
“Apa yang anda lakukan di tempat seperti ini, Pangeran Luciel?”
Menyadari identitasnya telah terbongkar, James tidak lagi menyembunyikan hal itu. Membuka tudung yang menutupi wajahnya, pemuda berwajah pucat itu menatap sosok Ciel dengan ekspresi serius.
“Bukankah itu yang harus aku tanyakan kepadamu, James? Meski kamu masih terlihat canggung, kamu memiliki bakat yang bagus untuk menyusup.
Sebagai orang dari Kekaisaran yang sama, aku akan memberimu kesempatan.”
“Apa maksud anda, Pangeran Luciel? Meski saya agak iseng untuk jalan-jalan di malam hari, agak keterlaluan menganggap saya-”
Sebelum sempat melanjutkan, James merasa suaranya tercekat. Tidak tahu kapan, sosok Ciel telah berdiri di depannya sambil mencengkeram lehernya lalu mengangkatnya perlahan ke udara dengan ekspresi tak acuh.
James merasa napasnya mulai sesak. Dia mencoba memukul dan menendang agak Ciel melepaskannya. Namun yang orang itu lihat adalah tatapan dingin pemuda tampan di depannya. Tangan Ciel seperti penjepit besi yang tidak bisa digerakkan meski dia telah berusaha segenap tenaga.
“Awalnya aku cukup tertarik dengan matamu. Namun kamu benar-benar mencoba membodohiku. Mencoba membodohiku … meski tahu apa yang telah aku sembunyikan?”
Tubuh James gemetar. Bukan hanya karena lemas dan kekurangan udara, orang itu sangat takut ketika Ciel mengatakan hal tentang matanya. Itu karena … matanya adalah rahasia terbesar yang dia sembunyikan dari semua orang, bahkan ibunya sendiri.
‘Mistical Eyes’
Itu adalah salah satu skill yang James miliki. Tidak memiliki banyak fungsi, tetapi bisa dianggap berguna atau tidak berguna. Skill miliknya itu dapat digunakan untuk melihat energi kehidupan dalam tubuh seseorang.
Meski tidak sekuat Eye of The Lord yang mampu melihat bakat, skill tersebut juga cukup praktis. Dia bisa mendeteksi energi kehidupan orang untuk menghindari mereka ketika menyusup.
Tidak hanya itu, skillnya juga bisa digunakan untuk mengungkap orang-orang yang pandai menyembunyikan kemampuan mereka. Bisa digunakan untuk mencari orang-orang berbahaya yang menyusup ke wilayah atau semacamnya.
Pada saat pertama kali melihat Ciel secara langsung, James tahu bahwa pemuda yang dianggap malas dan gila itu sangat mengerikan.
Kebanyakan orang berkata bahwa Ciel berada di level 5 (akhir). Namun James melihat nyala yang begitu terang dan mengerikan, sesuatu yang seharusnya tidak dimiliki sosok level 5. Bahkan juga bukan level 6 (awal).
Dia telah melihat ‘nyala api’ dalam tubuh ayahnya, tetapi milik Ciel lebih terang darinya. Kemungkinan besar … Pangeran ke-8 yang tampak begitu lemah dan malas itu ada di level 6 (menengah) atau bahkan level 6 (akhir).
Kurang dari 20 tahun tetapi melebihi 5 Duke? Konsep macam apa itu?
Memikirkannya saja sudah membuat James ketakutan.
Awalnya James mencoba menipu Ciel. Lagipula, biasanya pemuda seperti itu tidak akan terlalu memperhatikan tipuannya. Paling tidak, hanya curiga. Namun dia salah.
Satu jawaban yang salah … pemuda itu benar-benar sangat kejam dan ganas. Ingin langsung menghabisinya begitu saja!
__ADS_1
Menahan seluruh rasa sakit, James mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa untuk bicara.
“S-Saya … menyerah.”
Setelah mengucapkan itu, James merasa tubuhnya langsung jatuh ke tanah. Napasnya naik-turun. Mengabaikan rasa sakit di lehernya, dia mendongak ke atas. Orang itu melihat dua iris mata dengan kilau misterius menatapnya dengan dingin.
“Pilihan yang bijak.”
Mengatakan itu, Ciel menatap James dengan ekspresi tak acuh.
Dia mengetahui kemampuan James ketika berada di arena bawah tanah. Sedangkan pertemuan pertama, Ciel mengabaikan semua orang karena terlalu banyak dan malas memeriksanya satu per satu.
Apa yang awalnya membuat Ciel penasaran adalah gerakan James ketika mereka pertama kali bertemu. Melihat dirinya yang malas, biasanya orang-orang akan menghina atau berpura-pura sopan. Namun James terlihat ketakutan … benar-benar sangat ketakutan.
