
“Mohon maaf, Tuan Muda Ferel. Saya merasa lelah, jadi ingin beristirahat terlebih dahulu.”
Helena segera melepaskan tangan Ferel. Wanita itu membungkuk sopan kepada orang-orang di pesta sebelum akhirnya mundur, kembali ke dalam kastil dengan dalih kelelahan. Meninggalkan sosok Ferel yang terdiam di tengah kerumunan pasangan yang sedang berdansa.
Sampai di lantai atas kastil, Helena melihat ke arah sang ayah yang datang menghampirinya. Pria itu menatap putrinya dengan ekspresi cukup ragu, kelihatannya bingung ingin mengatakan apa.
“Apakah kamu baik-baik saja, Helena?” tanya Marquis Roschild dengan ekspresi ragu.
“Saya baik-baik saja, Ayah.” Helena mengangguk ringan. “Maaf saya, benar-benar tidak bisa langsung membujuk Pangeran Luciel. Namun Ayah dapat yakin, Helena akan mencoba lebih baik di lain kesempatan.”
Melihat putrinya yang masih bertekad, Marquis Roschild merasa bangga sekaligus agak kasihan. Dia memberi sedikit kata sebagai dorongan.
“Tidak apa-apa. Lagipula, Pangeran Luciel tidak disebut ‘pangeran’ tanpa suatu alasan. Sebagai seorang pangeran, sudah wajar jika dia memiliki penolakan kepada godaan semacam itu.”
“Tidak, Ayah. Helena yakin bisa melakukannya. Itu hanya lebih sulit, tetapi bukan mustahil. Saya pasti akan berjuang untuk melakukannya dengan baik.”
“Ya … kalau begitu aku serahkan kepadamu.”
“Tentu saja, Ayah. Helena mengerti.”
Kembali ke kamarnya, wanita itu segera menuju kamar mandi dalam ruangan sebelum mencuci wajahnya. Melihat sosok cantik yang terpantul di cermin, sara percaya diri Helena kembali. Dia mengangguk dengan ekspresi percaya diri.
“Benar, Helena! Kamu bisa melakukannya! Setelah banyak percobaan, Pangeran Luciel pasti akan luluh! Ya … luluh dan memulai memanjakan diriku seperti harta kecil miliknya.”
Sementara itu, pesta berjalan sebagaimana mestinya. Tanpa terasa waktu berlalu, hampir larut malam. Pesta akhirnya berakhir.
Marquis Roschild beserta keluarga muncul untuk mengantar para tamu ke depan pintu untuk kembali.
Pada saat giliran Ciel, pemuda itu merasa Keluarga Roschild terlalu antusias terhadap dirinya. Ketika berjabat tangan dengan Helena, dia merasakan sebuah kertas yang diselipkan ke tangannya. Ciel memilih untuk menerimanya tanpa membuat keributan.
Masuk ke dalam gerbong kereta, Ciel melihat kertas terlipat di telapak tangannya. Setelah membukanya, dia melihat kalimat yang tidak terlalu panjang atau pendek.
‘Helena kecil pasti akan merindukan anda, Pangeran. Jika ada kesempatan, pastikan untuk mengirim surat untuk Helena …’
Melihat kalimat manja dengan beberapa pola hati yang digambar dengan sengaja untuk menambah keimutannya, Ciel menggeleng ringan. Mengepalkan tangannya, kertas itu terbakar menjadi abu. Membuka tangannya, dia meniup abu ke luar jendela. Pergi dengan kereta tanpa memikirkannya.
Dalam hati Ciel, Helena termasuk dalam spesies berbahaya. Jadi diam-diam pemuda itu memutuskan untuk menjauhinya.
Kembali ke penginapan, Ciel segera pergi ke kamarnya. Dia menyuruh Shana mengambilkan satu baskom air hangat dan handuk. Pemuda itu kemudian menyeka seluruh keringat di sekujur tubuhnya sebelum berganti pakaian.
Setelah berganti pakaian, Ciel berbaring malas di atas ranjang sambil melamun. Lebih tepatnya, menghitung banyak hal yang terlintas dalam kepalanya.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Suara ketukan pintu terdengar, membuat Ciel terbangun dari lamunannya. Dia dengan santai menuju pintu. Merasakan kalau sosok di balik pintu sama sekali bukan ancaman baginya, pemuda itu membuka pintu dengan santai. Pada saat itu, ekspresinya sedikit stagnan. Alasannya …
Pengunjung tengah malam yang mendatanginya itu adalah selir Savian, Arla si wanita Abyssal Barbarian.
“Apakah kamu mengetuk pintu yang salah?” tanya Ciel dengan curiga.
Pertanyaan Ciel membuat Arla menunduk malu. Setelah ragu sesaat, wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap mata Ciel. Dia kemudian berkata lirih.
“Bolehkah saya masuk, Pangeran Luciel?”
Melihat Arla yang gugup, Ciel menghela napas panjang.
“Masuk.”
...***...
Sembilan hari berlalu setelah pesta, kereta kuda Ciel akhirnya muncul di pintu gerbang Kota Black Lily. Para penjaga menyambutnya dengan antusias. Benar-benar memberi sambutan hangat dan membuat pemuda itu merasa sampai di rumah.
