
Selain 88 orang yang telah membuat kontrak budak dengannya, Ciel telah membuat kontrak jiwa dengan Verrona dan 4 komandan Blue Moon lainnya. Tentu Ciel melakukan itu karena merasa potensi dalam tubuh mereka cukup masuk dalam kriteria.
Sikap Lyfalia kepadanya juga menjadi lebih bersahabat dibandingkan sebelumnya. Mungkin setelah melakukan kontrak jiwa, gadis itu mulai sedikit mengerti tentang kepribadian Ciel. Apapun itu, Ciel merasa lega karena semu berjalan lebih lancar.
“Bahan makanan yang disimpan dalam gudang seharusnya cukup untuk satu bulan. Meski tidak bisa melihat matahari seperti biasanya, aku harap kalian bisa membiasakan diri.
Untuk apa yang harus kalian lakukan berikutnya, aku akan mengirim orang untuk mengatur jadwal. Aku janji, jika kalian sudah aku anggap ‘siap’, kalian bisa muncul lagi di permukaan.
Baiklah. Itu saja. Aku akan kembali.”
Setelah mengatakan itu, Ciel berbalik.
“Terima kasih banyak, Tuan.”
Seluruh Dark Elf, 93 sosok berjubah membungkuk ke arah Ciel dan berkata serempak. Meski kalimat singkat, itu mengandung rasa syukur, terima kasih, dan harapan bagi mereka semua.
Ciel pergi bersama dengan Elena. Naik ke atas, Ciel kemudian menutup dan mengunci satu-satunya pintu yang mengarah ke ruang bawah tanah. Meski pintu itu tersembunyi dengan baik karena dibangun di sudut yang tidak mencolok bahkan ada sihir ilusi yang membuatnya sulit ditemukan, apa yang Ciel lakukan adalah sebuah pencegahan.
Melihat Elena yang cemberut di sisinya, Ciel tampak bingung.
“Apakah kamu mengkhawatirkan mereka, Elena? Tenang saja. Selama aku belum mati, tidak akan ada masalah dengan urusan makanan dan sebagainya.”
“Anda bodoh, Tuan.”
Elena berkata dingin sebelum berjalan pergi. Ciel yang dihina langsung tercengang, tidak mengerti apa yang terjadi. Dia langsung menyusul Elena dan memegang tangannya.
“Kenapa kamu marah? Coba katakan kepadaku.”
“Saya tidak marah, Tuan.” Elena mendengus dingin.
Siapa yang percaya dengan itu? Kenapa kalian, para wanita selalu mengatakan hal seperti itu?
Lihat wajahmu! Itu jelas marah! Kamu, Camellia … apakah semua wanita memang seperti itu?
Ciel terdiam. Dia merasa bingung. Tidak merasa bersalah, tetapi Elena jelas marah kepadanya. Pada akhirnya, pemuda itu hanya memilih untuk diam saja.
Melepaskan tangan Elena, Ciel menggeleng ringan sebelum berjalan kembali ke kamarnya. Elena mengikutinya dalam diam. Sebelum Ciel naik melangkah kei anak tangga, suara Elena terdengar di telinga.
“Tuan.”
Ciel menoleh sambil bertanya, “Apa?”
“Dibandingkan mereka (Dark Elf di ruang bawah tanah) … apakah saya lebih spesial?”
__ADS_1
Mendengar pertanyaan itu, Ciel memiringkan kepalanya.
“Bukankah salah satu alasan aku menerima mereka juga karena dirimu? Jangan konyol. Sudah larut, segera tidur.”
Setelah mengatakan itu, Ciel segera pergi meninggalkan Elena yang menunduk. Tanpa Ciel sadari, senyum lembut yang langka terlihat di wajah cantik Elena.
...***...
Keesokan harinya.
Dalam gerbong kereta mewah, tampak Ciel yang sedang bersandar dengan ekspresi bosan. Di sampingnya, terlihat Camellia yang terlihat membaca buku dengan ekspresi tenang.
Setelah beberapa saat, kereta itu berhenti di depan sebuah toko besar.tiga lantai. Turun dari kereta, Ciel yang tampak begitu mencolok langsung menjadi pusat perhatian.
Orang-orang tentu saja menyadari Ciel, pemilik wilayah yang mereka tinggali. Hanya saja, mereka tidak menyangka kunjungan pertama kali ke kota ternyata di tempat semacam itu. Sebuah bar sekaligus tempat penjualan budak.
Ciel mengabaikan tatapan heran, takjub, atau penasaran di sekitarnya. Dia malah fokus ke nama toko yang terpampang besar dan jelas.
‘Wild and Happy Life’ … nama toko macam apa ini!
Ciel berseru dalam hati. Sementara itu, Camellia yang berdiri di sampingnya terlihat tenang. Lagipula, dia dulu juga berasal di tempat seperti ini. Bedanya, itu berada di Royal Capital dan terlihat sedikit lebih mewah.
“Ini satu-satunya pedagang budak ‘legal’ di Kota Black Lily, Tuan.”
Apa yang dimaksud budak legal adalah orang-orang yang menjadi budak karena terlilit hutang, melakukan kejahatan, atau tawanan perang dari musuh kekaisaran.
Sedangkan yang dimaksud dengan budak ilegal adalah orang-orang yang diculik atau dipaksa menjadi budak hanya karena kecantikan, ras langka, atau mungkin garis keturunan mereka yang kuat.
