
“Kenapa???”
Zack bertanya dengan heran. Memandang Ciel dengan ekspresi tidak percaya.
“Bukan apa-apa. Bawa dia kembali. Sudah larut, kita bicarakan besok.”
“...”
Zack hanya diam. Setelah beberapa saat, dia menghela napas sebelum menggendong Vexia pergi meninggalkan ruangan.
“Bukankah anda terlalu dingin, Tuanku?”
“Dingin?” Ciel memandang ke arah Isabella. “Mungkin saja. Namun aku juga memiliki alasan untuk melakukannya.”
“Maksud anda.”
“Tidak perlu dibahas lagi.” Ciel menggeleng ringan. “Setelah membereskan ini, kamu bis segera beristirahat.”
Melihat Ciel yang bangkit lalu meninggalkan ruangan, Isabella menunduk sopan.
“Sesuai keinginan anda, Tuanku.”
...***...
Siang harinya, di arena latihan kastil.
“Apakah kamu yakin akan melakukan ini?”
Berdiri saling berhadapan dari sisi yang berlawanan, Ciel yang memakai beberapa pelindung ringan dan membawa sebuah katana menatap Zack.
Di sisi lainnya, Zack yang memakai full plate armor berwarna merah dan great sword di tangannya menatap Ciel dengan tatapan tajam.
“Ini tantangan. Jika aku bisa mengalahkanmu, aku akan tinggal.”
“Ya … meski kurang menguntungkan untukku.”
Ciel yang berpakaian lebih santai sedikit mengejek. Alasan kenapa Ciel mengatakan itu adalah karena dirinya harus menurunkan kekuatan sampai ke level 4 (akhir), seperti level Zack.
Sebenarnya Ciel sendiri terkejut dengan bakat Zack. Benar-benar berada di pincak level iblis menengah di usia seperti itu. Lagipula, meski memiliki bakat sihir varian api, Zack tidak memiliki skill tingkat legendaris yang curang seperti Ciel.
“Itu benar. Sebenarnya ini tidak adil,” ucap Zack sambil mengerutkan kening.
“Bukan berarti aku tidak memiliki keuntungan. Meski kekuatan serangan, kecepatan, atau sihir aku turunkan ke level yang sama denganmu … daya tahan dan vitalitas iblis tingkat atas masih ada.” Ciel berkata santai.
“Tapi kamu menerima duel ini kan, Ciel?”
“Karena sudah terlanjur, apa boleh buat?” Ciel mengangkat bahu dengan ekspresi tidak peduli.
“...”
Melihat betapa seriusnya Zack, Ciel menghela napas panjang. Dia kemudian menggeleng ringan. Tidak menyangka, sahabatnya yang sebrono bisa seserius itu.
“Kenapa kamu harus melakukan hal konyol seperti ini, Zack?”
“...”
Menyadari Zack yang masih fokus, Ciel tersenyum pahit. Dia menatap Isabella yang akan menjadi wasit.
__ADS_1
“Kamu boleh mulai kapan saja.”
“Baik, Tuanku.” Isabella membungkuk hormat.
Setelah itu, Isabella melihat kedua sisi yang susah siap berhadapan. Dia dengan tegas berkata, “Mulai.”
Belum sempat suara Isabella memudar, Zack langsung melesat ke arah Ciel dengan sangat cepat. Mata pemuda itu mulai menjadi biru. Azure flame langsung menyelimuti pedangnya.
Ciel sedikit membungkukkan badannya sambil memegang gagang katana dengan ekspresi tak acuh. Pada saat Zack sampai di depannya sambil mengayunkan great sword yang diselimuti api, pemuda itu dengan santai menarik katana dari sarungnya. Meski terlihat santai, gerakannya begitu cepat.
KLANG!
Bilah katana yang diselimuti api hitam bertabrakan dengan great sword yang diselimuti api biru. Sementara Zack mencoba mengungguli Ciel dengan dampak dorongan ditambah ayunan dengan dua tangan, Ciel memutar tubuhnya sambil menggoyang pergelangan tangannya.
Dengan gerakan santai tetapi lembut, great sword yang berat langsung membanting tanah sementara Ciel telah menghindar ke samping dengan mudah. Tidak melewatkan kesempatan itu, dia langsung membuat gerakan menusuk tepat ke leher Zack.
Sebagai tanggapan, Zack yang dalam keadaan sulit langsung melepas pedangnya dan melakukan roll depan. Setelah berguling, dia langsung menembakkan bola api biru dari telapak tangan kirinya, mengincar wajah Ciel.
Ciel dengan santai memotong bola api dengan katananya. Namun, saat itu Zack langsung meraih pedangnya lalu melompat mundur. Keduanya saling memandang.
“Lumayan.” Ciel mengangkat sudut bibirnya. “Menggunakan trik sepele untuk memberi waktu mengambil senjata.”
“Ksatria yang kehilangan senjatanya sudah dianggap kalah.” Zack menyeringai.
