
“Berhenti, Lin-Ling, kamu-”
Sebelum Marina menyelesaikan ucapannya, wanita itu melihat Ciel memegang putrinya dengan kedua tangan lalu mengangkatnya. Wanita itu langsung merasa gugup. Dia langsung melirik Asterious, tetapi Minotaur itu hanya tertegun dengan ekspresi konyol di wajahnya.
Berbeda dari dugaannya, Marina tidak melihat Ciel melukai atau menyakiti putrinya. Sebaliknya, Pangeran itu malah menggendong putrinya dengan senyum lembut di wajahnya. Sama sekali tidak seperti para bangsawan yang jijik jika disentuh oleh rakyat biasa.
“Mungkin lain kali,” ucap Ciel sambil mengelus kepala gadis kecil itu.
Lin-Ling agak kecewa tetapi merasa sangat senang digendong dengan lembut oleh Ciel. Lagipula, selain ibunya, belum pernah ada yang menggendongnya seperti itu. Bahkan, ‘Papa’ barunya, tidak bisa menggendong seperti itu dan hanya membuat dirinya duduk di pundak Minotaur itu.
Hal semacam itu memang menyenangkan. Hanya saja, rasanya masih berbeda dengan kehangatan dekapan seseorang. Lin-Ling kecil memejamkan matanya, bersandar di dada Ciel. Gadis itu menguap, terlihat mengantuk.
Ketika Ciel mengelus lembut kepalanya, gadis kecil itu perlahan tertidur dalam pelukan Ciel. Menggendong anak kecil sampai tertidur semacam itu, Ciel tersenyum lembut. Dia tidak bisa tidak mengingat pada saat dirinya yang masih kecil berusaha mengasuh adiknya, Lilia.
“Kenapa kalian memandang seperti itu?” tanya Ciel.
Semua orang yang melihat sisi lembut Ciel itu menggeleng ringan. Tidak menyangka, sosok yang dijuluki Marquis of Blackfield, orang yang membunuh tanpa berkedip, memiliki sisi seperti itu.
Ciel berjalan dengan santai masuk ke Kastil Black Orchid sambil menggendong Lin-Ling. Asterious, Moomo, dan Marina mengikutinya.
Sama seperti di Kota Greenscale, bangunan utama Kastil Black Orchid sama sekali digunakan. Namun semua ruangan selalu dibersihkan. Dari segi dekorasi, kastil ini lebih baik daripada Kastil Greenscale, tetapi masih lebih buruk daripada Kastil Black Lily.
Kastil Greenscale dan Kastil Black Orchid mungkin memiliki ukuran yang nyaris sama. Hanya saja, dari segi kemakmuran, daerah Greenscale yang paling subur di wilayah Blackfield memiliki pendapatan lebih banyak.
Daerah Black Orchid sendiri memiliki potensi yang lebih besar daripada Greenscale. Hanya saja, orang di dunia ini dan era seperti ini belum terlalu memikirkannya.
Untuk saat ini, daerah Black Orchid juga masih fokus pada penumbuhan ladang. Meski itu memang penting, bagi Ciel, itu membunuh potensi Kota Black Orchid. Alasannya sederhana.
Pertama, adanya sungai besar yang menghubungkan berbagai wilayah tidak hanya Wilayah Blackfield.
Kedua, daripada tanaman pokok seperti biasa, lebih baik menggunakan air dari sungai untuk menumbuhkan beberapa tanaman obat kelas rendah yang membutuhkan banyak pasokan air bersih.
Ketiga, sungai itu lebar dan dalam. Menurut Ciel, alangkah baiknya jika memulai budidaya ikan air tawar yang bisa meningkatkan gizi dalam pangan rakyat dan juga bisa dijual.
Keempat, dengan alasan pertama, Kota Black Orchid seharusnya bisa dibuat sebagai kota perdagangan besar jika membuat sebuah pelabuhan.
Ada juga beberapa alasan lain, tetapi itu adalah alasan paling penting.
__ADS_1
Masalahnya, daripada perjalanan melewati sungai, kebanyakan lebih memilih perjalanan darat. Belum lagi, memang di dunia ini, perjalanan melalui sungai lebih beresiko. Hanya saja, Ciel merasa kalau menggunakan sarana sungai lebih cepat daripada di darat. Tentu saja, yang paling cepat adalah menggunakan sarana udara.
Hal semacam itu sangat sulit dilakukan. Jangankan menggunakan sarana udara, menjinakkan Demonic Beast tipe terbang yang cukup besar untuk mengangkut orang dan barang saja sangat sulit. Tentu saja kasus khusus Ciel dan Elena bisa dianggap pengecualian.
Sampai di ruang santai, Ciel duduk sambil tetap menggendong Lin-Ling. Sebenarnya dia ingin menyuruh pelayan membawa gadis kecil itu ke kamar. Namun, ekor ular Melusine kecil benar-benar menjerat tangannya. Kelihatannya tidak ingin melepaskan Ciel.
Ciel sama sekali tidak jengkel atau marah. Lagipula, itu hanya anak kecil yang belum mengerti apa-apa. Memarahi mereka dengan alasan sepele bukanlah hal yang baik. Belum lagi, perasaan anak kecil lebih rentan. Hal semacam itu mungkin bisa menyebabkan dampak buruk pada psikologis anak.
“Kalian boleh duduk,” ucap Ciel.
