
“Baiklah. Kelihatannya kamu terlalu lelah untuk membicarakan banyak hal.”
Kaisar Julius menghela napas panjang. Melihat putranya yang seperti itu membuatnya bingung harus bagaimana. Seorang putra yang membanggakan sekaligus memalukan. Belum lagi, susah diatur.
Dia langsung mengeluarkan senjata artifak lalu menyuruh Ciel menyimpannya. Setelah bocah itu menyimpan artifak, Kaisar Julius yang merasa pusing langsung mengusirnya dari ruang pribadi.
Berdiri di depan pintu yang tertutup, Ciel mengerjap. Dia benar-benar bingung harus bereaksi bagaimana.
Ada apa denganmu, Ayah? Aku bahkan belum makan satu potong keripik dan kamu langsung mengusirku? Bukankah itu kejam?
Mengabaikan Kaisar Julius yang merasa pusing, Ciel pergi dari Istana Utama menuju ke Istana Utara dengan ekspresi agak bersemangat. Sudut bibirnya terangkat, agak senang karena mendapat mainan baru.
“Kita sudah sampai, Pangeran Luciel.”
Turun dari kereta kuda, Ciel memandang ksatria yang menjemput dan mengantarnya kembali. Dia tersenyum tulus sembari berkata, “Maaf merepotkanmu. Terima kasih.”
“Itu sudah tugas saya, Pangeran Luciel.” Ksatria itu menjawab dengan sopan.
Ciel berbalik lalu pergi memasuki Istana Utara. Baru melewati gerbang, dia dihentikan oleh sang ibu, Ratu Lilith.
“Untuk apa Yang Mulia mencarimu, Ciel kecil?”
“Tidak ada yang spesial. Hanya memberi selamat.” Ciel memiringkan kepalanya dengan bingung. “Mungkin merasa berterima kasih karena sudah membantu mendidik Pangeran Victor? Kelihatannya Yang Mulia malu lalu menyuruhku kembali.”
Bukankah kamu diusir karena begitu tidak tahu malu? Kamu benar-benar tidak memiliki nurani sedikit pun, Nak?
Ratu Lilith ingin menegur putranya tetapi kata-kata tersangkut di tenggorokannya. Setelah menghela napas sambil menggeleng ringan, dia hanya berkata, “Masuk lalu istirahat.”
“Baik.”
Melihat sosok Ciel yang naik ke lantai dua, sekali lagi Ratu Lilith menggelengkan kepalanya.
Ciel segera mandi lalu beristirahat. Setelah cukup lama berbaring malas di atas ranjangnya, pemuda itu bangkit lalu duduk bersila sambil merenungkan sesuatu. Melambaikan tangannya, tombak muncul di depannya.
Merasakan tombak yang tidak lagi berat di tangannya, Ciel mengangguk puas. Tanpa sedikit pun keraguan, dia langsung menebas telapak tangannya sendiri. Darah mengalir keluar membasahi seluruh tubuh tombak. Seolah spons yang menyerap air, tombak itu menyerap darah Ciel dengan rakus.
Setelah beberapa saat, tubuh tombak bergetar lalu melayang lembut di udara. Aura tenang dan lembut seperti air menyelimuti seluruh tubuh tombak. Ketika Ciel memegang tombak, dia merasakan koneksi khusus dengan tombak. Sudut bibir pemuda itu langsung terangkat.
__ADS_1
“Barang bagus.”
Tanpa orang ketahui, ide-ide aneh mulai mengalir dalam kepala Ciel ketika mendapat mainan baru. Ide yang mungkin akan membuat orang tua serta saudara-saudarinya resah jika mendengarnya. Ciel diam-diam membuat keputusan.
Tunggu waktu dan tempat yang cepat untuk mencobanya.
...***...
Tiga hari kemudian.
Berdiri di samping Deschia, Ciel tampak pahit. Dia menunjuk sosok yang berdiri di sisi lain.
“Kenapa saya harus membawanya?” tanya Ciel.
Sosok ayah, ibu, saudara dan saudarinya berdiri di kejauhan. Sementara orang yang Ciel tunjuk, dia adalah ksatria muda yang menjemput dan mengantarnya sebelumnya.
Namanya adalah Ryo. Dia adalah sosok pemuda dengan rambut ikal berwarna cokelat dan senyum lembut di wajahnya. Terlihat sangat ramah kepada semua orang, tetapi dia tidak bisa diremehkan.
“Ryo yang akan mengantar dan menjagamu sampai di North Duchy. Karena kamu sedang bertamu, sebagai seorang Ayah, aku harus memastikan kamu tidak membuat kekacauan di sana kan, Ciel?”
“...”
