WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 100


__ADS_3

Selamat membaca....


***


MALIA


Aku menyiapkan diriku untuk bicara dari hati ke hati dengan Reiji, selepas kami Isya berjamaah berdua.


Aku masih ragu sebenarnya, untuk soal bicara hati ke hati ini dengan Reiji.


Tapi kupikir, mungkin setelah bicara nanti, hatiku akan menemukan ketenangan.


Meski entah ketenangan seperti apa yang aku inginkan, yang jelas akupun tidak ingin terus-terusan diliputi kecanggungan seperti sekarang ini dengan Reiji.


Kecanggungan dari hatiku, yang mungkin sedang ragu atas pernikahanku dan Reiji?....


Dimana seharusnya keraguan itu tidak lagi ada, setelah aku berjanji untuk membuka hati padanya, dan memberikan akses seluas dan sebesarnya pada Reiji untuk itu.


Bukankah memang seharusnya begitu?....


Dan bukankah aku telah membulatkan tekadku juga atas itu?.


Menerima dijodohkan dengan Reiji, serta menerima dia sepenuhnya sebagai suamiku.


Aku telah yakin. Well, saat itu.


Sebelum ada hal tentang masa lalu yang menyusup tiba-tiba.


Masa lalu Reiji.


Lalu, masa laluku pun tahu-tahu datang lagi sebelum aku berdamai dengan masa lalu Reiji.


Lelaki impianku. Yang impian untuk bersamanya sudah sempat aku kubur demi sebuah perjodohan.


Tapi kini?....


Impian itu terasa sedang menggeliat bangkit dari kuburnya.


Tapi, bagaimana hubunganku dengan Reiji nanti?....


---


Aku sebenarnya tidak ingin cekcok dengan Reiji, tapi aku juga bingung dengan perasaanku saat ini.


Namun setelah aku pikir-pikir, rasanya ide Reiji untuk berbicara dari hati ke hati tidak boleh aku tolak.


Selain Reiji telah berniat baik, aku rasa mungkin dalam pembicaraan hati ke hati kami nanti, kami-aku utamanya, dapat mengeluarkan segala unek-unek di hatiku, dan setelahnya aku dapat menemukan jalan keluar.


Meski merasa kurang siap, tapi aku menerima usulan Reiji untuk bicara dari hati ke hati. Mungkin, soal Irsyad akan bisa aku utarakan. Entahlah.


Lihat saja nanti.


---


Aku sudah bersiap untuk mengekori Reiji ke luar dari kamar kami untuk pergi ke ruang santai dan berbicara disana.


Namun baru saja aku meletakkan peralatan ibadahku, nada notifikasi pesan masuk terdengar. Dan aku bergegas untuk meraih ponselku dengan segera.


Jujur saja, sejak aku intens berkomunikasi dengan Irsyad bahkan sudah beberapa kali ketemuan tanpa sepengetahuan Reiji, aku menjadi sedikit was-was.


Macam istri yang sedang berselingkuh dari suaminya.


Walaupun isi pesan chat-ku dan Irsyad hanya pesan-pesan biasa saja tanpa unsur kemesraan didalamnya.


Saat bertemu pun, kami hanya mengobrol biasa. Duduk berjarak, terkadang bernostalgia atau membicarakan kegiatan kami masing-masing selama ini.


Jadi yah, aku tidak tahu, apakah apa yang aku lakukan bersama Irsyad di belakang Reiji ini termasuk perselingkuhan atau tidak?. Tapi rasanya tidak. Aku dan Irsyad mengusung pertemanan dari sejak kami bertemu kembali.


Layaknya teman lama yang baru ketemu, jadi ingin saja ngobrol dan duduk bersama jika ada waktu.


Toh, bukankah Reiji juga masih bersahabat dengan Shirly?.... Dan mereka juga masih intens berkomunikasi bukan?.


Jadi aku rasa sah-sah saja, jika aku juga membangun pertemanan dengan Irsyad. Meski, Irsyad pernah mempertanyakan kebahagiaanku menikah dengan Reiji.


