
Ciel dan Ryo kemudian masuk ke dalam bangunan. Daripada disebut sebagai bar atau rumah bordil, setelah masuk, Ciel sadar kalau tempat itu lebih pantas disebut klub malam.
Meski tidak ada musik DJ atau lampu disko, sebagai gantinya ada pencahayaan redup dari lampu sihir berwarna ungu muda dan iringan musik tradisional khas medieval. Aroma alkohol, parfum, dan banyak hal tercampur menjadi satu. Membuat hidung Ciel merasa agak gatal dan kurang nyaman.
Klub malam Pink Rabbit terletak di distrik perdagangan, yang berarti banyak orang bercampur di sini.
Melihat orang-orang yang makan dan mabuk, Ciel menggeleng ringan. Dia kemudian ke arah lain di tempat yang lebih redup di mana ada beberapa laki-laki dan perempuan berkumpul. Kelihatannya mereka sedang bernegosiasi tentang harga sebelum naik ke lantai atas untuk memesan kamar.
Ciel dan Ryo yang baru masuk ke dalam membuat banyak orang menoleh ke arah mereka. Banyak yang mengamati sebelum berbalik untuk mengurus urusan mereka masing-masing. Namun banyak wanita yang tertarik terhadap Ciel dan Ryo karena mereka mungkin adalah pelanggan potensial.
“Pertama kali datang ke tempat ini, Tampan? Bagaimana kalau kakak mengantarmu berkeliling?”
“...”
Melihat wanita berpakaian minim di depannya, Ryo hanya diam. Dia melirik ke arah Ciel. Di sebelahnya tampak seorang wanita dewasa cantik berambut pirang yang sedang menggoda. Dia agak terkejut melihat ekspresi Ciel yang berbeda dari biasanya.
‘Aku adalah ksatria yang tak tergoyahkan.’
Mungkin itu kalimat yang tergambar di wajahnya. Ciel benar-benar mengingat bagaimana Aragil bertindak. Sedikit barbar tetapi tegas, agak gila ketika bertarung, tetapi masih memiliki aura ksatria.
Apakah orang ini makan obat yang salah?
Ryo tercengang. Tidak yakin bagaimana tempramen Ciel yang biasanya malas dan tampak bosan langsung berubah ketika memasuki klub malam.
“Apakah anda butuh bantuan, Tuanku?” Wanita pirang cantik di sebelah Ciel bertanya dengan lirih.
“Apakah di sini ada kamar khusus untuk minum anggur sambil menikmati musik pribadi?” tanya Ciel.
“Tentu saja. Sebagai klub malam terbesar di Kota Redstone, kami memilikinya. Apakah anda ingin memesan? Jika iya, harga harus dibayar di awal untuk menghindari penipuan.” Wanita pirang itu berkata dengan penuh makna.
“Tentu saja harga bukan masalah.”
“Kalau begitu saya dengan senang hati membawa anda dan teman anda ke sana.”
“Baik.”
Wanita di sebelah Ryo cemberut sementara si pirang bahagia. Ditatap dengan ekspresi cemburu oleh rekan-rekan kerjanya, si pirang membawa Ciel dan Ryo menuju ruangan khusus.
Di dalam ruangan, terlihat meja pendek yang lebar dengan beberapa bantal duduk di sekelilingnya. Selain itu, ada juga panggung mini di mana ada nanti akan ada orang yang akan memainkan musik di sana.
__ADS_1
Ciel memilih pesanan berupa empat botol anggur terbaik, berbagai macam makanan, dan buah. Untuk musik sendiri memiliki berbagai macam. Namun yang terbaik adalah permainan harpa wanita tercantik dalam klub malam itu. Jadi Ciel juga memesannya.
Setelah membayar, pelayanan terbaik pun diterima.
Dua wanita yang menemui Ciel dan Ryo sebelumnya juga memasuki ruangan. Si pirang akan menuangkan anggur untuk Ciel, sedangkan wanita berambut hitam menuangkan anggur untuk Ryo.
Setelah banyak hidangan dan anggur disiapkan, seorang wanita muda yang tampak cantik memasuki ruangan. Rambut berwarna pink dan iris mata berwarna biru seperti lautan. Ditambah kulit putih lembut yang cukup banyak terekspos, benar-benar menambah kecantikannya.
Memegang harpa di tangannya, wanita itu naik ke panggung kecil dan duduk di bantal duduk.
“Selamat malam, Tuan-tuan. Perkenalkan, nama saya Cherry. Saya yang akan memainkan musik untuk menemani malam anda. Untuk layanan lebih … anda bisa mencari rekan-rekan saya yang lain karena saya tidak menerima pesanan seperti itu.
Terima kasih.”
Setelah perkenalan singkat, Cherry mulai memetik harpa. Alunan suara musik yang indah mulai memanjakan telinga. Kedua wanita lain menunggu dengan sopan di samping sambil melihat Ciel dan Ryo makan.
