Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Mengunjungi Ibu Mertua


__ADS_3

Di sebuah gang Ibukota Kerajaan Black Star, Ciel yang berpakaian layaknya ksatria dengan topeng dan jubah hitam berjalan dengan tenang.


Sedangkan Dark Unicorn? Makhluk itu bersembunyi di dalam bayangannya.


Belum lama ini Ciel menyadari kemampuan makhluk tersebut dan merasa nyaman karenanya. Itu berarti, dia bisa membawa makhluk itu ke mana-mana sebagai kendaraan darurat. Ya, kira-kira begitulah yang dipikirkan pemuda itu.


“Mereka pasti sedang sibuk mencari,” gumam Ciel dengan ekspresi puas.


Karena penampilan Dark Unicorn yang mencolok, para ksatria pasti sedang fokus mencari sosok kuda karena tidak menyangka bahwa makhluk itu memiliki kemampuan yang cukup unik.


Berhasil menghindari para ksatria dengan mudah, Ciel akhirnya menyusup ke Istana Black Gemma.


Menyadari bagaimana dirinya menyusup dengan mudah, Ciel menggeleng ringan. Pemuda itu bangga karena apa yang dia pelajari ketika masih kecil (melarikan diri dari Istana Utara) ternyata masih bisa digunakan sampai sekarang.


Ciel kemudian dengan santai menjelajah di sekitar, menghindari banyak ksatria yang berjaga dengan mudah. Sampai akhirnya, dia berada di halaman belakang Istana Black Gemma.


“Apa yang kamu lakukan di sana, Kak?”


Mendengar suara itu secara tiba-tiba, Ciel yang berjalan-jalan dengan santai menuju dapur hampir tersandung kakinya sendiri. Menoleh ke sumber suara, pemuda itu melihat bocah kecil yang menatapnya dari jendela di lantai tiga Istana.


Menggunakan sihir gravitasi, Ciel melayang ke arah bocah itu. Setelah mengamatinya dari dekat, pemuda itu mengangguk. Seperti yang dia duga, bocah itu memiliki iris mata mirip dengan Ariana.


Sementara itu, anak kecil yang melihat Ciel ‘terbang’ tampak terpana.


“Apakah aku boleh masuk, Adik kecil?”


Melayang di luar jendela, Ciel bertanya dengan santai. Bocah yang terpana itu sadar kemudian menggeleng ringan.


“Tidak boleh.”


“Kalau kakak boleh masuk, kakak akan memberimu keripik apel yang nikmat.”


Satu toples kecil berisi keripik apel entah kapan muncul di tangan kiri Ciel.


Bocah lelaki itu tampak ragu, tetapi masih menggeleng.


“Ibunda bilang, aku tidak boleh menerima sembarang makanan dari orang lain.”


“Bagaimana kalau minuman? Kakak punya wine yang sangat nikmat di sini?”


Satu botol wine entah kapan muncul di tangan kanan Ciel.


Mendengar ucapan Ciel, bocah lelaki itu langsung menggeleng cepat.


“Ibunda bilang, aku masih terlalu muda. Tidak boleh minum-minuman seperti itu.”


“...”

__ADS_1


Ciel terdiam. Dia tidak menyangka kalau bocah kecil itu benar-benar menolak iming-imingnya.


Jika yang lain tahu apa yang sedang dilakukan oleh Ciel, mereka pasti merasa kalau otak pemuda tampan itu semakin kurang beres. Pertama, tidak semua orang menyukai keripik buah-buahan seperti dirinya.


Kemudian, yang lebih penting … orang gila mana yang mencoba membujuk anak berusia kurang dari 10 tahun dengan wine yang mahal? Jelas tidak ada!


Menyadari kalau bocah itu tidak bisa dibujuk, Ciel hanya bisa mengembalikan camilan dan wine miliknya kembali ke kantong dimensi. Pemuda itu kemudian membuka jendela lalu masuk ke dalam kamar bocah itu dengan paksa.


Lagipula, dari awal dia hanya berniat menggoda bocah itu.


Melihat Ciel yang masuk ke dalam kamarnya, bocah itu menjadi panik. Dia menoleh ke kiri dan kanan, memastikan jalan untuk melarikan diri. Bocah itu juga berpikir untuk memanggil para penjaga.


“Siapa namamu, Nak?"


Mendengar ucapan santai dari Ciel, bocah itu termenung sejenak. Dia kemudian menggunakan salam sopan para bangsawan sembari menjawab.