Yang pada akhirnya membuatku galau. Dan mungkin, karena hal itu aku menjadi sedikit was-was dengan ponselku. Aku takut tahu-tahu Irsyad mempertanyakan lagi hal itu lewat sebuah pesan chat, dan aku ditimpa keapesan, andai chat itu dibaca Reiji.


Dan kami akan cekcok lagi.


Hh, kepalaku rasanya pening lagi.


---


Well, kembali padaku dan Reiji yang hendak berbicara dari hati ke hati, dan aku yang telah meraih ponselku, untuk melihat siapa yang mengirim chat padaku barusan.


Ternyata Avi yang mengirimkan pesan chat padaku. Dan ia sudah berada di lobi apartemenku dan Reiji, hendak bertamu.


Hendak memperkenalkan langsung Marco – kekasih Avi, pada Reiji. Dimana kedatangan Avi ke apartemenku dan Reiji ini mendadak.


Mungkin, kedatangan Avi yang mendadak itu datang diwaktu yang kurang tepat-dimana seharusnya aku dan Reiji duduk dan bicara dari hati ke hati tentang masalah yang sedang kami hadapi dalam pernikahan kami ini.


Namun entah kenapa hatiku merasa lega dengan kedatangan Avi saat ini.


Mungkin karena aku memang belum siap untuk bicara dari ke hati dengan Reiji.


Dan aku menangkap sedikit gurat kekecewaan di hati Reiji saat aku mengatakan padanya, jika ada Avi dan kekasihnya di lobi gedung apartemen yang kami tinggali.


**


“Kita bicaranya besok aja ya Rei? ....” ucap Malia saat ia dan Reiji berada di dalam lift setelah mengantar Avi dan kekasihnya ke lobi gedung apartemen mereka.


“Iya ....”

__ADS_1


Reiji yang menyadari jika Malia sudah nampak sangat mengantuk itupun mengiyakan permintaan Malia.


“Ga apa-apa kan? ....” tanya Malia.


“Iya, ga apa-apa. Toh besok aku free kok.” Jawab Reiji.


“Ya udah ....”


“Besok ga ada acara janjian sama temen kan?”


Gantian Reiji yang bertanya pada Malia, saat keduanya telah masuk ke dalam unit apartemen mereka selepas mengantar Avi dan kekasihnya sampai ke lobi gedung.


“Kalaupun ada, aku minta kamu batalkan. Karena aku ingin kita segera menghilangkan ketidak – nyamanan diantara kita ini. Dan aku menginginkan waktu kamu sebagai istri aku, untuk aku, suami kamu....”


Reiji berujar dengan lembut, namun ada ketegasan yang tersirat dalam ucapannya pada Malia.


“Dan apapun yang menjadi keputusan aku, semata-mata demi kebaikan hubungan kita kedepannya. Jadi tolong jangan menghindar lagi....” sambung Reiji.


Malia pun mengangguk.


***


Pagi harinya, berhubung hari sabtu jadi Malia tidak dituntut untuk bergerak gesit mempersiapkan diri untuk berangkat ke kantor.


Selepas Shubuh yang kembali dilakukan berjamaah dengan Reiji, keduanya tidak kembali ke peraduan untuk tidur. Malia juga tidak sibuk mempersiapkan keperluan Reiji untuk bekerja, karena Reiji off terbang hari ini.


“Mau kopi, teh atau susu, Rei?” tanya Malia saat ia dan Reiji telah keluar dari kamar mereka.


“Susu, Yang.” Jawab Reiji sambil ia menghampiri Malia yang sudah berada di pantri. ‘Susu kamu sih pengennya.’


Hati Reiji bersuara setelahnya. Namun Reiji hanya bisa menghela nafasnya pelan saja, karena dirasa tidak mungkin untuk memepet Malia saat ini.


‘Kenapalah harus segala ada acara cekcok antara gue dan Lia begini?....’ gerutu Reiji dalam hatinya. Namun setelahnya ia menyabarkan lagi dirinya.


“Mau dibikinin sarapan apa? ....” tanya Malia.


“Apa aja, Yang,” jawab Reiji.


