Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Telah Banyak Berubah


__ADS_3

Satu minggu tanpa terasa berlalu begitu saja.


Dalam ruang kerja, Ciel tampak sedang mengurus cukup banyak dokumen yang sebelumnya menumpuk. Tidak jauh darinya, tampak sosok gadis kecil yang mirip dengan Ciel. Gadis itu duduk di sofa sambil membaca buku dongeng dengan ekspresi polos di wajahnya.


Nama gadis itu adalah Eve, putri dari Luciel Dawnbringer. Setidaknya begitulah orang-orang harus memanggilnya. Namun gadis itu bukan sembarangan gadis. Dia tercipta dari eksperimen Vonda yang akhirnya diselesaikan oleh Ciel.


Dalam satu minggu ini, selain perbaikan Kastil Black Lily. Ciel mulai memperkenalkan Eve kepada para bawahan setianya. Semua bawahannya yang paling setia tahu dengan eksperimen Vonda, tetapi masih sangat terkejut ketika melihat gadis kecil itu. Selain tidak memiliki iris mata emas, gadis itu sangat mirip dengan Ciel.


Tidak hanya itu, Ciel merasa kalau Eve mirip dengan komputer super. Setelah data yang berupa pembelajaran dimasukkan ke dalam kepala gadis kecil itu, dia akan langsung mengingatnya dengan baik. Membaca, menulis, dan menghitung … Eve telah bisa melakukan itu hanya dalam waktu satu minggu.


Ciel juga mengajarkan putrinya itu untuk menyembunyikan sayap dan energi yang terpancar dari tubuhnya. Karena memiliki bakat yang cukup mirip, Eve bisa melakukannya. Sekarang dia tampak seperti gadis imut dan menggemaskan biasa. Namun Ciel tahu, kemampuan Eve sangat kuat sampai memungkinkan dirinya bersaing dengan Ferdo dan Fito.


Ya … itu hanya tebakan Ciel. Lagipula, dia tidak ingin gadis kecil yang belum bisa mengendalikan emosinya itu menggunakan sihir secara membabi buta dan menghancurkan banyak hal dalam prosesnya.


Sekarang Ciel sedang fokus untuk mengajari Eve cara berinteraksi dengan yang lainnya dan juga mengendalikan kekuatan dalam dirinya. Soal pengendalian kekuatan, gadis kecil itu memiliki perkembangan yang bisa dibilang cepat.


Sebaliknya, dalam segi komunikasi dan bersosialisasi Eve tidak banyak berkembang. Selain dengan Ciel, gadis itu hanya mau dekat dengan satu orang. Dan orang itu adalah …


Tok! Tok! Tok!


“Masuk.”


Setelah Ciel mengatakan itu, sosok Ariana memasuki ruang kerja. Di belakangnya tampak dua gadis dengan pakaian pelayan yang membawa nampan.


“Waktunya makan siang, Sayang.” Ariana kemudian memandang ke arah gadis kecil yang membaca buku. “Kamu juga, Eve.”


Mendengar ucapan Ariana, Eve menutup buku di tangannya lalu mengalihkan pandangannya ke arah sosok yang berbicara dengannya. Gadis itu memiringkan kepalanya dengan ekspresi polos di wajahnya.


“Mama?”


“En.” Ariana mengangguk ringan. “Sudah waktunya makan siang. Mama akan menyuapi kamu.”


Ekspresi Ariana tampak seperti biasa, tetapi perasaan hangat terpancar darinya. Bisa dibilang, dia ‘lebih hidup’ daripada biasanya.


Dua pelayan masuk ke dalam ruangan lalu meletakkan makan siang ketiga orang di atas meja lalu memberi hormat sebelum pergi. Sudah tiga hari sejak mereka bertiga makan siang bersama seperti itu.


Selain karena Eve hanya mau dekat dengan Ciel dan Ariana, mungkin penampilan gadis kecil itu yang membuat banyak pelayan berpikir bahwa dirinya adalah anak biologis pasangan itu. Selain memiliki penampilan Ciel dan kekuatannya, gadis itu tidak banyak berekspresi serta agak canggung … seperti Ariana.


Ciel duduk berseberangan dengan Ariana dan Eve. Melihat ke arah keduanya, dia menghela napas panjang.

__ADS_1


Jika bukan karena mereka bernapas, makan, dan kadang melakukan beberapa hal lain … aku curiga dua sosok di depanku ini adalah boneka.


“Apakah makanannya tidak sesuai dengan selera anda, Sayang?” tanya Ariana.


Mendengar itu, Ciel yang tersadar dari lamunannya menggeleng ringan.


“Tidak. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.”


“Anda tidak apa-apa … Papa?” tanya Eve.


“Aku tidak apa-apa,” ucap Ciel sembari memberikan senyuman lembut.


