Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Sudah Cukup Bermain


__ADS_3

“Sombong!”


Salah satu ksatria level 4 meraung marah. Dia langsung menunjuk ke arah Ciel dan memberi perintah.


“Serang dia secara bersamaan! Aku tidak percaya dua tangan bisa menahan puluhan tangan secara bersamaan!”


Melihat banyak orang bergegas ke arahnya, Ciel sedikit membungkuk. Dia menekan kakinya ke tanah dengan kuat. Menggunakan momentum ketika kakinya menghentak, pemuda itu tanpa ragu melesat menuju kerumunan orang.


Daripada gerakan cepat sebelumnya, kali ini Ciel bergerak lebih santai. Dengan sebuah pedang pendek yang dilapisi dengan sihir es, pemuda itu maju dan memulai pembantaian. Seperti serigala yang memasuki kawanan domba.


Pergerakan Ciel tampak sederhana, tetapi anehnya pemuda itu sulit dikenai. Setiap kali musuh menebas, dia menghindar dengan melangkah ke samping atau memiringkan kepalanya. Sebagai tanggapan, Ciel dengan kejam memotong lengan atau bahkan leher orang itu.


Pergerakan yang tidak cepat atau lambat. Tidak menerima serangan, tetapi menumbangkan lawan dalam setiap gerakan. Daripada bertempur dengan ekspresi gila, orang-orang dalam sel penjara merasa kalau sedang melihat Ciel menari.


Pemuda tampan berambur perak yang menari di dalam sangkar putih. Setiap dia bergerak dengan elegan, bunga merah yang terbuat dari darah mekar. Membuat panggungnya menjadi lebih indah sekaligus mengerikan.


Pada akhirnya, banyak orang memutuskan mundur dan menjaga jarak. Membiarkan Ciel berdiri di tengah sangkar dengan banyak mayat di sekitarnya. Melihat ekspresi yang begitu tenang dan napas yang stabil seolah tidak merasa lelah membuat orang-orang itu menjadi semakin tidak nyaman. Mereka tahu kalau Ciel adalah sosok yang sangat sulit dihadapi.


“Menyuruh anak buahmu untuk pergi menguji air? Bukankah itu tidak tahu malu?”


Suara Ciel yang tenang membuat orang-orang tertegun. Mereka langsung mengarahkan pandangan ke empat bawahan Pangeran Fenton yang belum bergerak. Sadar kalau ucapan pemuda tampan itu benar, orang-orang itu menatap bawahan Pangeran Fenton dengan marah.


“Kenapa? Kalian marah? Kalian hanya perampok kecil, bersyukurlah karena Pangeran Fenton masih mau menerima kalian dan tidak dieksekusi di tempat!”


Salah satu ksatria berkata dengan ekspresi dingin, bahkan cukup sombong. Orang-orang itu marah, tetapi tidak berani mengatakan apa-apa. Melihat pemandangan seperti itu, Ciel hanya menggeleng ringan.


“Jadi … bagaimana menurut kalian?” Ciel bertanya dengan ekspresi tak acuh.


“Kamu kuat.” Ksatria itu berkata dengan nada sombong. “Bergabunglah dengan kami. Menjadi pengikut Pangeran Fenton, kamu sama sekali tidak akan menderita! Kamu akan menjadi pengawal Raja Blood Diamond berikutnya.”


Menjadi pengikut Raja di kerajaan kecil? Aku telah menolak berkompetisi untuk gelar Kaisar, tetapi malah menjadi pengikut Raja kecil?

__ADS_1


Jika aku setuju, berarti aku menjadi bodoh setelah bergaul dengan kerbau dan kadal bersayap!


Ciel menghina dalam hati. Tujuan hidupnya adalah menjalani kehidupan dengan santai dan tenang. Tidak terlibat dengan omong kosong yang membingungkan dan membuat sakit kepala. Mengurus ini dan itu, atau pergi untuk mengurus masalah Kekaisaran … dia ingin menghindari hidup yang seperti itu!


“Penawaran yang … ya, agak menarik.” Ciel berkata dengan nada tak acuh.


“Kalau begitu, bergabunglah dengan-”


“Aku menolak.” Ciel langsung memotong ucapan pengikut itu. “Aku menolak untuk mengikuti pangeran konyol semacam itu. Aku yakin dia terlihat bodoh dan tidak pernah bercermin.”


“Beraninya kamu menghujat Pangeran Fenton! Kamu benar-benar tidak memiliki tempat di Kerajaan Blood Diamond!”


