
Tanpa terasa, waktu berlalu begitu saja.
Ciel telah berpisah dengan Ferel dan Savian di perbatasan. Mereka memilih untuk mengikuti Caravan Golden Dusk daripada harus kembali menuju ke Wilayah Blackfield lalu kembali lagi.
Setelah melanjutkan perjalanan panjang, mereka pun akhirnya sampai di Kota Black Lily.
Melihat kastil yang tampak begitu akrab, Ciel menghela napas panjang. Deschia akhirnya mendarat diikuti dengan Pelican Raksasa. Dari keenam orang yang turun, mereka semua memiliki ekspresi yang berbeda-beda.
Keempat budak baru Ciel tampak cukup kagum dan penasaran. Sementara itu, Clark tampak suram karena tidak singgah ke suku Centaur ketika mereka dalam perjalanan kembali.
Sedangkan Ciel, pemuda itu tersenyum lembut ketika melihat kekasih dan juga para bawahan yang menyambutnya. Tidak seperti ketika berada di luar, keempat budak baru Ciel terkejut melihat senyum tulus di wajah tuannya.
Berjalan tanpa terburu-buru, Ciel membuka kedua tangannya lebar ketika melihat kecil berlari ke arahnya. Dia menangkap gadis kecil yang melompat ke arahnya. Menggendong Eve dalam pelukannya, dia mengalihkan pandangannya ke arah orang-orangnya sembari berkata,
“Aku pulang.”
...***...
Malam harinya.
Berada di taman belakang Kastil Black Lily, terlihat sosok gadis kecil yang bermain kejar-kejaran dengan beberapa makhluk mengerikan. Makhluk itu memiliki subuh seperti kadal tetapi memiliki enam kaki tebal. Sisiknya yang hitam tampak cukup mengancam. Ukurannya sebesar serigala dewasa, tetapi jelas, dari bentuk kepala mereka … makhluk-makhluk itu masih muda.
Ya … makhluk itu adalah bayi-bayi Abyssal Basilisk.
Sementara gadis kecil lainnya bermain dengan husky, malamute, kucing persia, dan sebagainya … Eve kecil benar-benar bermain dengan makhluk yang dianggap sangat berbahaya.
“Black-one, Black-two, Black-three … kejar aku.”
Melihat bagaimana Eve kecil tertawa ria sambil dikejar tiga bayi Abyssal Basilisk yang tampak bodoh membuat Ciel terdiam. Melihat putrinya yang imut, dia merasa agak tertekan.
“Selera penamaan seperti ini …” gumam Ciel.
“Saya rasa itu sangat cocok dengan sifat polosnya, Sayang.”
Malam ini, Ciel ditemani oleh Ariana. Awalnya dia ingin menghabiskan waktu dengan keempat perempuan lainnya, tetapi Eve cemberut. Gadis kecil itu ingin menghabiskan waktu dengan kedua orang tuanya saja.
Eve kemudian berlari ke arah gazebo di mana Ciel dan Ariana duduk mengawasi dirinya. Gadis itu tersenyum sambil berkata,
__ADS_1
“Papa! Papa! Lihatlah mereka … bukankah mereka imut?”
“...”
Melihat tiga bayi Abyssal Basilisk yang tampak konyol, Ciel merasa mereka tidak terlihat seburuk itu. Biasanya, ketika bayi, bayi makhluk apa aja akan terlihat imut. Namun Ciel juga tahu, tiga makhluk konyol itu akan tumbuh besar dan tampak ganas, seperti tank hidup.
“Iya, mereka imut.”
“Kalau begitu, bolehkah Eve meminta mereka, Papa?! Eve janji akan merawat mereka.”
Membayangkan bagaimana gadis kecil yang membawa tiga tank hidup untuk menghancurkan banyak hal, bibir Ciel berkedut. Dia kemudian membujuk gadis kecil itu.
“Kamu benar-benar tidak ingin menggantinya dengan yang lain, Eve?”
Gadis kecil itu memiringkan kepalanya, menatap ke arah Ciel dengan mata bulanya. Tampak agak bingung. Setelah beberapa saat, Eve kecil menjawab.
“Tidak. Eve mau memelihara Trio-Black.”
“Baiklah kalau begitu.” Ciel mengangguk ringan.
Sadar kalau dirinya telah disetujui, Eve langsung berlari ke arah Ciel dengan kaki kecilnya. Memeluk ayahnya itu dengan senyum di wajahnya. Tidak sama seperti gadis kecil yang tidak tahu apa-apa sebelumnya, sekarang Eve menjadi lebih lincah dan cukup cerdas.
Ketiganya kemudian menghabiskan waktu bersama. Sekitar pukul setengah sembilan malam, Ciel kemudian menyuruh Eve untuk tidur setelah mencuci tangan, kaki, dan wajahnya. Meski gadis itu sangat kuat dan mungkin tidak memerlukan banyak tidur, dia mencoba untuk menanamkan kebiasaan baik kepada putrinya. Benar-benar mencoba membesarkannya seperti gadis normal seperti umumnya.
