
Suasana tempat itu langsung menjadi tegang. Semua orang mulai saling memandang dengan ekspresi bingung. Entah siapa yang memulai, suara pujian mulai terdengar.
“Selamat kepada Pangeran Heath.”
“Selamat, Pangeran Heath! Saya sudah menduganya.”
“Semoga kemuliaan dan kesuksesan selalu menyertai anda, Pangeran Heath.”
“...”
Mendengar seluruh pujian itu, Heath tampak bingung. Dia merasa sedang bermimpi. Namun saat itu juga, dia merasakan sebuah tangan menepuk punggungnya. Pemuda itu kemudian menoleh, melihat ayahnya, Raja Garvin tersenyum ke arahnya.
Heath merasa jantungnya berdegup kencang. Melihat ke arah para bangsawan dari Kerajaan Natrace dan tamu dari luar kerajaan, dia menjadi lebih bersemangat. Pemuda itu langsung membungkuk sopan sambil menjawab.
“Terima kasih, terima kasih banyak, Semuanya.”
“CUKUP!!!”
Suara teriakan terdengar. Semua orang langsung menoleh ke sumber suara. Di sana terlihat Pangeran Pertama, Helmut yang tampak muram. Orang itu langsung memandang Raja Garvin dengan marah.
“Apa maksud dari semua ini, AYAH! Anda bilang bahwa anda mengharapkan saya untuk mewarisi gelar Putra Mahkota? Apakah itu hanya tipuan semata!”
“Kamu terlalu banyak berpikir, Helmut. Memang, ayah pernah mengatakan itu. Namun bukan karena ayah ingin langsung mengangkatmu, tetapi menguji dirimu.
Kamu menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan. Kamu melakukan banyak hal kotor di balik layar dan berpikir aku tidak melihatnya. Setelah semua itu, apakah kamu berpikir dirimu pantas menjadi Raja, Helmut?
Ayah benar-benar kecewa kepadamu!”
“...”
Mendengar ucapan ayahnya membuat tubuh gempal Helmut gemetar karena takut dan marah. Dia tidak menyangka perbuatannya selama ini telah diketahui oleh ayahnya. Bahkan jika dia meminta dukungan dari beberapa bangsawan, masih tidak mungkin karena Heath telah memenangkan dukungan orang-orang kuat.
Pada akhirnya, Helmut berlutut di depan ayahnya.
“Putra ini mengakui bahwa dirinya bersalah, Ayah. Namun, tolong beri Putra ini kesempatan untuk menebus kesalahan! Putra ini yakin akan bisa membuat Kerajaan Natrace maju dan menjadi lebih baik!”
Mendengar Helmut mengatakan itu, para bangsawan baik dari Kerajaan Natrace atau luar memandangnya dengan jijik. Raja Garvin juga menggeleng ringan ketika melihat putra sulung itu.
“Maaf Helmut, Ayah telah memberimu kesempatan, tetapi kamu membuangnya begitu saja.”
“...”
Mendengar itu, Helmut tahu bahwa dirinya telah gagal mendapatkan posisi Putra Mahkota. Dia bangkit dengan ekspresi muram. Tanpa mengucapkan sepatah kata, orang itu berbalik dan pergi begitu saja seolah bukan bangsawan yang seharusnya memiliki tata krama.
__ADS_1
Mengabaikan sosok itu, semuanya mulai kembali memberi selamat kepada Pangeran Heath. Sementara itu, Ciel malah lebih fokus ke Raja Garvin. Dia memandang pria paruh baya itu dengan tatapan tenang.
Setelah formalitas, semuanya kemudian kembali ke Istana tamu untuk melanjutkan aktivitas mereka. Tentu saja, kebanyakan mereka mulai membicarakan Heath dan terkejut karena ternyata orang itu sudah memenangkan kursi Putra Mahkota. Yang berarti, dia adah Raja Natrace berikutnya.
...***...
Sore harinya.
Tok! Tok! Tok!
Beristirahat di kamarnya, Ciel yang sedang santai akhirnya membuka matanya. Pemuda itu kemudian membuka pintu. Melihat wanita Succubus yang tampak tidak asing, ekspresi pemuda itu tampak begitu tenang.
“Selamat sore, Pangeran Luciel. Sepertinya anda sama sekali tidak terkejut atas kedatangan saya.”
“...” Ciel hanya diam memandang wanita itu.
“Raja Garvin mengundang anda. Tolong ikuti saya untuk menemui beliau.”
“Baik.”
