
Keesokan harinya, CIel yang tampak serius duduk di dalam ruang kerjanya.
“Apakah semua selebaran sudah dibagikan ketika aku pergi, Camellia?”
Dalam ruang kerja, hanya ada Ciel dan Camellia. Apa yang Ciel maksud dengan membagikan selebaran adalah tugas yang dia berikan kepala gadis itu sebelum dirinya pergi ke Royal Capital.
“Sudah, Tuan.” Camellia menjawab dengan agak linglung. Kelihatannya masih mengingat kejadian semalam.
Pada musim panas bulan ke-3 yang segera tiba, Ciel berencana melakukan perekrutan ksatria baru. Awalnya pemuda itu berniat merekrut 5000 anggota baru. Dua ribu untuk striker, dua ribu untuk guardian, dan seribu untuk watcher.
Namun dengan tambahan uang pemberian ayahnya, dia langsung berniat merekrut lebih banyak. Sekarang dia ingin merekrut 8000 orang. Tiga ribu striker, tiga ribu defender, dan dua ribu watcher.
Tentu saja, Ciel berniat membentuk pasukan bayangan yang ingin dia kembangkan sebagai para elite. Karena membutuhkan sumber daya yang banyak, pemuda itu berniat merekrut 1500 orang.
“Apakah para pendaftar telah tiba?” tanya Ciel.
Dikarenakan Ciel merekrut dari seluruh wilayah, pemuda itu memberi waktu yang cukup lama. Banyak peserta yang datang dari daerah yang dikelola 5 Viscount, jadi juga memerlukan waktu untuk tiba di Kota Black Lily secara pribadi.
“Diperkirakan mereka semua telah tiba, Tuanku. Perekrutan akan dilaksanakan tiga hari kemudian, hampir seluruh penginapan di kota telah penuh. Kelihatannya mereka sangat antusias.” Camellia tersenyum lembut.
“Juga …” Ciel menatap Camellia sambil tersenyum.
“I-Iya, Tuanku?” Camellia menjadi gugup, rona merah muncul di pipinya.
“Selamat telah menjadi iblis level 3, Camellia.”
“E-Eh?” Camellia tampak terkejut. Dia bergumam, “Padahal aku berniat menyembunyikannya.”
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruang kerja diketuk, Ciel segera berkata, “Masuk.”
“Ini aku, Sayang.”
Ariana masuk ke dalam ruangan. Ciel mengangguk lalu mempersilahkannya duduk. Dia juga menyuruh Camellia duduk di sofa sebelum dirinya duduk di sebelah Ariana.
“Flora berkata kalau dirimu ada perlu denganku, Sayang. Ada apa?”
“Ariana …”
__ADS_1
Entah kenapa Ciel merasa gugup seolah menjadi seorang suami yang mengaku telah mencurangi istrinya. Setelah menarik napas panjang dan menenangkan diri, dia berkata dengan ekspresi serius.
“Ariana, sebenarnya aku ingin menjadikan Camellia sebagai selirku. Dirinya telah setuju. Apakah dirimu memiliki pendapat lain?”
“Camellia?” Ariana menatap Camellia tanpa mengubah ekspresinya. Dia masih tersenyum lembut dengan tatapan kosong. “Bukankah Elena juga? Atau kepala pelayan Succubus itu?”
“Kenapa kamu malah membahas mereka?” Ciel menatap Ariana.
“Maksudku … bukankah ini normal, Sayang? Selir … bahkan jika itu puluhan, selama kamu senang, aku tidak peduli. Hal seperti itu sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan para bangsawan, kan?
Bahkan jika itu dua orang istri lain … aku juga tidak akan ikut campur. Pernikahan politik juga sudah sangat biasa. Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku, Sayang.”
Melihat Ariana yang menerimanya begitu saja, Ciel sama sekali tidak senang. Jika itu gadis lain, meski masih menerima karena terpaksa, mereka pasti memiliki beberapa pendapat lain. Lagipula, menerima kasih sayang yang dibagi tidaklah mudah.
Ciel mengembuskan napas panjang. Dia mengelus kepala Ariana dengan lembut.
“Aku berterima kasih karena itu. Namun, aku tetap akan meminta pendapatmu. Karena sudah bertunangan, aku tidak akan memperlakukanmu dengan tidak adil. Lagipula, kamu adalah calon istriku.
Aku akan berusaha segera menyembuhkanmu …”
“Menyembuhkanku?” Ariana menatap Ciel. “Tapi aku sama sekali tidak sakit, Sayang. Aku sangat sehat?”
“Iya … kamu sangat sehat.” Ciel tersenyum lembut. Rasa iba sedikit terlintas di matanya.
Ciel menggeleng ringan. Karena hal-hal yang bersifat rahasia telah diselesaikan, dia terlihat santai.