“Agak lucu.” Ciel mengangkat bahu. “Kalau begitu aku akan bermain trik kecil.”
Setelah mengatakan itu, Ciel tersenyum ramah. Namun Zack langsung menjadi fokus. Bersiap dengan gerakan yang mungkin dilakukan Ciel.
Api yang menyelimuti katana Ciel berkobar lebih dahsyat. Namun lambat laun menjadi lebih tipis. Anehnya, hal itu malah membuatnya terasa lebih berbahaya. Zack langsung menyipitkan matanya.
Mengompres sihir api?
“Tangkap.”
Ciel langsung melemparkan katana seolah sedang melempar tombak. Detik berikutnya, katana yang diselimuti sihir api mengerikan sampai di depan Zack.
“Kamu meremehkanku, Ciel!”
Zack meraung sambil menebas katana dengan great sword yang juga dilapisi api biru membara.
KLANG!
Meski keduanya serangan kuat, karena hanya dilempar, katana masih kalah dan terlempar ke udara sambil terus berputar.
“Dengan ini kamu kalah-”
Sebelum Zack menyelesaikan perkataannya, dia terkejut melihat Ciel menghilang dari tempat dirinya berdiri sebelumnya.
“Kejutan.”
Mendengar suara dari belakangnya, Zack hendak memutar tubuh dan menebas. Akan tetapi, pada saat itu juga, Ciel menendang belakang lutut Zack dan membuatnya hampir terjatuh.
Zack memaksakan diri untuk memutar tubuh sambil menebas dengan satu tangan sebelum terjatuh. Namun Ciel sudah pindah ke samping lalu memukul pergelangan tangan Zack. Membuatnya melepaskan great sword.
Pada saat Zack jatuh terlentang di tanah, dia hendak langsung berdiri. Namun Ciel langsung menginjak dadanya.
Sambil tersenyum ramah, Ciel menangkap katana yang jatuh berputar di atasnya lalu menghunuskannya ke leher Zack.
__ADS_1
“Kamu kalah.”
“...”
Zack hanya dia. Melihat sahabatnya yang tersenyum santai tanpa kehilangan banyak tenaga, dia merasa agak tertekan. Pada akhirnya, pemuda itu hanya bisa memejamkan matanya dalam diam.
“Pemenangnya, Pangeran Luciel!”
Setelah Isabella mengumumkan pemenanganya, Ciel menyarungkan kembali katana miliknya lalu berhenti menginjak Zack. Pemuda itu dengan ekspresi santai berjalan ke tepi lapangan latihan menghampiri Ariana.
“Handuk dan minuman dingin, Sayang.” Ariana menghampiri Ciel layaknya kekasih kecil yang patuh.
Setelah mengambil handuk lalu menghapus keringatnya, Ciel meminum air dingin dengan ekspresi puas. Pemuda itu kemudian mengelus kepala Ariana.
“Terima kasih, Ariana.”
“Itu tugas saya, Sayang.”
Sementara keduanya menghabiskan waktu dengan lebih santai, sisi lain berbeda. Vexia langsung menghampiri Zack dan membantunya duduk. Dengan ekspresi khawatir, dia segera mengecek keadaan Zack.
“Apakah anda tidak apa-apa, Tuan Muda Zack?”
Zack melepas helm lalu membuangnya ke samping. Dengan senyum pahit, dia menatap Vexia.
“Maaf, aku kalah.”
“Itu sama sekali tidak masalah, Tuan Muda Zack. Jika anda tadi lebih tenang, pasti hasilnya berbeda. Anda hanya terbawa suasana.”
Zack menepuk kepala Vexia sambil menyeringai.
“Jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Lain kali, panggil aku ‘Sayang’, okay?”
“B-Baik Tuan Muda-
Maksudku … Sayang.”
Melihat Vexia yang malu-malu, Zack tertawa. Dia kemudian berdiri dan berjalan mendekati Ciel dengan seringai di wajahnya.
“Hey, Rivalku! Apa-apaan gerakan tadi? Bukankah itu curang? Itu seperti pengecut yang memankan trik!”
Melihat Zack yang kembali seperti biasanya, Ciel mengangkat sudut bibirnya.
“Memangnya ada yang salah dengan itu? Bukankah itu tidak membuang tenaga? Memangnya, aku harus bertarung dengan semangat membara dan membombardir musuh dengan serangan gila?
Yang penting aku menang, kan?”
Melihat kalau Ciel benar-benar bertarung dengan ‘gayanya’, Zack sempat terkejut. Dia kemudian tertawa.
“Hahaha! Sial! Aku benar-benar kamu bodohi.”
Melihat mata Ciel, Zack tersenyum. Dia akhirnya mengerti.
Benar. Selama ini aku salah. Aku hanya mengikuti jalan orang.
Ayah .. Ciel … aku mengikuti mereka dan tidak benar-benar berada di jalanku sendiri.
Pemuda itu kemudian bergumam dengan suara lembut.
__ADS_1
“Ya, semua orang memiliki jalannya masing-masing.”
>> Bersambung.