“Ya kasih tau apa Rei?”


“Terserah aja kamu mau buatin apa, Yang. Pasti aku makan ....” jawab Reiji lagi.


“Laper banget ga? ....”


“Engga kok.” Reiji menjawab santai.


“Ada donat kentang instan tinggal goreng nih. Mau? ....”


“Iya boleh ....”


Reiji mengiyakan.


*


Aku memperhatikan Lia yang sedang menggoreng donat kentang instan untuk sarapan kami.


Sekedar mengganjal perut, sambil memikirkan makanan berat yang akan mungkin kami santap nanti.


“Yang ....” panggilku pada Lia.


“Ya? ....”


Lia menyahut, dan hanya menoleh sekilas padaku.


“Bisa kita bicara sekarang?” kataku seraya bertanya.


Aku meminimalisir untuk melakukan sesuatu hal yang salah di mata Lia.


Maka itu aku bertanya dulu padanya. Sekaligus aku memindai suasana hati Lia saat ini.


Lia tidak langsung menjawabku.


Kulihat juga Lia menghela nafasnya dengan pelan. Aku pikir Lia akan mengatakan, “Kamu ga liat aku lagi ngapain?”


Tapi ternyata jawaban Lia, membuatku spontan menarik sudut bibirku.


“Iya bisa ....” jawab Lia. Meski pelan saja suaranya. Macam rela ga rela. Sedikit membuatku jadi ragu dan berpikir, apa nanti saja setelah Lia selesai menggoreng donat instan untuk sarapan kami itu?.


“Tunggu kamu selesai goreng itu donat aja deh.” Kataku.


“Sebentar lagi selesai ....”


“Hummm.” Aku berdehem pelan. “Ga apa-apa kalo aku sambil ajak kamu bicara sekarang?”


“Iya, ga apa-apa ....” jawab Lia.


--


Aku berdehem kecil saat aku dan Lia telah duduk bersama di depan televisi.


“Jujur, aku ga tau harus mulai dari mana pembicaraan kita ini, Yang ....” ucapku. Memulai pembicaraan.


Lia diam.


“Aku ga tau sebenarnya darimana asal hubungan kita jadi seperti ini .... tapi apapun itu, aku minta maaf jika ada ucapan atau perbuatan aku yang menyinggung kamu.”


Aku harap ucapanku itu cukup untuk membuat Lia tidak lagi nampak acuh padaku.


“Jadi sekarang aku mau tanya, Yang .... kamu kenapa akhir-akhir ini?---”


Aku meraih bahu Lia dan menghadapkannya padaku.

__ADS_1


“Apa soal pertemananku dan Irly yang masih mengganggu kamu? ....”


Lia menggelengkan kepalanya.


“Aku ga tau Rei ....”


“Denger ya Yang ....”


Aku masih memegang bahu Lia dengan lembut.


“Aku ga akan cape kasih tau ini ke kamu sampai kapanpun ....”


“......”


“Kalau hubunganku dan Irly, memang hanya murni pertemanan.”


Sekali lagi aku meyakinkan Lia.


“Kalau kamu berpikir aku sering ketemuan sama Irly di belakang kamu, jawabannya engga.” sambungku.


Kupatrikan arah pandanganku pada netra Lia. Agar senantiasa dia bisa melihat apakah aku jujur padanya atau tidak.


Karena memang itu yang sejujurnya.


“Kalau soal aku berhubungan dengan Irly sampai dengan saat ini, iya masih. Masih saling kirim chat aja, itupun jarang-jarang. Dan kalaupun aku terlibat obrolan dengan dia, obrolan itu ga hanya antara aku dan Irly. Kami ngobrol di grup, saling berbalas pesan disana. Hanya obrolan antar teman, Yang.”


Aku memberikan penjelasan pada Lia.


Jika setelahnya Lia minta aku laporan setiap hari soal pergerakan ponselku, akan aku lakukan.


Daripada Lia ngambek ga jelas hanya karena aku berteman. Kalau perlu aku berikan print out telpon masuk dan keluar dalam ponselku nanti.


