
Klang! Klang! Klang!
Suara logam saling berbenturan terdengar. Di arena latihan Istana, tampak banyak orang yang memandang ke arah yang sama. Di mana mereka memandang, terlihat dua orang pemuda. Yang satu memiliki rambut hitam legam dan iris berbeda warna yang tampak misterius. Sementara yang lainnya adalah pemuda dengan rambut merah menyala.
“Apakah kamu yakin tidak akan mampir ke Royal Capital dulu setelah kembali, Sahabatku?”
Mendengar ucapan Zack, Ciel yang tampak malas menghindari serangan sahabatnya itu dengan santai.
“Tidak. Arahnya sedikit melenceng. Jika mampir ke Royal Capital, itu akan terlalu membuang waktu.”
“Hehehe … sejak kapan kamu peduli dengan urusan wilayah milikmu? Kamu hanya takut bertemu dengan Ratu Lilith.”
“...”
Ciel langsung melesat ke arah Zack sambil menebas dengan ekspresi tak acuh.
Klang!
Ketika Zack menyeringai ketika menahan serangan Ciel, pemuda itu kaget melihat sebuah kepalan tangan langsung memukul wajahnya.
Mundur beberapa langkah, Zack menatap sahabatnya dengan ekspresi tidak percaya.
“Bukankah ini hanya main-main santai? Kenapa kamu tiba-tiba memukul wajahku, Ciel?”
“Aku hanya kesal.” Ciel berkata dengan nada datar.
Mendengar ucapan Ciel, sudut bibir Zack berkedut.
Jika kamu kesal … bukan berarti kamu boleh secara bebas memukul wajah orang, kan?
Sebenarnya Ciel sangat malas. Setelah bermain-main semalaman, dia ingin berbaring santai di kamarnya. Namun Zack benar-benar menggedor pintu kamarnya. Memaksanya untuk berlatih tanding dengan pemuda berambut merah itu.
Awalnya Ciel tidak setuju, tetapi setelah diteror dengan kicauan yang tiada hentinya, dia menyerah. Namun pemuda itu memberi syarat. Dalam latih tanding, mereka berdua hanya menggunakan kemampuan pedang. Tidak ada sihir atau skill bawaan lainnya.
Zack dengan senang hati setuju. Akan tetapi pemuda berambut merah itu langsung merubah pikirannya. Dia berpikir masih memiliki keunggulan dalam bermain pedang, tetapi dirinya salah.
Setelah tidak bertemu cukup lama, Ciel benar-benar menangkis semua serangannya dengan begitu santai. Terlihat malas, bahkan masih cukup mengantuk. Hal itu sampai membuat harga diri Zack cukup terluka.
__ADS_1
Zack yang selalu dipuji dengan perkembangannya merasa buta. Pada akhirnya, dirinya kembali sadar bahwa masih ada celah besar di antara dia dan Ciel. Celah yang semakin lama semakin lebar.
“Aku kalah,” ucap Zack dengan ekspresi pahit.
“Apanya yang kalah? Ini hanya permainan kecil.” Ciel berkata dengan nada tak acuh.
“...”
Zack yang melihat Ciel seperti itu hanya bisa menghela napas panjang. Meski yang diucapkan sahabatnya itu benar, dia sama sekali tidak senang. Lagipula, Zack tahu bahwa Ciel lebih baik dengan sihir daripada kemampuan bertarung jarak dekat.
Jika bertarung jarak dekat saja sudah kalah, belum lagi beradu skill. Zack yakin si pemalas tetapi memiliki otak encer itu punya banyak cara untuk mengalahkannya.
“Bukankah kamu berkembang terlalu cepat, Sahabatku? Apakah kamu punya rahasia?”
Mendengar ucapan Zack, para bangsawan yang ada di sana langsung menajamkan telinga mereka. Orang-orang itu juga ingin tahu trik Ciel sehingga bisa belajar dengan cepat.
Pada saat itu, suara Ciel yang malas terdengar.
“Bukannya aku cepat. Namun dibandingkan dengan orang yang terlalu banyak mengayuh di malam hari, aku rasa … aku bisa melewati mereka dengan berjalan santai.
Bukannya tidak boleh. Hanya saja, aku takut orang-orang seperti itu akan mematahkan pinggang mereka karena terlalu banyak mengayuh setiap malam. Jika kelelahan dan tidak berlatih … bukankah aku yang malas dan santai bisa melewati orang yang hanya berdiam diri di tempat?”
“...”
