Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Serangan Di Pesta


__ADS_3

“Anda bercanda … kan?”


Savian bertanya dengan wajah canggung. Arla adalah pelindungnya. Meski wanita dari ras Abyssal Barbarian dianggap kejam dan ganas, beberapa bangsawan memang menganggap mereka sebagai ‘barang eksotis’.


“Tentu saja aku bercanda. Dia pelindungmu. Juga … aku hanya penasaran, kenapa dia sesekali melirik ke arahku.” Ciel menggoyang gelas di tangannya dengan senyum tipis di bibirnya. Matanya menatap Savian dengan dingin.


Arla langsung berdiri di depan Savian, sementara Runa mengeluarkan ‘wand’ dari pinggangnya. Bersiap merapal mantra jika Ciel bertindak.


Melihat reaksi keduanya, Ciel menggeleng ringan. Dia menyesap anggur perlahan dan mengabaikan orang-orang dalam ruangan.


“Jujur saja, Pangeran Luciel, Arla atau Runa mengkhawatirkan saya. Lagipula, dibanding kakak pertama atau ke-2 … saya hanya sampah. Kedua pengawal saya mungkin takut jika anda berkolusi dengan salah satu dari mereka.”


Mendengar itu, Ciel tersenyum tipis. “Aku menyukai kejujuranmu, Savian. Ya … ras Abyssal Barbarian benar-benar menarik. Terlihat seperti iblis biasa hanya dengan warna kulit berbeda, tetapi benar-benar memiliki insting luar biasa.”


“Itu …” Savian merasa agak bingung.


“Ngomong-ngomong … apa yang diucapkan instingmu ketika bertemu denganku, Arla?” tanya Ciel dengan ekspresi bosan.


“Sangat berbahaya, harus dihindari.” Arla menjawab singkat.


“Meski begitu, kamu masih mencoba melindungi tuanmu? Tidak takut mati?”


“Saya adalah penjaga Tuan Savian. Ini sudah tugas saya.”


“Ngomong-ngomong … biasanya sangat jarang melihat budak dari ras Abyssal Barbarian. Kalian kuat, tidak mudah ditangkap, bisa dibilang … usaha tidak sesuai dengan hasilnya.


Jika aku tidak salah menebak. Ibumu … adalah pemberontak, kan? Karena itu dia dijadikan budak. Dirimu terseret olehnya.”


Ekspresi Arla langsung berubah menjadi muram. Savian ingin membela tetapi tidak tahu harus berkata apa. Pada saat itu, suara Ciel kembali terdengar.


“Ya … itu tidak ada hubungannya denganku. Savian beruntung bisa memilikimu. Bagaimana kalau aku membeli Arla, Savian? Selain uang, aku akan mengembalikan 5% saham kepadamu.”


“Saya menolak.” Savian menjawab tanpa berpikir panjang.


“Bagus. Kamu tidak mengecewakanku. Kamu tidak menganggap Arla atau Runa sebagai alat. Itu salah satu alasan kenapa aku mau bekerja sama denganmu, Savian.”


Ciel berdiri dari tempat duduknya. Dia memberi sebuah senyuman sebelum berbalik.


“Pesta akan diadakan nanti malam, jangan sampai kalian mabuk dan tidak bisa menghadiri pesta. Aku akan kembali ke kamar.”


Melihat sosok Ciel pergi meninggalkan ruangan, yang lainnya diam. Sementara itu, tangan Arla mengepal erat. Keringat dingin membasahi punggungnya.

__ADS_1


Sebenarnya, Arla berbohong. Kata yang diteriakkan oleh instingnya sama sekali bukan kata ‘berbahaya’, tetapi kata ‘mati’. Jika benar-benar melawan Ciel, dia yakin akan terbunuh lebih mudah.


Wanita itu hanya bisa menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan pikiran.


Waktu berlalu dan malam tiba.


Ciel, Savian, dan Ferel menaiki kereta kuda yang sama. Runa menunggu di penginapan sementara Arla menjadi kusir sekaligus pengawal untuk Savian.


Setelah beberapa saat, mereka akhirnya sampai di Kastil Jade Water. Bukan hanya Ciel, Savian, atau Ferel … banyak anak-anak bangsawan juga mulai berdatangan.


Pembuat acara, putra Count Jadeline, orang itu menunggu di depan pintu Kastil bersama dengan tunangannya. Dia menerima satu per satu tamu secara pribadi sebagai bentuk hormat kepada mereka.


