Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Bukankah Kita Teman?


__ADS_3

“Membantu? Apa yang kamu maksud dengan itu, Pangeran Ciel? Penyakit Zack tidak mungkin untuk-”


Ekspresi kaget muncul di wajah Duke Flamehart. Dia menatap Ciel dengan ekspresi tidak percaya sebelum berkata, “Kamu tidak mungkin akan melakukan hal itu kan, Pangeran Ciel?”


“Kenapa? Bukankah itu hal yang baik? Sekali-sekali jalan-jalan agak jauh.”


Mendengar Ciel berkata semudah makan dan minum, Duke Flamehart terdiam. Sementara itu, Ibu Zack tampak bingung. Tidak mengerti apa yang mereka berdua maksudkan.


“Aku menghargai niat baikmu, Pangeran Ciel. Namun menyusup ke Kerajaan Blood Diamond itu sangat berbahaya? Belum lagi seorang Pangeran yang menyusup ke Kerajaan orang sendirian, aku bahkan belum pernah mendengarnya!” ucap Duke Flamehart dengan ekspresi pahit.


“Tenang. Aku tidak akan ceroboh ketika melakukannya. Berikan saja petunjuk tentang orang-orang dari Kerajaan Blood Diamond yang harus aku waspadai atau tandai.”


“Itu …” Melihat tekad Ciel, Duke Flamehart menghela napas panjang. “Aku mengerti. Namun pastikan kamu baik-baik saja, Pangeran Luciel. Jika sesuatu terjadi kepadamu … Keluarga Flamehart tidak bisa menanggungnya.”


“Tenang saja. Bukankah aku beberapa kali diincar, tetapi masih hidup dan sehat?” Ciel berkata setengah bercanda.


“Tolong jangan main-main dengan nyawamu, Pangeran Ciel.” Duke Flamehart mengingatkan.


“Tentu saja aku tidak main-main dengan kehidupanku.” Ciel berkata dengan nada tak acuh. Dia menatap Duke Flamehart dan istrinya. “Namun sebagai seorang teman dan saudara jauh, aku tidak bisa hanya diam dan menonton Zack dikubur, kan?”


“Kamu …” Duke Flamehart menghela napas panjang. “Haah! Zack beruntung memiliki teman sepertimu, Pangeran Ciel.”


“Untuk beberapa hari aku akan tinggal di sini untuk membiasakan diri. Bisakah anda meminta pelayan untuk mengantarku menuju kamar,Paman?”


“Baik.”


Karena apa yang harus dibicarakan telah usai, Duke Flamehart akhirnya memanggil pelayan untuk mengantar Ciel pergi ke kamar tamu terhormat. Tempat di mana dia akan tinggal sementara.


Melihat punggung Ciel yang semakin mengecil di kejauhan, Duke Flamehart tersenyum lembut.


Kamu benar-benar memiliki teman yang baik, Zack.


...***...


Sore harinya, di taman Kastil Flamehart.


Ciel terlihat sedang duduk di kursi santai. Di depannya tampak meja batu dengan cangkir, teko, dan beberapa wadah camilan.

__ADS_1


Tempat yang dia gunakan adalah meja teh yang dibangun di tengah taman bunga. Melihat pemandangan bunga yang indah dan suasana damai, Ciel menyesap teh dengan ekspresi puas.


Di belakang Ciel, Ryo berdiri seperti penjaga. Meski Ciel menyuruhnya untuk duduk dan minum bersama, orang itu menolak dan melakukan tugas layaknya seorang penjaga profesional. Pada akhirnya, Ciel memutuskan untuk mengabaikannya.


Hanya saja, ketika melihat warna merah di mana-mana, sudut bibir Ciel berkedut. Bahkan pohon yang banyak ditanam adalah pohon maple. Karena sudah sangat dekat dengan musim gugur, warna daunnya pun juga merah.


Oke … baru satu hari di sini, entah kenapa aku ingin merubah suasana.


Kecuali kamar tamu yang memiliki warna dan dekorasi agak berbeda, pada dasarnya Kastil Flamehart didominasi oleh warna merah.


Menghabiskan secangkir teh tanpa menyentuh camilan, Ciel menikmati pemandangan taman sebentar sebelum berdiri. Pemuda itu tidak percaya kalau tidak ada bagian kastil yang tidak memiliki warna merah.


“Aku dengar tempat ini memiliki kolam ikan yang luas. Ayo pergi ke sana.”


“Sesuai keinginan anda, Pangeran Luciel.” Ryo membalas sopan.


Kedua orang akhirnya meninggalkan taman bunga dan menuju kolam ikan. Sesampainya di sana, Ciel terdiam.


