
Satu minggu setelahnya..
Duduk di atas Deschia dengan ekspresi bosan, Ciel menatap seluruh barisan yang terdiri dari tiga divisi utama dan dalam divisi bayangan.
Agar tidak mencurigakan bagi Viscount atau bangsawan lain, Ciel mencampur antara pasukan divisi biasa dan divisi bayangan. Selain itu, Ciel juga menyuruh kelima Viscount di bawahnya mengerahkan pasukan mereka.
Sekarang Ciel dan seluruh pasukannya berada di padang rumput yang tidak jauh dari Kota Black Lily. Sementara para prajurit veteran memiliki misi untuk menjaga kota dan perbatasan, dia memiliki misi pertama untuk para rekrutan baru ini.
Setelah dilatih dua bulan lebih, mereka sudah siap untuk terjun ke medan pertempuran. Tentu saja, Ciel tidak dengan bodoh langsung memulai perang dengan wilayah tetangga.
Apa yang akan Ciel lakukan adalah ‘pembersihan total’. Ya, daripada pembersihan total. Ciel menginginkan pembantaian.
Setiap pasukan dari divisi normal dan bayangan dicampur menjadi satu. Ciel kemudian membagi orang menjadi tiga Brigade. Untuk itu, dia telah menyuruh Asterious dan Jean kembali.
Asterious dan Kun sebagai wakilnya memimpin sebuah brigade yang terdiri dari 4000 orang. Jumlah itu kemudian dibagi menjadi 4 batalyon dengan kolonel yang Ciel pilih berdasarkan bakat. Dalam setiap batalyon yang terdiri dari 1000 orang dibagi lagi menjadi 10 kompi berisi 100 orang. Dalam setiap kompi, ada kapten yang memimpin.
Sedangkan Jean dan Elena, mereka akan memimpin masing-masing 3000 pasukan. Cara pembagiannya pun sama. Tentu saja, ini baru latihan, belum pembagian pasukan secara final.
Alasan kenapa Ciel perlu melakukan ini karena dirinya ingin para ksatria di bawahnya terbiasa dengan bau darah dan bahkan melihat pembunuhan.
Sedangkan untuk apa yang akan dilakukan, Ciel menyuruh ketiga bawahannya yang setia untuk melakukan pembersihan. Dia menyuruh Elena membersihkan daerah Black Lily, Jean daerah Greenscale, dan Asterious daerah Black Orchid.
“Bagaimana misi ini akan dilakukan, Tuanku?” tanya Jean dengan sopan.
“Bukankah aku sudah bilang. Ini misi bersih-bersih lingkungan di sekitar daerah.” Ciel menopang dagu dengan ekspresi bosan.
“Maksud anda???” Jean menatap Ciel dengan ekspresi bingung.
Seluruh ksatria yang berpakaian lengkap juga menatap Ciel karena tidak mengerti maksudnya.
“Dalam satu bulan. Aku ingin setiap daerah, dari 3 daerah yang aku kelola sendiri atau 5 daerah yang dikelola Viscount bersih.
Baik itu kelompok bandit kecil, sedang atau besar … aku ingin mereka dihapus.
Jika ada gerombolan binatang buas yang ingin menyerang kota atau desa … hapus mereka.
Jika ada yang mencoba macam-macam atau mencurigakan … hapus juga.
Ah! Apapun yang mencoba keluar atau masuk wilayah ini. Baik itu iblis, Demonic Beast, atau burung kecil … hapus saja!”
Mendengar ucapan Ciel, semua orang menjadi pucat. Mereka saling memandang untuk memastikan kalau semua orang mendengar kalimat yang sama.
__ADS_1
“Dihapus? Maksud anda seperti apa, Tuan???” Asterious memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung.
“Bunuh mereka semua.” Ciel berkata dengan nada tak acuh.
“...”
Semua orang bingung harus berkata apa. Mereka berpikir Ciel telah kehilangan kewarasannya. Jika dilakukan penghapusan besar-besaran seperti itu, memang memiliki dampak positif untuk masa depan. Namun, itu juga akan menebar teror yang akan membekas di hati para rakyat wilayahnya.
“Asterious, Jean, dan Elena … ikuti aku.”
Setelah menjauh dari sepuluh ribu ksatria yang berbaris, Ciel akhirnya turun dari Deschia dan mendekati ketiga bawahannya yang paling setia.
“Apakah kalian bersedia menerima misi ini?” tanya Ciel.
“Kami bersedia!” jawab mereka serempak.
“Jangan buru-buru menjawab. Karena … aku ingin misi ini dilakukan tanpa seorang korban pun dari pasukan kita.”
“Tanpa seorang korban … bukankah hal seperti itu mustahil, Tuanku?” tanya Elena bingung.
“Tidak. Apa yang mereka lawan setara atau malah lebih lemah dari mereka. Jadi, aku ingin kalian membiarkan mereka melakukannya sendiri.”
“Kami tidak membantu?” tanya Asterious bingung.
Aku ingin mereka mengalami perang pertama mereka. Aku ingin mereka mengalami perasaan di tepi hidup dan mati. Aku ingin mereka melakukan pembunuhan untuk pertama kali.
