
Pada sebuah perbatasan di daerah yang dipimpin oleh Viscount Larwrence, terlihat pasukan yang mengepung sebuah kelompok bandit yang tergolong cukup besar. Setelah beberapa waktu, pembantaian satu sisi pun terjadi.
Usai membantai bandit, Viscount Lawrence menyeka darah yang terciprat di wajahnya sambil menoleh ke arah utara. Di sana, tempat Kota Black Lily berada.
“Ini sudah yang terakhir, kan?” tanya Viscount Lawrence.
“Sudah, Tuan. Seluruh bandit dan pengganggu di daerah kita sudah dilenyapkan sekarang.”
Seorang ksatria menjawab dengan nada tegah, tetapi ketakutan terlihat jelas di matanya.
Dalam satu bulan ini, Viscount Lawrence telah membawa pasukan pribadinya untuk menyapu seluruh wilayah. Bandit dan orang-orang yang merugikan wilayah benar-benar dihabisi.
Pada saat itu, warga mengira kalau Viscount telah gila. Mereka ingin melaporkannya ke Kota Black Lily. Namun, sebuah kabar mengerikan sampai di telinga mereka.
Bukan hanya Viscount Lawrence, keempat Viscount lainnya juga melakukan hal yang sama. Bahkan, tiga daerah yang dipimpin Pangeran Luciel secara pribadi melakukannya. Dengan kata lain, seluruh wilayah disapu bersih oleh para ksatria.
Tanah bersalju yang awalnya putih murni berubah menjadi merah. Tidak hanya di satu tempat, tetapi seluruh wilayah di bawah Pangeran Luciel mengalami hal yang sama.
Para warga benar-benar menganggap Pangeran Luciel telah gila. Ada seseorang yang mencoba keluar dari wilayah dengan alasan melapor ke Royal Capital. Yang terjadi setelahnya, dia benar-benar dibunuh saat itu juga.
Terkunci di wilayah tanpa bisa keluar. Ditambah tekanan karena tidak tahu apakah akan hidup atau mati keesokan harinya, para warga menjadi panik.
Mereka tidak berpikir Ciel melakukannya untuk membuat wilayah lebih baik. Bagi orang-orang itu, Ciel adalah orang gila yang menyuruh para bawahannya membunuh dengan acak. Benar-benar membuat resah.
Di pangkalan militer Kota Black Lily.
Melihat sepuluh ribu ksatria berbaris rapi, Ciel mengangguk puas. Apalagi ketika melihat ekspresi mereka yang lebih tenang, dingin, dan memiliki aura membunuh di sekitar … dia merasa lebih puas.
“Kenapa kalian terlihat pucat? Masih memikirkan sosok yang kalian bunuh? Terbayang dalam mimpi? Merasa terkadang mendengar jeritan mereka?” Ciel tersenyum ramah.
“...”
“Hal itu sudah biasa. Jika kalian merasa bersalah, coba saja bayangkan apa yang ‘orang-orang itu’ lakukan jika sampai ke desa atau kota tempat kalian tinggal.
Bagaimana orang tua kalian? Mungkin ada yang punya kakak atau adik perempuan?”
“...” Semua ksatria masih diam, tetapi terlihat lebih lega.
“Aku ingatkan sekali lagi! Kalian bukan penjahat, kalian pahlawan! Menyingkirkan ‘sampah’, kalian membuat wilayah kita lebih bersih dan aman.
Kalian melindungi keluarga dan warga di sekitar kalian. Sekarang aku tanya … apakah mereka pantas mati?”
“Ya, Tuan!” jawab sepuluh ribu orang serentak.
__ADS_1
Melihat ekspresi yang pulih dan semangat berapi-api, Ciel tersenyum. Sebenarnya, teknik cuci otaknya masih berguna dengan sangat baik. Pemuda itu benar-benar merasa puas.
“Kalian boleh kembali, tetapi sebelum itu … kalian harus mengambil bonus kalian.
Ya … tidak terlalu banyak untuk kerja keras kalian. Akan tetapi, menurutku masih lumayan.
Memang, kalian tidak bisa pulang ke kampung halaman karena tugas. Namun kalian masih bisa mengirim barang atau uang itu! Membuat keluarga kalian yang di sana bangga!” ucap Ciel dengan senyum ramah.
“Terima kasih banyak, Tuan!” Semua ksatria membungkuk empat puluh lima derajat sambil berkata serempak.
Melihat mereka, Ciel sekali lagi mengangguk.
Bagus … teknik tongkat dan wortel juga berhasil.
“Kalau begitu, bubar!” seru Ciel.
Melihat semua ksatria memberi hormat, Ciel mengangguk ringan sebelum berbalik pergi dengan senyuman. Pada saat dirinya pergi, para ksatria kemudian bubar dengan rapi.