Mata bulat Eve berkedip. Gadis itu kemudian mengangguk.


“Itu baik, Papa.”


“Makan dulu, kita bicara nanti.”


Mendengar ucapan Ciel, ibu dan anak itu mengangguk setuju.


Setelah makan siang selesai dan beristirahat sebentar untuk mencerna makanan, Ciel menatap Ariana.


“Baik.”


Ariana mengangguk. Dia kemudian menggandeng Eve dan hendak pergi. Sebelum meninggalkan ruangan, gadis kecil itu melambai pada Ciel.


“Bye bye, Papa.”


“...”


Dengan senyum di wajahnya, Ciel melambai santai. Ketika pintu ditutup dan kedua sosok itu pergi menjauh, ekspresi pemuda itu langsung berubah total. Dia tampak agak kuyu dan lelah.


Sejak adanya Eve yang menemaninya setelah sarapan sampai makan siang, Ciel benar-benar harus bekerja. Ya … pemuda yang malas itu terpaksa bekerja!


Ciel tidak ingin terlihat terlalu buruk di depan Eve. Mungkin itu perasaan seorang ayah atau semacamnya, dia juga tidak paham. Mengetahui itu, Camellia benar-benar memanfaatkan itu untuk membuat Ciel bekerja.


Tentu saja tidak secara langsung, tetapi dengan mengandalkan Eve. Dengan dalih anak yang memerlukan kasih sayang ayahnya, Camellia dan yang lainnya mendorong Ciel untuk mengurus Eve dari jam delapan sampai jam dua belas siang.


Empat jam … aku harus bekerja dengan serius selama empat jam!

__ADS_1


Ciel menggertakkan gigi, tampak agak enggan. Mulai dari siang sampai makan malam, Ariana yang bertugas untuk merawat Eve. Pemuda itu sangat bersyukur terhadap tunangannya itu.


Membayangkan jika Eve sama sekali tidak bisa dekat dengan orang lain selain dirinya sendiri, Ciel agak pucat.


Syukurlah ada Ariana. Jika tidak, aku harus bekerja dari pagi sampai sore atau bahkan malam? Itu … benar-benar mengerikan.


Selain karena Ariana, Ciel juga bersyukur karena Eve sangat patuh. Setelah makan malam, Ciel menyuruh gadis itu untuk pergi tidur. Sama sekali tidak menolak, Eve benar-benar melakukannya dengan patuh.


Ketika bersama Theodore atau Jenny, Ciel sama sekali tidak melakukan banyak hal. Theo cukup mandiri dan sudah lebih besar. Meski terkadang memang memerlukan waktu bersama dirinya, itu tidak setiap hari dan tidak lebih dari satu atau dua jam.


“Menjadi seorang ayah … benar-benar tidak mudah,” gumam Ciel dengan ekspresi tertekan.


Sementara itu, di perpustakaan.


Ariana duduk bersama dengan Eve. Di sekitar mereka tampak beberapa tumpukan buku anak-anak. Dia duduk sambil memangku gadis kecil itu.


Di tangan Ariana, tampak sebuah sisir. Dia dengan lembut menyisir rambut Eve yang sedang asyik membaca buku bergambar. Suara gadis kecil itu tiba-tiba terdengar di telinganya.


“Mama … mama … kenapa petani ini bodoh?” tanya Eve dengan nada polos.


“Ada apa, Eve?”


Eve kemudian menunjuk gambar petani yang menangkap lalu memanggang seekor angsa.


“Petani ini marah kepada angsa emas karena mengacaukan kebunnya. Dia yang mengetahui angsa itu bertelur emas malah membunuh angsa untuk mengambil telurnya. Bukankah petani ini bodoh, Mama?


Jika itu Eve … Eve akan menangkap angsa emas dan merawatnya. Eve akan membuat angsa emas itu bahagia dan banyak bertelur. Dibandingkan sayur di kebun, emas pasti lebih mahal. Bukankah begitu, Mama?”


Mendengar perkataan logis yang terucap dari bibir gadis kecil itu, Ariana hanya mengelus kepala si kecil. Dia merasa bahwa Eve kecil sangat mirip dengan Ciel baik dalam penampilan atau pemikiran. Benar-benar cerdas!


Melihat ekspresi tidak puas di wajah si kecil, Ariana menghiburnya.


“Itu hanya buku cerita, Eve. Tidak perlu dipikirkan.”


Jika ada orang lain yang melihat Ariana sekarang, mereka pasti akan terkejut. Karena sekarang … senyum hangat dan tulus terlihat di wajahnya. Dia bahkan sedikit menahan tawa karena tingkah Eve kecil.


Ariana, Putri Boneka … benar-benar telah banyak berubah!


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2