Orang-orang dalam Kastil Black Lily sangat terkejut dengan sikap Eve. Gadis kecil itu biasanya terkenal pendiam dan tidak suka berinteraksi dengan banyak orang. Hanya saja, di depan Ariana dia masih aktif. Mereka tidak menyangka bahwa putri kecil itu benar-benar lincah di depan Luciel.
“Eve kelihatan bahagia.”
Melihat Eve tidur pulas di kamarnya, Ariana berkata dengan ekspresi lembut. Ciel menoleh, melihat sosok tunangannya itu, dia tiba-tiba berkata,
“Kamu berubah, Ariana. Kamu lebih sering tersenyum tulus sekarang.”
“Eh?” Ekspresi Ariana kembali seperti biasa. Menoleh ke arah Ciel, dia memiringkan kepalanya. “Maaf jika anda tidak menyukainya, Sayang. Saya akan-”
Ciel menepuk kepala tunangannya itu lalu mengelus rambutnya.
“Aku menyukainya. Aku merasa senang dan bahagia.”
__ADS_1
“...”
Melihat Ariana yang hanya diam saja, Ciel menggandeng tangan gadis itu lalu pergi dari kamar Eve kecil.
...***...
Keesokan harinya, ruang kerja Ciel.
Ya. Setelah mendinginkan pikiran dalam perjalanan pulang, Ciel yang awalnya berniat untuk segera merasakan malam pertama dengan tunangan dan selirnya akhirnya memutuskan untuk menundanya.
Tidak apa-apa … tidak apa-apa … sudah hampir musim gugur. Setengah tahun, paling lama setengah tahun.
Ciel meyakinkan diri sendiri. Setelah memikirkannya baik-baik, dia akhirnya memutuskan untuk menunda. Dalam waktu ini, dia juga menyadari sesuatu. Kekuatannya sudah mencapai batas atas level 6. Benar-benar sama sekali tidak bisa naik.
Apakah ini apa yang disebut dengan pembatas?
Baru kali ini Ciel menghadapi tembok penghalang. Menurut apa yang dia alami sebelumnya, asalkan makan bahan-bahan berupa daging atau herbal tingkat tinggi, skill Devour akan mencerna energi itu dan menggunakannya untuk meningkatkan fisik dan juga ditimbun untuk menaikkan level.
Kelihatannya kali ini aku tidak bisa mengandalkan skill Devour …
Menurut apa yang gurunya katakan, dia harus menemui kakek atau ayahnya. Namun Ciel enggan. Jika kedua orang itu mengetahui dirinya sudah bersiap untuk mencoba menembus level 7, dia pasti akan diseret dengan paksa untuk duduk di kursi Putra Mahkota.
Memikirkan dokumen dua wilayah yang harus dia urus saja membuat Ciel merasa kelelahan secara mental. Padahal, urusan yang tidak terlalu penting telah diurus oleh Verrona, Jenny, dan budak-budak yang dilatih oleh Julia. Sedangkan yang agak penting tetapi masih bisa diatasi, Ariana sudah mengurusnya.
Tetap saja, apa yang harus Ciel kerjakan masih menumpuk seperti bukit kecil. Membayangkan apa yang harus dikerjakan jika dirinya menjadi Kaisar, pemuda itu merasa perutnya agak mual. Dia bahkan kehilangan selera makannya. Keripik buah yang nikmat bahkan terasa hambar.
Tidak adakah cara lain? Guru seharusnya tahu, kan? Dia telah menembus level 7!
Memikirkan bagaimana gurunya yang sekarang agak ‘pelit’, Ciel menggertakkan gigi. Bukan pelit secara ekonomi, tetapi pelit perihal informasi. Kemungkinan besar, untuk naik ke level 7 memerlukan cara tertentu. Selain itu, Maria juga tidak bisa melakukannya tanpa bantuan Kakek Ciel atau Kaisar Julius.
Di Kekaisaran Black Sun yang terkenal kuat saja, Ciel hanya tahu tiga orang yang ada di level 7 ke atas. Mereka adalah Maria, Ayahnya, dan Kakeknya. Menurut rumor, neneknya juga berada di level 7 atau bahkan lebih.
Hanya saja, sang nenek telah meninggal. Ya … setidaknya begitulah berita yang telah menyebar sejak lama. Namun Ciel akhirnya mengetahui rahasia yang cukup besar. Neneknya sama sekali tidak meninggal, lebih tepatnya … belum pasti meninggal. Wanita itu menghilang begitu saja seolah tidak pernah ada.
Bahkan setelah kakeknya dengan gila mengerahkan pasukan untuk mengaduk langit dan bumi di seluruh bagian selatan benua. Namun akhirnya mengecewakan. Sama sekali tidak ada petunjuk tentang menghilangnya sang nenek.
Menggeleng ringan, pemuda itu menghela napas panjang. Melihat pekerjaan yang menumpuk di atas meja, Ciel tersenyum pahit.
__ADS_1
“Lupakan. Aku akan memikirkannya setelah mengurus semua ini.”
>> Bersambung.