Kemudian, Ciel juga mengamati James ketika orang itu mengamati orang-orang di arena dengan serius. Kelihatannya agen pemula yang sedang mengumpulkan intelejen.
Setelah itu, Ciel baru penasaran dan mengecek skill milik James. Melihat skill unik dan langka itu, dia langsung tertarik. Namun daripada tertarik, pemuda itu lebih waspada. Lagipula, terlihat jelas kalau James sedang mengumpulkan informasi semua tamu bukan hanya karena penasaran.
Siapa yang ada di belakang James?
Ketika pertanyaan itu muncul di benaknya, Ciel memutuskan untuk datang menemui James dan ‘berbicara’ secara pribadi.
Menarik kesimpulan, Ciel tahu bahwa skill bisa digunakan selama mendeteksi sedikit saja aura yang dipancarkan oleh pihak lawan. Sedangkan dia yang ingin hidup tenang … sangat tidak suka dan menganggap skill semacam itu berbahaya.
“Siapa yang ada di belakangmu, James? Apakah … kamu mencoba mengkhianati Kekaisaran Black Sun?”
Jika selama ini James mengumpulkan informasi dan membocorkannya kepada pihak musuh, hal semacam itu akan membuat kerugian besar bagi Kekaisaran Black Sun atau kerajaan yang berafiliasi dengannya.
“T-Tidak … saya sama sekali tidak melakukannya.”
James yang sedang mengatur napasnya tampak begitu ketakutan. Melihat bahwa tidak ada kebohongan di matanya, Ciel semakin ragu. Pada saat itu, dia mendengar langkah kaki yang mendekat. Kelihatannya para ksatria wanita yang berpatroli.
“Kita akan berbicara di tempat lain.”
Belum sempat James menjawab, dia merasakan sebuah tangan menarik kerah di belakang lehernya. Keduanya kemudian menghilang dalam kegelapan malam.
Beberapa jam kemudian.
“Kamu bisa bicara sekarang. Untuk apa kamu mengumpulkan informasi? Lebih tepatnya … untuk siapa?”
__ADS_1
James terdiam. Mereka berdua sekarang ada di hutan kecil yang tidak jauh dari ibukota. Bahkan, sekarang dirinya diikat ke pohon tanpa bisa bergerak dengan bebas.
James melihat Ciel yang duduk di atas batu datar. Di sebelah pemuda itu, terlihat tiga toples kaca dengan cairan berbeda warna. Banyak belati kecil yang mata pisaunya direndam dengan cairan tersebut.
Apakah dia mencoba menakutiku? Tidak mungkin Pangeran Luciel akan-
Jleb!
Belum sempat memikirkan hal lain, James mendengar suara logam menembus daging. Detik berikutnya, dia merasakan sensasi dingin yang menggigit tulangnya. Bukan hanya dingin, tetapi juga sangat menyakitkan.
“Argh!!”
James menggertakkan gigi. Menoleh ke bawah, pemuda itu melihat sebuah belati menusuk paha kirinya. Pada saat itu, dia tahu betapa tegas dan kejamnya Ciel. Bahkan hanya karena sedikit terlambat menjawab, pangeran itu tidak segan melukainya.
“S-Saya …” Menahan rasa sakit sambil menggertakkan gigi, James berusaha menjawab. “S-Saya tidak mengkhianati Kekaisaran Black Sun.”
Jleb!
Suara besi menembus daging kembali terdengar. Kali ini, daripada dingin … James merasakan sesuatu yang panas seolah membakar tulang dan sumsum dalam tubuhnya. Benar-benar sensasi menyakitkan sekaligus mengerikan.
“Aku bertanya … kamu bekerja untuk siapa?”
Tidak berani ceroboh, James langsung menjawabnya sambil menahan sakit. Air mata dan ingus bahkan telah memperburuk penampilannya.
“S-Saya tidak bekerja untuk siapa-siapa.”
“Jawaban yang salah.”
Suara Ciel yang teramat dingin terdengar.
Jleb!
Kali ini James melihat belati yang menusuk bahu kirinya. Bukan dingin atau panas, dia merasakan rasa sakit yang mengerikan seperti ratusan ribu semut menggigit kulitnya secara bersamaan. Perutnya juga langsung mual. Tidak bisa menahannya, pemuda itu memuntahkan semua makan malamnya.
Ekspresinya terdistorsi. James menatap sosok Ciel dengan tatapan ketakutan. Sekali lagi, suara dingin terdengar di telinganya.
“Kesempatan terakhir. Aku harap kamu menghargai ini, James …”
>> Bersambung.
__ADS_1