
Tiga hari berlalu begitu saja.
Ciel terlihat mengantar pribadi Asterious dan rombongan yang pergi menggunakan kereta kuda. Melihat kereta kuda yang kian menjauh dan menghilang dari pemandangan, dia menghela napas lega.
Ciel segera berbalik dan pergi menuju bangunan kastil utama. Dia kemudian menuju ruang kerja baru yang dibuat untuk Ariana dan Camellia. Di sana banyak dokumen yang Ciel tidak perlu tangani secara pribadi. Semua itu dikerjakan oleh kedua wanita Ciel.
Terkadang, Ciel merasa agak malu karena dirinya sekarang hanya mengerjakan sedikit dokumen yang benar-benar sangat penting. Meski tujuan hidupnya untuk menjadi pemalas yang baik, membuat wanitanya sendiri bekerja keras cukup tidak tahu malu.
Oleh karena itu, Ciel akhirnya memutuskan untuk membuat Verrona dan Jenny untuk membantu mereka. Sekarang dia ingin mempertemukan mereka semua. Hanya saja, setelah bertemu semua tidak sejalan dengan rencananya.
Ternyata, Jenny dan Verrona saling kenal karena keduanya adalah budak dari Marquis Lawyer, sang pengkhianat. Perbedaannya, ketika Verrona menjadi budak, Jenny telah berada di sana beberapa tahun.
“Siapa wanita ini, Tuan?”
Tidak seperti Isabella atau Elena yang telah mengetahui keberadaan dari Dark Elf di ruang bawah tanah, Ariana dan Camellia sama sekali tidak tahu atau sempat berpikir kalau kekasih mereka ternyata menyembunyikan hampir seratus wanita di ruang bawah tanah.
“Namanya Verrona, dia adalah …”
Mendengarkan penjelasan Ciel, Ariana tidak merubah ekspresinya sementara tubuh Camellia gemetar. Bukan karena marah, tetapi merasa cukup kecewa. Sebagai pelayan pertamanya, Ciel bahkan menyembunyikan hal seperti itu. Jelas Camellia kecewa karenanya.
“Maaf, aku hanya tidak ingin kalian terlibat dengan hal berbahaya seperti ini.” Ciel menggeleng dengan senyum pahit.
“Lalu kenapa anda tidak melatih saya agar menjadi kuat, Tuan?” gumam Camellia.
“Sekarang kamu sudah level 3. Sama dengan Ariana, aku ingin kalian tumbuh perlahan. Tidak perlu terburu-buru.”
“Meski Elena dan Isabella anda latih dengan keras?” Camellia menatap Ciel dengan ragu.
Memang, cara Ciel melatih Camellia tidak terlalu berbeda dengan anggota dari divisi bayangan. Cukup cepat, tetapi melebih semua itu, ada beberapa orang yang memang Ciel beri perhatian lebih. Seperti Elena, Isabella, Asterious, Jean, dan Theo. Sekarang, Ciel berniat menambahkan Clark ke dalam daftar.
“Itu karena mereka memang mengurusi bagian militer. Kalian berdua telah menghabiskan banyak waktu di ruang kerja untuk mengurus dokumen. Jika pelatihannya terlalu berat, aku khawatir itu malah berdampak buruk.”
“...” Camellia menggigit bibinya dengan ekspresi kusam. Merasa agak kecewa.
“Aku memperkenalkan Jenny dan Verrona untuk membantu kalian mengurus masalah dokumen. Setelah mereka cukup mahir untuk mengurus banyak hal dan kalian berdua lebih senggang, aku tidak keberatan jika kalian berlatih lebih keras.”
“Benarkah?” tanya Camellia.
“Iya.” Ciel mengangguk ringan.
__ADS_1
“Terima kasih, Tuan.”
Ciel menggeleng ringan. Dia kemudian berkata, “Verrona, kamu akan mulai membantu Ariana. Jenny, kamu akan membantu Camellia.”
“Baik, Tuan.” Kedua wanita menjawab dengan serempak.
Camellia menatap Jenny, sosok yang sering mengikuti Isabella. Dia tidak menyangka sekarang wanita itu akan menjadi pembantunya. Gadis itu juga penasaran, bagaimana bisa Jenny merawat seorang putra dengan baik sampai Ciel benar-benar tertarik dengan anak itu.
“Kalau begitu aku pergi. Aku akan meninggalkan ruang agar kalian bisa bicara lebih santai.”
Setelah mengucapkan itu, Ciel kembali ke ruang kerja miliknya sendiri. Ruang yang sekarang cukup sepi tanpa adanya Ariana dan Camellia. Melihat hari telah menjelang sore, Ciel menghela napas panjang.
“Anda terlihat lelah, Tuanku?”
Melihat sosok Isabella yang keluar dari bayangan, mata Ciel menyipit. Tidak seperti biasanya ketika Isabella menggunakan pakaian maid dengan bentuk seperti gaun, sekarang wanita itu menggunakan pakaian berbeda.
Sekarang Isabella masih menggunakan pakaian maid. Hanya saja, pakaian itu tampak berbeda. Rok jauh di atas lutut, memperlihatkan paha putih dan halus. Stocking hitam menutupi dua kaki ramping sampai lutut. Bagian atas tampak cukup minimalis, membuat dua gunung seolah akan meletus kapan saja.
