Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Kembali dan Bersiap


__ADS_3

Di padang rumput yang amat luas, tampak kobaran api raksasa. Dari dalam kobaran api, terdengar teriakan, tangisan, dan jeritan putus asa. Api itu seolah api neraka yang membinasakan segalanya.


Tidak jauh dari kobaran api, terlihat siluet pemuda berdiri dengan ekspresi dingin memandang ke arah kobaran api.


Beberapa puluh meter dari pemuda itu, tampak kelompok ksatria yang memandangnya dengan tatapan ngeri dan penuh horror. Keringat dingin membasahi tubuh mereka. Tidak menyangka, sosok yang dianggap paling tidak berguna di Royal Capital … benar-benar menghapus suku Orc.


Sudah satu minggu sejak Ciel pergi dari suku Minotaur, dia dan rombongan terus mencari suku Heteromorphic yang akan dijadikan bawahan. Dalam perjalanan mereka, semuanya berjalan cukup lancar. Suku Goblin, Gnoll, dan Troll setuju untuk mengabdi kepada Ciel. Namun di hari ketujuh, hal sedikit melenceng dengan perkiraan.


Ketika sampai di suku Orc, mereka yang peradabannya sudah cukup baik benar-benar menyepelekan Ciel dan kelompoknya. Jika hanya itu, pemuda itu pasti tidak terlalu peduli. Namun Ciel itu bagaikan seekor naga yang memiliki skala terbalik. Jika titik itu disentuh, dia akan menggila.


Skala terbaliknya tentu saja keluarga dan orang-orang yang telah membuat kontrak jiwa dengannya.


Para Orc yang merasa superior benar-benar sombong. Mereka juga terkenal dengan sikap buruk terhadap wanita. Pria Orc sangat menyukai wanita yang bukan dari rasnya. Meski ada wanita di suku Orc, para lelaki lebih memilih ras lain. Khususnya kepala suku Orc.


‘Meski hanya Dhampir kotor, gadis itu terlihat sangat cantik. Raja ini menyukainya.’


‘Jika kamu ingin kami berdiskusi, bagaimana kalau memberikan Dhampir dan Dark Elf itu. Lagipula, Raja ini belum memiliki wanita dari ras itu.’


‘Kamu hanya bocah buangan, sebaiknya menurut dengan perkataan Raja ini. Jika kamu memberikan mereka, aku mungkin bersedia membantumu melawan mantan Count tidak berguna itu.’


‘…’


Banyak perkataan kotor yang dilontarkan oleh kepala suku Orc. Bukan hanya itu, para lelaki dari suku Orc juga menggoda tanpa malu. Jika hanya godaan, Ciel pasti masih membiarkannya. Namun ketika mereka hendak pergi, Ciel dan rombongan dicegat lalu diancam.


Bukan hanya itu, bahkan mereka mencoba menangkap Camellia dan Elena.


Meski tahu kalau tidak mungkin menangkap Elena atau Camellia di bawah perlindungannya, Ciel masih marah. Dia tidak terlalu peduli jika dirinya sendiri dihina, tetapi jika itu orang yang dekat dengannya … pemuda itu akan menyimpan dendam. Juga, jika musuh mencoba menyakiti orang-orang yang dia sayang … Ciel akan membunuh mereka.


Walau tidak mengeluarkan kekuatan penuhnya, Ciel langsung memperlihatkan kekuatan yang sama dengan Pangeran pertama, Iblis level 5 (menengah). Pemuda itu langsung menggunakan sihir gravitasi skala luas yang menyebabkan seluruh area suku Orc terkena dampaknya. Para Orc langsung berbaring di tanah dengan ekspresi ketakutan.

__ADS_1


Meski jumlah mereka banyak, di depan sihir kuat yang nyaris mutlak, mereka hanyalah hewan yang menunggu disembelih. Bahkan kepala suku Orc hanyalah Iblis level 3 (akhir). Di depan kekuatan Ciel, dia hanya seperti seekor semut.


Melihat kekuatan Ciel yang sebenarnya, para Orc memohon ampun untuk hidup mereka. Bahkan para prarit kelas rendah di tingkat 1 atau 2 hampir tidak bisa bernapas. Tulang-tulang mereka berderit seolah akan patah kapan saja. Tentu saja ada beberapa pengecualian yaitu Camellia, Elena, Asterious dan 100 ksatria yang Ciel hindarkan dari sihir gravitasi.


Dengan ekspresi dingin di wajahnya, Ciel memerintah orang-orangnya untuk segera pergi dari suku Orc. Meski terkejut, mereka langsung memilih untuk pergi mengikuti perintah tuan mereka.


