
Seolah merasakan tatapan Ciel, pria yang baru saja memasuki ruangan tiba-tiba menoleh ke arah pemuda itu. Ekspresi pria itu tiba-tiba berubah dari serius menjadi bahagia. Dia terlihat begitu bersemangat.
“HAHAHAHA! Sial, aku beruntung tidak merebut Count membosankan itu darimu, Celeval! Di sini aku malah bertemu sosok yang cocok dijadikan mangsa.
Hey! Kamu kuat kan, Nak?”
Hampir semua anak-anak bangsawan langsung ketakutan mendengar suara pria yang penuh dengan niat membunuh itu.
Sebaliknya, tanpa berbasa-basi, Ciel tiba-tiba menghilang dan muncul di depan pria itu. Sebuah pedang telah ada di tangan kanannya sementara seluruh tubuhnya dilapisi dengan sihir gravitasi.
KLANG!!!
Bukannya suara pedang mengiris daging yang terdengar, tetapi malah bentrokan logam.
“Ck! Ck! Ck! Benar-benar tidak sopan. Bukankah kamu harus menjawab pertanyaan seorang senior daripada langsung menebasnya.” Pria itu telah menarik pedang besar di punggungnya.
Meski sebenarnya Ciel adalah level 6 (awal), dia hanya bisa menunjukkan level 5 (menengah) di depan publik. Jadi Ciel langsung mencoba membunuh musuh dalam sekali serangan.
“Kelihatannya kamu terkejut karena aku bisa menangkis seranganmu, Nak? Ngomong-ngomong … siapa namamu?”
“Luciel Dawnbringer.” Ciel berkata dingin.
Sebelum suaranya menghilang, Ciel tiba-tiba menebas ke arah pria itu beberapa kali. Namun … hanya suara benturan logam yang terdengar. Pria itu benar-benar menangkis setiap serangan Ciel yang dikombinasi dengan kecepatan sihir gravitasi.
“Wow! Ternyata seorang Pangeran … aku benar-benar merasa terhormat. Eh? Kenapa ekspresimu terlihat buruk?” Pria itu menyeringai.
Ciel merasa sulit percaya. Pria di depannya, yang level dan kemampuannya telah dia deteksi masih bisa menahan setiap serangannya. Tentu saja, Ciel merasa lebih superior, tetapi dia salah … musuh bisa menangkis serangannya dengan mudah.
“Ah! Aku hampir lupa memperkenalkan diri. Namaku Aragil … ya, tidak begitu populer, tetapi aku satu dari 13 Jenderal di organisasi Curses of Shadow.”
Melihat Aragil yang tampak begitu santai, sempat bercanda, Ciel semakin merasa ragu. Belum lagi dia pria itu terlihat seolah benar-benar memandang junior yang masih hijau.
Aku ingin menggunakan sihir skala besar, tapi …
Ciel melirik sekitar. Dia sekarang berada dalam kastil. Kecuali ingin membunuh semua anak bangsawan dan dianggap sebagai buronan, tidak mungkin untuk menggunakan sihir semacam itu di sini.
Yang harus aku lakukan sekarang adalah-
“Aku harus mengeluarkan orang itu dari sini.” Aragil menyeringai. “Pasti itu yang sedang kamu pikirkan, bukan?”
__ADS_1
Ciel sempat kaget, tetapi dia langsung menyelimuti pedangnya dengan api hitam dan sekali lagi menebas. Namun ketika Aragil menahannya dengan mudah, Ciel langsung mengulurkan tangan kirinya. Bola api hitam seukuran bola basket langsung melesat arah wajah Aragil.
“Menarik …”
Tiba-tiba tangan kiri Aragil diselimuti api berwarna scarlet yang tampak anggun dan indah. Mengepalkan tangannya, dia langsung memukul bola api hitam. Suara ledakan kecil terdengar, tetapi jelas … Aragil masih terlihat baik-baik saja.
“Hey, Pangeran Luciel … apakah kamu terkejut? Wajahmu terlihat tidak berubah, tetapi matamu mengatakan yang sebenarnya.
Ah! Ngomong-ngomong … sialan! Apa yang kalian lakukan? Menonton? Lakukan tugas kalian sekarang!”
Mendengar teriakan Aragil, para anggota ‘Curses of Shadow’ langsung tersadar. Meski mereka merasa kalau menonton pertarungan itu menarik, mereka juga sadar kalau memiliki misi yang harus dilakukan.
“Apa yang kalian tunggu! Sebagai seorang bangsawan, bagaimana kalian bisa menyusut menjadi pecundang! Keluarkan senjata kalian, tunjukan pada mereka … kita tidak akan kalah tanpa perlawanan!”
Orang yang mengucapkan kalimat itu bukanlah Ciel, melainkan Savian. Melihat dua kubu yang bentrok dan suara putus asa para anak bangsawan yang mencoba melawan, ekspresi Ciel menjadi semakin suram. Dia melihat Aragil yang memegang sebuah pedang besar dengan tangan, menaruh di pundak, dan terlihat sangat santai.
