
“Kamu tampak begitu bahagia, Aragil.”
Aragil yang baru tiba di depan sebuah portal menoleh ke arah sumber suara. Di sana, tampak seorang lelaki tampan dengan rabut perak lurus panjang, mata ungu, dan mengenakan setelan armor platinum dengan ukiran naga yang indah. Dua pedang menggantung di sisi kiri dan kanan pinggangnya.
“HAHAHA! Memang aku sedang bahagia. Apakah kamu menemukan item yang dicari, Celeval?”
“Ya.” Lelaki tampan bernama Celeval itu mengangguk ringan.
Meski merasa agak diabaikan oleh seseorang yang lebih muda darinya, Aragil hanya bisa tersenyum pahit. Lagipula, sosok di depannya bukan sembarangan orang. Celeval juga satu dari 13 Jenderal. Namun dia memiliki peringkat lebih tinggi.
Itu karena … Celeval memiliki kekuatan setara dengan seorang Duke di Kekaisaran Black Sun, Level 6 (menengah).
Dalam misi kali ini, Celeval mengurus Count Jadeline dan pengawal elitnya. Hasilnya sangat jelas. Dibandingkan pertarungan Aragil yang mencolok, dia melakukannya dengan bersih. Membantai Keluarga Jadeline tanpa membuat mereka bisa melawan.
“Ngomong-ngomong … Pangeran Luciel itu, seperti dalam informasi, dia sangat menarik.” Aragil menggosok dagunya dengan ekspresi puas. “Dia juga benar-benar memiliki sihir gravitasi sepertimu.”
“...” Celeval memandang Aragil dalam diam. Setelah beberapa saat, dia berkata, “Portal akan segera ditutup. Mari kembali.”
“Baik.”
Keduanya masuk ke dalam portal diikuti dengan para anggota dari Curses of Shadow.
Setelah itu, portal tertutup. Hanya meninggalkan sebuah item aneh berupa kotak hitam yang rusak.
...***...
“Segera lakukan evakuasi!”
Seorang pria dengan penampilan seperti Savian tetapi lebih dewasa memerintahkan. Dia adalah Duke Raevern, ayah Savian.
Duke menerima peringatan darurat dari Kastil Jade Water beberapa jam sebelumnya. Dia langsung mengumpulan pasukan dan membuka portal dengan item yang sangat mahal.
Item yang bisa menghubungkan dua tempat sekaligus memang sangat mahal. Belum lagi, memerlukan banyak mana untuk diaktifkan serta harus memiliki koordinat pas. Selain itu, di lokasi portal juga harus terbebas dari gangguan sihir.
Melihat kastil utama yang hancur, banyak mayat ksatria yang mati karena keracunan dan ditikam dengan rapi, dan juga banyaknya korban … Duke Raevern terlihat pucat.
Terlebih lagi ketika menyadari tidak adanya petunjuk penyerang. Setiap korban dari Curses of Shadow benar-benar lenyap, hanya menyisakan jubah hitam dengan simbol gagak berkepala dua dengan bulan sabit sebagai latarnya.
__ADS_1
“Curses of Shadow lagi! Sial! Organisasi itu benar-benar sangat meresahkan!” ucap Duke Raevern dengan ekspresi tidak senang.
“Tuanku … Tuanku! Ada kabar buruk, Tuanku!” seru salah satu ksatria yang segera menghampiri Duke Raevern.
Duke Raevern langsung mengingat kalau putranya dan Pangeran ke-8 sedang mengikuti pesta itu. Ekspresinya langsung tenggelam.
“Tenang! Katakan yang terjadi secara mendetail!”
“Selain Keluarga Jadeline yang dibantai sepenuhnya, hampir tidak ada korban. Namun, hampir semua anak bangsawan sekarat. Runa dan Arla juga terluka berat. Sedangkan Tuan Muda Savian … dia … dia kehilangan lengan kirinya.”
Punggung Duke Raevern langsung basah oleh keringat dingin. Dia langsung bertanya, “Bagaimana dengan Pangeran Luciel? Bagaimana dengannya?”
“Itu … Pangeran Luciel hanya memiliki luka ringan di bahu kirinya. Namun, dia berhenti berbicara, kami bahkan tidak berani menanyainya.”
“Perintahkan tenaga medis untuk merawat para anak bangsawan. Savian, bocah itu, meski sia-sia … aku ingin kalian menyelamatkan nyawanya!” seru Duke Raevern.
“Baik, Pak!” Ksatria itu langsung memberi hormat sebelum menyampaikan perintah Duke kepada yang lainnya.
