
Berjalan selangkah demi selangkah, angin dingin menerpa tubuh Ciel. Membuat jubah yang pemuda itu pakai berayun lembut ke kiri dan kanan.
“Kenapa aku harus melakukan ini?” gumam Ciel dengan ekspresi tertekan.
Sekarang pemuda itu sedang mendaki ke puncak Frozen Cloud Mountains. Untuk menghindari awan aneh di puncak gunung, Tetua Frost Dragon menyarankan dirinya untuk berjalan kaki.
Ciel sebenarnya masih bisa terbang menembus awan itu. Namun dirinya tahu, awan itu tidak sederhana. Bahkan jika dirinya bisa lewat, mungkin akan menghabiskan cukup banyak energi dan tenaganya.
Jika memang harus berhadapan langsung dengan Naga dalam kondisi seperti itu, Ciel takut dirinya dalam bahaya. Jadi dirinya memilih jalan paling aman. Hanya saja …
Ini terlalu membosankan!
Ciel berseru dalam hati. Dia benar-benar merasa tertekan. Meski tubuhnya sama sekali tidak terluka dan dirinya tidak lelah, pemuda itu merasa sangat bosan karena harus terus berjalan. Dia bahkan merasa jengkel dengan angin yang meniup wajahnya.
Setelah berjalan mengatasi kebosanan, Ciel akhirnya melewati area di mana awan berada. Namun sampai di sana, ekspresi pemuda itu stagnan. Itu karena …
Di atasnya masih ada awan lain … benar-benar menjadi lapisan ke tiga awan!
“Ugh … aku harap Tetua Frost Wyvern tidak bercanda denganku. Jika dia main-main, aku benar-benar tidak keberatan membawa tubuhnya pulang untuk dijadikan suvenir!”
Meski merasa tertekan, Ciel menggertakkan gigi dan terus mendaki. Terus mendaki melawan kebosanan yang menyerang dirinya. Akhirnya … pemuda itu berhasil melewati lapisan awan ke tiga.
Pemuda itu menarik napas dalam-dalam. Mendongak ke atas dan melihat puncak gunung yang masih cukup jauh tetapi sudah terlihat, Ciel menghela napas lega.
Dalam pendakiannya, Ciel benar-benar bosan. Tidak memikirkan banyak hal, pemuda itu merasa sangat mengantuk. Sampai-sampai, dia nyaris tertidur sambil berjalan.
Pada saat itu, Ciel merasa angin menerpa wajahnya. Pada saat dirinya menoleh, pemuda itu langsung terpana. Melihat ke sisi utara, dia melihat daratan yang amat luas. Sedangkan ketika melihat ke sisi selatan, pemuda itu melihat laut biru tak berujung.
Apa yang membuat Ciel terkejut bukanlah pemandangan yang luar biasa indah itu. Namun hal lain, yaitu …
Aku melewati tiga tingkat awan yang luas dan tebal. Jadi … bagaimana aku bisa melihat pemandangan di bawah dengan jelas?
Menyadari bahwa awan yang dia lewati benar-benar bukan awan normal, Ciel tanpa sadar bergidik. Pemuda itu langsung bertanya-tanya.
Apakah ini keajaiban alam, atau … buatan Naga itu?
Meski cukup ragu, Ciel akhirnya memutuskan untuk terus mendaki. Sampai di puncak Frozen Cloud Mountains, pemuda itu melihat kawah yang tidak terlalu dalam, tetapi di sana terlihat sebuah goa raksasa yang mengarah ke bawah.
Pasti itu sarang dari Frost Dragon King …
Pikir Ciel ketika mulai menuruni kawah. Di tengah kawah, pemuda itu melihat sebuah danau kecil dengan air yang begitu jernih. Tampak sangat aneh karena tidak membeku di suhu yang ekstrem semacam itu.
Hal-hal yang Ciel temui membuat dirinya menambah banyak wawasan yang tidak dijelaskan dalam buku.
Melihat mulut goa raksasa di mana sumber aura mengerikan berada, ekspresi Ciel menjadi lebih serius. Pemuda itu akhirnya memutuskan untuk berjalan masuk ke dalam goa.
Terus berjalan, ekspresi Ciel menjadi agak kusam. Setelah naik, sekarang dia dipaksa untuk berjalan turun. Untuk sosok pemalas seperti dirinya … itu benar-benar seperti penyiksaan.
__ADS_1
Setelah masuk lebih dalam, Ciel akhirnya sampai di sebuah tempat yang sangat luas. Namun, seluruh ruangan itu tertutup oleh lapisan yang terlihat begitu padat dan halus. Lantai, dinding, bahkan langit-langit tertutup oleh es yang solid.
