Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Datang Terlambat


__ADS_3

“Itu teh herbal biasa, Kak Julia.”


Mendengar ucapan Ciel, bukannya percaya, Julia semakin curiga kalau itu adalah obat tertentu. Melihat adiknya yang biasanya terlihat tak acuh agak tertekan, dia menduga kalau pemuda itu agak panik karena apa yang dia siapkan telah terbongkar.


Apakah kamu benar-benar memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan? Membantu kakakmu sendiri hanya untuk keuntungan seperti ini? Apakah … kamu sebenarnya tertarik dengan kakakmu sendiri sehingga dulu menolak pertunangan?


Jika Ciel bisa membaca pikiran Julia, dia pasti sudah mengusir wanita yang berfantasi liar itu.


“Ki-Kita tidak bisa melakukannya sekarang Ciel. Tidak bisakah kamu menahannya? Jika seperti ini, aku takut kamu hanya berbohong dan memanfatkan kesempatan dalam kesempitan.


Paling tidak … tunggu sampai kamu menyelesaikan masalah?”


Julia berdiri, meletakkan teh di atas meja lalu hendak pergi. Namun baru beberapa langkah, Ciel menarik tangannya.


“Tunggu, Kak Julia.”


Julia yang dipegang tangannya merasa pipinya panas. Dengan ekspresi malu dan tidak berdaya, dia berkata, “Kita tidak bisa melakukan ini, Ciel. Aku … aku kakakmu.”


“Kamu salah paham, Kak Julia.”


“Aku salah paham? Kamu sengaja mencoba memecahkan masalah berat yang aku buat agar aku berhutang budi. Kamu memanfaatkan hal itu untuk memainkan hal kotor dengan kakakmu sendiri.


Kamu bilang aku salah paham? Kamu tidak akan begitu munafik untuk menutupi semua itu setelah terpapar, Ciel?”


Mendengar Julia yang berbicara dengan fantasi liar dalam kepalanya, ekspresi Ciel menjadi lebih dingin. Dia menarik gadis itu lalu mendorongnya ke atas ranjang dengan ekspresi kesal. Pemuda itu sebenarnya ingin menampar dan menjatuhkannya ke lantai, tetapi masih bisa menahan diri.


“Duduk dengan tenang dan minum itu! Aku akan memperjelas semuanya.” Ciel memberi secangkir kepada Julia yang duduk di atas ranjang dengan wajah merah seperti apel.


“B-Bahkan jika kamu memaksaku, jika kita melakukan ini … ayah dan ibu tidak akan setuju.”


Melihat Julia masih mengatakan hal konyol sambil memegang secangkir teh di tangannya, Ciel menjadi lebih tertekan. Dia duduk di samping Julia lalu menjelaskan.


“Aku sama sekali tidak memiliki pemikiran seperti itu, Kak Julia. Bahkan jika aku bilang kamu berhutang kepadaku, aku tidak akan dengan gila meminta tubuhmu.”


“Meski itu yang paling berharga dariku? Meski kamu harus memecahkan masalah yang begitu rumit?”


“Iya. Kamu memang cantik, Kak Julia. Hanya saja, tidak mungkin memiliki hubungan tidak sehat semacam ini, kan? Belum lagi … jika aku memang memiliki pikiran kotor, aku tidak akan cukup gila untuk melakukannya.


Jika ayah dan ibu mengetahuinya, bukankah itu adalah jalan buntu. Bahkan jika aku bisa melarikan diri dari keduanya, bagaimana dengan kakek? Aku yakin pria tua penuh kebencian itu akan mengejarku ke ujung dunia lalu mendidik diriku.”


Sadar kalau perkataan Ciel benar, Julia merasa wajahnya semakin panas. Dia benar-benar ketahuan sedang memikirkan hal yang buruk semacam itu. Gadis itu menatap Ciel dengan ekspresi penuh kebencian.