Duke Raeven kemudian menuju ke bangunan utama Kastil Jade Water. Melihat bagian depan yang rusak parah, matanya menyipit. Dia benar-benar terkejut.
Di tengah-tengah banyaknya reruntuhan kastil, sosok pemuda tampan berambut hitam berbaring terlentang. Dia terlihat sedang memandang langit dengan tatapan kosong. Terlihat juga sebuah pedang patah tidak jauh dari sana.
“Tuanku, kami tidak berani mendekati Pangeran … dia benar-benar mengabaikan kami. Menganggap kami semua tidak ada.”
“Biarkan saja …” Duke Raevern menggeleng ringan dengan senyum pahit di wajahnya.
Pria itu mengerti kalau Ciel sedang tertekan dan merasa tak berdaya. Setiap pemimpin tua juga pernah mengalami hal yang sama.
Rasa sakit karena kehilangan orang terdekat. Rasa sakit karena tidak berdaya. Banyak hal yang harus dilalui sampai mereka akhirnya menjadi dewasa.
Apa yang bisa dia lakukan sekarang adalah membiarkannya. Lagipula, Duke Raevern yakin kalau ucapannya pasti tidak akan didengar oleh Ciel.
Sekali lagi melihat ke arah pemuda yang berbaring terlentang dengan tatapan kosong, Duke Raevern menghela napas panjang.
...***...
“Suami! Apa yang orang itu katakan? Apakah Ciel kecil baik-baik saja?”
__ADS_1
Di Istana Utara, Ratu Lilith yang melihat Kaisar Julius langsung menghampirinya dengan ekspresi khawatir. Lagipula, belum lama ini banyak hal yang terjadi di Kekaisaran Black Sun yang berhubungan dengan kelompok ‘Curses of Shadow’. Sebagai seorang itu, dia tidak bisa tidak khawatir.
“Tenang. Luciel baik-baik saja. Dia hanya menerima luka kecil di bahu kirinya. Hanya saja, kelihatannya dia begitu tertekan karena tidak bisa mengalahkan lawannya.
Aku rasa … ini pengalaman yang baik untuknya.”
“Pengalaman yang baik?! Itu sangat berbahaya! Bagaimana kalau dia tidak bisa selamat? Terlambat untuk menyesal! Aku ingin Ciel kecil kembali ke Istana Utara!
Dia memiliki bakat yang baik bahkan jika dibandingkan pangeran lainnya. Tidak ada alasan untuk menolaknya kembali!” seru Ratu Lilith dengan keras kepala.
“Tenanglah, Lilith. Tidak ada apa-apa yang terjadi dengan Luciel, ok? Biarkan anak itu sedikit tenang. Setelah itu, jika dia ingin kembali, aku pasti tidak akan menolaknya.”
“Apakah kamu berjanji, Suami?” tanya Ratu Lilith, memandang mata Kaisar Julius secara langsung.
“Tentu saja aku serius! Meski diabertingkah seperti pembangkang, Luciel juga masih putraku! Tidak mungkin sebagai seorang ayah aku tidak memikirkannya.”
Melihat sang suami yang marah dan khawatir dengan keselamatan putranya, Ratu Lilith merasakan perasaan hangat dalam hatinya.
...***...
Melihat mentari mulai menampakkan diri dari timur, Ciel bangkit. Dia berdiri dengan tatapan kosong.
Berjalan melewati reruntuhan, melihat mayat atau korban terluka, dia sama sekali tidak merubah ekspresinya.
Terus berjalan mengabaikan mengabaikan para ksatria yang berlalu-lalang, Ciel terus berjalan ke arah sosok Aragil pergi. Ekspresinya tidak berubah. Fisiknya hampir sembuh dan energinya hampir pulih.
Sampai di tembok kastil, enam sayap hitam muncul di punggung pemuda itu. Dia kemudian terbang sambil terus mengamati area sekitar. Pemuda itu kemudian melihat banyak jejak kaki yang masih baru tetapi menghilang di area hutan dengan banyak bebatuan.
Ciel kemudian mengamati sekitar dan mencari. Sampai akhirnya, pemuda itu menemukan sebuah kotak hitam aneh.
Turun lalu mengambil benda itu, tatapan kosong Ciel menjadi lebih jernih sekaligus semakin dingin. Niat bertarung yang belum dia rasakan muncul dalam hatinya.
Memegang erat kotak hitam aneh, Ciel memejamkan matanya.
“Lain kali … lain kali aku akan mengalahkanmu.”
>> Bersambung.
__ADS_1