Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Melukai Hati Nurani


__ADS_3

Malam hari, satu minggu sejak perang berakhir.


Di Istana Kerajaan Silver Fang, pesta meriah sedang diadakan. Raja Charles dan Ratu Claudia sedang menghibur para tamu. Dalam salah satu ruangan khusus, terlihat beberapa orang duduk mengitari meja yang sama.


Mereka adalah Ciel, Camellia, Jenny, dan Theo. Sosok Ciel dengan elegan meminum anggur dalam cawan di tangannya. Ekspresi santai terlihat di wajah pemuda itu. Sementara itu, yang lainnya tampak duduk menatapnya.


Seolah menunggu kepala keluarga untuk makan terlebih dahulu, tiga orang lainnya sama sekali tidak menyentuh makanan sebelum pangeran itu melakukannya. Menyadari hal itu, sudut bibir Ciel sedikit terangkat.


“Kalian tidak perlu menungguku.”


Mendengar ucapan Ciel, ketiga orang lainnya menggeleng dengan ekspresi tegas di wajah mereka. Sebaliknya, melihat ekspresi ketiga orang di depannya, pemuda itu menghela napas panjang.


“Kalau begitu … tolong,” ucap Ciel dengan senyum lembut.


Setelah Ciel mengatakan itu, layaknya seorang istri, Jenny memotong beberapa daging panggang, sayur, dan lainnya lalu meletakkannya di atas piring. Kemudian dia menyajikannya di depan Ciel dengan senyum malu-malu.


“Ini salah satu hidangan khas Kerajaan Silver Fang, saya harap anda menyukainya, Tuan.”


Camellia yang melihat itu sama sekali tidak cemburu. Karena ketika di Kastil Black Lily, biasanya dia, Ariana, Elena, dan Isabella bergiliran untuk melakukannya. Karena Jenny sekarang juga salah satu dari mereka, Camellia tahu kalau wanita itu berhak melakukannya.


“Terima kasih, Jenny.”


Ciel mengginggil sepotong daging, mengunyah lalu menelannya. Ekspresi puas terlihat di wajahnya. Dia kemudian menatap ketiga orang lainnya.


“Kalian juga makan.”


“Baik.” Ketiganya menjawab bersamaan.


Mulai ikut makan, Camellia tampak paling tenang. Jenny sendiri merasa agak malu, tetapi berhasil menyembunyikannya. Sedangkan Theo, dia yang paling gugup di antara mereka. Sejak di Kastil Black Lily, dia biasanya makan dengan ibunya. Baru kali ini remaja itu secara khusus makan di meja yang sama dengan Ciel.


Ketika makan, Theo sesekali melirik ke arah Ciel. Tampaknya memikirkan banyak hal. Pangeran itu sendiri sebenarnya menyadari tatapan Theo. Hanya saja, dia memilih untuk diam. Di meja makan, selesaikan makan dulu, tidak baik berbicara sambil makan. Setelah makan, baru katakan apa yang ingin dikatakan.


Selesai makan malam bersama.


“Apakah ada yang ingin kamu tanyakan, Theo?”


Mendengar pertanyaan Ciel, Theo langsung menjadi gugup. Dia menunduk sambil memaikan jarinya seperti anak kecil yang tampak bersalah. Meski sudah mengerti banyak hal, Theo memang bisa dibilang masih tertinggal daripada anak seusia dengannya.

__ADS_1


“Katakan saja. Kamu tidak perlu malu,” ucap Ciel dengan lembut.


“Tuan … apakah … apakah anda akan menikah dengan ibu?”


“...”


Mendengar pertanyaan itu, ruangan itu agak sunyi. Melihat ekspresi penuh keraguan di wajah Theo, Ciel mengangguk.


“Tidak segera, tetapi yang kamu ucapkan itu benar. Apakah kamu … tidak setuju?”


Ciel bertanya lembut. Mungkin karena usia mereka yang tidak terlalu jauh, Theo memiliki penolakan terhadap dirinya. Meski di dunia iblis usia biasanya tidak terlalu penting dalam menjalin hubungan asmara, penolakan semacam itu juga wajar.


Lagipula … aku hanya beberapa tahun lebih tua darinya. Mungkin memanggilku sebagai kakak lebih cocok.


Ketika Theo mendengar pertanyaan Ciel, dia menggeleng. Ekspresinya bahkan menjadi lebih cerah. Bocah itu tidak bisa tidak bertanya.


“Jadi … apakah … apakah saya boleh memanggil anda dengan sebutan, Ayahanda?”


Melihat Theo yang menatapnya dengan mata penuh pengharapan, Ciel mengangkat sudut bibirnya. Dia tersenyum ringan.


“Benarkah, Tuan?”


“Tentu saja benar.”


Mendengar jawaban itu, mata Theo bergetar. Tanpa dia sadari, pandangannya mulai berkabut. Dua baris air mata mengalir melalui pipinya. Bocah itu segera menyeka air matanya.


