Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Kekejaman Perang


__ADS_3

Lebih dari lima puluh orang tertegun melihat sebuah cekungan raksasa yang tercipta di depan mereka setelah naga petir menghilang. Di tengah-tengah cekungan, hanya tersisa hanya sabuah tombak yang memaku tanah.


Melihat pemandangan itu, Elena tiba-tiba menjadi panik. Dia langsung menaiki Lil-White dan terbang menuju pusat cekungan.


“Tuan! Tuan! Anda di mana, Tuan!”


Melihat Elena yang panik, Theo yang berdiri di dekat Clark dan Asterious menjadi bingung. Menatap ke arah banteng dan buaya bersayap, bocah itu mengerjap.


“Kenapa Nona Elena terlihat begitu panik?”


“...”


Clark dan Asterious saling memandang dengan tatapan ‘mana aku tahu.’ yang membuat anak itu semakin bingung. Seolah kaget karena telat menyadari sesuatu yang penting, kedua orang itu langsung berseru.


“Sial! Jangan-jangan sesuatu yang buruk terjadi kepada Tuan!” seru Asterious dengan ekspresi kaget.


“Seperti yang diharapkan dari Nona Elena. Bahkan dia menyadari sesuatu semacam ini dengan cepat,” tambah Clark dengan ekspresi kagum sekaligus panik.


Melihat kedua senior yang telat berpikir itu, Theo memiringkan kepalanya.


“Bukankah Tuan baik-baik saja? Sebagai bawahan dengan kontrak jiwa … kita bisa merasakan hubungan itu, kan?”


“...”


Asterious dan Clark diam sebentar. Setelah beberapa saat, mereka menyadari kalau Theo benar. Keduanya saling memandang dengan ekspresi heran. Keduanya merasa kalau bocah di depan mereka terlalu pintar untuk dibandingkan anak seusianya. Ya … mereka tidak merasa bodoh, hanya bocah di depan keduanya terlalu pintar.


Deschia yang berputar-putar di langit tiba-tiba terbang menuju arah tertentu. Tidak lama kemudian, Wyvern itu kembali sambil membawa sosok pemuda tampan dengan pakaian atas compang-camping. Namun wajah pemuda itu tampak cerah, sama sekali tidak kelihatan sekarat atau kesakitan.


Ya. Setelah meminum beberapa potion, Ciel merasa lebih baik dan memanggil Deschia.


Pada saat Ciel melihat Elena yang menaiki Lil-White sibuk mencari, dia menggeleng ringan. Pemuda itu merasa sensasi hangat dalam hatinya. Ciel tahu kalau Elena pasti panik dan tidak berpikir untuk melihat ikatan jiwa.


“Aku baik-baik saja, Elena.”


Mendengar suara Ciel, Elena yang sibuk mencari melihat ke arah Deschia. Dia langsung menyuruh Lili-White terbang mendekat. Tanpa ragu, gadis itu melompat ke arah Ciel, membuat pemuda itu kaget ketika menangkapnya.


“Anda bodoh, Tuan. Sembrono … menjengkelkan …” Elena yang duduk di pangkuan Ciel sambil memeluk leher pemuda itu erat terus menggerutu.


“Aku baik-baik saja.” Ciel mengecup pipi wanita itu dengan lembut. “Namun ada yang lebih penting sekarang.”


Dengan arahan Ciel, Deschia terbang menuju ke arah belasan anggota Keluarga Bathory. Mereka tidak bisa melarikan diri karena dikelilingi lebih dari lima puluh ribu pasukan. Belum lagi, setelah melihat kekuatan Ciel, mereka menyerah untuk melawan.


Deschia mendarat di depan seluruh sisa anggota Keluarga Bathory. Ciel turun dari punggung Wyvern itu sambil menggendong Elena seperti seorang putri sebelum menurunkannya. Pemuda itu kemudian menatap para Vampir dan berkata dengan dingin.


“Jangan kira aku memaafkan kalian setelah semua perbuatan kalian.”

__ADS_1


Ucapan Ciel langsung membuat para Vampir yang merasa lega menjadi ketakutan. Mereka merasa kalau sabit dewa kematian telah berada di leher mereka.


“Ada kata-kata terakhir?” tanya Ciel.


“Semua ini salah Marcus! Aku dan keluargaku-”


Salah satu Vampir paruh baya mencoba menyangkal. Namun sebelum perkataannya selesai, Ciel menghilang dari tempatnya dan ‘menebang’ leher orang itu.


“AHHH!!!!”


Jeritan panik terdengar. Beberapa Vampir hendak melawan, tetapi kali ini Marcus berjalan ke arah Ciel.


“Saya memiliki permintaan, Pangeran Luciel.”


“Hou …” Ciel mengalihkan pandangannya kepada Marcus. “Kamu benar-benar berani membuat permintaan di saat seperti ini?”


Marcus tiba-tiba melempar sesuatu ke arah Ciel. Pemuda itu langsung menyipit. Dengan ekspresi tak acuh, dia menangkapa apa yang Marcus lempar kepadanya.


“Itu adalah kunci ruang bawah tanah tempat aku menyimpan sebagian harta. Tentu saja, bukan di Kastil Scarlet Roze. Jika anda mau mendengar permintaanku, aku akan memberitahu lokasinya.”


Ciel memandang Marcus yang terlihat serius, lalu menjawab tak acuh. “Aku akan mendengarkan, tetapi tidak pasti akan mengabulkan permintaanmu.”


“Itu cukup.” Marcus mengangguk.