Khususnya ketika melihat Savian dan Luciel. Karena keduanya adalah putra Duke dan seorang pangeran, orang itu sangat antusias terhadap mereka. Sudah jelas, Count Jadeline yang memintanya. Rubah tua seperti itu pasti ingin memanfaatkan kesempatan seperti ini agar putranya mengenal tokoh hebat sehingga masa depan Keluarga Jadeline lebih cerah.


Tidak lama kemudian, pesta pun dimulai. Itu terlihat sangat ramai. Para anak bangsawan, baik lelaki atau perempuan terlihat bahagia. Mereka membuat kelompok dan mengobrol dengan riang.


Sedangkan Ciel, dia malah memilih untuk duduk sendirian. Menikmati buah dan anggur dengan ekspresi bosan.


Lihat wajah yang dibuat-buat itu. Ugh! Aku benar-benar sulit menahannya. Aku sangat ingin memukuli wajah mereka!


...***...


Di sebuah bangunan yang tidak jauh dari Kastil Jade Water, tampak banyak orang yang memakai jubah hitam. Di punggung setiap jubah terdapat sebuah simbol berbentuk gagak berkepala dua yang menoleh ke kiri dan kanan. Di belakang gagak, ada sebuah bulan sabit.


“Pesta telah dimulai. Kapan rencana akan dilaksanakan?” tanya salah satu anggota.


“Kita harus menunggu instruksi dari atasan. Lagipula, ini misi yangs sangat penting.”


“Menurutku, kemungkinan besar Jenderal sedang menunggu para bangsawan mabuk sebelum melancarkan serangan.”


“Apakah hal itu diperlukan? Hanya anak-anak manja. Selama kita membereskan ksatria dengan cepat, mereka akan muda diatasi.”


“Aku dengar, Pangeran Luciel datang ke pesta …”


“Pangeran gila itu? Mungkinkah akan ada perubahan rencana?”


“Seharusnya tidak. Lagipula, kita dipimpin dua jenderal. Meski kuat, Pangeran Gila itu bukanlah masalah.”


Semua orang berjubah mulai membagi informasi. Pada saat itu, satu orang yang mengenakan jubah sama memasuki ruangan. Semua orang langsung memandang orang itu.


“Jenderal sudah memberi perintah. Semua alat sihir telah dipasang. Kelompok kita menyerang dari sisi barat … jangan sampai kalah dengan kelompok lain. Aku tidak ingin malu ketika bertemu Jenderal!” seru orang itu.

__ADS_1


“Baik, Komandan!”


Melihat sekelompok yang berseru bersamaan, komandan itu mengangguk ringan. Mereka kemudian keluar dari bangunan itu dan menghilang dalam gelap malam.


...***...


Dalam pesta, Ciel yang bosan tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh. Melihat sekitar, orang-orang masih sibuk berpesta dan menari dengan ekspresi Ceria. Pada saat itu juga, Ciel merasakan sebuah gelombang sihir di Kastil Jade Water.


Ciel berjalan tenang ke dekat jendela lalu melihat luar kastil dengan skill ‘Eye of The Lord’. Ekspresi pemuda itu menjadi buruk.


Sihir penghalang skala luas? Jika ini bukan permainan …


Ciel yang mengamati luar melihat kepulan asap di berbagai sudut luar kastil. Ekspresinya menjadi lebih buruk karena dia tidak mendengar jeritan atau bahkan suara perkelahian.


Sial! Asap beracun ditambah kemampuan tempur, baik … penyergapan ini bukan hanya lelucon.


Melihat kalau para anak-anak bangsawan masih berpesta, Ciel langsung meneriaki mereka.


“Hentikan pestanya! Kalian-”


BLARRR!!!


Suara ledakan keras terdengar. Bangunan kastil berguncang. Puluhan sosok berjubah hitam memasuki ruang pesta.melihat mereka, mata Ciel menyipit.


Level 2, level 2, level 2 …


Level 3, level 3, level 3 …


Level 4, level 4, level 4 …



Ciel meras kalau penyerangan ini benar-benar diatur dengan baik. Namun dia telah meremehkan sesuatu, suara langkah kaki terdengar. Langkahnya begitu keras, tetapi tidak cepat atau lambat … benar-benar berjalan dengan mantap.


Sosok berjubah memasuki ruangan, sebuah pedang besar terlihat di punggungnya. Melihat orang itu, level dan bakatnya … tangan Ciel mengepal erat.


Scarlet Flame.


Destruction.


Level 5 … akhir.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2