“Lalu … kenapa kamu berbicara dengan Kak Alex di siang hari dan memintaku di malam hari?”

__ADS_1


“Aku tidak meminta kamu datang di malam hari. Bukankah kamu melakukannya sendiri, Kak Julia?”


“Bukankah kamu menyuruh Lilia-”


Sadar ada sesuatu yang salah, ekspresi Julia menjadi muram. Dia benar-benar ditipu iblis kecil yang sempat dia kerjai sebelumnya. Membalas dendam dengan kejam sampai hampir membuatnya kehilangan sesuatu yang paling berharga. Benar-benar penuh kebencian!


“Ada apa, Kak Julia?”


“Tidak ada apa-apa.” Julia berkata dengan ekspresi dingin. “Lalu … apa yang kamu inginkan dariku sebagai ganti hutang?”


“Budak.” Ciel berkata dengan tegas.


“Budak?”


“Ya. Banyak budak dengan kualitas baik. Kemudian, aku ingin kamu mengajari mereka bagaimana cara menjadi pekerja yang bisa berurusan dengan urusan wilayah. Baik itu secara perdagangan, pendidikan, dan sebagainya.”


Benar. Ciel menginginkan hal itu. Selain tegas dan galak, Julia sangat rajin serta memiliki pendidikan yang baik. Ciel ingin kakaknya itu melatih budak yang bisa dia gunakan untuk mengatur pemerintahan Blackfield. Itu akan membuat pekerjaan semakin ringan. Membuat Ariana dan Camellia lebih santai. Pada akhirnya … dia juga akan memiliki lebih banyak waktu untuk bermalas-malasan.


Benar-benar keputusan yang bagus!


Mendengar ucapan Ciel, Julia diam sejenak. Dia membayangkan kalau adiknya itu ternyata ingin melakukan hal kotor. Bermain sebagai bos yang menindas para pegawai wanita cantik di bawahnya. Benar-benar permainan pikiran bengkok dan aneh.


Memikirkan adiknya ternya memiliki hobi semacam itu, Julia bangkit dari ranjang lalu mendengus dingin.


Melihat sosok Julia yang pergi dengan ekspresi dingin dan memandangnya dengan tatapan sedikit menghina membuat Ciel tercengang. Dia tidak bisa tidak mengeluh dalam hati.


Sial! Apa yang dipikirkan oleh perempuan itu?


...***...


Keesokan paginya, Ciel bangun agak terlambat.


Pemuda itu tidak bisa tidur nyenyak karena terganggu oleh Julia. Ketika turun untuk sarapan bersama, dia merasa kalau situasi di meja makan cukup kacau. Ciel melirik ke arah orang-orang dengan tatapan malas.


Lilia, sang iblis kecil terlihat begitu bahagia seolah-olah memenangkan jackpot. Sedangkan Julia, gadis itu terlihat cukup tertekan dan sesekali memandang Lilia serta Ciel dengan ekspresi penuh kebencian. Sedangkan sang ibu, dia menatap Ciel dengan ekspresi agak rumit.


Setelah makan sarapan, Ciel segera bersiap.


Sekitar jam sembilan pagi, Alexander datang ke Istana Utara dan mengajak Ciel untuk berangkat bersama. Ciel naik ke punggung Deschia lalu pergi ke Istana Kekaisaran. Lebih tepatnya, bangunan utama yang berada di tengah keseluruhan Istana.


Ciel yang datang menaiki Wyvern hitam tentu terlihat mencolok. Ditambah wajah tampan serta kekuatannya yang luar biasa, membuat para penjaga menatap dengan ekspresi kagum dan iri.


Melihat beberapa tunggangan pangeran lain, Deschia yang ganas dan angkuh mendengus. Benar-benar menyepelekan mereka.