Tanpa sadar, Ciel menelan saliva. Sejak kembali dari rumah Asterious tiga hari yang lalu, Isabella banyak berubah. Hari berikutnya, ketika menyajikan teh atau camilan, Isabella akan menyajikannya tepat di depan mata Ciel. Membungkuk cukup lama sambil menunjukkan pemandangan lembah dalam di antara dua gunung besar. Semakin hari, wanita itu tampak semakin berani ketika mereka hanya berduaan.
“Apakah anda yang salah, Tuan?” Isabella tersenyum menawan.
“Kemari.”
Isabella mendekati Ciel yang duduk di sofa panjang dan berdiri di sampingnya.
“Duduk.”
Mendengar perintah Ciel, Isabella membungkuk sopan sebelum duduk di sofa tepat samping Ciel.
“Kamu duduk di tempat yang salah.”
Ciel melirik Isabella dengan dingin. Hal itu membuat Isabella agak gugup. Rona merah muncul di pipinya.
Mungkinkah Tuan ingin memainkan permainan tuan yang kejam dan pelayan yang patuh?
Memikirkan itu, wajah Isabella menjadi lebih merah. Dia berdiri dari sofa dan hendak duduk di lantai depan Ciel. Namun saat itu dia terkejut.
Ciel tiba-tiba menarik Isabella, membuat pelayan cantik itu duduk di atas pangkuannya. Tangannya kirinya langsung melilit pinggang ramping Isabella seolah python yang sedang melilit mangsanya. Tangan kanan Ciel langsung memegang dagu Isabella. Menariknya lalu mencicipi bibir lembutnya.
__ADS_1
Isabella tampak terkejut melihat Ciel yang tampak tak acuh tetapi sangat agresif dan mendominasi. Setelah beberapa saat, ekspresi kaget di wajahnya diganti dengan ekspresi mabuk. Ketika kedua bibir terpisah, Isabella tampak terengah-engah.
“Tuan …”
Kali ini Isabella benar-benar mabuk. Ingin merasakan bibir Ciel tetapi pemuda itu menutup mulutnya. Hal itu membuat Isabella yang sudah tidak sabar hanya bisa bertindak seperti kucing penurut. Ketika menahan kesabaran, Ciel akan sesekali menggodanya dengan mengelus pinggang rampingnya, membuat wanita itu merasa nikmat.
Sekali lagi keduanya berciuman. Lebih agresif dan buas. Pada saat kedua bibir sekali lagi terpisah, Isabella sudah benar-benar mabuk. Dia ingin melepaskan pakaian yang membuatnya terasa terlalu panas dan tidak nyaman. Wanita itu juga merasakan sesuatu yang besar dan keras di bawahnya.
Ini … begitu besar?
Pada saat itu, Ciel tiba-tiba membuat Isabella menghentikan tindakannya. Ciel bahkan menggendongnya dengan lembut dan membaringkannya di sisi sofa lain. Hal itu membuat jantung Isabella semakin tidak karuan.
Apakah Tuan akan mengambilku? Ini …
Wajah Isabella merah seperti tomat. Meski sering memprovokasi Ciel, ketika diserang, dia benar-benar tidak bisa berbuat banyak. Belum lagi, ini juga pertama kali baginya.
Berbeda dengan harapan Isabella, Ciel yang berdiri di depannya tidak melepas pakaian dan menyerangnya seperti binatang buas. Ciel malah merapikan pakaiannya. Pemuda itu melihat ke arah Isabella dengan senyum menggoda.
“Kita lanjutkan lain kali,” ucap Ciel yang telah merapikan pakaiannya. Saat hampir meninggalkan ruangan, dia menambahkan. “Lain kali ketika berduaan dalam ruang kerja, pakai pakaian itu. Aku tidak membencinya.”
Melihat sosok Ciel yang meninggalkan ruangan dan menutup pintu, Isabella terdiam. Perasaan dalam hatinya begitu campur aduk.
“Kamu begitu jahat … Tuan.”
Isabella berkata lirih, tetapi ekspresi tergila-gila masih terlihat di wajahnya.
Keluar dari ruang kerja, itu sudah petang.
Sebenarnya, alasan kenapa Ciel segera pergi dan tidak menggoda Isabella lebih lama karena dirinya merasakan gelombang energi sihir yang aneh. Orang-orang mungkin tidak merasakannya karena begitu samar, tetapi Ciel berbeda.
Ciel bergegas ke kamar Jenny dan Theo.
Setelah mengetuk pintu dan pintu dibuka oleh Jenny, Ciel segera masuk ke dalam kamar tanpa ragu. Jenny yang melihat Ciel menerobos masuk tampak malu dan gugup. Namun wanita itu segera tersadar dan bergerak menuju ranjang Theo.
Di sana, sosok Ciel sudah berdiri dan menatap ranjang dengan tenang. Di atas ranjang, tampak Theo yang tidur dengan ekspresi kesakitan. Tubuhnya terus gemetar dan banyak berkeringat.
“Benar saja, ini kebangkitan.”
Ciel bergumam dengan tatapan misterius.
__ADS_1
>> Bersambung.