Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Buntu


__ADS_3

“Bagaimana perkembangannya, Xan?’’


Mendengar suara Ciel yang menjadi lebih serius, Ryo yang berdiri di belakang Ciel tertegun. Melihat pemuda itu menoleh, sudut bibir Ryo berkedut.


Bukankah kamu yang menghabiskan waktu lima hari untuk bersenang-senang?


Bukankah tugasku untuk menemanimu? Kenapa sekarang aku menjadi suruhan?


Menghela napas panjang, Ryo menjawab dengan ekspresi tenang.


“Belum ada kejelasan.”


“...”


Ciel hanya diam, kemudian berbalik pergi dari gerbang kota. Ryo mengikuti dari belakang. Keduanya menuju ke daerah pusat kota di mana banyak bangunan yang lebih baik daripada distrik perdagangan atau pemukiman kumuh. Masih melihat banyak tong sampah di sana-sini yang tidak dibersihkan, Ciel tanpa sadar mengangkat alisnya.


Bukankah ada petugas pembersih di kota ini? Kenapa pusat kota masih seperti ini?


Atau … pemimpin kota terlalu konyol dan tidak tahu kalau sampah bisa menimbulkan banyak penyakit dan masalah?


“Ada apa, Gin?” tanya Ryo yang melihat Ciel mengerutkan kening.


“Tidak apa-apa.” Ciel menggeleng ringan sebelum berkata lirih. “Aku hanya tidak menyukai tempat ini.”


“...”


Ryo hanya diam. Baginya, selain lebih kering dan berdebu, tidak ada banyak perbedaan dengan kota lain di Kekaisaran Black Sun. Tentu saja, Royal Capital sudah menjadi pengecualian. Sedangkan Wilayah Blackfield … dia belum pergi ke sana.


Ciel dan Ryo kemudian memasuki sebuah restoran besar yang begitu ramai. Kelihatannya tempat itu adalah tempat yang dianggap sebagai restoran terbaik di kota ini. Keduanya belum sempat mengunjungi tempat ini.


Empat hari sebelumnya, Ciel dan Ryo menemani Vahn serta Aiz untuk berkeliling di distrik perdagangan dan makan di sana. Dibandingkan pusat kota, restoran dan toko di distrik perdagangan lebih banyak. Hanya saja, dalam segi kualitas, mungkin tidak sebaik toko di pusat kota. Tentu saja … harga juga jauh berbeda.


Masuk ke dalam restoran, Ciel memesan meja. Seorang pelayan mengantar Ciel dan Ryo menuju tempat duduk mereka lalu mencatatat pesanan mereka.


Sambil menunggu, Ciel mengamati sekitar. Melihat betapa banyak orang yang menikmati suasana restoran yang bisa dianggap mewah, dia hanya menggeleng ringan. Memejamkan mata, pemuda itu memfokuskan diri pada indra pendengarannya.


“Lihat kedua lelaki tampan itu. Mungkinkah mereka bangsawan?”


“Tidak mungkin. Dari pakaian mereka, kemungkinan mereka tentara bayaran yang kuat.”


“Tapi aku merasakan tempramen mulia dari orang itu. Mungkinkah bangsawan jatuh?”


“Itu … mungkin saja? Setahuku, banyak rumah-rumah bangsawan yang tidak bisa bertahan dan menyisakan satu atau dua keturunan.”

__ADS_1


“Sungguh disayangkan.”


“...”


Setelah mendengar banyak orang mendiskusikan sesuatu dari hal-hal penting sampai hal memalukan, Ciel terdiam. Dia kemudian mengingat dua gadis yang membicarakannya tadi. Pemuda itu tidak menyangka kalau dia bisa dianggap bangsawan karena temperamennya.


Haruskah aku merubah sikapku lebih banyak? Seperti Vesperr misalnya?


Tidak mungkin. Daripada menjadi seorang M yang kurang waras, lebih baik ketahuan!


Sambil memikirkan harus berubah seperti apa, tidak terasa waktu berlalu dan hidangan tiba.


Apa yang tersaji di depan Ciel dan Ryo adalah iga panggang dari Demonic Beast yang memiliki penampilan seperti domba raksasa berbulu maroon.


Iga dipanggang dengan api sedang sambil diolesi dengan bumbu, membuat bagian luar renyah dan sedikit terbakar, tetapi bagian dalam lembut dan berair. Ditambah dengan saus yang terbuat dari berbagai rempah dicampur dengan sedikit madu menambah cita rasa iga panggang.


Menggigit daging yang dicocol dengan saus sambal, Ciel merasakan rasa fantastis. Rasa gurih bercampur pedas dan sedikit asam memanjakan lidahnya. Aroma rempah dan daging memanjakan indera penciumannya. Benar-benar tidak salah dianggap sebagai restoran nomor satu di kota ini.