Awalnya, Theo tidak peduli bahwa dirinya tidak memiliki seorang ayah. Dia merasa, selama bisa bebas dari tempat sempit dan gelap bersama dengan ibunya, dia akan bahagia. Memang, bocah itu bahagia pada saat bisa keluar.


Bagi Theo, sosok Ciel sudah seperti pahlawan dalam dongeng sebelum tidur yang diceritakan oleh ibunya. Tanpa terasa, dia merasakan kasih sayang dan hormat kepada tuannya itu.


Lambat laun waktu berlalu. Theo merasa kehidupannya lebih baik. Tidak hanya bisa melihat ibunya sehat, bocah itu memiliki tuan yang baik. Selain itu, dia juga merasa senang mendapat teman-teman yang bisa dianggap sebagai rekan seperjuangan dan juga beberapa senior yang begitu baik.


Theo sangat ingat. Di hari liburnya, dia pergi untuk membelikan suatu hadiah untuk ibunya. Ketika berkeliling Kota Black Lily, dia sering melihat pemandangan yang membuatnya iri. Sepasang suami-istri bersama anak mereka berbelanjadan tertawa bersama.


Pada saat itu juga, Theo menatap telapak tangannya sendiri. Meski sudah sangat bersyukur karena memiliki seorang ibu, dalam hati yang polos seperti anak kecil itu … dia juga menginginkan sosok seorang ayah.


Tanpa Theo harapkan, hari itu benar-benar datang kepadanya.

__ADS_1


Jenny yang melihat ekspresi putranya hanya bisa menghela napas panjang. Karena duduk tidak jauh dari Theo, wanita itu mengelus kepala putranya dengan ekspresi lembut.


Sementara itu, Camellia tampak cemburu. Dia menatapa Ciel dengan ekspresi samar. Gadis itu juga menginginkan seorang anak!


Mengabaikan Camellia yang menatapnya dengan tatapan membara, Ciel yang menahan rasa sakitnya mengeluarkan sebuah kantong dimensi berwarna hitam. Pemuda itu kemudian mengeluarkan sebuah pedang hitam legam dengan aura samar yang memancar darinya.


Shadow of Fenrir.


Itu adalah nama pedang tersebut. Benda itu adalah senjata artifak yang terbuat dari bagian tubuh dan jiwa makhluk kuat di level 6 (puncak) bernama Fenrir. Tidak kalah dengan tombak naga air milik Ciel.


Melihat pedang itu, Jenny tampak terkejut. Bagaimana tidak, hanya ada dua senjata artifak di keluarga Ivercrown. Yang pertama adalah Great Sword yang masih dibawa oleh mantan Raja, ayahnya sendiri.


Sedangkan yang kedua, pedang hitam dengan ukuran seperti pedang normal. Disebutkan bahwa senjata artifak itu lebih baik daripada Great Sword milik ayahnya. Hanya saja, karena kebanyakan dari Keluarga Ivercrown menggunakan Great Sword, Shadow of Fenrir hanya disimpan dalam ruang harta keluarga.


Bagaimana pedang itu bisa berada di tangan Tuan?


Jika mendengar pertanyaan itu, Ciel berkata bahwa dia telah mendapatkanya dari Ratu Claudia sebagai ‘hadiah’. Ya … meski dengan sedikit paksaan ketika berdiskusi tentang bayaran untuk menyelamatkan Kerajaan Silver Fang.


Bisa dibilang, Ciel sangat menyukai senjata artifak itu. Dia ingin segera membawanya pulang lalu meminta ayahnya untuk memrosesnya. Lagipula … itu bukan tombak atau pisau dapur, tapi pedang yang cocok untuknya!


Sebagai seorang tuan sekaligus ayah, Ciel sendiri tahu bahwa Theodore lebih pantas mendapatkan Shadow of Fenrir daripada dirinya sendiri. Lagipula, bocah itu masih keturunan Keluarga Ivercrown. Menahan rasa pahit dalam hatinya, Ciel berkata lembut.


“Terimalah, Theo. Jaga benda ini baik-baik.”


Theo yang menyeka air matanya kemudian melihat pedang itu. Dia menatap ke arah Ciel dengan ekspresi sangat terkejut. Meski tidak tahu di tingkat mana itu, jelas … pedang hitam yang diserahkan kepadanya sama sekali tidak sederhana.


Menerima pedang itu, Theo menatap Ciel dengan mata cerah dan penuh rasa syukur.


“Terima kasih banyak, Ayahanda.”


Melihat tatapan jernih dan polos Theo, Ciel menghela napas panjang dalam hatinya. Pemuda itu tidak bisa tidak mengeluh.


Jika kamu menatapku dengan tatapan seperti itu? Bagaimana mungkin aku bisa menyimpan artifak ini sendiri.


Hal itu pasti akan membuat hati nuraniku terluka!


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2