Meski ada sebuah hukum, tetap saja masih banyak pemburu dan penjual budak secara ilegal. Karena kekaisaran begitu luas, sulit untuk mengawasi semuanya. Bahkan, terkadang ada sosok bangsawan yang membeli budak ilegal dan mendukung pedagang budak semacam itu.
Masuk ke dalam toko, resepsionis langsung terkejut. Sementara itu, sosok yang terengah-engah, sepertinya turun dari lantai atas langsung menghampiri Ciel dengan senyum hangat yang agak berlebihan.
“Selamat datang di toko kecil kami Tuanku, Pangeran Luciel, penguasa wilayah Southfield ini.”
Mendengar pujian lengkap itu, sudut bibir CIel berkedut. Seluruh wilayah yang dimiliki Ciel yang berpusat di Kota Black Lily dinamakan Southfield. Alasannya sederhana, itu karena wilayahnya adalah perbatasan paling selatan di kekaisaran dan berbatasan langsung dengan laut.
Pertama kali mendengar nama wilayahnya, Ciel juga berpikir kalau leluhurnya yang menamai wilayah itu benar-benar kurang kreatif.
Ciel memandang pria paruh baya yang pendek, bahkan hanya setinggi bahunya. Rambut keriting, kumis tebal, wajah penjilat, dan tubuhnya bulat seperti bola. Menurutnya, orang itu adalah tipikal sosok tamak dalam sebuah novel yang dia baca di kehidupan sebelumnya.
“Kamu?” tanya Ciel dengan nada tak acuh.
“Betapa cerobohnya saya. Perkenalkan, nama saya Norwen. Saya adalah pemilik toko kecil ini, Tuanku. Apakah ada yang bisa saya bantu?”
__ADS_1
“Aku mencari 20 orang budak. Usia harus di bawah 17 tahun. Tidak perlu mengkhawatirkan lelaki atau perempuan. Tidak perlu memperhatikan dari ras mana.”
“B-Begitu banyak?” Norwen tampak takjub.
“Tidak bisa?” Ciel berkata tak acuh.
“Tentu saja bisa, Tuanku. Meski ini toko kecil dibandingkan yang ada di Royal Capital, tempat ini masih menyimpan banyak budak berkualitas. Percayakan saja kepada saya!” Norwen menepuk dadanya dengan ekspresi meyakinkan.
“Baik. Bawa saja aku untuk memilih.”
Norwen langsung memberi hormat dan meminta Ciel serta Camellia mengikutinya. Mereka kemudian turun ke ruang bawah tanah.
Menurut si pedagang bulat itu, lantai pertama adalah bar, lantai kedua adalah ruang menginap, dan lantai ketiga adalah tempat tinggalnya. Untuk perdagangan para budak, mereka ada di ruang bawah tanah.
Benar saja, turun ke bawah tanah, terdapat banyak sel penjara dan terlihat banyak orang. Beberapa wanita yang terlihat cantik atau pria yang tampan terlihat lebih terawat. Sedangkan yang berpenampilan agak buruk, mereka terlihat cukup kurus, kemungkinan mereka adalah budak yang akan digunakan untuk pekerjaan kasar seperti pertambangan.
Melihat Ciel yang mengerutkan alisnya, Norwen segera menjelaskan.
“Jangan salah sangka, Tuanku. Semua pedagang budak memang seperti ini. Meski terlihat kurus, mereka selalu diberi makan setiap hari. Tentu saja dalam jumlah minimum.
Lagipula, kami adalah pedagang, menampung mereka begitu lama juga merugikan kami.”
Ciel mengerti akan hal itu. Harga budak pekerja kasar lebih rendah daripada budak cantik atau tampan yang digunakan untuk keperluan lain. Jika memberi mereka makanan layaknya yang orang normal makan setiap harinya, pedagang akan merugi.
“Aku mengerti.” Ciel mengangguk dengan ekspresi tak acuh.
“Mohon tunggu sebentar, Tuan.”
Norwen membungkuk sopan sebelum pergi untuk membawa para budak yang sesuai dengan kebutuhan Ciel. Selain membawa mereka semua, Norwen juga membawa tumpukan kertas dimana tertulis data mereka secara lengkap.
Menurut perkataan Norwen, ada 42 orang yang memenuhi syarat Ciel. Setiap kali Norwen datang, dia akan membawa 14 orang. Ciel akan melihat data dan menggunakan skill ‘Eye of The Lord’ untuk melihat bakat bawaan mereka.
Tidak terburu-buru, Ciel memilih 5 orang dalam setiap batch. Namun saat batch ketiga datang, mata Ciel langsung menyapu ke arah gadis Dhampir berusia sekitar 12 tahun.
Gadis itu memiliki bakat mencolok yang sangat Ciel butuhkan. Bakat bawaan gadis itu adalah ‘Nimble Fingers’ dan ‘Mana Sensitivity’, benar-benar bakat yang didambakan oleh para Alkemis.
Jari gesit sangat berguna dalam peracikan potion. Sedangkan kepekaan terhadap mana itu sangat berguna dalam berbagai hal. Ciel langsung berdiri dan menghampiri gadis kecil itu.
Sementara itu, gadis yang peka terhadap mana bisa merasakan mana yang sangat besar dan kuat dari Ciel. Tubuhnya langsung gemetar ketakutan.
Dibandingkan orang-orang yang pernah gadis kecil itu temui sebelumnya, sosok yang dengan sombong berkata kalau dirinya kuat dan hebat …
Seperti semut jika dibandingkan sosok pemuda di depannya.
__ADS_1
>> Bersambung.