
Di luar gerbong kereta kuda, tampak seorang pria gempal dengan pakaian bangsawan yang begitu mencolok. Banyak embel-embel emas serta bebatuan mulia di pakaiannya. Dinilai dari wajahnya, dia terlihat begitu biasa. Pria itu adalah mantan tunangan kakak Ciel yang bernama Fenton.
Melihat penampilan mantan tunangan kakaknya, Ciel tertegun. Bukannya pemuda itu pemilih dalam penampilan. Hanya saja, dari cerita, mantan tunangan saudari perempuannya itu adalah playboy, bahkan juga bad boy. Seseorang yang suka bermain dengan wanita dan meninggalkannya.
Di kiri dan kanan Fenton terlihat dua wanita cantik kelihatannya dijadikan pelayan khusus untuk Fenton. Dari pakaian terbuka dan bentuk yang sengaja, jelas mereka berdua bukan wanita baik-baik.
Ciel berdiri sambil menatap mereka bertiga. Di sisi kanannya, ada Ryo yang sudah baikan. Sedangkan di sisi kiri, ada lelaki tua dengan pakaian yang compang-camping. Bahkan pakaiannya lebih buruk dari pengemis. Kebalikan dengan ekspresinya. Lelaki tua itu menatap dengan penuh semangat.
Lagipula … Ciel telah menyembuhkan lukanya dan menjadikan dirinya sebagai budaknya.
“Apakah kita tidak menangkap orang yang salah, Gordon?”
Gordon adalah nama lelaki tua itu. Jika diperhatikan, penampilannya sebenarnya mirip dengan kepala sekolah sihir di mana ada bocah berkaca mata dengan tanda petir di dahi sebagai tokoh utamanya. Hanya penampilan, sedangkan sikapnya … jangan tanya, pengikut baru Ciel bisa dibilang kurang sehat secara mental.
“Tentu saja, Tuanku. Dia adalah Pangeran Fenton, orang yang menyuruh Corny untuk menyakiti sahabat anda.”
“Dia …” Ciel kemudian menatap ke arah Fenton. Penampilannya sangat berbeda dari yang dalam pikirannya.
Bukankah dia seharusnya tampak keren? Memiliki sedikit sentuhan jahat dan nakal untuk menarik para wanita atau semacamnya?
Tampan? Tidak. Kuat? Errr … tidak. Memiliki pesona khusus? Itu .. ya, tidak juga.
Bukankah itu berarti orang ini hanya mengandalkan latar belakang orang tua beserta kekayaan mereka? Tipe yang begitu tidak bisa diandalkan?
Ciel sekali lagi menatap Gordon dengan ekspresi dingin. Meski budak seharusnya tidak berbohong, entah kenapa dia masih tidak mau percaya.
“Jangan berbohong kepadaku, Gordon! Katakan … di mana pangeran yang sebenarnya.”
Bukannya takut atau gelisah, ketika dibentak, Gordon malah tampak bahagia. Dia kemudian tersenyum pahit sebelum menjelaskan.
“Saya tahu yang anda pikirkan, Tuanku. Namun … apa yang ada di depan mata anda adalah kenyataannya. Apa yang dikenakan orang ini adalah pakaian khas kerajaan. Selain itu, dia seharusnya memiliki beberapa benda yang hanya dimiliki para pangeran.”
“...”
__ADS_1
Bagaimanapun juga, itu kenyataannya … kah?
Memikirkan itu, Ciel kembali menatap Fenton dan dua wanita di dekatnya. Dia awalnya memiliki niatan buruk untuk menyiksa, mengukir wajah pangeran itu dengan pisau dan membunuhnya perlahan. Pemuda itu ingin menyiksa Fenton sebelum membunuhnya.
Hanya saja, setelah melihat penampilan Fenton yang seperti celeng yang siap disembelih, Ciel kehilangan minat. Pemuda itu bahkan mulai mengeluh.
“Apakah kamu tidak berani mengancam? Bukankan kamu punya item sihir penyelamat atau semacamnya! Bukankah kamu punya item sihir untuk memanggil bala bantuan atau semacamnya! Bukankah seharusnya kamu punya kartu truf untuk meledakkan diri bersama musuh yang kuat!
Ayolah … tunjukkan saja! Jangan hanya menggigil dengan ekspresi bodoh yang tak tertahankan!”
Semua orang menatap Ciel yang mengeluh dengan tidak sabar. Ryo dan Gordon mengerjap. Mereka merasa kalau dua item pertama bisa dipertimbangkan. Sedangkan item untuk meledakkan diri atau semacamnya … ya, mereka tidak berpikir kalau hal semacam itu wajar.
