
Satu bulan kembali berlalu.
Di lapangan latihan, tempat latihan pasukan pribadi dilatih. Dengan kata lain, tiga divisi bayangan, terlihat banyak ksatria yang berbaring di tanah sambil meringkuk kesakitan.
Tidak jauh dari mereka, terlihat Ciel yang duduk di atas balok kayu dengan secangkir cokelat panas di tangannya. Di sekitar lapangan latihan yang putih karena salju, terlihat banyak sekali serpihan es hitam. Itu adalah apa yang dilakukan oleh Ciel.
Dalam bulan ini, Ciel akan melatih ksatria setiap siang sampai sore. Apa yang dia lakukan sederhana. Dia menyuruh seratus orang berbaris kemudian dirinya akan menggunakan sihir es. Menciptakan seribu bola es, sepuluh dari benda itu akan ditembakkan ke arah satu ksatria.
Awalnya hampir semua orang dipukul rata dalam satu gelombang. Namun setelah satu bulan, rata-rata orang bisa bertahan lima gelombang serangan. Itu berarti mereka bisa menghindari atau menangkis 50 bola es. Tidak banyak atau sedikit, tetapi lumayan.
Lagipula, itu ditembakkan seperti panah, bukan dilempat seperti permainan bola salju. Bisa menghindar dan menangkis itu dalam lima gelombang, itu sudah baik.
Meski paling rendah atau kebanyakan bertahan pada gelombang ke lima, ada bakat-bakat baik yang bisa bertahan sampai di gelombang tujuh atau delapan. Khususnya Theo, meski yang paling muda, dia benar-benar bertahan di gelombang sembilan dan jatuh pada gelombang sepuluh.
“Dia benar-benar membuatku bangga,” ucap Ciel sebelum menyesap cokelat panas. Melihat para ksatria bangkit dengan ekspresi pucat, Ciel berkata, “Barisan berikutnya.”
Sambil duduk santai, Ciel benar-benar melatih para ksatrianya dengan baik.
Itu bagi Ciel. Namun bagi para ksatria dalam tiga divisi bayangan, mereka benar-benar merasa sedang disiksa setiap harinya. Diberi makanan bergizi, potion setiap minggu, dan uang yang cukup. Dengan tiga alasan itu, mereka hampir tidak bisa bertahan. Namun mereka sudah menandatangani kontrak budak dengan Pangeran Gila itu, jadi mereka hanya bisa menurut.
Meski demikian, kebanyakan mereka juga takjub. Dalam dua bulan latihan sejak bulan ketiga musim gugur, mereka benar-benar berubah total. Dasar mereka menjadi kokoh, tubuh sehat, mental kuat, dan bahkan mereka diajari teknik kuat seperti para ksatria di Royal Capital.
Kekuatan mereka sekarang, jika bukan karena bantuan Ciel, mereka mungkin tidak bisa mencapainya dalam hidup. Yang lebih penting, mereka banyak berkembang hanya dalam dua bulan. Mereka tidak bisa membayangkan pencapaian mereka di masa depan.
Akan tetapi, perkataan Ciel membuat mereka merasa disiram dengan air dingin. Dia berkata ‘Tentu saja kalian bisa kuat di masa depan, asal kalian tidak mati di medan perang. Jadi terus aku meminta kalian untuk terus hidup. Tidak ada yang diizinkan mati tanpa persetujuanku!’. Selain itu, Ciel juga menjelaskan seberapa berbahaya dunia dan mengajarkan mereka untuk tidak berpuas diri.
Ya … itu pelajaran yang Ciel petik sendiri setelah kekalahan pahitnya.
Selain dalam divisi bayangan, tiga divisi utama juga berkembang cepat. Meski tidak bisa dibandingkan dengan divisi bayangan, bagi lima Viscount yang tidak mengetahui divisi bayangan, ketiga divisi baru yang Ciel bentuk berkembang terlalu cepat.
__ADS_1
Mereka menyangka memerlukan satu atau dua tahun, dan itu sudah cepat. Namun dalam dua bulan, kekuatan tiga divisi Ciel sudah hampir menyamai kekuatan pasukan yang dibentuk oleh lima Viscount bertahun-tahun. Itu belum termasuk Elena, Asterious, Jean, dan divisi bayangan.
Apa yang membuat lima Viscount lebih tertekan adalah, seluruh divisi baru yang Ciel bentuk hanya berisi para anak muda. Yang berarti, mereka masih bisa berkembang jauh ke depannya. Mereka merasa takjub sekaligus iri.