Sampai di Kastil Black Lily, para bawahannya telah menunggu dan menyambut dengan hangat. Seperti biasa, setelah memberi satu atau dua kalimat, Ciel pergi ke kamarnya, mandi lalu beristirahat. Malam harinya, mereka membuat pesta kecil.
Setelah pesta, Ciel yang kembali ke kamar diikuti oleh Isabella. Benar, dibandingkan Ariana, Camellia, dan Elena yang dilarang untuk naik ke lantai tempat Ciel menyimpan barang pribadi … Isabella memiliki keistimewaan itu.
Alasan Ciel melakukan itu bukan karena dia tidak percaya dengan tunangan atau kedua selirnya. Namun, untuk pekerjaan kotor yang dia lakukan, pemuda itu memilih untuk menyembunyikannya.
“Apakah Nona Camellia juga akan terlibat, Tuanku?” tanya Isabella.
Apa yang wanita maksud dengan terlibat tentu saja melakukan hal-hal kejam di balik bayangan. Tentu saja, alasan Isabella menanyakan itu karena Ciel benar-benar menyimpan peti mati Camellia di lantai khusus itu.
“Tidak. Aku hanya memastikan keamanannya. Setelah prosesnya selesai, dia akan kembali ke lantai bawah. Sampai saat itu … bantu aku menjaganya.”
“Sesuai perintah anda, Tuanku.”
“Tidak biasanya kamu mengikutiku sampai di sini, Isabella. Ya … kecuali saat-saat tertentu. Ada apa?”
Saat-saat tertentu adalah saat Ciel mengajak para wanitanya ke kamar, atau saat Camellia yang putus asa menerobos lantai itu dan menunggu di kamarnya. Tentu saja, momen semacam itu tidak terlalu Ciel perhatikan. Para wanitanya begitu patuh. Selain berada di kamarnya atau melewati lorong, mereka benar-benar tidak berani membuka ruangan-ruangan di lantai itu.
“Tidak bisakah budak ini datang karena merindukan tuannya?”
Isabella berkata dengan ekspresi menggoda. Dia mendekati Ciel dari belakang lalu memeluk sambil menempelkan dua melon ke punggung pemuda itu. Isabella kemudian mengecup leher Ciel sambil menggigit lembut. Bertingkah manja ketika tidak ada orang di sekitar mereka.
“Ada apa? Jika tidak ada apa-apa … sebaiknya kamu kembali dan beristirahat.” Ciel berkata dengan ekspresi tak acuh.
“Begitu dingin, tetapi budak ini sangat menyukainya. Haruskah budak ini berganti dengan ‘pakaian itu’ lalu memberi anda pijatan. Kelihatannya anda cukup kelelahan, Tuan.” Isabella berbisik lembut di telinga Ciel.
__ADS_1
“Isabella …” Suara Ciel menjadi lebih dingin.
“Kelihatannya Tuan sedang dalam mood buruk. Budak ini datang untuk melaporkan … delapan penginapan selesai dibangun. Jika Tuan ingin, anda bisa segera mengirim para Dark Elf ke sana.”
“Sudah selesai?”
“Benar, Tuanku.”
“Bagus. Kamu telah melakukannya dengan baik, Isabella.”
“Itu sudah tugas budak ini, Tuan.”
Melepas tangan Isabella, Ciel yang sedari tadi berdiri duduk di tepi ranjang. Melihat ke arah Isabella yang mempesona berdiri di depannya, dia memberi perintah.
“Duduk.”
Tanpa menunggu lama, Isabella duduk di depan Ciel dengan patuh.
Menatap ke arah Isabella yang duduk di lantai sembari mendongak untuk menatapnya, Ciel mengulurkan tangan untuk membelai lembut pipi wanita itu.
“Benar-benar wanita nakal … begitu menikmati ketika diperlakukan seperti ini oleh tuannya?”
“Tuan …” Merasakan sentuhan Ciel, Isabella mengerang lembut.
“Apakah kamu tahu, Isabella. Awalnya aku sama sekali tidak tertarik denganmu. Meski kamu cantik, di Istana Kekaisaran … banyak pelayan cantik sepertimu.”
“...”
“Kamu tahu kenapa aku memperlakukanmu dengan berbeda? Itu karena sikap tegas dan keras kepala yang kamu punya. Kamu benar-benar selalu mencoba mendekat dan mencari kesempatan. Bahkan setelah beberapa kali hampir mati … kamu masih melakukannya.
Sikapmu yang tegas ketika menjalankan segala perintah yang aku ucapkan. Tidak ragu mengotori tangan kecil dan halus itu untuk tuannya. Itu hal yang mempesona.
Apakah kamu tahu apa yang paling aku suka darimu?”
“...” Isabella yang mendongak sambil menggeleng ringan.
“Tatapan matamu yang menunjukkan tekad dan kesetiaan mutlak. Benar-benar menyerahkan seluruh jiwa dan raga untuk satu orang. Tatapan yang mengatakan bahwa aku bisa melakukan segalanya …
Bahkan jika aku merusak lalu membuangmu begitu saja.”
Ciel menunduk lalu berbisik lembut ke telinga Isabella.
“Gadis patuh seperti itu … aku sama sekali tidak membencinya.”
__ADS_1
>> Bersambung.