Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Sebuah Kehangatan


__ADS_3

Perdamaian?


Menggumamkan kata itu dalam hatinya, Harry merasakan ambisi besar dari sosok Ciel.


Dalam pikiran Harry, kata itu berarti Ciel ingin berdamai dengan Kerajaan Silver Fang. Mendapatkan para Lycan yatim piatu, dia bisa melihat bahwa pemuda itu sudah mulai menumbuhkan pasukan pribadi miliknya sendiri. Bukan hanya itu, Harry yakin kalau Ciel juga tidak hanya membuat pasukan biasa.


Memiliki bakat hebat, penampilan dan kecerdasan yang luar biasa. Ditambah bisa mengatur wilayah dan menumbuhkan pasukan kuat sendiri. Harry langsung menduga kalau Ciel mengincar kursi Kaisar. Kata Perdamaian sebelumnya … bisa diartikan sebagai dukungan dari Kerajaan Silver Fang!


Mendapat dukungan dari North Duchy of Black Sun Empire? Aku dengar dia juga memiliki hubungan yang baik dengan Duke Raevern, South Duchy of Black Sun Empire.


Tunangannya juga adalah Putri dari Kerajaan Black Star? Jika ditambah dengan dukungan Kerajaan Silver Fang …


Tanpa sadar Harry menelan saliva. Dari bakat serta kebijaksanaan saja dia yakin Ciel melebihi pangeran lainnya. Apabila mengandalkan dukungan dari belakang, pria itu sangat yakin.


Pangeran Luciel akan memenangkan kursi Putra Mahkota!


Jika Ciel tahu apa yang dipikirkan Harry, dia pasti sudah muntah darah. Tidak akan menahan diri untuk menggerutu.


Kamu terlalu banyak berpikir!


Apa yang Ciel maksud dengan ‘Perdamaian’ tentu adalah perdamaian yang sebenarnya. Dia ingin Kerajaan Silver Fang tidak membuat masalah dengan Kekaisaran Black Sun. Pemuda itu hanya ingin hidup tenang di Wilayah Blackfield tanpa gangguan eksternal!


“Jadi … bagaimana menurutmu, Duke Harry?”


Mendengar pertanyaan Ciel, Duke Harry langsung berlutut. Dia sudah menganggap pemuda di depannya sebagai Kaisar dari Kekaisaran Black Sun di masa depan. Jadi tidak masalah jika harus berlutut sekarang.


“Tentu saja saya dengan senang hati menerimanya, Pangeran Luciel.” Harry menjawab dengan hormat.


Melihat bagaimana sikap Harry yang berubah total, sudut bibir Ciel berkedut. Dia bahkan tidak ingin menebak apa yang sedang dipikirkan Husky di depannya. Memikirkan kadal dan kerbau sudah membuatnya pusing … dia tidak ingin memikirkan yang lainnya.


“Bangun,” ucap Ciel dengan nada tak acuh.


“Baik.”


Duke Harry bangun. Dia menatap Ciel dengan ekspresi penuh kekaguman. Lagipula, pemuda di depannya itu masih begitu muda tetapi memiliki kekuatan di atasnya. Jelas bukan hal yang bisa dicapai sembarang orang!


Di depan Harry, Ciel kembali menyembunyikan sayapnya. Dia kemudian kembali meminum potion dan menutup wajahnya dengan topeng perak. Setelah kembali menjadi ‘Tuan Gin’, dia kemudian pergi menghilang dalam bayangan.


...***...


Kembali ke kamarnya, Ciel melihat sosok yang tengah menunggu di depan pintu kamar. Melihat itu, dia agak bingung.


“Ada apa, Nona Jenny?” tanya Ciel.


“Bisakah saya berbicara dengan anda, Tuan Gin?”


“Masuk.”


Ciel membukakan pintu. Keduanya masuk ke dalam kamar. Ciel kemudian mempersilahkan Jenny untuk duduk di mana saja.

__ADS_1


“Sudah tidak ada pengawasan. Ada apa, Jenny?”


“...”


Jenny tampak begitu bimbang untuk mengatakannya. Entah kenapa, sekarang dia mulai agak bergantung kepada Ciel. Meski mencoba menepis semua itu, ketika ada sebuah masalah yang tak bisa dia selesaikan … Jenny tiba-tiba memikirkan Ciel.


“Tidak perlu malu untuk menahan diri. Katakan saja … tidak apa-apa.”


“Itu … Maafkan saya jika terlalu banyak meminta, tetapi …”


Melihat Jenny masih ragu, Ciel berkata, “Katakan.”


“Apakah anda memiliki rencana agar tidak terjadi perang, Tuan?”


“...”


Mendengar pertanyaan Jenny, Ciel menghela napas panjang. Setelah memikirkan sesuatu, dia akhirnya membuka mulutnya.


“Ada sebuah cara sehingga rakyat tidak dilibatkan dan perang tidak terjadi.”


Jenny yang mendengar ucapan Ciel tampak lebih cerah.


“Bagaimana caranya, Tuan?”


“Korbankan Charles beserta keluarganya, Harry yang mendukung Charles, dan Theo yang memiliki potensi untuk mengancam tahta. Terakhir serahkan saja kepada Andrew dan Curses of Shadow untuk menguasai kerajaan ini.