“Aku sudah menunggumu …”
Mendengar suara itu, Ciel langsung melihat sosok yang berbaring di tengah ruangan itu. Naga barat dengan sisik biru berkilauan bak diukir dari safir dengan ukuran kira-kira sepuluh kali lebih besar daripada Deschia menatapnya dengan mata berwarna emas dengan pupil vertikal.
Indah, cantik, mempesona …
Kuat, ganas, mendominasi …
Mungkin penampilan Naga itu adalah gabungan dari kata-kata tersebut. Namun yang membuat Ciel lebih terkejut bukanlah penampilannya, tetapi suara Naga itu.
Frost Dragon King … adalah Naga betina?
Ciel merasa aneh, bahkan merasa orang yang membuat dongeng sangat tidak bisa diandalkan. Jelas-jelas Naga itu berbicara dengan suara layaknya wanita dewasa yang bermartabat dan mempesona, tetapi masih disebut ‘King’.
Setidaknya panggil dia Queen!
Ciel mengeluh dalam hati. Pada saat dirinya melamun, suara wanita yang merdu kembali terdengar dalam benaknya.
“Kamu benar-benar mirip dengan Avrora …”
Mendengar itu, Ciel memiringkan kepalanya.
“Siapa?”
“Karena sudah empat puluh tahun, sepertinya kamu bukan putranya … tapi cucunya.”
“Cucu?” tanya Ciel.
“Avrora … istri dari Ragnar Dawnbringer.”
“...”
Mendengar itu, sudut bibir Ciel berkedut. Ragnar Dawnbringer adalah nama Kakek Ciel. Yang berarti … Avrora adalah nenek Ciel yang menghilang.
Okay, ini agak memalukan.
Pikir Ciel dalam hati. Pemuda itu merasa agak tidak berdaya. Ditanya soal neneknya, dia sendiri malah tidak tahu nama sang nenek. Namun ekspresinya langsung berubah.
“Anda … mengenal nenek saya?” tanya Ciel dengan ekspresi penasaran. “Sosok seperti apa beliau itu?”
Meski seharusnya Naga tidak terlalu bisa berekspresi, Ciel merasa sosok naga di depannya sedang tersenyum ke arahnya.
“Mirip denganmu …”
“...”
__ADS_1
Mendengar jawaban itu, sudut bibir Ciel bergerak-gerak.
Lebih baik kamu tidak menjawabnya daripada menjawab dengan cara tidak jelas seperti itu!
Melihat ke arah Ciel yang tampak tertekan, Naga itu kembali berkata,
“Jika kamu ingin mengetahui sesuatu tentang nenekmu, kamu harus mencari informasi itu sendiri …”
“...”
Tenyata wanita … tidak! Maksudku, Nenek tua ini benar-benar mencoba mempermainkan aku!
Meski suaranya terdengar seperti suara wanita seusia ibunya, Ciel dengan jelas mendengar Naga itu mengenal neneknya layaknya teman bermainnya sendiri.
“Lalu … apa yang kamu lakukan sampai berkunjung ke tempat seperti ini, Cucu Avrora?”
“Tidak bisakah anda tidak memanggil saya dengan sebutan seperti itu? Nama itu agak asing,” ucap Ciel sebelum menghela napas. “Lagipula, saya punya nama dan nama saya adalah … Luciel Dawnbringer.”
“Pantas menjadi Cucu Ragnar. Meski berkata lembut, masih ada jejak kesombongan dari Dawnbringer di sana.”
“...”
Aku hanya memperkenalkan diri, Okay? Tidak bisakah kamu sedikit menghargainya?
Ciel mengeluh dalam hati. Suara Naga itu terdengar lagi.
“Kemarilah, Luciel Kecil. Katakan … kenapa kamu datang ke tempat ini?”
Meski merasa tertekan, Ciel tidak merasakan ancaman dari Naga itu. Entah kenapa, pemuda itu merasa bahwa makhluk di depannya itu bisa dipercayai. Berjalan mendekat, dia menghela napas panjang.
“Jadi seperti ini …”
Ciel mulai bercerita tentang bagaimana para Frost Wyvern mulai berburu dan mengacaukan lingkaran luar sehingga membuat Demonic Beast mengacaukan wilayahnya. Dia juga meminta beberapa penjelasan kenapa hal itu bisa terjadi.
“Tunggu … kamu bilang itu Wilayah milikmu, Luciel Kecil? Bagaimana bisa?”
“Aku diusir dari Istana Kekaisaran,” ucap Ciel.
“Pfftt … Hahaha! Lucu sekali, kamu benar-benar lucu, Luciel Kecil. Kamu benar-benar mirip dengan Avrora.”
“...”
Mendengar suara tawa arogan khas wanita bangsawan dalam benaknya, sudut bibir Ciel bergerak-gerak. Dia merasa sangat tertekan.
Bisakah aku pulang saja? Nenek tua ini benar-benar menyebalkan!
>> Bersambung.
__ADS_1