Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Kamu Terlihat Menyedihkan


__ADS_3

Sepuluh hari kemudian.


Melewati area hutan dalam perjalanan menuju ke ibukota Kerajaan Silver Fang, Raja Charles, Jenny, dan Theo berada di dalam gerbong kereta yang sama. Ada gerobong kereta yang lain, tempat Rocky dan beberapa Viscount berada. Selain itu, ada sekitar 100 ksatria berkuda yang bisa dibilang cukup … lumayan.


Sedangkan Ciel dan Camellia, mereka sama sekali tidak terlihat.


Dalam gerbong kereta, Theo yang awalnya sangat menolak keberadaan Raja Charles sekarang menjadi lebih netral. Tidak terlihat membenci, tetapi juga tidak menyukainya.


“Apakah rencana akan berjalan sesuai rencana?” gumam Raja Charles.


“Rencana Tuan pasti akan berjalan dengan baik!” ucap Theo dengan tegas. Kelihatannya sangat mempercayai Ciel.


“Ya. Sampai sekarang, Tuan tidak pernah gagal.” Jenny diam-diam mendukungnya.


Mendengar keduanya membela Ciel, Charles cukup terkejut. Tidak menyangka kalau sosok Pangeran Luciel itu sangat dipercayai oleh para anak buahnya.


“Kelihatannya kamu bahkan tertarik dengan pemuda itu, Jenneva?” tanya Charles.


“Tolong panggil aku Jenny, Raja Charles.” Jenny langsung mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Kenapa? Apakah kamu tidak yakin? Meski memiliki selisih usia yang cukup banyak … kami semua memiliki usia cukup panjang. Belum lagi, penampilanmu pasti juga bertahan.


Setelah Pangeran Luciel tumbuh dewasa, kalian pasti sangat cocok.”


“Kakak …” Jenny menghela napas panjang.


Raja Charles menatap Theo lalu menghela napas. Kemungkinan besar alasan Jenny tidak berani untuk mendekati Ciel karena keberadaan Theo. Memang, Jenny tidak membenci putranya sendiri. Namun, secara tidak sadar … terkadang, seorang anak bisa menjadi penghalang psikologis bagi seorang single parent untuk memulai keluarga baru.


Melihat ekspresi sedih ibunya, Theo tidak bisa tidak bertanya.


“Apakah kamu baik-baik saja, Ibu?”


Jenny mengalihkan pandangannya ke arah Theo. Melihat ekspresi khawatir di wajah putranya, wanita itu menggeleng ringan sambil tersenyum.


“Tidak ada apa-apa, Theo.”


“Benarkah?” tanya Theo dengan ragu.


“Benar.” Jenny mengangguk.

__ADS_1


Pada saat itu, Charles tiba-tiba merasakan bahaya. Dia langsung memegang Jenny serta Theo lalu mendobrak pintu gerbong kereta kuda lalu. Mereka langsung melompat keluar.


Tidak lama kemudian, kereta kuda dihantam keras oleh sihir api. Setelah itu, barisan ksatria berkuda mulai kacau. Beberapa ksatria tiba-tiba mulai membunuh rekan-rekannya sendiri.


Ledakan juga terdengar dari kereta kuda lainnya. Sosok Rocky melompat keluar dengan luka di perutnya. Dua orang Viscout melompat keluar.


“Apakah kalian tahu apa yang sedang kalian lakukan!” teriak Rocky dengan ekspresi marah.


“Tentu saja! Kami sudah bosan denganmu, Rocky! Orang selembut dirimu tidak pantas menjadi Marquis!” jawab salah satu Viscount.


Sebenarnya ada tiga Viscount dalam gerbong yang sama dengan Rocky, tetapi dua di antara mereka adalah pengkhianat. Mereka menyergap Rocky dan Viscount lainnya. Akan tetapi Rocky beruntung bisa lolos meski harus menderita luka di perutnya.


“Kalian pasti tahu, selama Raja Charles kembali ke ibukota … semuanya akan kembali normal dan kalian akan dihakimi atas perbuatan kalian!” teriak Rocky.


“Maka dari itu, tugas kami adalah menghentikan kalian. Tentu saja … kami tidak sendiri.”


Setelah salah satu Visvount mengatakan itu, belasan sosok yang mengendarai kuda muncul. Di antara mereka, ada satu orang level 4 (akhir) dan dua orang berada di level 4 (menengah).


Beberapa saat kemudian, ksatria berkuda yang membela Rocky mulai berjatuhan. Sisa orang termasuk Charles, Jenny, Theo, dan Rocky akhirnya dikelilingi banyak orang.


Ketika melihat sosok Jenny, mata salah satu Viscount berbinar. Dia tidak bisa tidak berkata, “Seperti yang diharapkan dari mantan Putri kerajaan kami. Putri Jenneva, benar-benar sangat cantik.”


Banyak orang memandang Jenny dengan tatapan berhasrat. Namun salah satu dari bala bantuan, sosok leel 5 (awal) itu menyadari sesuatu yang aneh.