“Pfft … aku datang ke tempat ini untuk libur-” Ciel langsung pura-pura batuk. “Maksudku bekerja. Ya, lupakan saja. Lagipula otak kita semua memiliki pemikiran yang berbeda.”


Seolah menyadari sesuatu, ekspresi para ksatria itu berubah menjadi buruk.


“Jadi kamu adalah tentara bayaran yang dikirim oleh Kekaisaran Black Sun.”


Pada saat suara Ciel menggema, semua orang dalam goa merasakan perasaan mencekik yang membuat mereka kesulitan bernapas.


Di depan tatapan horor semua orang, level Ciel terus naik dari level 4 (awal), level 4 (menengah) … dan berhenti di level 5 (awal).


“Bagaimana mungkin! Orang itu memiliki kekuatan setara dengan Duke dan beberapa bawahan langsung Raja!” Salah satu ksatria tampak kaget. “Segera hentikan dia!”


Bersamaan dengan seruan orang itu, keempat orang ksatria itu langsung menghilang dari tempat mereka berdiri. Orang-orang itu langsung menuju ke arah Ciel dan berusaha menundukkan pemuda itu sebelum energi dalam tubuhnya stabil.


Bagi para ksatria, menekan levelnya sendiri bukan perkara mudah, tetapi juga memiliki banyak celah. Menurut informasi yang mereka ketahui, ketika level orang itu dinaikkan kembali ke level aslinya, akan ada momen ketika kekuatan orang itu kurang stabil dan sulit dikendalikan. Sayangnya …


Ciel bukan tipe normal seperti itu!


Salah satu ksatria mengayunkan pedang besar yang diselimuti dengan api merah. Dia langsung berniat menyerang Ciel tanpa pikir panjang.

__ADS_1


Melihat orang itu, Ciel tampak tak acuh dan menahannya dengan mudah dengan satu tangan.


Klang!


Ketika pedang bertabrakan, Ciel tidak goyah dan terlihat begitu tenang. Pemuda itu langsung mengayunkan kakinya. Sebelum sempat merespon, ksatria yang menggunakan pedang besar itu merasa sakit di perutnya dan tubuhnya tiba-tiba terpental mundur dengan kecepatan luar biasa. Menabrak dinding sangkar sebelum jatuh ke bawah.


Ksatria lain melompat tinggi. Menggunakan busur di tangannya, dia langsung menembakkan belasan anak panah dari petir ungu yang di arahkan kepada Ciel. Sebagai tanggapan, pemuda itu memutar pedang di depan tubuhnya. Setiap anak panah petir benar-benar ditangkis dengan mudah.


Ketika anak panah berhenti ditembakkan, Ciel menggunakan energi sihir dalam bilah pedangnnya lalu mengayunkannya dengan santai. Energi pedang berbentuk bulan sabit langsung menuju sang pemanah.


Sang pemanah kaget. Namun ketika dia menginjakkan kaki di tanah. Sebuah bukit batu muncul di depannya. Itu adalah sihir elemen tanah yang digunakan rekannya untuk melindunginya.


Pemanah itu langsung berlari mundur. Ketika energi pedang menabrak bukit kecil, ledakan dahsyat terdengar dan kepulan asap memenuhi ruangan.


Setelah cukup lama, kepulan asap mulai mereda. Pada saat itu juga, semua orang tertegun. Mereka melihat ke arah yang sama.


Mereka menatap sosok pemuda tampan yang menunjuk musuh-musuhnya dengan pedang di tangan kanannya. Namun bukan itu yang menjadi fokus mereka, tetapi apa yang ada di belakang pemuda itu.


Di belakang Ciel, terlihat empat serigala raksasa bertanduk yang seluruh tubuhnya terbentuk dari es. Dengan keberadaan mereka saja, suhu di tempat itu semakin turun. Membuat banyak orang menggigil kedinginan.


Musuh-musuh Ciel menatap ke arah pemuda itu dengan ekspresi putus asa. Mereka ingin menangis dan memohon pengampunan, tetapi tubuh mereka terasa kaku karena dinginnya suhu.


Ciel mengabaikan orang-orang yang menatapanya dengan ekspresi takut dan takjub. Ekspresi tak acuh dan santai masih terukir di wajah tampannya. Beberapa napas kemudian, pemuda tampan itu membuka mulutnya.


“Sudah cukup main-mainnya …”


Tatapan dingin Ciel menyapu musuh-musuhnya.


“MATI.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2