Sementara Ciel duduk sambil memangku Lin-Ling yang tidur pulas, di sofa panjang seberang meja, tampak Asterious yang duduk di antara dua wanita. Ya … meski yang satu tampak seperti banteng yang berdiri dengan dua kaki dan satunya setengah ular.
Melihat mereka bertiga, Ciel diam-diam memutuskan untuk lebih sering pergi bersama salah satu wanitanya. Hanya saja, jika dirinya pergi dengan salah satu wanita, sulit mengatur pekerjaan yang telah diberikan kepada mereka.
Sekarang, Ciel lebih santai karena dia hanya khusus mengurus dokumen penting yang memerlukan persetujuannya. Masalah tiga daerah pribadi, Ariana yang mengurusnya. Sedangkan masalah wilayah yang diurus lima Viscount, Camellia mengurusnya.
Selain itu, masalah divisi normal diatur oleh Elena. Masalah divisi bayangan, diatur oleh Isabella. Intinya, Ciel merasa bahagia sekaligus tertekan karena memiliki wanita cakap di sisinya.
“Untuk sekarang, kalian akan aku tugaskan untuk mengatur daerah Black Orchid karena aku kekurangan orang cakap di bawahku. Tenang saja, itu hanya sampai akhir musim semi.
Setelah itu, aku akan menunjuk Asterious untuk memimpin daerah Blackrock. Bukan hanya kamu, Asterious, jika berjalan dengan lancar … Jean juga akan aku tunjuk sebagai pemimpin daerah Greenscale.
“T-Tapi Tuan … seseorang seperti saya? Bangsawan? Belum lagi mengatur daerah, tanpa bantuan Pak Kun, saya bahkan tidak bisa mengatur jadwal saya sendiri.”
Ya … paling tidak kamu sadar kalau dirimu tidak pintar.
Ciel setuju dengan ucapan Asterious. Hanya saja, dia menggeleng ringan.
“Tentu saja. Kali ini Kun tidak akan membantumu. Dia adalah ayah Jean. Orang itu, istri, dan anak-anaknya akan pindah ke daerah Greenscale lalu membantu Jean mengatur wilayah.”
“Itu … itu … bukankah itu berlebihan, Tuan? Jean dan Pak Kun pintar. Keluarganya juga pasti tidak lebih buruk. Belum lagi, Jean memiliki enam bawahan setia.” Asterious berkata dengan ekspresi tidak nyaman.
“ASTERIOUS!” seru Ciel.
Lin-Ling yang dalam pelukan Ciel menggosok matanya, bangun dengan ekspresi bingung.
Ciel tidak memerhatikan itu. Dia lanjut berkata, “Jika kamu mendapat masalah dan terus menghindarinya, kamu tidak akan berkembang. Lagipula, kamu juga tidak sendiri! Kamu juga punya dua wanita yang mendukungmu.”
__ADS_1
“...” Asterious menunduk diam.
“Meski keduanya pasti belum memiliki banyak pengalaman dalam mengatur daerah, mereka pasti bisa membantumu. Belum lagi … bukankah kamu ingin menjadi ayah yang hebat dan dibanggakan putrimu? Jika cengeng, pulang saja ke suku dan kembali merenung!”
Asterious mendongak, melihat sosok Lin-Ling kecil yang menatapnya dengan ekspresi bingung. Mendengar ucapan Ciel, Minotaur itu merasakan semangatnya lebih membara.
“Saya mengerti, Tuan!” ucap Asterious tegas.
Ciel mengangguk puas ketika mendengar jawaban Asterious.
...***...
Dua hari kemudian.
Ciel duduk santai di halaman belakang sambil menikmati teh pagi dan melihat pemandangan sungai besar yang indah. Ekspresinya bosan. Dalam dua hari ini, dia telah melakukan banyak hal.
Pada saat itu, seorang pelayan muda menghampirinya lalu berkata, “Ada tamu yang datang untuk menemui anda, Tuan.”
Mendengar itu, mata Ciel memancarkan sedikit kilau misterius. Dia kemudian berjalan santai menuju depan bangunan utama kastil. Di sana, sudah ada kereta kuda yang terparkir.
Di depan kereta kuda, tampak tiga sosok yang tidak asing bagi Ciel. Mereka adalah Savian, Arla, dan Runa.
“Senang melihat kalian baik-baik saja,” ucap Ciel dengan senyum tulus.
“Bukankah sebaliknya? Seharusnya saya yang merasa bahagia karena bisa bertemu sosok pahlawan seperti anda, Pangeran Luciel?” Savian terkekeh, sementara Arla dan Runa mengangguk sebagai salam sopan.
Ciel kemudian melihat ke sosok pemuda pendek dengan rambut cokelat. Sosoknya kekar dan tampak cukup garang. Hanya saja, dia agak pendek.
“Ini???” tanya Ciel memandang pemuda itu.
“Jangan bercanda seperti itu, Pangeran Luciel. Saya benar-benar sakit hati ketika mendengarnya.” Pemuda itu menggeleng ringan dengan senyum pahit.
Mendengar suara familier, Ciel mengerjap. Tiba-tiba dia melihat sosok pemuda di depannya dan membandingkan dengan sosok bulat dan rakus.
“Kamu … Ferel Guldebell?” tanya Ciel ragu.
Melihat pemuda itu mengangguk. Ciel merasa pandangannya terhadap dunia mulai runtuh. Tidak bisa membayangkan kalau Ferel yang dulu bisa menjadi sosok Ferel yang sekarang.
__ADS_1
>> Bersambung.