Tentu saja, masa depan akan seperti apa aku juga tidak akan tahu. Lagipula, jika pemerintahan terlalu kejam, pemberontakan pun bisa terjadi.”


“...”


“Bukankah keluargamu telah membuang dan mengabaikanmu? Kamu pasti membenci mereka. Duke Harry? Dia bahkan tidak bisa diandalkan.


Sedangkan Theodore, dalam hatimu … bukankah terkadang kamu menganggapnya sebagai penghalang? Karena dia, kamu membatasi jarak denganku … kan?”


Mendengar hal itu, tubuh Jenny gemetar. Meski hendak menyangkal, hati kecilnya mengatakan hal yang sama. Bisikan Ciel seperti sebuah kunci yang membuka kegelapan di dalam hatinya.


Apakah yang dikatakan Tuan benar? Apakah mereka masih bisa dianggap keluarga?


Sedangkan Theo … selama aku bersama Tuan Ciel, bukankah aku bisa memiliki anak-anak kecil yang lucu?


Pandangan Jenny menjadi semakin menghitam. Tubuhnya semakin gemetar. Dia merasa kegelapan mulai menyelimuti jiwanya. Pada saat itu … Jenny berteriak.


“MANA MUNGKIN SAYA BISA MELAKUKANNYA! MEREKA KELUARGAKU! THEODORE ADALAH DARAH DAGINGKU!


MANA MUNGKIN SAYA BISA MELAKUKAN HAL SEKEJAM ITU!”


Jenny mendongak, menatap Ciel dengan wajah berlinang air mata.


Mata Jenny terbelalak ketika merasakan sensasi manis di bibirnya. Merasakan kecupan lembut Ciel, wanita itu memejamkan matanya. Tubuhnya berhenti gemetar. Sebagai gantinya, dia merasakan penuh kehangatan.

__ADS_1


Ketika kedua bibir berpisah, Jenny menatap Ciel yang duduk tepat di sebelahnya. Pemuda itu melingkarkan lengan di pinggangnya. Meski agak malu dan tersipu, wanita itu bersandar ke pundak Ciel sambil bergumam pelan.


“Tuanku …”


“Apa?” tanya Ciel.


“Anda terlalu kejam.”


“Kamu tidak menyukainya?”


“B-Bukan seperti itu ...”


Merasa malu, Jenny membenamkan wajahnya dalam pelukan Ciel.


Ciel yang menatap wanita cantik dalam pelukannya mengangkat sudut bibirnya.


“Sebagai wanita dewasa yang mengalami banyak kekejaman, kamu terlalu baik dan naif, Jenny.”


“...”


“Aku menyukai itu. Tidak … aku sangat menyukai sikap seperti itu.”


Mendengar ucapan Ciel, wajah Jenny merah seperti apel. Dia kemudian mendongak, menatap pemuda itu dengan ekspresi malu-malu. Ciel sama sekali tidak ragu, sekali lagi … kedua bibir bertemu.


Meski Jenny tahu bahwa mereka telah menjadi lebih dekat. Meski sudah memiliki hasrat untuk ditaklukkan. Wanita itu tahu, ini masih bukan saatnya. Belum lagi … mereka juga tidak berada di tempat yang seharusnya.


Melihat Jenny yang paham dan hanya tenggelam dalam pelukannya, merasakan kehangatan serta kasih sayang tanpa berlebihan … Ciel benar-benar cukup terkejut. Dibandingkan kekasih Ciel lainnya, selain hatinya yang baik … dia juga bisa membaca situasi dan menahan diri.


Sebenarnya, Ciel sengaja menguji Jenny.


Jika kegelapan menelannya, melupakan keluarga dan orang-orang di dekatnya … Ciel sudah memiliki cara tersendiri. Apabila hal itu terjadi, dia berniat membuat Jenny menjadi ‘pahlawan’ dalam perang yang akan datang.


Dengan kata lain … dikorbankan dalam perang.


Ciel tidak akan segan melakukannya. Dia akan membuat Jenny yang telah membuang jati dirinya itu menjadi batu loncatan untuk Theodore. Dipengaruhi dengan kematian ibunya dan kebencian yang dalam … Theo yang merasa dirinya tidak berguna pasti akan membuka seluruh potensinya.


Ya … itu memang sangat kejam.


Sedangkan pilihan kedua, Jenny yang menjadi semakin baik. Masih menjadi dirinya sendiri. Itu bahkan lebih baik. Ciel memiliki rencana jangka panjang yang lebih baik. Tanpa harus ada plot kejam untuk mengorbankan.


Ciel membelai lembut rambut Jenny. Wanita itu memejamkan matanya dengan ekspresi nyaman. Melihat Jenny, dia tidak bisa tidak menasihati.


“Aku tahu kamu tidak ingin mengorbankan rakyat biasa. Namun itu tidak mungkin. Tetap saja … kita akan berusaha meminimalkan korban.


Jadi … kamu tenang saja, Okay?”


“En.” Jenny mengangguk lembut.


Membenamkan diri dalam pelukan Ciel, Jenny merasakan kehangatan yang belum pernah dia rasakan. Kehangatan yang menyelimuti baik tubuh, pikiran, dan jiwanya.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2