Ciel diam-diam mengeluh dalam hati. Kelihatannya Kaisar Julius telah mengantisipasi apa yang akan dia lakukan. Sang Ayah benar-benar membuat seseorang mengikutinya jauh-jauh ke North Duchy untuk mengawasinya. Benar-benar merepotkan.
“Kenapa tidak menjawab, Ciel? Apa jangan-jangan … kamu memiliki rencana selain menjenguk Zack?” Kaisar Julius menyipitkan matanya.
“Tentu saja tidak,” jawab Ciel dengan ekspresi redup.
“Tenang saja, Ryo adalah prajurit termuda dalam barisan ksatria elit Kekaisaran. Selain mengantarmu sampai ke North Duchy, dia pasti akan banyak membantu di sana.”
Prajurit Elite termuda, kah?
Ciel melirik ke arah Ryo dan Griffin yang berdiri di sampingnya. Memang, memiliki level 4 dan pengendalian baik atas kekuatannya di awal usia dua puluhan sangat baik. Bahkan lebih baik daripada kebanyakan anak bangsawan yang seusia dengannya. Hanya saja …
Bagaimana dengan rencanaku untuk pergi piknik ke Kerajaan Blood Diamond? Bukankah dia akan menghalangiku? Kalau tidak, bukankah dia pasti melapor pada ibu dan ayah?
Meski memiliki banyak keluhan dalam hatinya, Ciel hanya bisa menerima semuanya. Setelah berpamitan dengan keluarganya, dia menaiki punggung Deschia. Terbang meninggalkan Istana Kekaisaran dengan Ryo dan Griffin yang mengikuti di belakang.
__ADS_1
Perjalan baru dimulai begitu saja. Tanpa sadar beberapa hari berlalu dan mereka sampai di perbatasan antara Royal Capital dan North Duchy.
Duduk di depan api unggun sambil memanggang daging, dua orang saling berhadapan dalam diam. Beberapa hari terakhir, Ciel dan Ryo hanya memiliki sedikit percakapan. Pangeran itu memilih untuk tidak banyak berbasa-basi. Sedangkan Ryo yang ditugaskan untuk menjadi pengawal sekaligus pelayan terus mengikuti Ciel tanpa banyak bicara atau protes.
“Aku bisa melanjutkan perjalanan sendiri. Terima kasih sudah mengantarku sampai sini. Kamu boleh kembali, Ryo.”
“Maaf Pangeran Luciel, saya tidak bisa melakukannya. Kaisar Julius sendiri yang memerintah saya untuk menemani anda. Jadi … saya akan menjalankan tugas sampai selesai.” Ryo membalas dengan lembut dan hormat.
“Sebagai Ksatria Elit termuda, kenapa kamu mau melakukan hal seperti ini? Bukankah lebih baik kamu mengikuti garnisun dan banyak berlatih serta melakukan misi untuk meningkatkan reputasi.
Dengan kekuatan dan bakatmu, seharusnya kamu bisa menjadi Jenderal di masa mendatang.”
Ciel menatap Ryo dengan ekspresi tak acuh. Ksatria muda itu sama sekali tidak gugup atau langsung menyerang Ciel. Sebaliknya, dia malah tersenyum lembut.
“Mematuhi perintah Kaisar Julius adalah tugas saya. Bahkan jika saya dikirim ke medan perang atau melakukan misi bunuh diri, saya tidak akan melakukan penolakan dan melaksanakannya sepenuh hati.” Ryo menjawab dengan ekspresi tulus.
“...”
Melihat sosok yang tidak berbohong itu, Ciel mengabaikannya. Dia tahu kalau Ryo tidak berbohong dan benar-benar mati jika diberi perintah. Meski ada alasan dibaliknya, pemuda itu tidak repot-repot untuk mencoba menguak rahasia orang lain yang telah dipendam.
“Selesaikan makanan lalu segera melanjutkan perjalanan.”
“Sesuai perintah anda, Pangeran Luciel.”
Keduanya akhirnya segera menyelesaikan makanan lalu melanjutkan perjalanan.
Terbang di atas awan, Ciel melihat gunung berapi raksasa di kejauhan. Ekspresinya tampak agak rumit. Pemuda itu merasa kalau apa yang dia lakukan adalah kebalikan dari tujuan hidupnya.
Bukankah aku ingin bermalas-malasan dalam lingkungan yang damai dan aman? Apa yang aku lakukan di sini? Pergi berpetualang untuk mengalami dunia?
Omong kosong! Ini melenceng dari tujuan hidupku!
Ketika mengeluh dalam hati, Ciel dan Ryo semakin mendekat dengan gunung berapi raksasa. Pada saat itu juga, mereka akhirnya melewati perbatasan dan masuk ke North Duchy.
Merasakan udara yang lebih panas karena gunung vulkanik, Ciel tersenyum pahit.
Apapun itu … mari lakukan saja!
__ADS_1
>> Bersambung.