
“Cepat! Tanggung jawab untuk melindungi Ibukota ada di tangan kami! Berjuang demi kemuliaan Kerajaan Black Star!”
Duke Goshtag memimpin lebih dari dua puluh ribu pasukan berkuda. Dia telah kembali menuju ke Ibukota dan merasa lega karena pasukan musuh belum sampai di sana. Namun pria itu masih tidak tenang. Dia segera memimpin pasukannya menuju ke arah barat.
Duke Goshtag berencana untuk bertarung di luar Ibukota. Lebih tepatnya, di area padang rumput. Sebenarnya itu kurang menguntungkan, tetapi dia harus melakukannya. Menurut informasi, musuh dipimpin oleh Jenderal dari Curses of Shadow, dan sosok itu adalah iblis level 6 (awal).
Jika bertarung di Ibukota, meski lebih mudah dipertahankan, korban yang akan berjatuhan akan lebih banyak. Perannya sekarang adalah untuk menunda lawan. Berharap bahwa Raja Wade bisa datang.
“Maju! Bersiap untuk-”
Suara Duke Goshtag tercekat ketika kuda yang dia tunggangi tiba-tiba berhenti. Bukan hanya kudanya, tetapi kuda lebih dari dua puluh ribu ksatria berhenti secara tiba-tiba.
Detik kemudian, angin dingin berembus melewati mereka. Mendongak ke atas, para ksatria melihat banyak benda hitam berjatuhan. Ketika diperhatikan, itu adalah burung -burung kecil yang berjumlah ratusan.
Para burung itu tampak kaku. Ketika jatuh menyentuh tanah, tubuh mereka hancur menjadi bubuk. Seperti bola salju yang dilemparkan ke dinding.
Melihat pemandangan aneh semacam itu, para ksatria, termasuk Duke Goshtag bergidik ngeri.
“Maju perlahan! Tarik pedang kalian! Bersiap untuk serangan musuh kapan saja.”
Duke Goshtag dan kembali berbaris maju. Namun tidak lama kemudian, mereka kembali berhenti.
Duke Goshtag menatap pemandangan aneh sekaligus luar biasa di depannya. Di depan matanya, terlihat padang rumput yang begitu luas membeku. Sejauh mata memandang, hanya ada dataran es. Ditambah langit biru yang tampak kosong tanpa setitik awan … pria itu merasakan sebuah kesunyian.
Memikirkan burung-burung yang berjatuhan sebelumnya, Duke Goshtag memiliki pemikirkan liar dalam kepalanya. Tanpa sadar dia mulai bergumam dengan heran.
“Apakah … sihir mengerikan semacam itu benar-benar ada di dunia ini?”
...***...
Uhuk! Uhuk!
Raja Wade dan Duke Windrivers saling berharapan. Keduanya batuk keras. Darah mengalir deras dari mulut mereka. Daripada sebelumnya, penampilan keduanya tampak sangat berantakan. Sebuah lubang berdarah tampak di dada Duke Windrivers, sementara sebuah lubang berdarah juga terlihat di perut Raja Wade.
“WADE!!! Aku … tidak akan-”
BRUK!
Melihat ke arah mantan sahabatnya yang tumbang, Raja Wade menghela napas panjang. Ekspresinya tampak pucat, bibirnya gemetar. Dengan tubuh yang terasa lemah, pria itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, menandakan bahwa mereka menang dalam perang tersebut.
Melihat Raja Wade yang mengangkat pedangnya, pasukan pemberontak tampak putus asa. Sebaliknya, pasukan dari pihak Kerajaan Black Star tampak lebih bersemangat.
“OOOHHH!!!”
Mereka semua bergegas untuk menyerang dan segera mengakhiri perang. Banyak para ksatria dari pihak pemberontak memilih untuk menyerahkan diri dan dihukum menurut dengan aturan.
Raja Wade yang tampak pucat berjalan tertatih menuju ke arah Duke Windrivers. Dia kemudian berlutut di depan tubuh sahabatnya itu. Menyadari bahwa sahabatnya itu masih hidup, ekspresinya menjadi lebih lembut.