Kelima Viscount merasa takjub dan senang karena memiliki pemimpin yang luar biasa cakap. Namun mereka juga iri, merasa telah disusul dan hampir ditinggalkan oleh generasi muda.
Sore harinya, Ciel berada di ruang latihan pribadi dalam kastil. Di depannya, terlihat Theo yang memasang kuda-kuda sambil memegang pedang dengan kedua tangannya.
Ciel agak takjub dengan bocah yang beberapa tahun lebih muda darinya. Sekarang dirinya telah menembus level 2 (menengah). Sayang sekali dia terlahir menjadi seorang budak. Jika bocah itu adalah seorang putra bangsawan, meski tidak secepat Ciel, Theo paling tidak bisa mengimbangi kecepatan Zack atau sedikit lebih.
“Jika kamu lelah, kamu bisa beristirahat, Theo. Jangan terlalu memaksakan tubuhmu.”
“Saya masih belum lelah, Tuan!” Theo berkata penuh tekad meski keringat mengucur di sekujur tubuhnya.
Ciel menggeleng ringan. Setelah itu, dia tiba-tiba menghilang dari tempatnya.
Mata Theo langsung mengawasi sekitar dengan fokus. Namun sebelum bereaksi, dia tiba-tiba merasakan sesuatu di perutnya. Belum menoleh ke bawah, dia tiba-tiba terbang dan menghantam dinding dengan keras.
“Bekerja keras memang bagus, tetapi jika berlebihan … kamu malah akan merusak tubuhmu.”
Theo berusaha berdiri sambil menahan sakit. Dia berjalan ke arah pedangnya yang jatuh ketika dirinya diterbangkan. Mengambil pedang itu, dia mendekati Ciel.
“S-Saya masih bisa-”
“THEO!!!” seru Ciel dengan ekspresi dingin.
Theo menunduk dengan ekspresi menyesal. Dia hanya ingin membuat Ciel lebih bahagia dengan perkembangannya. Bocah itu ingin membalas budi kepada sosok yang berdiri di depannya itu.
Ciel menghampiri Theo lalu meletakkan tangan ke kedua sisi pundak bocah itu.
__ADS_1
“Kamu sudah melakukan yang terbaik. Kamu adalah anak baik, banyak orang yang akan cemburu dengan bakatmu.
Kamu tidak perlu terlalu berlebihan, okay? Sebagai Tuanmu, aku sangat bahagia dan bangga. Jadi jangan berlebihan, mengerti?”
“B-Baik, Tuan!” ucap Theo sambil mengusap kedua matanya.
Ciel kemudian melepaskan kedua tangannya. Sebagai ganti, dia meletakkan satu tangan di ata kepala Theo lalu mengacak-acak rambutnya. “Pintar.”
Merasakan kelembutan tangan di atas kepalanya, Theo yang jarang menerima kasih sayang menatap Ciel dengan ekspresi bahagia serta tegas. Baginya, selain Tuan, Theo telah menganggap Ciel sebagai keluarganya … mungkin, seperti seorang kakak yang sangat bisa diandalkan?
“Kamu bisa kembali.”
“Baik, Tuan!” ucap Theo sebelum membungkuk lalu meninggalkan ruangan.
Setelah Theo pergi, ekspresi ramah dan hangat di wajah Ciel langsung berubah bosan. Dia menatap langit-langit sambil menghela napas panjang.
“Aku benar-benar keparat. Memanfaatkan bocah polos seperti itu untuk kepentingan pribadi,” gumam Ciel dengan ekspresi berat.
Sebenarnya, jika ingin Theo hidup lebih baik, Ciel bisa melepaskannya dan membiarkannya hidup normal. Bocah itu akan hidup lebih bebas. Mungkin kelak akan menjadi salah satu tentara bayaran yang terkenal di benua ini.
Namun, Ciel malah menginginkan Theo untuk menjadi senjatanya. Senjata yang kuat yang bisa dia gunakan untuk melawan musuhnya. Dalam medan perang, itu lebih berbahaya daripada menjadi tentara bayaran. Sebelum tumbuh menjadi kuat, mungkin saja bocah itu dimakamkan di medan perang.
“Dia kuat, dia juga berkembang dengan cepat. Pasti dia bisa mengikutiku sampai akhir.”
Ciel memejamkan matanya.
“Paling tidak, sebagai tuan, tugasku adalah untuk melatihnya dan memberikan yang terbaik untuk perkembangannya. Dengan itu, harapan hidup akan menjadi lebih tinggi.
Itu hal yang bodoh, tetapi … paling tidak, itu membuatku merasa kalau diriku tidak sejahat itu.”
__ADS_1
>> Bersambung.