
“Tapi …”
Mendengar Ciel akan diberi tanggung jawab untuk memperebutkan kursi Putra Mahkota, Julia tampak agak enggan.
“Aku mengerti yang kamu rasakan, Julia. Meski aku merasa dirimulah yang paling cocok. Jelas, kamu tidak bisa melakukannya karena dirimu adalah perempuan.”
Kalimat yang terucap dari mulut Ratu Lilith membuat Julia mengepalkan tangannya dengan erat. Berbeda dengan Alexander yang agak terpaksa menerima tugas ini karena akan mempengaruhi kehidupan keluarga mereka, Julia benar-benar sangat mencintai Kekaisaran Black Sun dan menginginkan yang terbaik untuk kekaisaran.
Julia adalah tipe orang yang bisa dikatakan jenius. Selain serius, dia selalu berlatih keras padahal dirinya perempuan. Jika dibandingkan dengan kelima putri Kaisar Julius lainnya, dirinya adalah yang terkuat.
“Karena aku seorang perempuan …” gumam Julia.
“Baiklah. Masalah ini selesai, jadi kita-”
Sebelum Ratu Lilith melanjutkan, Ciel mengangkat tangannya sambil berkata dengan nada malas.
“Aku menolak.”
Semua orang langsung menatapnya dengan ekspresi heran. Biasanya, orang yang akan menerima perintah itu akan merasa bahagia dan terhormat. Namun ekspresi Ciel jelas bertentangan.
“Bukan itu masalahnya, Ciel Kecil. Kamu memiliki kemampuan untuk melakukannya lebih mudah dibandingkan Alexander. Ibu merasa itu juga bisa dibenarkan.
Lagipula, dengan kekuatan besar, datang juga tanggung jawab yang lebih besar.”
Mendengar ucapan ibunya, Ciel tertegun.
Jangan membodohi aku dengan ucapan seperti itu, Bu! Kamu bukan paman Ben dan aku bukan si manusia laba-laba!
Ciel mengutuk dalam hati. Dia menghela napas sebelum berkata, “Lalu untuk apa aku bersembunyi sejak berusia tujuh tahun, Bu? Ini terlalu rumit. Aku tidak ingin melakukannya. Itu tidak berguna.”
Meja rapat tiba-tiba digebrak. Semua orang langsung melihat ke sumber suara. Di sana tampak Julia bangkit dari kursinya dengan ekspresi muram. Dia berjalan menuju ke arah Ciel langkah demi langkah dengan ekspresi semakin gelap.
Sampai di dekat Ciel, Julia tiba-tiba meraih dan menarik kerah baju pemuda itu. Dia memandang dengan ekspresi dingin.
“Bocah sialan ini! Kamu tidak tahu berapa banyak orang yang berusaha mendapatkan kemuliaan ini. Menganggap semuanya sia-sia? Beraninya kamu! Tarik kembali kata-katamu!” ucap Julia.
Ciel memasang wajah bosan sambil berkata, “Memangnya aku peduli.”
“Kamu!”
“Lepaskan,” ucap Ciel dengan nada tak acuh.
“...”
Melihat Julia hanya diam saja, Ciel menampar tangan gadis itu dengan wajah bosan. Pemuda itu terlihat tidak peduli dengan kakaknya yang marah dan langsung kembali duduk di atas kursinya.
__ADS_1
“Jangan kira aku akan takut karena kamu lebih tua dua tahun dariku. Aku hanya merasa hal semacam itu tidak cocok untukku. Tidak kurang, tidak lebih.”
Mendengar perkataan Ciel, Julia menggertakkan gigi sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
“Cukup, Julia. Kembali ke tempat dudukmu. Dan kamu, Ciel … harap menghormati yang lebih tua. Juga, kamu harus menghormati posisi itu. Banyak orang berharap dan mendambakannya. Kamu tidak bisa hanya berkata seperti itu.”
“Aku mengerti, Ibu.” Ciel berkata dengan nada tak acuh, membuat wanita itu menghela napas panjang.
Sementara itu, Julia yang kembali ke tempat duduknya terus menatap Ciel dengan mata berapi-api. Jika sebuah tatapan bisa membunuh, lebih tepatnya Julia memiliki skill semacam itu, Ciel pasti sudah terbunuh berkali-kali.
“Bagaimana menurutmu, Alexander?” tanya Ratu Lilith.
“Ini … agak rumit.”
Ciel sekali lagi mengangkat tangannya.
“Lebih baik Kak Alex melanjutkannya. Meski kakak dan Kak Leona saling menyukai, kemungkinan besar alasan Duke Utara setuju bukan hanya karena North Duchy mendukung ibu.
