Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Maaf, Jalan Ditutup


__ADS_3

Melihat Ciel yang menghilang dalam kegelapan malam, aura hijau yang menyelimuti Raja Wade lenyap. Orang itu mendongak ke atas, memejamkan mata sebelum menghela napas panjang.


“Apakah … aku benar-benar tidak bisa dimaafkan?”


Pada saat itu, Raja Wade terkejut ketika melihat Ratu Elizabeth memeluknya dengan lembut.


“Mungkin perbuatan anda memang tidak bisa dimaafkan, paling tidak untuk sekarang. Jadi … teruslah hidup untuk menebus segala kesalahan anda, Rajaku.”


“...”


Merasakan rasa sakit yang terus menggerogoti tubuhnya, Raja Wade menghela napas berat. Meski dia ingin, pria itu tahu mungkin tidak akan bertahan sampai perang berakhir. Seperti yang diucapkan Ciel, kemungkinan menang hampir mustahil.


“Elizabeth, aku memiliki perintah terakhir untuk kamu.”


“Apakah itu membujuk Pangeran Luciel? Jika benar, saya harus segera mengejar lalu-”


“Bukan.” Raja Wade menggelengkan kepalanya.


“Lalu?” tanya Ratu Elizabeth dengan ekspresi bingung.


“Ketika Istana Black Gemma sudah tidak bisa menahan serangan para pemberontak dan kekalahan datang, aku tidak ingin kamu berada di sisiku. Sebagai gantinya, cari Pangeran Luciel dan ikuti dia untuk pergi ke Kekaisaran Black Sun.”


“Rajaku … anda-”


“Aku terlalu banyak melakukan kesalahan. Aku tidak pernah memperhatikan kalian yang selalu berada di sekitarku dan peduli kepadaku. Aku memiliki terlalu banyak penyesalan …


Aku tidak ingin menambahnya lagi. Bukan hanya kamu, tetapi Nura dan Fryssa juga akan pergi. Jadi jangan bersikeras untuk tinggal dan membuat kematianku tidak nyaman.”


“...”


Mendengar ucapan Raja Wade, Ratu Elizabeth tertegun. Melihat sosok yang biasanya dingin dan kejam sekarang tersenyum lembut ke arahnya, wanita itu merasa pandangannya berkabut. Dia dan kedua Ratu lainnya telah menunggu waktu ini, waktu di mana Raja Wade merubah sikapnya.


Hanya saja, Ratu Elizabeth tidak menyangka … waktu itu memang tiba. Hanya saja, tiba berdekatan dengan akhir cerita mereka.


“Kalau begitu aku akan pergi menemui Nura dan Fryssa.” Raja Wade tersenyum lembut.


“...”


Melihat sosok Raja Wade yang pergi, Ratu Elizabeth membulatkan tekad. Dia kemudian pergi meninggalkan Istana Black Gemma menuju ke kota.


...***...


Di atas atap salah satu bangunan kota.


“Kenapa anda tahu saya ada di sini?”


Duduk di atap bangunan sambil memandangi bintang-bintang, Ciel merasakan sosok yang muncul di belakangnya.

__ADS_1


“Ariana bilang, kamu suka berdiri di tempat yang paling tinggi. Bukan hanya untuk melihat indah dan luasnya langit, tetapi karena berada di atas membuatmu bisa melihat lebih luas.


Melihat apa yang ada di bawahmu dengan lebih jelas.”


“Apakah Ariana menyebutkan itu dalam suratnya? Gadis itu hanya terlalu memuji saya.”


“Menurutku, apa yang dikatakan Ariana benar.”


Mengabaikan pujian dari sosok yang berdiri di belakangnya, Ciel kembali bertanya.


“Lalu … apa yang anda inginkan sampai datang ke tempat seperti ini untuk menemui saya?”


“Aku juga tahu dari Ariana, kamu adalah sosok yang suka membuat kesepakatan. Jadi … aku ingin membuat kesepakatan denganmu.”


“Hm? Sebutkan,” ucap Ciel singkat.


“Tolong bantu Kerajaan Black Star untuk bertahan dari serangan pemberontak!”


“Lalu … apa yang anda tawarkan?”


“Seluruh harta dan diriku sendiri. Kemungkinan besar Raja Wade tetap akan meninggal dalam perang besok. Saya harap anda dapat melindungi Kerajaan Black Star.


Setelah itu, biarkan Ratu Nura dan Ratu Fryssa membimbing Edgar untuk menjadi Raja yang baru. Sedangkan aku, aku akan pergi bersamamu menuju ke Wilayah Blackfield.


Mau menjadikan aku sebagai pelayan, bahkan budak. Aku tidak peduli lagi.”


“Dari Ratu menjadi budak …” gumam Ciel tanpa menoleh ke belakang. “Apakah saya boleh bertanya?”