Mengikuti gadis itu, Ciel akhirnya pergi ke Istana Raja. Beberapa waktu kemudian, mereka akhirnya sampai di depan sebuah pintu ruangan.
Tok! Tok! Tok!
Pintu terbuka, sosok Raja Garvin yang tersenyum ramah terlihat di depan Ciel. Pria paruh baya itu kemudian berkata.
“Kamu boleh pergi,” ucap Raja Garvin kepada pelayan itu. Dia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Ciel. “Silahkan masuk, Pangeran Luciel. Lebih baik kita membicarakannya di dalam.”
“Baik.”
Ciel mengangguk. Memasuki ruangan, pintu segera ditutup. Meski Raja Garvin tampak ramah, pemuda itu masih sangat waspada. Dia sama sekali tidak bisa menilai apa yang ada di hati seseorang. Mungkin masih bisa menebak, tetapi mengetahui 100% itu mustahil.
“Silahkan duduk, Pangeran Luciel.”
“...”
Melihat Ciel yang duduk sambil menatapnya dengan ekspresi dingin, Raja Garvin sama sekali tidak marah. Dia malah tertawa ramah.
“Anda tidak perlu terlalu waspada kepada pria tua ini, Pangeran Luciel. Di sini sebenarnya saya ingin menyampaikan rasa terima kasih dan minta maaf.”
“...”
Mendengar itu, Ciel tampak dingin. Setelah beberapa saat, barulah dia membuka mulutnya.
__ADS_1
“Itu bahkan tidak bisa disebut sebagai bantuan. Hanya saja, saya tidak menyangka … anda benar-benar akan sekejam itu, Raja Garvin.”
“Kejam, kah?” Dari senyuman ramah, ekspresi Raja Garvin menjadi lebih serius. “Meski demikian, saya harus melakukannya. Itu adalah satu-satunya jalan, Pangeran Luciel.”
“Dengan mengorbankan putra anda sendiri sebagai batu pijakan?” Ciel berkata dengan nada tak acuh.
“Bukan batu pijakan, tetapi pondasi padat yang membuat Kerajaan Natrace tetap kuat dan tidak runtuh.” Raja Natrace menyampaikan pendapatnya sendiri.
“...”
Ciel tidak berkomentar. Melihat itu, Raja Garvin tersenyum pahit sebelum menjelaskan.
“Kerajaan Natrace akan runtuh. Apa yang saya lakukan adalah mencegahnya. Jika Helmut menjadi Raja, kerajaan ini akan menjadi penuh korup dan kacau. Kemungkinan para rakyat akan mulai memberontak. Setelah terluka karena perang saudara, kerajaan ini akan runtuh oleh serangan kerajaan lain.
Apabila Heath yang dulu menjadi Raja, kerajaan ini juga akan kacau. Tetapi bukan karena korup, melainkan karena toleransinya yang terlalu berlebihan. Bocah itu … terlalu baik. Selain itu, kemungkinan dia akan dimanfaatkan oleh orang-orang dan malah menjadi Raja boneka.
Saya melakukan semua ini … untuk Kerajaan Natrace.”
Mendengar itu, Ciel mendengus dingin sebelum membalas ucapan Raja Garvin.
“Berpura-pura memberi Helmut posisi Putra Mahkota. Membuat hati baik Heath goyah dan bimbang.
Pada akhirnya … menggunakan kekuatan eksternal untuk memancing perubahan pada Heath. Menjadikan orang itu sebagai Raja yang pantas. Tidak hanya baik, tetapi juga memiliki sisi kejam dan tegas.
Bukankah seperti itu?”
“Seperti yang diharapkan dari si jenius dari Kekaisaran Black Sun, Pangeran Luciel Dawnbringer.” Raja Garvin tersenyum dengan ekspresi terpesona.
“Saya memaafkan tindakan itu, tetapi ada yang membuat saya penasaran.”
“Tolong katakan.”
Ciel menatap mata Raja Garvin dengan dingin.
“Bagaimana anda … tahu informasi tentang saya. Anda tahu apa yang saya maksud. Itu … informasi yang hampir tidak diketahui siapa saja.”
“...”
Melihat ekspresi dingin Ciel yang tampak akan menyerang kapan saja jika dirinya membuat jawaban sembarangan, Raja Garvin mengangkat sudut bibirnya. Bukannya menjawab, tetapi dirinya malah balik bertanya.
“Pangeran Luciel, apakah anda … percaya pada nubuat?”
>> Bersambung.
__ADS_1