Kolam ikan tidak memiliki air merah bagai darah. Tampak jernih dan begitu menyegarkan. Hanya saja, di dalam kolam ada banyak ikan seperti koi dengan ukuran sebesar paha orang dewasa. Ada banyak dari mereka. Dan ya … mereka memiliki warna merah menyala.


Berada di gezebo pinggir kolam, Ciel akhirnya memilih untuk duduk di kursi. Meski masih banyak warna merah. Dia merasa setidaknya pemandangan tempat ini menyegarkan matanya.


Sosok itu sesekali mengintip dari balik pilar. Apa yang membuat Ciel agak heran adalah penampilan sosok itu. Lebih tepatnya, sosok anak kecil itu.


Anak kecil? Kira-kira berusia empat tahun?


Anak itu mengintip Ciel dengan mata bulat dan ekspresi penasaran. Ketika dia sekali lagi mengintip sosok yang sedang duduk memandangi kolam ikan, dia terkejut melihat orang itu menghilang dari tempatnya.


“Apa yang kamu lakukan di sini, Adik kecil?”


Mendengar suara santai dan tak acuh dari belakangnya, anak itu melompat dengan kaget. Tubuhnya tiba-tiba tegang dan menoleh ke belakang dengan gerakan kaku seperti robot mekanik. Melihat sosok Ciel, anak itu terpana.


Ciel sendiri melihat anak kecil di depannya dengan heran. Kulit putih bersih, rabut dan iris mata berwarna biru, mata yang bulat ditambah wajah yang menggemaskan. Memakai pakaian bangsawan berwarna biru tua dan rambut yang dikucir twin tail membuat penampilannya tampak baik.


Menyadari kalau penampilannya mirip dengan Ibu Zack, Ciel terkejut.


“Siapa namamu, Adik kecil?”

__ADS_1


Dengan gerakan kaku, si kecil mencoba membuat etiket sopan layaknya bangsawan.


“P-Perkenalkan … N-Nama saya Rey Flamehart.”


Rey Flamehart? Eh? Flamehart?


Ciel merasa otaknya kosong sejenak. Dia bertanya-tanya sejak kapan Zack memiliki adik. Apa yang dia ingat, Duke Flamehart hanya memiliki dua anak dari istri resminya. Pemuda itu memandang gadis kecil yang mirip dengan Ibu Zack.


Tidak mungkin dia anak selir, kan?


“HAHAHAHA! Akhirnya aku menemukanmu, Rivalku! Ternyata kamu juga berada di sini, wahai Adikku!”


Mendengar suara penuh semangat itu, Ciel menoleh ke arah Zack yang datang bersama tunangannya, Vexia. Melihat kalau wajah Zack tampak lebih baik, dia menghela napas panjang dengan ekspresi lega.


“Zack … ini?” Ciel melirik ke arah Rey.


Melihat ekspresi heran Ciel, Zack menjelaskan dengan santai.


“Bukankah aku pernah mengatakan itu sebelumnya? Empat tahun lalu! Aku bilang kalau aku memiliki adik yang imut dan manis.


Ya … meski dia tidak sepatuh adikmu dan agak ganas.”


Ciel kemudian memilah ingatannya. Empat tahun lalu, di pagi buta ketika dia nyaris tidak tidur pada malam hari sebelumnya karena membaca banyak buku sihir. Pemuda itu ingat Zack menerobos kamarnya sebelum fajar dan banyak mengoceh. Tentu saja, Ciel mengabaikan semuanya.


Sudut bibir pemuda itu berkedut, tidak menyangka kalau kehilangan informasi karena terlalu mengabaikan Zack. Lagipula, temannya itu juga aneh. Benar-benar memberi kabar baik di saat yang tidak tepat.


“Itu karena kamu adalah Kakak Bodoh!”


Suara kecil dan manis terdengar. Ciel menoleh melihat Rey memelototi Zack dengan ekspresi kesal. Menggembungkan pipinya dengan wajah marah yang imut.


“Lihat? Ketika melihatku, dia seperti kucing yang diinjak ekornya.” Zack berkata tanpa daya.


“Itu karena kamu adalah Kakak Bodoh! Tidak tahu malu! Menyebalkan! Narsis! Melakukan hal memalukan di tempat umum!” Rey sekali lagi berteriak dengan suara khas anak kecil yang merajuk.


Zack tersenyum pahit. Melihat sosok Ciel yang berdiri di samping Rey, memegang dagu sambil sesekali mengangguk seolah menyetujui sesuatu, dia tercengang.


Ada apa ini? Kamu setuju dengan peryataan adikku? Apakah kamu berkhianat?

__ADS_1


Bukankah kita teman seperjuangan?


>> Bersambung.


__ADS_2