__ADS_1


Melihat bagaimana kandang yang disiapkan untuk para pangeran, Ciel menggeleng ringan. Tempat yang berbaris lurus seolah sengaja dibuat demikian seolah memang digunakan untuk membandingkan ‘kendaraan’ para pangeran. Dia bahkan merasa sedang berada di ajang pamer generasi muda kaya atau semacamnya.


Sadar kalau kandang nomor satu, tiga, dan enam masih kosong ... Ciel tahu kalau para putra Ratu Victoria masih belum datang. Setelah mengelus kepala Deschia dan menyuruhnya untuk menunggu dengan tenang, dia menuju ke Istana Kekaisaran.


Menatap gerbang raksasa di depannya, tempat yang sangat jarang dia kunjungi, Ciel hanya bisa menghela napas panjang.


Benar-benar menyebalkan …


“Kenapa? Masih tidak menyukai suasana di Istana?”


Mendengar Alexander yang berbicara sembari berjalan di sampingnya, Ciel tampak tak terlalu peduli. Dia memasang wajah poker dan tak acuh, mengikuti Alexnder untuk masuk ke dalam.


Di dalam Istana, sosok Kaisar Julius telah menunggu mereka. Tidak hanya beliau, ada juga tiga orang lain di sana.


Yang paling dewasa memiliki rambut hitam seperti kaisar dengan iris hijau pucat. Wajahnya cukup tampan dan tatapannya dingin. Namun dia selalu memasang senyum tipis. Dari pandangan pertama, sudah bisa ditebak kalau orang itu berbahaya. Dia adalah Pangeran Kedua, Sullivan Dawnbringer.


Yang kedua adalah lelaki tampan dengan rambut cokelat dan iris hijau pucat. Ekspresinya begitu tenang dan terlihat ramah. Namun aura di sekitarnya cukup lemah. Bahkan, kedua saudaranya agak menjauh darinya. Dia adalah Pangeran Kelima, Leon Dawnbringer.


Yang paling muda di antaranya memiliki penampilan seperti Sullivan. Hanya saja memiliki wajah agak polos dan sedikit memancarkan aura sombong. Dia adalah Pangeran Ketujuh, Xavier Dawnbringer.


Setelah Ciel dan Alexander menyapa Kaisar Julius serta saudara mereka, keduanya ikut menunggu. Namun setelah cukup lama, tiga pangeran lain belum juga tiba. Ekspresi Kaisar Julius tampak muram. Karena ini adalah pertemuan para pangeran, dia hanya berada di sana untuk menyambut anak-anaknya.


Kaisar Julius menghela napas panjang.


“Kalian tidak perlu menunggu di sini. Pergi ke ruang rapat terlebih dahulu.”


“Baik, Yang Mulia.” para pangeran memberi hormat sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


Masuk ke dalam ruangan tertutup dengan dekorasi mewah, terlihat sebuah meja bundar besar dengan delapan kursi dengan jarak yang berjauhan mengelilinginya.


Ciel tanpa ragu duduk di sebuah kursi dengan tanda ‘VIII’ tanpa menunggu yang lainnya. Meletakkan siku di atas meja lalu menopang dagu dengan tangan, dia tampak bosan.


“Kelihatannya para putra Ratu Victoria datang terlambat.” Sullivan berkata dengan nada aneh seolah menyiratkan sesuatu. Dia kemudian menatap ke arah Ciel. “Menurutmu, apa artinya ini, Pangeran Luciel?”


Tidak tertarik untuk bergosip atau semacamnya, Ciel hanya menghela napas panjang. Menatap ke arah Sullivan, dia membalas dengan santai.


“Aku tidak terlalu peduli, Pangeran Sullivan. Daripada itu, tidak bisakah kita makan camilan atau minum anggur sambil menunggu?”


Mengatakan hal-hal itu di dalam ruang yang dianggap sakral membuat ekspresi pangeran lain stagnan. Mereka memandang Ciel dengan arti yang sangat jelas …


Apakah itu hal yang pantas dilakukan seorang Pangeran???


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2