu menerima misi, baik berhasil atau gagal, Raja akan membantu menyelamatkan ayahnya.


Demi ayah dan orang yang dia cintai, Lenka rela mati.


Pada akhirnya, dengan air mata membasahi wajahnya, Wade menikam gadis yang paling dia cintai itu.


Ketika kembali ke Ibukota dengan kecewa, Wade terkejut ketika mendengar bahwa Duke Windrivers, ayah Stedd dan Lenka telah meninggal karena keracunan. Dia pun sadar, itu adalah perbuatan ayahnya.


Sementara itu, Stedd yang terpukul oleh kematian ayahnya menjadi lebih terpukul ketika mendengar bahwa Lenka, adiknya adalah pengkhianat yang berusaha membunuh Wade. Stedd sangat tahu seperti apa adiknya, tidak mungkin gadis sebaik Lenka melakukan hal semacam itu.


Sejak saat itu, hubungan persahabatan antara keduanya terputus.


Wade yang hatinya telah ditelan rasa sakit dan kebencian akhirnya memutuskan untuk merubah Kerajaan Black Star dengan caranya sendiri. Menjadi lebih kuat, membunuh para pesaingnya untuk perebutan tahta. Pada akhirnya … membunuh ayahnya sendiri.


Tidak percaya cinta, tidak percaya kasih sayang, bahkan tidak mempercayai keluarga. Ya … itulah yang membuat Wade menjadi Raja seperti sekarang.


Hanya saja, ketika dia sadar bahwa masih memiliki orang yang begitu sayang dengan tulus seperti para istrinya atau salah satu sahabatnya, Duke Goshtag … Wade sadar semuanya telah terlambat. Dia telah jatuh terlalu dalam dan tidak tahu bagaimana cara kembali ke permukaan.


Ditambah racun yang menggerogoti tubuhnya, Wade hanya bisa mencoba untuk mengurangi penyesalan sebelum kematian datang.


Aura hijau menyelimuti tubuh Raja Wade. Empat sayap berwarna hijau muncul di punggungnya, sebuah mahkota hijau melayang di atas kepalanya. Pedang di tangannya juga diselimuti energi angin yang begitu kuat.


Melihat Stedd Windrivers bergegas ke arahnya, dia … Wade Vandiir tersenyum lembut seolah menyambut kedatangan sahabatnya.


“Kalau begitu … kita hapuskan semua kebencian dari masa lalu di sini, Stedd.”


...***...


Duduk di singgasana es, Ciel memandang ke arah cavalry dengan sepuluh ribu ksatria di dalamnya. Dengan tangan kanan yang masih menopang dagu, pemuda itu mengulurkan tangan kirinya.


“Dark Ice magic … Orb of Chilling Bones.”


Sebuah bola hitam dengan energi dingin memadat di tangan kiri Ciel. Berbeda dengan sebelumnya, daripada menjatuhkannya, sekarang dia menembakkan sihir itu.


BOOM!!!


Tidak seperti pemandangan Shadow Gale Wolf yang dibekukan. Meski para ksatria sekuat itu, mereka masih cukup cerdas. Melihat sebagian besar cavalry dengan cerdas menghindari daerah yang terkena Orb of Chilling Bones, Ciel mengangguk.


Sambil memacu kuda mereka, sebagian ksatria mulai merapal sihir. Meski tidak terlalu kuat, tetapi mereka menang dalam segi kuantitas.

__ADS_1


Melihat lebih seribu sihir tingkat bawah seperti bola api, pisau angin, dan sebagainya di arahkan kepada dirinya … Ciel memejamkan mata.


BOOM!!!


Kepulan asam naik. Para ksatria tahu Ciel tidak mungkin dibunuh hanya dengan itu, jadi para petarung jarak dekat langsung memacu kuda mereka untuk segera menuju ke tempat pemuda itu berada.


Pada saat asap mulai menghilang, terlihat sebuah benda hitam seperti kepompong. Ketika sebagian besar ksatria bingung, benda hitam itu terbuka, menunjukkan sosok Ciel yang berdiri tanpa luka sedikit pun.


Apa yang membungkus tubuh Ciel sebelumnya adalah sihir es hitam yang berbentuk sepasang sayap naga yang lebar.


Ciel terlihat begitu tak acuh. Dua sayap lebar terlihat di punggungnya. Kedua tangan dari siku dan kaki dari lututnya diselimuti sihir es dengan bentuk seperti cakar dan kaki naga. Pemuda itu menghembuskan napas. Kabut putih yang dingin muncul dari mulutnya.


“Sudah cukup main-mainnya.”


Ciel menatap dengan tatapan dingin dan tak acuh. Tembok es di belakangnya mulai retak. Di depan mata terkejut para cavalry, tembok itu hancur dan berubah menjadi pedang hitam yang tak terhitung jumlahnya.


“Hadapi keputuasaan kalian … Northern Hell Swordstorm.”


Melambaikan tangannya, pedang tak terhitung jumlahnya maju ke depan seperti badai. Membekukan dan mencabik-cabik semua yang ada di jalannya.


“AAARRRGGHH!!!”


Teriakan putus asa menggema. Ribuan ksatria dimusnahkan begitu saja oleh sihir level 5 (akhir) yang telah Ciel siapkan sejak lama.


Bukannya senang, pemuda itu melihat ke arah tertentu. Di antara badai pedang dan angin dingin, terlihat tornado hijau tua yang bergerak ke depan dengan ganas. Ketika angin dan pedang menabrak pusaran angin itu, es itu langsung meleleh dan menguap begitu saja.


Ketika sihir Ciel berhenti, kecuali pusaran angin hijau tersebut, semua ksatria dan kuda telah dibekukan dan dihancurkan menjadi bubuk. Darah mereka meresap ke tanah. Menjadi nutrisi bagi padang rumput yang indah itu.


Pusaran angin akhirnya juga menghilang, menampakkan sosok yang ada di dalamnya. Itu adalah sosok berjubah hitam yang menutupi kepalanya dengan tudungnya. Sebuah sabit hitam dengan ornamen hijau tua berada di tangan kanannya.


Mengamati apa yang orang itu tadi lakukan, Ciel mengangguk ringan.


“Racun yang sangat kuat,” ucap pemuda itu.


Seolah merasa tidak nyaman, sosok berjubah itu membuka jubah dan melemparkannya ke samping. Sosok itu kemudian bertanya dengan nada dingin.


“The Doom Knight? Kamu benar-benar menghalangi rencana kami.”


Sementara sosok itu bertanya, Ciel menatap dengan ekspresi terkejut di balik topengnya. Matanya tiba-tiba menyipit ketika bergumam dengan nada dingin.


“Seorang kenalan lama … kah?”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2