Pada saat orang-orang Ciel menjauh dari suku dan melihat ke belakang, ekspresi mereka menjadi pucat. Mereka melihat tiga ular raksasa yang berwujud seperti king cobra dengan dua tanduk di kepala mengamuk dan menghancurkan suku Orc. Yang aneh, ketiga ular raksasa itu seluruh tubuhnya terbuat dari api hitam. Setiap mereka lewat dan menyapu segala arah, ratapan penuh rasa sakit dan penyesalan terdengar.


Jelas … itu adalah sihir api tingkat tinggi!


Hasil akhirnya, Ciel keluar dari kobaran api tanpa luka sedikit pun. Namun karena cukup jauh sekaligus karena cahaya api, semua orang tidak bisa melihat ekspresi tuan mereka. Yang mereka lihat hanyalah sepasang mata dengan warna berbeda. Mata emas dan ungu itu tampak tak acuh seolah tidak menghargai kehidupan. Dia tampak seperti orang yang tanpa sadar menginjak semut. Tanpa rasa bersalah.


Setelah cukup lama, dengan lambaian tangan Ciel, api hitam akhirnya padam. Selain tanah luas berwarna hitam yang dipenuhi debu, tidak ada hal lain yang tersisa. Bangunan, senjata, bahkan mayat benar-benar menjadi abu. Hal itu membuat para ksatria di bawah Ciel menggigil ketakutan.


Mengabaikan orang-orang yang ketakutan, Ciel berjalan ke gerbong keretanya. Sebelum masuk ke dalam, suara dingin terdengar di telinga para bawahannya.


“Semua misi telah selesai. Mari kembali … ke Kota Black Lily.”


Sepuluh hari kemudian di Kastil Black Lily.


Pada hari kesembilan, Ciel dan rombongan berhasil kembali. Astarious langsung melakukan kontrak jiwa dan bersumpah setia kepada Ciel. Selain itu, rumor tentang sang Pangeran ke-8 akhirnya mulai menyebar.


Semua orang di Kota Black Lily merasa takjub dan takut kepada sosok yang biasanya mereka pandang sebelah mata itu. Setelah mengetahui kalau Ciel adalah Iblis tingkat tinggi, level 5 (menengah), semua orang mulai berpikir kalai alasan Ciel pergi ke perbatasan selatan adalah untuk mencari pengalaman. Karena selalu tinggal di Istana Kekaisaran, dia dikirim Kaisar untuk mendapat pengalaman hidup.


Ya … meski itu hanya tebakan asal.


Dalam ruang kerja, Ciel tampak duduk tenang dengan ekspresi tak acuh. Di depannya, lebih tepatnya di atas meja, terlihat banyak dokumen menumpuk. Selain itu, terlihat secangkir teh panas yang masih mengepul.


“Apakah orang-orang itu sudah maju?” tanya Ciel.

__ADS_1


“Menurut dari laporan yang mereka kirim, kelima Viscount sudah membawa pasukan untuk pergi mengepung wilayah Nixon.” Camellia yang berdiri di sebelah kanan Ciel berkata sopan.


“Bagaimana dengan surat yang aku kirim kepada Marquis Bathory? Apakah ada balasan?”


“Lelaki itu tampaknya bijak, Tuan. Dia sudah mengumumkan kalau dirinya tidak akan ikut campur dengan urusan wilayah yang kamu pimpin.”


“Apakah orang itu berjanji untuk menjaga perbatasan agar Nixon tidak masuk ke wilayahnya?” tanya Ciel.


“Soal itu … tidak ada penjelasan, Tuan.”


“Jadi begitu … dia bilang tidak akan ikut campur tetapi juga tidak peduli jika Nixon masuk ke wilayahnya.”


Jari-jari di kedua tangan Ciel terjalin. Pemuda itu sedikit menunduk sambil merenungkan sesuatu. Setelah cukup lama terdiam, dia menghela napas. Pemuda itu menatap Camellia yang terus mengamatinya lalu tersenyum lembut.


“Ada apa?” tanya Ciel.


“T-Tidak apa-apa, Tuan.” Camellia menggeleng ringan dengan rona merah di pipinya.


Melihat Camellia tidak mengaku, Ciel sekali lagi menghela napas. Bersandar di kursinya, pemuda itu kemudian mengambil secangkir teh. Setelah menyesapnya, pandangannya terlihat lebih jernih.


“Camellia?”


“Saya di sini, Tuan.” Camellia membungkuk hormat.


“Segera umumkan kepada seluruh pasukan yang aku pilih untuk pergi.”


Setelah berhenti beberapa saat, tatapan Ciel menjadi lebih serius.


“Persiapkan semuanya! Kita akan berangkat lusa!”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2