“Berhati-hati!” teriak orang itu.


“Li-Lihat ke atas!!!”


Salah satu ksatria dalam rombongan tiba-tiba berteriak. Pada saat semua orang mendongak ke atas, ekspresi semua orang berubah dari penuh ***** menjadi penuh rasa takut dan horror.


Di atas mereka, sebuah awan kelabu berputar. Awalnya mereka hanya mengira itu mendung ketika di kejauhan. Namun mereka tidak menyangka, ada yang mengendalikan awan raksasa itu.


Sosok berjubah hitam dengan topeng perak dan sayap mirip naga yang terbuat dari es berwarna hitam di punggungnya melesat ke bawah seperti meteor. Jika hanya itu, bukan masalah. Namun … di belakangnya, terlihat ribuan atau bahkan puluhan ribu tombak es berwarna hitam yang turun seperti hujan dengan kecepatan luar biasa.


“Menjauh!!!” salah satu Viscount berteriak.


Belum sempat menjauh, teriakan lain yang dipenuhi dengan ejekan terdengar.


“SURPRISE!”

__ADS_1


BLARRR!!!


Ketika sosok berjubah hitam mendarat keras di depan Raja Charles dan yang lainnya, kepulan asap menyebar. Pada saat itu juga, suara benda tajam menusuk daging dan darah terdengar. Pada saat asap menghilang, pemandangan luar biasa terlihat di depan mata Raja Charles dan lainnya.


Kecuali area pusat mereka berada, di sekelilingnya ada tombak es yang tidak bisa mereka hitung jumlahnya. Banyak tombak es yang menembus tubuh ksatria dan kuda musuh, memakukan mereka ke tanah.


Selain dua Viscount yang terluka cukup parah dan tiga bala bantuan yang juga terluka, yang lainnya langsung mati di tempat.


“Benar-benar kontrol sihir yang mengerikan,” gumam Raja Charles ketika melihat sosok berjubah tidak jauh di depannya.


Sosok berjubah hitam dan mengenakan topeng perak itu tentu saja Ciel. Pemuda itu berdiri dengan tenang sebelum menepuk debu pada jubahnya. Melihat lima orang yang selamat, dia memiringkan kepalanya.


“Masih terlalu banyak orang,” ucap Ciel dengan nada dingin.


Pemuda itu kemudian menyingsingkan jubahnya, memperlihatkan lengan kanan yang dilapisi es hitam dengan bentuk seperti cakar monster. Lebih tepatnya … cakar naga.


Mendengar ucapan dan melihat penampilan Ciel, kelima orang itu merasa Dewa Kematian sedang melambai kepada mereka dengan senyum ramah. Pada saat itu juga, sosok Ciel tiba-tiba menghilang.


“AARGGH!!!”


Mendengar teriakan, semua orang melihat ke sumber suara. Di sana terlihat Ciel telah mencabut jantung berwarna merah gelap dari salah satu Viscount. Dia kemudian bergegas ke dua orang bala bantuan dan melakukan hal yang serupa terhadap mereka.


Di area Ciel lewat, tombak-tombak es yang memaku tanah mencair dan menghilang dalam ketiadaan. Ketika melihat seorang Viscount dan pemimpin bala bantuan yang putus asa, pemuda itu tiba-tiba menjentikkan jarinya.


Sayap dan cakar es di tubuhnya mencair. Tidak hanya itu, bahkan seluruh tombak es juga mulai mencair. Dua orang yang putus asa itu jatuh ke tanah. Mereka tidak menyangka … rencana penyergapan mereka dihentikan dalam satu gerakan!


“Kamu … Sebenarnya kamu SIAPA!!!” teriak salah satu Viscount.


Sementara Viscount berteriak, sosok ksatria level 4 (akhir) itu sudah melesat ke arah Ciel lalu mengayunkan pedang di tangannya.


“ARGHH!”


Pada saat ksatria itu sampai di depan Ciel, dia melihat sebuah tangan memegang pedang melayang sebelum jatuh ke tanah. Merasakan rasa sakit di tangan kanannya, orang itu akhirnya menyadari kalau tangannya telah terputus. Dia langsung menjerit putus asa.


Ksatria itu merasakan rasa sakit di perutnya. Sebelum dia sadar apa yang sebenarnya terjadi, orang itu telah berguling-guling di tanah. Dia berbaring terlentang sambil menahan rasa sakit.


Kemudian, ksatria itu merasakan sebuah kaki menginjak dadanya. Ketika mendongak, dia melihat sosok berjubah dengan topeng perak yang sedang menginjak dadanya sambil mengarahkan pedang dengan kilau dingin tepat di depan lehernya.


Melihat mata dingin tanpa belas kasihan atau ekspresi di balik topeng membuat ksatria itu ketakutan. Pada saat itu, suara tak acuh terdengar di telinganya.

__ADS_1


“Kamu … terlihat menyedihkan.”


>> Bersambung.


__ADS_2