Setelah makanan utaman disantap dan tersisa snack serta buah, kedua wanita mulai menawarkan untuk menuang anggur. Ciel dengan santai menyetujui mereka. Dia memberi isyarat kepada Ryo untuk minum anggur setelahnya. Alasannya sederhana, mencoba memeriksa apakah ada racun atau tidak.
Ciel melihat warna, mengendus aroma, baru sedikit mencicipi anggur. Meski tahu kalau tempat itu sudah terkenal karena bisa dipercaya, pemuda itu masih berhati-hati. Setelah sadar kalau tidak ada masalah, dia mengangguk ke arah Ryo.
Menikmati musik sambil minum anggur dan makan beberapa camilan, tidak ada suara lain dalam ruangan.
“Aku dengar tempat ini menjual informasi. Apakah itu benar?”
Dari ekspresi malu-malu, wanita berambut pirang itu melirik Ciel dengan tatapan kaget. Ekspresinya langsung berubah serius.
“Dari mana anda mengetahuinya, Tuan?”
“Dari kenalan …”
Ciel berkata santai. Namun hatinya juga cukup terkejut. Dia hanya mencoba dengan asal, tidak menyangka kalau tempat ini benar-benar menjual informasi. Bahkan banyak tentara bayaran veteran yang tidak mengetahui hal itu.
“Bisakah saya mengetahui siapa itu, Tuan?”
“Sebaiknya kamu tidak mengetahuinya,” ucap Ciel dengan nada misterius. Penuh dengan omong kosong.
“Kalau begitu … bolehkah saya mengetahui nama anda, Tuan?”
“Namaku Gin, dan rekanku Xan.” Ciel berbohong tanpa mengedipkan mata. Berbicara lurus seolah-olah itu benar.
__ADS_1
“Tuan Gin.” Si pirang mengangguk. “Jika anda menginginkan informasi, ada harga yang perlu dibayar.”
“Itu jelas. Harga juga tergantung tingkat pentingnya informasi.” Ciel berkata tak acuh.
Sadar kalau pemuda tampan berambut perak adalah pelanggan besar, si pirang menjadi lebih bersemangat. Napasnya mulai tak menentu, sesekali mengedipkan mata ke arah Ciel untuk membuat kode. Tentu saja … pada akhirnya diabaikan oleh Ciel.
“Cherry! Di mana kamu, Cherry! Kali ini aku datang untuk mendengarmu bernyanyi!”
Teriakan keras dan suara kasar terdengar dari luar. Suara langkah kaki juga terdengar semakin keras, jelas mendekat ke ruangan Ciel dan Ryo berada. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, pintu tiba-tiba dibuka secara paksa.
Seorang lelaki berbadan besar layaknya seekor beruang masuk ke dalam ruangan. Pria itu hanya memakai celana panjang dan sepatu tanpa atasan. Otot kekar berserta banyak bekas luka membuatnya tampak lebih ganas. Ditambah janggut tebal dan tatapan sengit, orang itu tampak sangar.
Orang itu menatap Cherry yang sedang bermain harpa lalu ke arah Ciel dan Ryo. Melihat dua pemuda tampan ditemani tiga wanita terbaik di klub malam, dia mendengus dingin. Benar-benar marah dan tidak puas.
“Pergi dari sini dan Crimson Bear yang perkasa ini akan mengampunimu, Nak!”
“Iya?” Ciel memiringkan kepalanya. Melihat orang konyol yang membuka pintu tanpa sopan santun.
“Aku bilang-”
Lelaki besar yang menyebut dirinya sebagai Crimson Bear menatap Ciel dengan ekspresi ketakutan. Niat membunuh yang terpupuk oleh mayat tak terhitung jumlahnya terpancar dari sosok Ciel yang memandangnya dengan ekspresi tak acuh. Suhu ruangan menjadi lebih dingin, tanpa sadar membuat orang merinding.
“M-Maksud saya … saya salah masuk ruangan. Kakak ini seharusnya tidak keberatan, kan?”
“Pergi.”
Ciel berkata dingin. Tidak ingin membuang waktu untuk hal tidak penting seperti berurusan dengan si Crimson Bear. Dia ingin menikmati anggur dan mengurus informasi. Orang itu benar-benar membuat matanya gatal.
Setelah berlutut memberi hormat tiga kali, Crimson Bear mundur lalu menutup pintu perlahan. Setelah itu, orang itu berlari menjauh secepat-cepatnya.
Suasana dalam ruangan tiba-tiba senyap. Hanya suara Ciel yang pura-pura batuk terdengar.
“Uhuk! Uhuk! Bisa kita lanjutkan?”
Melihat Ciel yang kembali normal seperti awalnya, si pirang tercengang. Sementara itu, Cherry yang berhenti memainkan harpa menatap Ciel dengan tatapan misterius.
Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan gadis itu.
>> Bersambung.
__ADS_1