Keluarga Flamehart mungkin memiliki keinginan untuk mengikat diri dengan Kaisar berikutnya. Lagipula, pada saat Kak Alex berhasil mengamankan kursi, North Duchy akan mendapatkan banyak dukungan.
Seperti West Duchy yang mendukung Pangeran pertama atau East Duchy yang mendukung Pangeran ke-2.”
Meski Ciel berkata dengan ekspresi bosan di wajahnya, semua orang dalam ruangan memandangnya dengan ekspresi takjub. Mereka mungkin tidak menyangka kalau dirinya menebak hal semacam itu.
Sadar kalau dirinya malah banyak bicara, Ciel mengutuk dalam hati.
“Analisis Ciel memang benar,” ucap Ratu Lilith sebelum menghela napas panjang. “Jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang, Alexander? Jika kamu juga tidak mau, ibu tidak akan memaksa.”
“Itu …” Alexander menatap dengan ekspresi rumit. “Aku akan melanjutkannya.”
“Bagus.” Ratu Lilith mengangguk.
Sementara itu, Julia mengangkat tangannya.
“Ada apa, Julia?”
“Mengenai perjodohanku …”
“Ibu mengerti. Setelah diselidiki, anak itu memang tidak pantas untukmu. Jadi penolakanmu diperbolehkan.”
“Jika seperti itu … apakah tidak apa-apa?” tanya Julia dengan ragu. “Aku takut Kerajaan Blood Diamond akan menimbulkan masalah.”
“Kami sebagai orang tua pasti mencoba memikirkan yang terbaik untuk putra dan putri kami. Sedangkan untuk masalah Kerajaan Blood Diamond, kami akan melayani mereka jika orang-orang itu ingin berperang.”
“T-Terima kasih, Ibu.” Julia tampak lega ketika mengatakan itu.
__ADS_1
“Sama-sama”
Beberapa saat kemudian, suara seruan terdengar dari luar Istana Utara.
“Yang Mulia Kaisar telah tiba!”
Pada saat itu, Ratu Lilith dan anak-anaknya langsung berdiri. Mereka tidak keluar karena sudah diberitahu kalau kaisar datang untuk mendiskusikan hal yang penting.
Beberapa saat kemudian, sosok kaisar memasuki ruangan sendiri. Ratu Lilith dan anak-anaknya termasuk Ciel langsung membungkuk sopa.
“Selamat datang, Yang Mulia.”
“Angkat kepala kalian.” Suara dingin dan tenang terdengar.
Ketika Ciel mengangkat kepalanya, dia melihat Kaisar Julius menatapnya. Pemuda itu diam-diam berpikir.
Kenapa kamu melihatku dengan tatapan seperti itu, Ayah? Memangnya ada bunga ajaib yang tumbuh di wajahku?
Setelah Kaisar Julius duduk, lelaki itu juga memerintahkan, “Duduk.”
Melihat semua orang duduk, Kaisar Julius mengangguk. Di tersenyum sebelum mulai mengumumkan.
“Aku memiliki kabar gembira. Pangeran ke-8 kita, Luciel Dawnbringer … akan segera bertunangan.”
Oh. Bertunangan. Itu hal yang-
Ciel tiba-tiba mengerjap. Dia langsung meraung dalam hati.
Apanya yang bertunangan! Sial! Kenapa aku baru mendengarnya?
Ciel buru-buru mengangkat tangannya, membuat Kaisar Julius terkejut.
“Kelihatannya kamu begitu bersemangat, Luciel. Apakah ada yang ingin kamu tanyakan?” ucap Kaisar Julius dengan senyum di wajahnya.
“Bisakah saya menolaknya, Yang Mulia? Lagipula, saya masih berusia 15 tahun.”
Mendengar ucapan Ciel, semua orang dalam ruangan tampak tercengang. Ratu Lilith dan anak-anak lainnya langsung melirik Kaisar Julius yang memiliki wajah muram.
“Tentu saja tidak, Luciel.” Kaisar Julius menggeleng ringan.
“Kenapa???” tanya Ciel dengan ekspresi tak berdaya.
“Karena tunanganmu itu … akan tiba di Istana Kekaisaran besok.”
Ciel langsung terkejut. Ucapan ayahnya tampak seperti sebuah sabit kematian yang menggantung di atas kepalanya. Pada saat ini, Luciel Dawnbringer yang malas tetapi cerdas …
__ADS_1
Benar-benar bingung harus melakukan apa.
>> Bersambung.