“Be-Beraninya kalian menghina seorang Pangeran! K-Kamu juga, Gordon. Be-Beraninya kamu mengkhianati Kerajaan Blood Diamond …”
“Mengancam dengan lebih tegas! Argh! Entah kenapa kamu membuatku semakin kesal. Aku benar-benar kehilangan minat untuk meladenimu.”
“...” Fenton terdiam.
Ciel merasa kala dirinya adalah senior yang sedang melakukan ospek kepada juniornya. Dia kemudian menghela napas panjang.
“Apakah kamu linglung? Kita sedang melakukan misi.” Ciel langsung menyela Ryo yang bertanya aneh.
“Lalu-”
“Kalian bunuh saja langsung. Benar-benar mengganggu pemandangan.”
Ciel langsung berbalik pergi meninggalkan keempat orang itu. Dari ekspresi tak acuh, dia menjadi marah dan tertekan. Alasannya adalah … badai salju. Ya, badai salju yang terus mengganggu.
Bukan hanya itu, Ciel juga kehilangan dua potion yang sangat berharga pemberian gurunya. Jenis potion yang tidak tersedia di pasaran. Pemuda itu merasa rugi karena memberikan hal itu kepada Ryo. Juga, dia menyesal telah merekrut pemuja fanatik dengan sekrup kepala longgar seperti Gordon.
Hasil uang yang tersisa setelah dikurangi dua potion itu sangat sedikit. Mungkin malah minus. Tidak hanya itu, Ciel juga membuang begitu banyak waktu. Terakhir … dia juga harus menghindari wanita fanatik yang tiba-tiba mencintainya begitu saja.
Rugi … ini rugi besar.
__ADS_1
Ciel merasa agak tertekan. Entah kenapa, dia juga membayangkan Zack yang sudah sembuh. Bukannya dia tidak senang sahabatnya itu sudah sembuh, tetapi dirinya yakin … orang itu pasti akan pamer karena bekerja keras setiap malam.
Mungkin saja … Vexia malah sudah hamil?
Memikirkan itu, ekspresi Ciel menjadi lebih suram.
Aku berjanji, kunjungan Zack berikutnya ke Wilayah Blackfield … aku akan menguras kantong orang itu!
Ciel merasa agak lega dan puas setelah memikirkan itu. Baru kemudian, dia sadar. Pemuda itu biasanya bisa mengontrol emosinya dan menjadi tak acuh. Namun ketika bertemu dengan Fenton, dia merasa aneh.
Ciel sudah mengecek skill Fenton, kedua wanita, dan Gordon. Namun tidak menemukan sebuah skill yang bisa mempengaruhi dirinya. Dia sendiri juga tidak merasa kalau itu bukan karena dirinya mendalami peran.
Lebih tepatnya, skill ‘Devour’ miliknya mempengaruhi emosinya. Ciel merasa bahwa dirinya agak gelisah di sekitar Fenton.
“AARRGHH!!!”
Jeritan demi jeritan terdengar, kemudian suasana menjadi hening. Menoleh ke arah gerbong kereta, Ryo dan Gordon benar-benar langsung menghabisi Fenton dan kedua wanita.
Dengan ekspresi fanatik, Gordon mendekati Ciel sambil membawa cincin dimensi, kantong dimensi, pedang, dan sebuah pendant.
Gordon yang berhenti di depan Ciel langsung berlutut dan menyerahkan benda itu dengan ekspresi berlebihan. Melihat itu membuat sudut bibir Ciel berkedut.
“Tidak bisakah kamu melakukannya dengan normal? Kenapa kamu melakukannya seperti ritual menyembah berhala? Itu menjengkelkan!”
“Oh, Tuanku Yang Agung! Saya tahu kalau saya tidak salah! Anda terlalu rendah hati padahal telah membantu saya dengan potion ajaib. Saya merasa lebih kuat dari sebelumnya.
Budak ini percaya anda memiliki bakat tiada tara, Tuanku! Dengan bakat anda, benua selatan … tidak! Seluruh dunia ini akan berada di dalam genggaman anda.”
Melihat Gordon yang masih bersujud penuh syukur, Ciel tanpa sadar mundur satu langkah. Dia merasa kalau lelaki tua itu benar-benar pengikutnya yang melenceng dari jalur.
Jangan katakan menguasai dunia? Menaklukkan semuanya dan dipuja seperti Dewa? Aku tidak menginginkannya! Aku hanya ingin hidup tenang dan nyaman di sudut selatan yang terpencil!
Melihat Gordon yang bertindak seperti penganut kultus berbahaya, Ciel menelan saliva.
__ADS_1
Aku baru sadar, orang gila lebih berbahaya dari orang bodoh.
>> Bersambung.