Bukannya Ciel menyindir mereka, pemuda itu hanya menampar keras wajah mereka semua dengan fakta yang ada.
Setelah latihan pagi itu, mereka kembali melanjutkan kegiatan masing-masing. Namun, kebanyakan moral orang yang berlatih di pagi hari turun. Mereka tidak lagi bersemangat melihat para pelayan cantik, memilih dan bersenang-senang seperti biasanya.
Meski perkataan Ciel lembut, mereka menerima dengan cara berbeda. Dalam benak mereka, sosok pangeran tampan itu memasang wajah bosan dan berkata,
‘Sudah tidak berbakat, tapi tidak mau mengimbangi dengan berlatih? Mau menyusul orang-orang yang dianggap top di generasi yang sama? Itu mimpi … ya, mimpi.’
Orang-orang itu merasa malu. Bahkan sosok Zack yang terkenal hebat dan mereka jadikan panutan masih perlu berlatih dengan keras. Jika mereka hanya diam, mereka tertinggal terlalu jauh. Bahkan tidak akan bisa melihat bayangan orang-orang itu dari kejauhan.
Tanpa Ciel sadari, ejekannya telah membangkitkan semangat banyak bangsawan yang mau berubah. Awalnya mereka menganggap latihan sebagai kegiatan harian, tetapi sekarang menjadi bagian dri kewajiban. Kewajiban yang harus dilakukan dan ditingkatkan.
Siang harinya.
__ADS_1
Ciel dan seluruh tamu undangan (tidak termasuk yang mereka bawa) diminta untuk pergi ke Istana Utama. Hal itu membuat banyak tamu merasa aneh. Karena biasanya, setelah festival selesai, tidak akan ada hal lain yang perlu dilakukan.
Melihat kursi yang telah ditata dengan rapi, semua orang bingung. Ciel telah menebak beberapa jawaban, tetapi hanya akan diam. Dia hanya berpikir apakah tebakannya itu benar atau salah.
Setelah semua tamu undangan duduk sebentar, Raja Garvin datang bersama dengan Pangeran Helmut dan Pangeran Heath.
Lelaki tua yang tampak ramah itu kemudian menyapa seluruh tamu.
“Maafkan kekasaran yang saya karena mengundang para tamu secara tiba-tiba.”
Banyak orang mulai menjawab bahwa itu baik-baik saja atau semacamnya. Setelah basa-basi sebentar, akhirnya pria paruh baya itu kembali melanjutkan.
“Di sini saya akan meminta para tamu untuk menjadi saksi.”
Saksi? Jangan bilang …
Ketika banyak orang mulai menebak, Raja Garvin mengangguk.
“Benar. Selama ini saya belum menunjuk Putra Mahkota. Memang, saya sudah memilih dalam hati, tetapi belum mengumumkannya.
Jadi, di sini … di depan para tamu, saya ingin mengumumkan penyerahan gelar Putra Mahkota. Yang berarti, saya berharap para tamu mendukung pilihan saya. Dia akan menjadi pemimpin Kerajaan Natrace setelah saya. Melanjutkan hubungan baik antara Kerajaan atau Kekaisaran anda.”
Mendengar itu, ekspresi Heath menjadi agak jelek. Lagipula, dia sudah memberanikan diri untuk bersiap. Namun, jika Raja telah menunjuk di depan para tamu, itu berarti kakaknya akan mendapatkan dukungan dari Kekaisaran Black Sun dan empat kerajaan lainnya.
Sementara itu, Helmut mengangkat kepalanya dengan ekspresi bangga. Tidak menyangka semuanya akan berjalan begitu lancar. Dia sekarang tidak akan takut gangguan dari beberapa saudaranya yang mengincar tahta. Tempat itu … telah dia amankan!
Raja Garvin kemudian berkata dengan senyum lembut di wajahnya.
“Saya akan mewariskan tempat itu kepada putra ke-2 saya, Pangeran Heath Springbell. Saya harap kalian akan mendukungnya.”
“...”
Mendengar ucapan Raja Garvin, semua orang tercengang. Bahkan Helmut dan Heath juga tampak terkejut. Tidak menyangka kalau semua itu akan melenceng begitu jauh.
Sementara semua orang tercengang, Ciel menatap langsung ke arah Raja Garvin. Setelah merangkai semua puzzle, pemuda itu menatap pemimpin Kerajaan Natrace itu dengan ekspresi serius.
Pak tua ini …
__ADS_1
>> Bersambung.