“Sebenarnya ini menyenangkan, tetapi waktu terus berlalu. Jadi maaf, aku akan berhenti main-main.”
Ketika mengatakan itu, sikap Aragil berubah. Niat membunuh nan kental dan kejam keluar dari tubuhnya. Pada saat itu juga, Ciel yang sedikit lengah melihat sosok Aragil yang tiba-tiba muncul di depannya.
Melihat sebuah pedang besar berayun, Ciel yang tidak sempat menghindar langsung memposisikan pedang secara horizontal dan memegang dengan kedua tangan. Dia langsung menahan serangan Aragil, tapi-
Ciel yang menahan serangan berat Aragil langsung menjadi pucat. Pada saat itu juga, kaki Aragil sudah ada di perutnya. Tiba-tiba … dia langsung terpental belasan meter. Menghancurkan kursi dan meja sebelum berhenti saat menabrak dinding.
Memang, Ciel tidak merasakan sakit dari serangan itu karena fisik yang telah terbentuk oleh skill Devour. Namun, dia juga paham … tidak ada waktu untuk mencoba sedikit demi sedikit seperti sedang melawan para pecundang sebelumnya.
Enam sayap hitam legam muncul di punggung Ciel. Cahaya ungu menyelimuti seluruh tubuhnya termasuk pedang di tangannya. Tak hanya itu, api hitam juga berkobar di pedang yang dia pedang.
Detik berikutnya, Ciel langsung muncul di depan Aragil dan menebas dengan kejam.
KLANG!!!
Ekspresi terkejut tampak di wajah Aragil. Menerima serangan dengan kecepatan ditambah berat yang dikalikan dengan sihir gravitasi … lantai di bawah kaki pria itu langsung retak membentuk jaring.
Kuat!
Satu kata itu yang terlintas dalam benak Aragil. Pria itu tiba-tiba tertawa seperti kehilangan kewarasannya.
“HAHAHAHA! Bagus! Jika kamu ingin, kamu bisa melakukannya! Kamu kuat, Pangeran Luciel! Serang aku! Bunuh aku!”
__ADS_1
Pedang raksasa di tangan Aragil langsung diselimuti api scarlet. Meraung keras sambil menghentak, dia benar-benar membuat Ciel yang menekannya terlempar beberapa meter.
Dua orang saling memandang sebentar sebelum tiba-tiba menghilang.
KLANG!!! BLARRR!!!
Kedua pedang bertemu. Satu hitam, satu scarlet. Sama-sama kuat, sama-sama tidak ingin kalah. Lantai dengan diameter 20 meter di bawah mereka berdua langsung retak sebelum hancur.
Orang-orang yang bertarung tidak jauh dari mereka berdua langsung menghindari keduanya. Membuat ruang luas agar menghindari kedua orang yang sedang bertarung itu.
“HAHAHA! Sangat kuat! Beri aku lebih!”
“Cih! Keras kepala … mati saja!”
KLANG! KLANG! KLANG!
Jika seseorang bisa melihatnya dengan jelas, meski kekuatan keduanya terasa seimbang, Ciel jelas lebih cepat dibandingkan Aragil. Hanya saja, setiap serangan Ciel bisa ditangkis oleh pria itu. Seolah bisa melihat pergerakan serangan Ciel.
Ciel kemudian langung mengulurkan tangan kirinya. Tujuh ular terbuat dari api hitam muncul. Masing-masing sepanjang dua meter dan langsung melesat ke arah Aragil sambil membuka mulut mereka.
Aragil tidak melakukan hal yang spesial, tetapi dengan kejam menebas ketujuh ular dengan pedang yang diselimuti api scarlet dalam sekali serang.
Pada saat itu, Ciel muncul di belakang Aragil lalu menusuk dengan kejam. Darah merah langsung mengucur ke lantai. Mata Ciel menyipit.
Melihat ke depan, tampak Aragil yang belum membalikkan badannya. Namun, tangan kiri pria itu memegang pedang Ciel. Ya, memegangnya secara langsung tanpa takut terluka. Darah keluar dari tangannya, tetapi saat orang itu menoleh ke belakang … seringai kejam terlihat di wajahnya.
Ciel merasakan tarikan kuat. Aragil menarik pedangnya, berbalik sambil menebas ke arahnya. Ciel yang merasakan bahaya langsung melepaskan pedang di tangannya dan menghindar.
BLARR!!!
Benar saja, tebasan kuat dari pedang Aragil langung membuat lubang di tanah cukup dalam. Mungkin sedalam satu meter dengan panjang kurang-lebih lima meter.
Ciel yang baru menginjakkan kakinya di lantai yang cukup jauh melihat sesuatu terlempar ke arahnya. Dia langsung menangkap dan menyadari kalau itu adalah pedangnya. Pemuda itu langsung melihat ke arah lawan.
Aragil tidak lagi terlihat gila. Sebaliknya, orang itu terlihat serius. Menatap Ciel, dia berkata dengan sungguh-sungguh.
“Pangeran Luciel! Kamu tidak berharap untuk mengalahkanku dengan permainan seperti itu … kan?”
>> Bersambung.
__ADS_1