Untuk itu … aku menyerahkan mereka kepada kalian. Apakah kalian bersedia melakukannya?” tanya Ciel.
“Kami bersedia, Tuanku.” Ketiganya menjawab bersamaan.
“Bagus!” Ciel mengangguk. “Mari kembali.”
Keempat orang itu ditambah dengan seekor Wyvern hitam kembali ke depan barisan prajurit. Semua orang memandang Ciel dengan gugup, berharap kalau ide gila itu hanyalah sebuah candaan.
“Kalian pasti sudah melihat kalau kalian semua telah dibagi menjadi tiga kelompok besar. Yang paling kiri, 4000 orang … ikuti Asterious. Yang paling kanan, 3000 orang … ikuti Jean. Dan yang tengah, 3000 orang … ikuti Elena.
Untuk yang mengikuti Asterious dan Jean, kalian semua akan mengikuti pemimpin kalian untuk pergi ke dua daerah lain. Berbaris! Semua kereta dengan bahan makanan yang digunakan selama perjalanan menuju dua daerah lain telah disiapkan.
Tanpa menunggu lama, kalian bisa berangkat mengikuti pemimpin kalian!”
Semua prajurit langsung menjadi lebih pucat. Mereka merasa tuan wilayah, Ciel, benar-benar menjadi semakin gila. Pemuda itu langsung menyuruh mereka berangkat tanpa persiapan mental. Selain itu, ini musim dingin! Melakukan penyerangan pada waktu seperti ini benar-benar gila.
__ADS_1
Akan tetapi, semua orang telah membuat perjanjian dan bekerja untuk Ciel. Sama sekali tidak ada kesempatan untuk membantah. Apa yang bisa mereka lakukan adalah menggertakkan gigi dan melakukan yang diperintahkan iblis kejam itu.
Melihat ekspresi pahit orang-orang ketika bubar mengikuti Jean dan Asterious, Ciel mengangkat sudut mulutnya penuh kepuasan. Dia kemudian melihat sisa 3000 orang yang ada di depannya.
“Kalian yang tersisa, tugas kalian dimulai tiga hari lagi. Untuk itu, berbaris kembali menuju Kota Black Lily!” ucap Ciel dengan dingin.
“Sesuai perintah anda, Tuanku!” seru 3000 orang serempak.
Suara mereka yang bersemangat menggema sampai kejauhan, membuat orang-orang yang mengikuti Jean dan Asterious menjadi marah dan ingin melawan rekan-rekan mereka yang tinggal.
Sementara 3000 bisa merasakan kehangatan dan bersantai selama 3 hari, 7000 orang lainnya harus menempuh perjalanan seminggu penuh. Belum lagi, itu di musim dingin, penindasan ini cukup tidak tertahankan. Mereka ingin menangis, tetapi tidak bisa melakukannya.
“Elena, kamu tunggu di sini.”
Ketika hendak pergi dengan Lil-White, Elena dihentikan oleh Ciel.
“Ada apa, Tuanku?” tanya Elena dengan ekspresi bingung.
Ciel hanya menghampirinya dan langsung memeluk tubuh wanita itu. Kejadian tiba-tiba membuat tubuh Elena kaku. Dia menatap Ciel dengan ekspresi yang kaget. Bingung harus mengatakan apa.
“Maaf.” Ciel berkata singkat.
“Maaf?” Elena agak bingung.
“Aku terlalu sibuk dan terkesan kurang memerhatikan kamu. Akan tetapi kamu bisa tenang, aku tidak melupakan janji yang telah kita buat.”
Mendengar Ciel membahas janji untuk balas dendam, ekspresi dingin Elena melunak. Entah kenapa, dirinya merasa agak senang. Wanita itu sempat berpikir Ciel sudah melupakan janjinya, bahkan menganggap dirinya tidak penting lagi.
Belum lagi mendengar berita pertunangan Ciel dengan Ariana dan berita Ciel menerima Camellia sebagai selir, dirinya merasa sudah tidak lagi dibutuhkan. Hanya seperti mainan yang telah tidak dibutuhkan.
“Aku tidak tahu, kamu benar-benar terlihat cantik ketika tersenyum.”
Ucapan Ciel membuat Elena tersadar dari lamunannya. Bukannya melepaskan pelukan Ciel atau menatapnya dengan dingin. Sekarang, wanita itu bahkan balas memeluknya.
Terkadang, bersikap dingin juga bisa melunakkan hati wanita seperti Elena.
Hmmm … kelihatannya ini perlu dicatat.
Selagi melihat Elena yang sedang memejamkan mata dengan ekspresi nyaman, Ciel benar-benar membuka wawasan baru dalam kehidupan cinta. Dia merasa kalau wanita memang agak aneh. Bersikap dingin, padahal ingin perhatian. Berkata ingin pasangan yang memperlakukan lembut, tetapi aslinya menyukai sikap kasar.
Ya … tidak benar atau salah. Hanya saja … itu benar-benar unik.
__ADS_1
>> Bersambung.