“Nama saya Edgar Vandirr, Pangeran ke-4 dari Kerajaan Black Star.”


“Kamu memperkenalkan diri dengan baik, jadi kakak ini juga harus memperkenalkan diri dengan baik juga.


Nama saya Luciel Dawnbringer, Pangeran ke-8 dari Kekaisaran Black Sun.”


“Pangeran?” Edgar memiringkan kepalanya, tampak agak bingung.


“Iya.” Ciel mengangguk. “Apakah kamu tahu? Di luar Kerajaan Black Star, masih sangat banyak Kerajaan lain, juga beberapa Kekaisaran besar.”


Seolah memikirkan sesuatu, bocah itu berlari menuju meja belajarnya. Dia kemudian mengambil segelas susu yang masih hangat lalu membawakannya kepada Ciel.


“Kak Luciel, anda pasti haus, minumlah. Nanti ceritakan lagi tentang Kerajaan dan Kekaisaran lain.”


Menerima segelas susu hangat, Ciel menggeleng ringan. Pemuda itu kemudian membuka topengnya lalu minum susu yang diberikan Edgar kepadanya sebagai tanda hormat.


Okay … memang, aku tidak menyukai susu yang agak amis seperti ini. Anggur memang lebih baik.


Pikir Ciel. Pemuda itu hendak bercerita, tetapi Edgar malah memandangnya dengan ekspresi terpana.


“Ada apa, Nak?”


“Kak Luciel? Kakak memiliki mata dengan warna berbeda?”


Mendengar Edgar yang bertanya dengan penasaran, Ciel mengangguk. Memang, bahkan di dunia iblis kasus heterochromia masih sangat jarang. Jadi pemuda itu merasa wajar jika ada yang terkejut melihat matanya untuk pertama kalinya.


“Kenapa?Apakah terlihat menakutkan?”


“Wow! Itu terlihat sangat bagus. Apakah saya juga bisa memiliki mata seperti itu, Kak Luciel?”


Bisa jika kamu melakukan transplantasi mata …

__ADS_1


Ya, Ciel hanya menjawab dalam hati, tetapi tidak secara langsung. Pemuda itu hanya berkata santai.


“Memang bisa, tetapi itu tidak baik dan menyakitkan.”


“Lalu, kenapa anda melakukannya, Kak Luciel?”


“Aku? Aku berbeda. Aku memang terlahir dengan mata seperti ini.”


“Oooh …”


Mencoba mengerti, Edgar mengangguk dengan serius.


“Lalu, haruskah aku mulai bercerita?” tanya Ciel.


Mendengar pertanyaan Ciel, Edgar buru-buru kembali ke atas ranjangnya lalu memakai selimut.


Melihat itu, Ciel menggeleng ringan. Dia berjalan mendekati Edgar lalu duduk di tepi ranjang. Pemuda itu kemudian mulai bercerita.


...***...


Lewat tengah malam.


Para ksatria tampak kebingungan ketika tidak bisa menemukan sosok The Doom Knight setelah mencari di setiap sudut kota. Bahkan Raja Wade sendiri merasa itu tak tertahankan.


Dia belum pernah dipermainkan oleh lawan dengan cara seperti itu!


Setelah mencari di seluruh kota tetapi tidak ketemu, Raja Wade tiba-tiba mengingat salah satu kata-kata bijak yang tercatat dalam buku-buku tua di perpustakaan.


Tempat paling berbahaya mungkin adalah tempat yang paling aman untuk bersembunyi.


Mengingat itu, Raja Wade langsung mengalihkan pandangannya ke arah Istana Black Gemma.


Sementara itu, kamar Ratu Elizabeth.


Tok! Tok! Tok!


Ratu Elizabeth yang menunggu kabar dari para ksatria dan Raja masih belum tidur. Selain karena kedatangan The Doom Knight, besok perang akan terjadi. Tidak ada waktu untuk bersantai.


“Masuk.”


Berpikir bahwa itu adalah pelayan yang datang melapor, Ratu Elizabeth langsung menyuruhnya masuk. Namun ketika pintu terbuka dan sosok itu masuk ke dalam kamarnya, ekspresi wanita itu penuh dengan keterkejutan.


Melihat Ciel yang tersenyum lembut, Ratu Elizabeth tidak bisa tidak bertanya.


“Kamu … bagaimana kamu bisa sampai di tempat ini, Pangeran Luciel?”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2