Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Jangan Libatkan Aku!


__ADS_3

Keesokan harinya.


Mengelilingi sebuah meja makan, sosok Savian dan Ferel menatap Ciel.


“Saya tidak melihat anda sejak kemarin, Pangeran Luciel? Ada pergi ke mana?”


Mendengar pertanyaan Ferel yang lebih ke arah penasaran daripada mencari informasi, Ciel yang tampak malas menelan makanan di mulutnya lalu menjelaskan.


“Aku langsung kembali ke kamar. Terlalu membosankan, rasanya aku ingin tidur saja.”


Mendengar ucapan Ciel, tentu Ferel dan Savian tidak akan percaya. Mungkin orang lain tidak akan memperhatikannya. Namun bagi orang-orang yang mengenal Ciel, pemuda itu pasti memiliki alasan tertentu ketika menghilang begitu saja.


Meski tidak memperhatikan, pasti ada tamu atau pelayan yang melihat Ciel kembali. Namun kedua orang yang datang bersama Ciel itu merasa si pangeran malas menghilang begitu saja dan baru muncul di pagi hari.


Karena Ciel tidak ingin membicarakannya, mereka tentu tidak akan bertanya atau memaksanya untuk berbicara.


Sedangkan Clark, orang itu memandang kedua bangsawan di depannya dengan aneh. Baginya, sifat Ciel memang seperti itu. Terkadang malas untuk bergerak dari tempat duduknya, terkadang menghilang begitu saja. Terkadang baik kepadanya, tetapi kadang tiba-tiba mengikatnya dan melemparkan dirinya dari atas Kastil Black Lily.


Ya … mungkin aku yang paling mengenal sifat Tuan di antara bawahan atau bahkan rekannya.


Jika Ciel tahu apa yang dipikirkan oleh Clark, dia pasti akan sangat marah. Mengikat si kadal lalu menenggelamkannya di sungai di luar Kota Black Lily.


Jangan sok mengenalku! Aku melakukan itu karena kamu mempengaruhi para ksatria dengan efek negatif!


Siapa yang mau pasukan yang dilatih secara khusus menjadi pecinta kuda seperti dirimu!


Setelah sarapan, tiga orang lainnya pergi untuk berjalan-jalan di lantai pertama istana. Bahkan Clark juga melakukannya.


Meski tidak menyukai gadis dari ras selain Centaur, Clark masih suka menjadi sorotan dan dipuji. Di lantai pertama, ada ruang latihan luas yang digunakan secara umum. Melihat Clark latihan di sana dan berusaha sombong, Ciel sama sekali tidak melarangnya.


Meski hanya berniat untuk pamer, tidak apa-apa selama latihan itu juga meningkatkan kemampuannya.


Ciel sendiri malah bermalas-malasan. Ini adalah hari ke-3 dia berada di Istana Tamu, pemuda itu belum mengenal lingkungan sekitar dengan baik. Jadi dia berencana jalan-jalan di area sekitar istana ditemani dengan tiga budak barunya.


Setelah berganti pakaian yang sedikit lebih santai di kamarnya, Ciel hendak pergi. Namun ketika membuka pintu, selain tiga pelayan yang telah menunggunya, ada dua sosok lain.


Ciel tidak terlalu akrab, tetapi masih mengenalnya. Mereka adalah Pangeran Silevran dan Pangeran Elyas.


“Ada yang bisa saya bantu, Pangeran Silevran? Pangeran Elyas?”

__ADS_1


Keduanya membungkuk ringan lalu berkata bersamaan dengan nada tulus.


“Terima kasih atas bantuan anda kemarin, Pangeran Luciel.”


Melihat bagaimana rasa superior tidak terdengar dalam ucapan mereka, Ciel mengangkat sudut bibirnya. Masih memiliki ekspresi santai di wajahnya, pemuda itu dengan tenang berkata,


“Angkat kepala kalian, Kedua Pangeran. Itu sama sekali bukan masalah. Jika hanya itu, kalian tidak perlu repot-repot. Saya sudah senang kalian karena anda bahkan menghargai hal kecil seperti itu.”


Keduanya mengangkat wajah mereka lalu saling melirik. Sudah tidak ada kebencian seperti sebelumnya. Memang, mereka masih terlihat saling bersaing, tetapi secara lebih sehat.


“Kalau tidak ada masalah lain, saya akan pergi.”


“Tunggu sebentar, Pangeran Luciel.”


Ciel menoleh ke arah Silevran yang memanggilnya.


“Apakah ada yang bisa saya bantu, Pangeran Silevran?”


“Apakah anda memiliki waktu, Pangeran Luciel?”


“Aku tidak terlalu sibuk, tetapi ingin berjalan-jalan di sekitar istana untuk mengganti suasana. Apakah ada masalah?”


Kali ini yang berbicara adalah Elyas. Melihat pemuda itu, Ciel mengangguk ringan.