“Kenapa anda sampai melakukan semua itu? Berkorban kepada Kerajaan yang bahkan tidak akan mengingat jasa anda di masa depan.”


Mendengar pertanyaan Ciel, Ratu Elizabeth tersenyum lembut.


“Mungkin karena itu adalah harapan terakhir suamiku? Harapan agar Kerajaan Black Star terus ada dan tidak runtuh di tangannya. Sebagai seorang istri, mungkin peran ini yang bisa aku lakukan untuknya.”


Mendengar satu kata yaitu ‘harapan’, Ciel tahu Ratu Elizabeth sama sekali tidak disuruh atau dipaksa. Sebaliknya, wanita itu membulatkan tekad untuk mendukung sosok Raja Wade dari belakang. Terus menemani orang itu walau di jalan yang begitu terjal.


Ciel menghela napas panjang.


“Raja Wade beruntung menikahi wanita seperti anda, Ratu Elizabeth.”


“Jadi-”


“Saya menolak.”


“...”


Ratu Elizabeth awalnya berpikir bahwa Ciel akan menerima tawarannya. Tanpa dia sangka, pemuda itu benar-benar menolaknya begitu saja. Bahkan tanpa memikirkannya baik-baik terlebih dahulu.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Ratu Elizabeth dengan ekspresi linglung.


“Tidak ada alasan. Kesepakatan gagal, anda boleh kembali.”


Mendengar ucapan Ciel, Ratu Elizabeth tahu bahwa apapun yang dia katakan sia-sia. Menggertakkan gigi dengan ekspresi kurang nyaman, wanita itu akhirnya hanya bisa pergi dengan ekspresi sedih di wajahnya.


Setelah Ratu Elizabeth pergi, Ciel masih duduk di sana sambil memandangi lautan bintang. Karena ekspresinya yang begitu datar, tidak ada yang tahu sebenarnya dia sedang memikirkan apa. Pemuda itu hanya bergumam.


“Harapan terakhir, kah?”


...***...


Keesokan harinya.


Raja Wade yang memimpin para ksatria menuju ke arah timur Ibukota terkejut ketika menerima berita dari salah satu scout.


“Apa maksud dari semua itu?” tanya Raja Wade dengan ekspresi marah.


“Seperti yang saya katakan, Rajaku. Seluruh ksatria dari dua Duchy yang bergegas daro timur dipimpin oleh Duke Windrivers. Namun sebagian besar ksatria elit di pihak mereka sama sekali tidak terlihat.


Kemungkinan besar mereka mengikuti sosok Jenderal dari Curses of Shadow itu untuk menyerang dari arah lain.”


Memikirkan baik-baik, ekspresi Raja Wade menjadi agak pucat. Tidak terlalu jauh di barat Ibukota ada sebuah gunung yang tidak terlalu tinggi, tetapi memiliki hutan lebat. Kemungkinan besar mereka bersembunyi di sana. Menunggu kesempatan untuk menyerang.


Memikirkan jumlah ksatria yang tertinggal di Ibukota, wajah Raja Wade menjadi lebih buruk.


“Duke Gostag! Kamu membawa sepertiga dari pasukan untuk kembali ke Ibukota!”


“T-Tapi, Rajaku-”


“Tidak ada kata tapi! Tidak peduli terlambat atau tidak, kamu harus segera kembali!”


Melihat Raja Wade yang marah, Duke Gostag segera menjawab.


“S-Sesuai perintah anda, Rajaku!”


Sementara di timur terjadi kepanikan, kejadian lain terlihat di sisi barat Ibukota.


Kira-kira sepuluh ribu cavalry yang terdiri dari ksatria elit dari dua Duchy ditambah dengan para anggota dari Curses of Shadow.


Niat membunuh terlintas jelas dari tatapan mereka. Memacu kurang perang, mereka bergegas ke ibukota. Namun ketika melewati padang rumput yang luas, mereka semua terhenti. Tampak terkejut melihat pemandangan di kejauhan.


Di kejauhan, terlihat dinding hitam yang tinggi membatasi jalur mereka untuk maju menuju Ibukota. Dinding hitam itu berkilauan ketika diterpa cahaya, karena dinding itu terbuat dari es yang tampak begitu padat.


Mata mereka semua kemudian menatap sosok yang berada di depan dinding raksasa itu. Ya ... Di depan dinding, tampak singgasana yang terbuat dari es.


Di atas singgasana, terlihat seorang ksatria dengan topeng dan jubah hitam sedang menopang dagu. Tampak bosan dan tak acuh. Ksatria hitam itu kemudian menatap ke arah sepuluh ribu cavalry.

__ADS_1


“Maaf, jalan ditutup. Silahkan kembali atau … kalian bisa tinggal selamanya di sini.”


>> Bersambung.


__ADS_2