Kalau perlu juga setiap jam aku melapor tentang keberadaanku, bahkan saat sebelum terbang, saat aku sudah duduk dibalik kemudi pesawat dan sesudah terbang.


Kalau kurang juga, aku akan selfie disetiap pintu masuk untuk check in Bandara sebagai laporanku pada Lia. Jika memang itu dapat menghilangkan kecurigaannya padaku, dan tak lagi meragukan perasaan cintaku yang sudah bulat untuknya.


Tapi apa iya harus sampai seperti itu?.


“Kamu silahkan kok, kalau mau mengecek ponsel aku kapanpun ....” lanjutku.


“Dan sebagai timbal baliknya kamu juga minta agar aku memperbolehkan kamu untuk melakukan hal yang sama? ....”


Jawaban Lia sedikit mencengangkanku. Sorot matanya saat berkata itu seolah sedang menginterogasiku. Apa Lia begitu tidak ingin aku mengecek ponselnya?.


“Jika iya memang kenapa?” tanyaku. “Bukannya aku pamrih ....”


Aku langsung menyambung ucapanku.


“Tapi bukannya sah-sah aja kalau suami istri saling mengecek ponsel pasangannya? Ya itupun dengan catatan ada persetujuan dari kedua pihak, kala ---”


“Aku ga ada niatan mau ngecekin hape kamu.” Sambar Lia, sebelum aku selesai dengan kalimatku.


“Ya udah oke ---“ ucapku. “Lupain soal saling mengecek ponsel.” Sambungku. “Aku percaya sama kamu. Tapi apa kamu bisa mulai sekarang jangan lagi mengungkit apa yang sudah berlalu, udah hilang, musnah, tentang perasaanku sama Irly?....”


“......”


“Bisa kita kembali ke masa sebelum masalah ini muncul?” tanyaku.


“......”


“Bisa kamu menempatkan kepercayaan kamu sama aku, tanpa lagi ada sindiran-sindiran soal aku dan Irly dikemudian hari?....”


Aku mengharapkan kepastian dari Lia.


Bukan aku menekannya. Aku hanya ingin Lia tidak dikuasai oleh kelabilannya.


*


Malia menatap pada Reiji yang berbicara padanya.


Istri Reiji itu sedang berpikir untuk bagaimana menjawab pertanyaan Reiji yang meminta persetujuannya, setelah Malia menolak usulan Reiji tentang saling memeriksa ponsel agar dapat menumbuhkan kepercayaan, jika dirasa cara itu memang diperlukan agar Malia dapat percaya padanya dengan penuh.


Sejujurnya Malia sendiri tidak tahu bagaimana harus bersikap saat ini. Apakah ia harus mengiyakan permintaan Reiji itu.


Malia ingat memang dia sering melemparkan cibiran untuk Reiji juga Shirly secara tidak langsung setelah mengetahui fakta atas perasaan yang Reiji simpan untuk Shirly.


Dan masih terkadang sinis pada pertemanan yang masih Reiji jalin dengan Shirly. Yang Malia tak tahu alasan baginya sulit menerima penjelasan Reiji yang sudah berkali-kali suaminya itu katakan.


Tapi kini Irsyad datang kembali dalam hidup Malia. Dan pertemanan yang pernah terputus itupun terjalin lagi antara Malia dan Irsyad.


Membuat Malia merasa dilema.


Jika Malia mengiyakan permintaan Reiji, itu artinya dia dapat juga tetap berteman dengan Irsyad.


Tapi jika Malia meminta Reiji menjauhi Shirly..


‘Mau ga mau gue pun harus menjauh dari Irsyad??..’


Malia membatin.


“Gimana Yang?..”


Suara Reiji menarik Malia dari lamunan singkatnya.


“Bisa kamu menempatkan kepercayaan kamu sama aku, tanpa lagi ada sindiran-sindiran soal aku dan Irly dikemudian hari?....”


Sekali lagi Reiji bertanya pada Malia.


“Aku coba ..”


*

__ADS_1


Bersambung ....


Terima kasih masih setia.


__ADS_2