“Ini hanya pekerjaan biasa. Kamu boleh tinggal di sini. Kamu sama sekali tidak mengganggu, Ariana.”
“Baik.” Ariana mengangguk ringan.
Sementara Ariana dan Camellia duduk berseberangan sembari saling menatap dalam diam, Ciel melanjutkan pekerjaannya. Dia terus melihat dokumen yang perlu ditangani. Mulai memutuskan apakah setuju atau menolaknya.
Selain itu, Ciel juga harus membaca seluruh laporan pajak dari para pengusaha di daerah-daerah yang dia kelola secara pribadi. Seharusnya ada petugas di setiap kota yang mengerjakannya. Namun Ciel tetap mengecek untuk memastikan tidak adanya kecurangan dalam transaksi. Dia ingin membuat sebuah wilayah yang makmur agar dirinya bisa hidup dengan santai dan tenang.
...***...
Tanpa terasa, dua hari berlalu begitu saja.
Pada sore hari, Ciel yang telah menyelesaikan pekerjaannya tiba-tiba ditemui oleh Elena.
__ADS_1
“Ada apa, Elena?” tanya Ciel tanpa rasa curiga.
“Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda secara pribadi, Tuanku.”
Melihat ekspresi serius Elena, Ciel mengangguk. Setelah mengetahui kalau Elena ingin mereka berdua pergi meninggalkan Kota Black Lily, tanpa ragu Ciel menyetujuinya. Setelah berganti pakaian dan mengambil senjata, dia langsung mengikuti Elena.
Ciel yang menaiki Deschia dengan mudah mengikuti Elena dan Four Winged Snow Eagle miliknya. Mereka kemudian berhenti dan turun di sebuah hutan kecil yang berdekatan dengan sebuah kota kecil. Letaknya tidak terlalu jauh dari Kota Black Lily.
Ada sebuah gubuk kecil di hutan itu. Di depan bangunan, tampak empat orang berjubah hitam menunggu Ciel dan Elena. Mereka tampak terkejut ketika melihat Ciel yang menunggangi seekor Wyvern.
Setelah turun dari tunggangan mereka, Ciel mengikuti Elena mendekat ke empat orang berjubah. Melihat kekuatan mereka dengan ‘Eye of The Lord’, Ciel mengangkat alisnya.
Tiga orang level 2 dan satu orang level 3, kah?
“Berhenti di sana, Elena. Apakah kamu yakin kami bisa mempercayai orang ini?” Suara wanita terdengar dari sosok yang memimpin keempat orang.
Meski Ciel mampu mendeteksi kekuatan atau energi yang terkandung dalam makhluk hidup, dia tidak bisa mendeteksi ras, jenis kelamin, atau nama. Eye of The Lord bisa mendeteksi banyak hal penting. Sedangkan tiga hal itu … mungkin bisa dianggap tidak terlalu penting oleh skill ini.
“Jangan menghina tuanku, Meira. Bukankah kalian datang ke wilayah tuanku karena mengetahui kebaikannya? Bahkan tuan sangat baik kepada ras Heteromorphic.” Elena menjawab dengan ekspresi dingin.
Keempat orang itu saling memandang lalu mengangguk. Mereka berempat membuka tudung dan memperlihatkan wajah mereka di depan Ciel dan Elena. Hal yang mengejutkan Ciel adalah … mereka semua adalah Dark Elf.
“Salam hangat dari kami, Pangeran Luciel.”
Keempat orang itu memberi hormat dengan elegan. Ciel hanya mengangguk ringan sebagai jawaban.
“Perkenalkan, nama saya adalah Meira. Satu dari empat komandan dari kelompok Blue Moon.”
Mendengar nama ‘Blue Moon’ disebutkan, Ciel langsung memandang Elena dengan ekspresi penasaran.
“Mohon dengarkan mereka, Tuanku. Saya yakin mereka memiliki alasan tersendiri untuk melakukan ini.” Elena berkata dengan nada sedikit memohon.
Ciel sedikit terkejut sebelum mengangguk. Melihat ke arah empat orang itu, dia sedikit mengangkat sudut mulutnya.
“Apa yang diinginkan oleh para assassin seperti kalian sampai mencari Pangeran Buangan seperti diriku ini?” Ciel bertanya santai.
“Mohon jaga ucapan anda, Pangeran Luciel.” Meira terlihat cukup tidak senang karena dianggap sebagai assassin atau pembunuh.
“Kalau begitu … apakah aku perlu menggantinya dengan sebutan ‘pasukan revolusi kecil’, Nona Meira?” Ciel masih tersenyum lembut.
__ADS_1
Meski demikian, suasana menjadi lebih dingin dan khidmat. Kedua belah pihak saling memandang dalam diam. Jelas, pertarungan bisa dimulai kapan saja.
>> Bersambung.