“Kamu masih belum boleh mati, Stedd. Kerajaan Black Star masih membutuhkanmu …”
Setelah mengatakan itu, Raja Wade mengeluarkan sebuah potion dan memaksa Duke Windrivers untuk meminumnya.
Raja Wade kemudian duduk di tanah sambil menatap ke langit barat. Melihat matahari yang akan terbenam. Mengingat perasaan yang samar dari barat sebelumnya, senyum lembut muncul di wajah pria itu.
“Bocah itu … tidak sekejam dan sedingin kelihatannya …”
...***...
__ADS_1
Siang di hari berikutnya.
Usai kemenangan dalam perang, para rakyat di Ibukota tampak sangat lega dan bahagia. Perang yang memiliki dampak terlalu besar untuk Kerajaan Black Star itu akhirnya berakhir.
Sementara banyak yang berbahagia, pemandangan seperti itu tidak terlihat dalam Istana Black Gemma.
Istana Black Gemma, dalam kamar Raja.
Sosok Wade berbaring di ranjang dengan tubuh yang tampak mengerikan. Luka di perutnya tidak sembuh. Hampir semua bagian tubuhnya terkorosi oleh racun dan tampak hitam. Semua usaha telah dikerahkan dari potion sampai sihir penyembuhan, tetapi hasilnya masih nihil.
Dalam ruangan tersebut, ada tujuh sosok selain Raja Wade. Mereka adalah Ratu Nura, Ratu Elizabeth, Ratu Fryssa dan kedua anaknya. Sementara dua sosok lain adalah Duke Goshtag, sahabat Raja Wade dan sosok pemuda tampan yang tampak tak acuh.
Ya … dia adalah Luciel Dawnbringer.
Berbeda dengan enam sosok lainnya yang sedih, pemuda itu hanya menatap dingin. Sama sekali tidak terpengaruh dengan situasi duka di sekitarnya.
“Nura … Elizabeth … Fryssa …”
“Kami di sini, Rajaku!” jawab ketiga wanita itu bersamaan.
“Aku tahu sudah terlambat untuk menyesal, tetapi aku ingin minta maaf untuk segalanya. Aku harap kalian bertiga tetap rukun. Selama kalian bersama, kalian pasti bisa menyelamatkan dan mempertahankan Kerajaan Black Star ini.”
“...”
Mendengar ucapan itu, Ratu Nura menunduk dengan tangan terkepal. Dia menggigit bibirnya dengan tatapan sedih. Sementara itu, Ratu Elizabeth mencoba tetap tersenyum di depan suaminya itu. Ya … tetap tersenyum meski air mata mengalir membasahi wajahnya.
Sedangkan ratu Fryssa. Sebagai yang paling muda dan biasanya paling ceria, dia jatuh berlutut sambil terisak.
“Sahabatku, Anlow …”
“Saya di sini, Rajaku!”
“Jangan berlutut, Bodoh. Aku tidak bisa melihatmu. Kamu begitu bodoh sampai mau mengikutiku melewati jalan yang gelap ini. Untuk kesetiaanmu selama ini, aku mengucapkan banyak terima kasih dan maaf sebesar-besarnya.
Setelah ini, tolong bantu aku untuk merawat Kerajaan Black Star.”
Memberi hormat ksatria dengan wajah berlinang air mata, Duke Goshtag berseru.
“Sesuai perintah anda, Rajaku!”
Pada akhirnya, Raja Wade melirik ke arah Ciel.
“Luciel Dawnbringer, Pangeran ke-8 dari Kekaisaran Black Sun. Terima kasih atas pertolonganmu. Berkat dirimu … kami bisa memenangkan perang ini.”
“...” Tidak menjawab, Ciel hanya menatap dingin.
“Selanjutnya, aku akan menunjukmu sebagai Raja dari Kerajaan Black Star berikutnya. Jadi … aku serahkan sisanya kepadamu.”
Ucapan Raja Wade membuat keenam sosok lainnya terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa Raja akan menunjuk orang luar sebagai penerus berikutnya. Pada saat itu, Ciel yang sejak awal tidak berbicara tiba-tiba membuka mulutnya.