Kembali ke Kastil Black Lily, Ciel disambut oleh Isabella. Ciel melepas mantel tebalnya kemudian memberikannya kepada wanita itu. Setelah itu, dia beristirahat sebentar sebelum pergi mandi dengan air hangat.
Masuk ke dalam ruang kerja, Ciel melihat Ariana, Camellia, dan Elena di sana. Pemuda itu mengangguk ringan sebelum berkata, “Mari makan bersama. Aku juga akan menyuruh pelayan memanggil Asterious, Jean, Theo, Tania, Flora, Fiona, dan Isabella.”
“Sangat jarang?” Camellia bertanya dengan heran.
“Jika saya tebak, mereka semua adalah orang-orang yang membuat kontrak jiwa dengan anda kan, Sayang?” tanya Ariana tanpa mengubah ekspresinya.
Ciel diam sebentar sebelum mengangguk ringan.
“Benar. Selain itu, kalian adalah tulang punggung dari tiga daerah yang aku bangun. Bukan hanya tiga daerah, tetapi seluruh wilayah yang aku miliki.”
Setelah beberapa percakapan singkat, Ciel dan yang lainnya makan bersama. Tentu saja, kali ini Flora dan Fiona tidak menjadi koki karena ikut makan bersama.
Melihat semuanya makan dalam diam, bahkan Theo dan Tania yang sangat gugup, Ciel menggeleng ringan. Setelah makan bersama, Ciel akhirnya memutuskan untuk mengajak Asterious, Jean, dan menyeret Theo.
Ketiganya menjadi gugup karena Ciel mengajak mereka ke ruang santai.
Ciel mengeluarkan anggur kualitas terbaik, buah-buahan segar, dan beberapa jenis kue kering lalu meletakkannya di atas meja.
“Duduk,” ucap Ciel dengan santai.
Sekarang, dia ingin menghabiskan waktu bersama dengan laki-laki lain. Lagipula, beberapa pembicaraan tidak cocok dikatakan kepada perempuan.
Mendengar perintah Ciel, Jean duduk dengan ekspresi agak heran. Sementara itu, Asterious terlihat konyol dan agak linglung. Terakhir, Theo terlihat sangat gugup.
__ADS_1
Bagi Theo, ketiga sosok di sekitarnya adalah contoh teladan baginya. Semuanya adalah lelaki, mereka semua sosok yang kuat. Benar-benar sosok yang bisa dicontoh. Pikiran bocah itu sederhana. Selama dia kuat, dirinya bisa melindungi ibu yang dia sayangi. Tidak kurang, tidak lebih.
“Tidak perlu gugup. Sekali-kali, aku ingin duduk berbicara dengan kalian.”
Ciel menyiapkan empat gelas lalu menuangkan anggur. Pada saat melihat gelas keempat lalu melirik Theo, Ciel mengganti anggur dengan jus buah. Pemuda itu kemudian meletakkan gelas di depan ketiga bawahannya.
“Minumlah.” Ciel berkata singkat sebelum menyesap anggur di gelasnya sendiri.
Jean dan Asterious saling memandang lalu mengangguk. Keduanya mengambil gelas dengan dua tangan, mengangkatnya di depan Ciel sembari berkata bersama-sama.
“Ini suatu kehormatan bagi kami, Tuan.”
Melihat dua ‘senior’ yang meminum anggur dengan penuh hormat, Theo menjadi semakin gugup. Mengambil gelas berisi jus buah, bocah itu merasa sedang mengangkat sebuah gunung. Bukan karena ada sihir atau mekanisme lainnya, itu hanya karena Theo terlalu gugup.
Seorang Pangeran melayani bawahannya seperi ini. Ini adalah sebuah kehormatan besar!
Itu adalah hal yang dipikirkan oleh ketiga bawahan Ciel. Jika pemuda itu tahu, dia pasti akan terkekeh. Masyarakat modern sepertinya tidak terlalu mementingkan hal semacam itu.
Ciel memandang ke arah ketiga bawahannya.
“Kalau ada masalah, ceritakan saja kepadaku. Meski terlihat seperti ini, mungkin aku bisa membantu kalian.” Ciel membuka pembicaraan, berharap mereka tidak terlalu gugup.
“...”
Melihat ketiga orang itu hanya diam, Ciel menggeleng ringan. Pada saat itu, Asterious tiba-tiba mengangkat tangannya.
“Ada apa, Asterious?” tanya Ciel.
“Sebenarnya saya punya pertanyaan, Tuan.”
Melihat si minotaur hitam mau lebih terbuka, Ciel mengangguk puas.
“Tanyakan saja.”
“Sebenarnya … ini masalah CINTA.” Asterious menggaruk belakang kepala dengan ekspresi malu.
Jean dan Theo langsung memandangnya. Sementara itu, Ciel langsung tersedak. Ekspresinya berubah menjadi agak pucat.
Serius … kamu? Masalah Cinta?
Ciel tiba-tiba mempertanyakan pendengarannya sendiri.
>> Bersambung.
__ADS_1