Tidak hanya makan iga panggang, Ciel juga makan salad yang menyegarkan. Di kota ini, harga sayur dan buah sedikit lebih mahal dibanding daging. Satu mangkuk kecil salad benar-benar bisa dibilang cukup mahal.


Ketika Ciel dan Ryo menikmati hidangan mereka, keduanya mendengar sekelompok orang membicarakan hal yang sedikit membangkitkan minat Ciel.


“Apakah kalian tahu? Akhir-akhir ini gerakan Crimson Night semakin meresahkan.”


“Kelompok berbahaya itu? Kenapa mereka tidak segera ditangkap? Benar-benar meresahkan penduduk seperti kami.”


“Bukankah orang-orang dari barisan ksatria kuat? Kenapa tidak menjalankan tugas mereka? Makan gaji buta?”


“Sttt … jangan berteriak. Jika ada ksatria yang mendengar, hidupmu dalam bahaya. Dari berita yang tersebar, ada orang dalam yang berkhianat.”


“Siapa???”


“Tidak tahu. Jika sudah ketahuan, bukankan orang-orang dari Crimson Night sekarang telah ditangkap?”


“Benar juga.”


“...”


Mendengar percakapan itu, Ciel sedikit mengangkat sudut bibirnya. Daripada mencari sesuatu tanpa informasi yang jelas, akhirnya dia memiliki tujuan cukup jelas. Temui orang-orang dari Crimson Night lalu peras informasi dari mereka!


Memikirkan bagaimana cara menemukan orang-orang itu, mata Ciel berkilau. Menyelesaikan makanannya, dia mengajak Ryo kembali ke penginapan.


“Apakah kamu akan mencari orang-orang itu, Gin?”

__ADS_1


“Tentu. Kita akan menemui mereka untuk bertanya beberapa hal secara BAIK-BAIK.”


Mendengar Ciel menekan kata itu, sudut bibir Ryo berkedut. Tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran pangeran itu, yang jelas … itu pasti berbahaya dan tidak sederhana.


“Kembali ke kamar masing-masing lalu tidur.”


“Tidur?”


“Ya. Tidur siang setelah jalan-jalan.” Ciel berkata dengan nada tak acuh. “Nanti malam kita mulai beraksi.”


Beraksi di malam hari? Memangnya kita pencuri?


Melihat Ciel yang kembali ke kamar dan menutup pintu, Ryo terdiam. Dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Menghela napas panjang, Ryo akhirnya memutuskan untuk menjalaninya daripada melakukannya.


Malam harinya.


Berdiri di depan sebuah bangunan, Ryo menatap ke arah Ciel lalu ke arah bangunan di depan mereka. Kata Pink Bunny terlihat begitu jelas dengan beberapa lampu sihir warna-warni di sekitarnya.


“Kita tidak salah tempat kan, Gin?”


“Tentu saja tidak.” Ciel melirik ke arah Ryo dengan ekspresi malas.


Tapi apa yang di depan kita itu sebuah bar? Jika itu hanya bar, tidak masalah. Namun … itu adalah bar sekaligus tempat bordil!


Ryo meraung dalam hati. Dia mengutuk Ciel dalam hati. Mengeluh bagaimana seorang pangeran bisa pergi ke tempat seperti itu. Dia bahkan mencacat dalam hati dan ingin melaporkannya kepada Kaisar Julius agar mendidik si Pangeran muda itu.


Ciel merasakan tatapan panas dari sampingnya. Melihat kalau Ryo sedang menatapnya dengan ekspresi yang khidmat, sudut bibir pemuda itu berkedut.


Bisakah kamu biasa saja? Ini memang tempat mencari informasi yang bagus, okay?


Kenapa kamu menatapku dengan cara seperti itu? Apakah kamu memiliki kelainan?


Tanpa sadar, Ciel membuat gerakan satu langkah menyamping. Sedikit menjauhi Ryo.


“Kenapa kamu tiba-tiba menjauh, Gin?” tanya Ryo dengan heran.


“Tatapanmu agak berbahaya. Aku merasa tidak nyaman.”


Menyadari bagaimana Ciel memandangnya dengan agak ngeri seolah sedang melihat seseorang yang menyukai sesama jenis membuat Ryo terdiam. Sudut bibirnya bergerak-gerak ketika otot muncul di dahinya.


“Aku masih normal!”


“Aku percaya itu, tapi … bisakah kamu setidaknya menjaga jarak empat langkah dariku?”

__ADS_1


Mendengar ucapan Ciel, akhirnya Ryo tidak bisa berkata-kata.


>> Bersambung.


__ADS_2