
Setelah banyak bercerita, Ciel akhirnya mengetahui cukup banyak hal.
Pertama, Naga yang berbicara layaknya wanita bangsawan yang elegan dan sombong itu bernama Starla. Menurut makhluk itu, Avrora yang telah memberikan nama. Itu karena kebanyakan orang akan memanggilnya Frost Dragon King.
Ke dua, lupakan penampilan indah dan agak sembrono dari Starla. Meski cukup sombong dan sering terlihat menghina, dia memiliki kekuatan yang dapat mendukung kemampuannya. Lagipula … dia seekor Naga di level 7 (menengah).
Ke tiga, dugaannya tentang sifat Starla yang suka makan dan tidur sampai mati cukup tepat. Hal itu membuat dirinya cukup iri dan hanya bisa menggertakkan gigi ketika mendengar cerita nenek itu tentang bagaimana ‘mudahnya’ kehidupan.
Selain itu, masih ada beberapa hal lainnya.
“Ngomong-ngomong … karena tidak boleh bertanya tentang nenek, bolehkah aku bertanya tentang beberapa hal penting lainnya, Nenek Starla?”
“Siapa yang kamu panggil Nenek! Aku jelas masih muda … panggil aku Miss Starla.”
“...”
Bukankah kamu bilang kamu adalah rekan nenekku? Aku curiga kamu sudah sangat tua! Berhenti bersikap sok imut!
Ciel merasa tertekan. Namun karena benar-benar merasa apa yang ingin dia tanyakan sangat penting, pemuda itu akhirnya mengalah.
“Kalau begitu, bolehkah aku bertanya, Miss Starla?”
“Katakan,” ucap Starla dengan kepala terangkat. Tampak bangga.
“Bagaimana cara menembus ke level 7?”
“...”
Starla menatap Ciel dengan ekspresi terkejut. Dengan agak ragu, dia akhirnya bertanya.
“Apakah kamu berada di puncak level 6, Luciel Kecil? Jika tidak, seharusnya kamu tidak perlu mempertanyakan ini. Fokus kepada hal yang salah akan mempengaruhi kemajuan kamu. Juga-”
“Aku sudah berada di level 6 (akhir) dan menabrak dinding pembatas. Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana menembus penghalang itu.”
“...”
Starla tidak bisa berkata-kata. Setelah menimbang beberapa hal, Naga dengan sisik bak safir itu menjelaskan.
“Yang aku tahu, Demonic Beast dan Iblis memiliki cara berbeda. Namun yang paling penting dan sebagai inti … kamu harus bisa membuat Domain.”
“Domain???” tanya Ciel.
Starla mengangguk ringan. Setelah itu, dia melanjutkan.
“Coba gunakan sihir kamu untuk menyerangku, Luciel.”
“En?”
__ADS_1
Ciel tampak bingung. Meski begitu, dia langsung menggunakan sihir sederhana. Bola api kecil muncul di jarinya. Pada saat itu juga, ekspresi pemuda itu berubah.
“Ini …”
“Apa yang kamu rasakan itu adalah Domain.”
“...”
Ciel terkejut. Biasanya pemuda itu dengan mudah menggunakan sihir karena skill Arcana Lord. Namun kali ini dia terkejut karena kecepatan casting mantra benar-benar melambat. Hampir dua kali lebih lama.
“Benar-benar bakat yang luar biasa,” ucap Starla. “Di dalam Domain pun kamu masih bisa casting mantra dengan kecepatan seperti itu. Namun …”
Pada saat Ciel berkedip, ekspresinya langsung berubah. Entah sejak kapan, dalam ruangan tempat dia dan Starla berada tiba-tiba dipenuhi pedang es melayang yang tidak terhitung jumlahnya.
Seluruh pedang itu mengarah kepada Ciel, membuat pemuda itu terkejut. Pada saat itu juga, suara Starla kembali terdengar di benaknya.
“Ini adakah Domain milikku, World of Ice.”
“Jadi, apa yang disebut Domain itu …”
“Ya. Sebuah kekuatan untuk mempengaruhi suatu ruang di sekitarnya dalam radius tertentu. Seluruh Domain bisa membuat lawan yang lebih lemah kesulitan dalam casting mantra, konsumsi lebih banyak tenaga untuk melawan secara fisik, dan beberapa penurunan atribut lainnya.
Yang terpenting, Domain itu sendiri membuatmu memiliki satu lagi kemampuan tambahan. Seperti contohnya, World of Ice milikku membuat diriku bisa memanipulasi elemen atau lebih tepatnya energi yang mengandung unsur es dalam radius 10 kilometer dengan aku sebagai pusatnya.
Sebenarnya, ada banyak macam Domain dan setiap makhluk mungkin bisa memadatkan atau memahami satu Domain untuk setiap skill bawaan yang dia miliki. Karena pada dasarnya setiap skill kebanyakan memiliki atribut, biasanya Domain yang dibuat adalah Domain yang termasuk ke dalam pengendalian element.