“Aku akan bicara. Lagipula, tidak ada gunanya untuk melawan. Bukan hanya sia-sia, itu malah menyiksa dan menunda kematian.


Aku akan menyebutkan orang-orang yang bersalah dan terlibat, termasuk wanita yang mengetahuinya. Hanya saja, wanita yang tidak bersalah dan anak-anak yang tidak mengerti. Aku ingin anda mengampuni mereka.


Aku busuk, tetapi aku memperjuangkan Keluarga Bathory. Hanya saja, sebagai orang yang lemah, aku dikalahkan oleh kalian yang lebih kuat. Jadi, aku tidak menyesal melakukan semuanya.


Hanya saja, sebagai kepala Keluarga Bathory … aku tidak ingin keturunan Bathory terhenti di sini karena aku.”


Ciel menatap Marcus yang penuh tekad. Ya, di dunia Ciel sekarang berpijak, tidak ada yang benar atau salah. Apa yang dirinya anggap baik, itu hanya moralitas yang dia bawa dari kehidupan sebelumnya. Yang kuat memakan yang lemah … itu sudah hukum alam.


“Kebanggaan kepala keluarga, kah?” gumam Ciel. “Aku setuju. Asal mereka mau menjadi budak pribadi keluargaku sampai seluruh keturunan mereka kelak, aku tak keberatan. Untuk kebebasan … omong kosong. Aku tidak begitu bodoh untuk melepaskan orang yang memiki dendam terhadap diriku.”


“Itu cukup.” Marcus mengangguk. “Apapun yang kamu lakukan kepada mereka semua, aku tidak peduli. Bahkan jika kamu ingin membuat mereka melayani 7 x 24 … aku tidak peduli asal mereka hidup.”


“Kebanggaan konyol,” ucap Ciel. “Kalau begitu katakan.”


“Kamu pengkhianat, Marcus! Kamu-”


Salah satu Vampir marah. Sekali lagi, Ciel ‘menebang’ lehernya tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Hampir seluruh Vampir mencoba melarikan diri ke segala arah. Tidak seperti Marcus yang sudah paham akan sesuatu, mereka masih memiliki angan-angan untuk selamat karena beruntung atau hal semacamnya. Namun …


“Perintahku … bunuh yang mencoba melarikan diri!” Suara Ciel bergema di padang rumput.

__ADS_1


Mendengar perintah tuan mereka, lebih dari lima puluh ribu prajurit maju. Dikepung oleh banyaknya prajurit, para Vampir yang tidak terlalu kuat sekaligus kelelahan langsung ditumbangkan. Dengan kata lain … pembantaian satu pihak.


Setelah pembantaian itu, semua sisa Vampir dikelompokkan menjadi dua. Bagian orang-orang yang bersalah, dan bagian yang tidak bersalah. Hanya saja, di bagian tidak bersalah, hanya ada belasan wanita dan lebih dari dua puluh anak.


Tidak ingin membuat prajuritnya terkena tekanan mental, Ciel memenggal satu per satu Vampir yang bersalah baik itu pria atau wanita. Pada akhirnya … sudah sampai dua giliran terakhir.


“Meski saya salah, saya dipaksa oleh Marcus, Tuanku. Sebagai istri, saya-”


Ciel langsung memenggal kepala istri Marcus di depan mata orang itu sendiri.


“Bagaimana perasaanmu melihat istri yang menyalahkanmu atas segalanya?” tanya Ciel.


“Itu hanya pernikahan terencana. Aku tidak terlalu peduli.”


“Ada kata-kata terakhir?” tanya Ciel dingin.


“Lokasinya ada di XX … jaga janjimu, Pangeran Luciel.”


Selesai kalimat itu diucapkan, kepala Marcus langsung terpisah dari tubuhnya.


Ciel kemudian melihat rombongan yang tersisa. Mereka melihat Ciel penuh kebencian dan kemarahan, tetapi juga merasa tidak berdaya dan ketakutan.


“Ada yang menolak menjadi budak di bawahku?” Ciel berkata singkat.


Sosok wanita maju, seorang gadis berusia kurang dari sepuluh tahun mengikuti di belakangnya. Terus memegang rok wanita itu dan tidak ingin melepaskannya.


“Saya tidak bisa melupakan suami dan mungkin akan selalu membenci anda. Jadi silahkan hukum saya juga.”


“Mama! Mama!” Gadis kecil itu terus memandang Ciel dengan ekspresi penuh kebencian. Wajahnya penuh dengan air mata, membuat banyak orang merasa tidak tega.


“Aku akan terus mengikuti Mama! Kamu membunuh Papa! Kamu jahat! Aku membencimu! Huaaa!!!” Gadis kecil itu menangis. Tangisannya membuat banyak hati teriris.


Keparat … ini kenapa aku membenci perang! Aku membenci dunia ini! Aku memilih mengurung diri karena tidak ingin ikut campur dengan semua omong kosong ini!


Tapi … Sial! Dunia Keparat! Kamu benar-benar memaksaku!


Ciel meraung dalam hati, tetapi wajahnya terlihat tetap tenang. Mengeraskan hatinya sambil mencengkeram erat katana, tanpa mengedipkan mata … dia menebas secepat kilat.


Dua kepala menggelinding di tanah yang basah.


Melihat Ciel yang membunuh ibu dan anak kecil tanpa mengedipkan mata, semua orang terdiam. Mereka benar-benar tidak bisa berkata-kata.


Ya ... mereka akhirnya merasakan kekejaman perang yang sebenarnya.


>> Bersambung

__ADS_1


__ADS_2