“Saya menolak,” ucap Ciel tak acuh.
Mendengar itu, Raja Wade tidak marah atau kecewa. Bahkan, pria itu malah tersenyum.
“Sudah aku duga kamu akan menjawab seperti itu …”
“Jika tidak ada yang lain, saya akan pergi terlebih dahulu.”
__ADS_1
Tanpa menunggu orang lain, Ciel langsung berjalan pergi. Saat itu juga, suara Raja Wade kembali terdengar.
“Luciel … Aku serahkan Ariana kepadamu. Jadi … tolong jaga dia untukku.”
Ciel yang membuka pintu menghentikan gerakannya. Tanpa menoleh ke belakang, dia berjalan keluar sembari menjawab.
“Itu sudah menjadi tanggung jawabku.”
Beberapa saat setelah Ciel keluar dan menutup pintu, suara tangisan terdengar dari kamar sang Raja. Pada saat pemuda itu berjalan keluar dari Istana Black Gemma, dia mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa dari belakangnya.
“PANGERAN LUCIEL!!!”
Sosok Duke Goshtag muncul di depan Ciel, meraih kerah pemuda itu dengan ekspresi marah.
“Aku tahu kamu membenci Raja Wade! Namun, sebagai menantu … bukankah kamu seharusnya berkabung untuk ayah mertuamu! Tinggal untuk mengikuti pemakamannya!”
PLAK!
Ciel menampar tangan Duke Goshtag lalu menatapnya dengan tatapan dingin. Wajahnya tanpa ekspresi. Pemuda itu hanya menjawab dengan nada tak acuh.
“Daripada menangisi kematian Raja Wade, ada hal penting yang lebih dulu harus aku lakukan …”
“APA YANG LEBIH PENTING DARIPADA PEMAKAMAN AYAH MERTUAMU SENDIRI!!!”
Mengabaikan teriakan Duke Goshtag, Ciel terus berjalan keluar Istana tanpa menoleh ke belakang.
“Pergi ke Zevirrius’s Duchy untuk mengakhiri semua ini …”
Mendengar ucapan Ciel, Duke Goshtag terkejut. Pria itu menatap punggung Pangeran dari Kekaisaran Black Sun itu dalam diam. Melihat punggung yang semakin kecil dan menghilang di kejauhan.
...***...
Tiga belas hari kemudian.
Di malam yang dipenuhi bintang, sosok Ciel yang menaiki Dark Unicorn akhirnya sampai di kota tempat di mana Kastil Zevirrius Berdiri.
Kota itu sangat besar, tetapi bukannya ramai. Tempat itu menjadi sepi tanpa kehadiran seorang pun. Semenjak kekalahan pasukan pemberontak dan mundurnya Curses of Shadow, semua orang yang berada di kota pergi mengungsi.
Mengabaikan tempat sepi tersebut, Ciel memacu kudanya menuju Kastil Zevirrius. Dia berhenti dan turun dari kuda ketika sampai di depan anak tangga yang begitu tinggi yang mengarah ke kastil.
Pemuda itu mendongak ke atas lalu berkata dengan ekspresi tenang.
“Tidak menyangka … itu benar-benar kamu.”
Di ujung tangga, sosok ksatria dengan full plate armor berwarna hitam berdiri di depan Kastil Zevirrius. Rune aneh berwarna merah terukir di seluruh armor. Sebuah Greatsword hitam legam tertancap di depan sosok ksatria tersebut.
“Bukankah para anggota Curses of Shadow telah pergi? Bukankah kamu datang untuk menjemput mereka?”
“Ya.” Sosok itu hanya menjawab dengan suara yang tenang dan dalam.
“Lalu … kenapa kamu masih tinggal?”
Sosok ksatria itu menatap ke arah Ciel sebelum akhirnya menjawab.
“Karena aku tahu … kamu akan datang.”
Mendengar itu, Ciel menarik dua katana dari sarungnya sembari mengangkat sudut bibirnya.
__ADS_1
“Mungkinkah ini ‘hari yang dijanjikan’, seperti yang kamu ucapkan dulu … Aragil?”
>> Bersambung.