Mendengar ucapan Starla, Ciel memejamkan mata sambil merenung.
“Jadi … Domain itu sendiri bisa dikatakan sebagai kekuatan untuk memanipulasi energi tertentu dalam bidang di sekitarnya?”
“Kurang lebih seperti itu.”
“Kelihatannya tidak sesederhana itu,” gumam Ciel. “Apakah kamu memiliki tips lain, Miss Starla.”
“Aku hanya bisa membantumu sampai di sini, Luciel. Demonic Beast dan Iblis berbeda. Kami biasanya mendapat pencerahan untuk menyadari dan memiliki Domain sendiri.
Sedangkan untuk Iblis, aku sendiri kurang paham. Kamu bisa bertanya kepada Ragnar.”
“...”
Siapa yang mau bertanya kepada lelaki tua itu? Bukankah itu sama dengan mencari masalah?
Setelah merenung cukup lama, Ciel menggeleng ringan. Karena tidak memiliki petunjuk, pemuda itu akhirnya memilih melupakanannya untuk saat ini. Menatap ke arah Starla, pemuda itu tersenyum.
“Terima kasih banyak.”
“Itu bukan masalah.”
__ADS_1
Starla menggeleng ringan. Detik kemudian, pedang es tak terhitung jumlahnya menghilang begitu saja. Naga itu kemudian berkata,
“Karena kamu sudah berada di sini. Ambil apa yang Avrora tinggalkan untuk keturunannya.”
“Eh?”
“Pergi saja melewari goa itu. Setelah turun ke bawah melewati tangga, akan ada ruangan kecil. Avrora meninggalkan sesuatu di sana.”
“...”
Melihat ekspresi Starla, Ciel menghela napas sebelum mengangguk. Dia kemudian pergi ke ruangan itu. Sebenarnya, pemuda itu juga menantikan harta apa yang telah ditinggalkan oleh neneknya.
Aku harap itu banyak uang …
Setelah menuruni tangga, Ciel akhirnya sampai di sebuah ruangan kecil. Berbeda dari dugaannya, tidak ada koin emas yang tak terhitung jumlahnya. Itu hanya ruangan kecil kosong dengan sebuah pedang yang tertancap pada batu di tengah ruangan.
Ciel mendekati pedang itu lalu melihat ke arah ukiran pada batu.
‘JIKA KAMU MENGAMBILNYA, KAMU HARUS MAU MENERIMA BEBANNYA.’
Melihat kalimat yang diukir dengan jelas, Ciel langsung mencium aroma masalah. Pemuda itu merasa pedang yang ada di sana akan membawa masalah baginya. Di sisi lain, pemuda itu tidak bisa mengabaikan Senjata Artifak jenis pedang yang selama ini dia inginkan.
Dalam dilema, Ciel akhirnya menggertakkan gigi lalu mengambil pednag itu. Setelah menarik pedang dari batu, ekspresi pemuda itu berubah.
Dari gagang pedang muncul banyak duri yang menusuk kulit di gagang pedang dan akhirnya menyedot darahnya. Setelah beberapa saat, pedang itu kembali normal. Namun, Ciel bisa merasakan suatu hubungan dekat dengan pedang itu.
Ciel merasa pedang itu seperti perpanjangan dari tangannya. Pemuda itu mencoba dengan penasaran. Apa yang mengejutkan, pednag itu mampu memotong bebatuan seperti sedang memotong tahu.
Selain itu, ketika Ciel mencoba memasukkan sedikit saja mana, aura hitam yang terasa sangat panas muncul melapisi pedang itu.
Melihat pedang hitam legam dan indah itu, Ciel mengangguk puas. Dia mengangguk puas sebelum akhirnya melihat pesan kecil di bawah batu tempat pedang di tancapkan.
‘Kamu telah mengambil dan membuat ikatan dengan pedang itu. Aku harap kamu tidak mengeluarkannya dengan mudah atau membawanya ke bagian tengah benua.’
‘Jika kamu melakukannya, bersiaplah untuk dikejar salah satu dari tiga Kekaisaran di tengah benua. Ya … mungkin mereka akan mencoba mengejar dan membunuhmu, bahkan sampai ke ujung dunia.’
‘Selamat berjuang. Hehehe~’
Melihat itu, ekspresi Ciel berubah dari bahagia menjadi pucat. Dia merasa pedang indah di tangannya menjadi agak berat. Membuatnya merasa agak putus asa.
Apanya yang hehehe! Tidak bisakah kamu sedikit serius?
Cucumu ini mungkin mati karena tingkah sembrono yang kamu lakukan!
Merasa tertekan, Ciel hanya bisa melolong sedih dalam hatinya.
>> Bersambung.
__ADS_1