“Tidak masalah.”


Ciel sama sekali tidak jijik dengan semua orang. Selama mereka tidak mengganggu, dia masih baik-baik saja menerima mereka di sekitar. Belum lagi, keduanya adalah Pangeran dari Kerajaan yang beraliansi dengan Kekaisaran Black Sun.


Di taman bunga belakang Istana Tamu.


Terlihat delapan orang yang berjalan dengan santai. Yang berada di tengah adalah Ciel yang diikuti oleh ketiga pelayan barunya. Tidak terlalu jauh di kanannya, terlihat sosok Silveran diikuti seorang pelayan Succubus. Sebaliknya, tidak terlalu jauh di sisi kiri, terlihat Elyas yang diikuti oleh pelayan Succubus.


“Ngomong-ngomong … saya dengar Pangeran Luciel memiliki kemampuan baik dalam permainan pedang. Mungkinkah jika ada kesempatan saya bisa mendapat nasihat?”


Ketika jalan-jalan, ketiga pangeran itu hanya berkata beberapa patah kata. Kali ini, Silevran berusaha membuat pembicaraan yang sedikit dalam. Niatnya cukup jelas, dia ingin berteman dengan Ciel.


Meski awalnya memang diperintahkan oleh ayahnya untuk berteman, dia agak enggan. Namun setelah melihat kekuatan Ciel ‘yang sebenarnya’, pemuda itu kagum. Tidak menyangka sosok yang sedikit lebih muda darinya itu begitu kuat.


Di mata Silevran, kekuatan adalah hal utama. Dari hanya formalitas, dia benar-benar terpesona dan ingin berteman dengan Ciel.

__ADS_1


Tentu saja, Ciel juga tidak pelit. Jika orang yang datang dengan niat baik, dia tidak akan menolaknya. Belum lagi setelah dirinya menjadi penguasa Wilayah Blackfield, pemuda itu sedikit mau bersosialisasi.


“Tentu. Namun tingkat saya tidak tinggi. Daripada menasihati, mungkin lebih baik belajar satu sama lain.” Ciel berkata sopan.


“Bagus! Saya menantikannya.” Silevran tampak bahagia.


Sedangkan ekspresi Elyas tampak agak buruk. Setelah memikirkan sesuatu, pemuda itu akhirnya juga bicara.


“Saya tahu ini tidak sopan. Dalam penelitian, Keluarga Stormwind sedikit mirip dengan Keluarga Dawnbringer milik anda. Kebanyakan keturunan dalam keluarga kami juga memiliki sihir petir.


Saya sendiri mencoba meningkatkan kemampuan sihir petir saya. Jika tidak keberatan, bisakah anda menasihati saya dalam hal itu?”


“Anda terlalu sopan, Pangeran Elyas. Tentu saja saya tidak akan menolak. Saya sendiri juga cukup tertarik dengan kerajinan sihir yang cukup unik.


Mungkin … itu juga akan membantu saya.” Ciel berkata santai dengan senyum di wajahnya.


“Terima kasih banyak, Pangeran Luciel!”


Elyas sangat bersemangat. Meski tidak mungkin mendapatkan sihir khusus milik Keluarga Dawnbringer, banyak buku sihir di Kekaisaran Black Sun tentang sihir petir yang lebih kuat daripada yang ada di Kerajaan Blue Spark.


Belum lagi, Elyas cukup terkejut bahwa Ciel juga tertarik dengan kerajinan sihir. Meski mungkin hanya sopan santun, dia tahu tidak ada penghinaan dalam ucapan pemuda itu.


Bagi Silevran atau Elyas, Ciel adalah sosok pemuda luar biasa yang santai dan pemikiran terbuka. Sangat berbeda dari sosok kejam yang dibicarakan orang-orang.


Melirik sosok luar biasa itu, Silevran menghela napas dengan tatapan kagum.


“Saya mengerti kenapa banyak orang percaya anda akan menduduki kursi Putra Mahkota, Pangeran Luciel.”


Mendengar itu, Elyas mengangguk sebelum menambahkan.


“Tidak hanya kuat dan berbakat. Anda bena-benar memiliki wawasan luas dan pemikiran terbuka.”


Mendengar ucapan keduanya, ekspresi Ciel langsung stagnan. Dia tidak tahu bagaimana, tetapi rumor bahwa dirinya mengejar dan dekat dengan kursi Putra Mahkota bahkan telah menyebar sampai ke luar Kekaisaran Black Sun.


Tampak agak muram, Ciel mengeluh dalam hati.


Aku tidak ingin posisi Putra Mahkota, jangan libatkan aku! Aku sudah menjelaskan berkali-kali, tetapi tida k ada yang mendengarnya. Aku tidak tahu siapa itu, tapi ...


Orang tidak bertanggung jawab yang menyebar rumor, jangan sampai aku menemukanmu!

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2