WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 177


__ADS_3

Selamat membaca...


***


“So, bisa kamu luangkan waktu kamu sebentar buat aku? ....”


Malia dibuat bingung dengan permintaan Irsyad itu.


Disatu sisi ia enggan menerima ajakan Irsyad tersebut karena ia belum membicarakan tentang Irsyad pada Reiji, yang mana sebenarnya Malia juga bingung untuk menceritakan hal tentang Irsyad yang bagaimana pada Reiji? ....


Toh pada hakikatnya, walau sering sekali menghabiskan waktu bersama dengan Irsyad, kala Malia merasa hatinya kembali berbunga setelah bertemu kembali dengan cinta mas lalunya itu, Malia pikir itu bukan sebuah perselingkuhan juga.


Jadi Malia bingung sebenarnya, jika harus membicarakan soal Irsyad pada Reiji yang mungkin ga penting juga untuk Reiji ketahui soal ceritanya dan Irsyad di masa lalu.


Nantilah-pikir Malia.


Jika memang sudah ketemu waktunya untuk membicarakan soal Irsyad dengan Reiji agak banyak, biar mengalir begitu saja nanti cerita dari mulutnya.


Yang penting sekarang dulu saja, urusannya dengan Irsyad yang tahu-tahu muncul begitu saja di hadapan Malia tanpa pemberitahuan sebelumnya.


**


MALIA


Irsyad memintaku untuk meluangkan waktu bicara dengannya.


Yang mana aku rasanya enggan untuk menerima ajakannya itu. Tapi Irsyad nampak kukuh agar aku setuju untuk bicara dengannya.


“Jadi aku rasa, kamu bisa pergi bersamaku kan, Lia? –“


Dan ucapan yang berupa pertanyaan itu entah sudah untuk yang keberapa kalinya keluar dari mulut Irsyad.


“Tapi aku udah terlanjur minta satpam untuk carikan taksi.”


Dan aku masih juga bertahan untuk menolak ajakan Irsyad, yang mana akhirnya penolakan itu menjadi buntu adanya ketika satpam yang aku mintakan tolong untuk mencarikan taksi untukku telah kembali kehadapanku yang kini sedang bersama Irsyad.


“Mba, masih mau nunggu dicariin taksi?”


Pak satpam itu berucap padaku seraya ia bertanya.


“I –“


“Engga Pak, Mba ini pulang sama saya.”


Namun belum sempat aku menjawab, Irsyad sudah lebih dulu menyambar dan memberikan jawaban pada satpam tersebut dengan seolah tak menghiraukanku.


Yang mana parahnya si satpam itu bilang.


“Oh ya udah kalo gitu, Mas .... Soalnya taksi kosong juga agak susah dari tadi saya tungguin di depan, tapi ada penumpangnya terus.”


Kulihat Irsyad tersenyum pada satpam tersebut. Lalu mengucapkan terima kasih pada satpam itu, setelah ia undur diri padaku dan Irsyad.


“Makasih ya, Pak? .... maaf ngerepotin,” ucapku pada satpam tersebut.


“Yuk, Li? .... pulang sama aku?” Dan sekali lagi, Irsyad memintaku untuk ikut dengannya.


Tutur kata Irsyad bernada rendah, seperti selalunya.


Hanya saja, saat ini aku merasa jika Irsyad sedikit memaksa.


--


Bukan aku ingin menghindari Irsyad, tapi aku tidak ingin mematahkan prinsip yang telah aku buat setelah aku merasa sudah mencintai Rei, dan ingin berbagi semua hal dengannya – termasuk soal Irsyad.


Yang sedang aku timbang – timbang, apa penting aku menceritakan soal Irsyad dan perasaanku yang pernah ada padanya ke Rei? ....


Toh, sedikit banyak, Rei sudah tau dari Avi tentang Irsyad.


Dan jika aku ingat – ingat, sedikit banyak aku pernah membahas tentang Irsyad pada Rei. Segelintir saja memang.


Tapi sekarang aku ingat, jika hal yang ingin aku katakan pada Rei adalah soal Irsyad yang katanya mencintaiku.


Ya, itu yang ingin aku bahas dengan Rei.


Karena aku butuh solusi untuk itu. Noted, bukan karena ingin menanggapi Irsyad.


Tapi lebih kepada, aku ingin bagaimana bisa memberikan ketegasan pada Irsyad, untuk menghilangkan rasa cintanya padaku, seperti halnya aku.


Yang sudah menghilangkan perasaan cintaku untuk Irsyad.


--


Setelah menimbang – nimbang, pada akhirnya aku mengiyakan ajakan Irsyad untuk pulang bersamanya. Dan mungkin, aku akan bicara secara terbuka pada Irsyad selama dalam perjalanan. Dimana Irsyad akan mengantarkanku pulang ke apartemenku.


Noted, aku hanya akan membiarkan Irsyad mengantarku sampai parkiran saja.


Tidak untuk menurunkanku di lobi bawah, apalagi ikut turun segala.


Dan lebih – lebih mengundang Irsyad untuk mampir ke unit apartemenku dan Rei.


Big No!


Tidak saat Rei sedang tidak ada.


--


“Lia ....” suara Irsyad yang menyebut namaku saat aku sudah berada di dalam mobilnya, membuatku memalingkan wajah ke arahnya – setelah selama beberapa saat kami saling terdiam, dan aku memilih memalingkan wajahku ke arah jendela mobil. Habisnya aku sedang sedikit merasa canggung, selain risih.


“Ya, Kak?” sahutku seraya aku menoleh ke arah Irsyad, sedikit tersenyum.Tersenyum sangat tipis saja.


“Kamu lagi ada masalah?” tanya Irsyad padaku dan aku lekas menggeleng. “Kamu lebih pendiam tapi? ..”


Irsyad kembali bertanya padaku, dengan tatapan yang sedikit menyelidik kala mobilnya ia hentikan saat lampu merah.

__ADS_1


Rasanya aku paham kenapa Irsyad pikir jika aku sedang ada masalah, dan menjadi lebih pendiam dari biasanya aku-dikala bersama dia saat kami masih sering pergi bersama.


“Aku hanya sedikit lelah, Kak-“


“Ohh-“


“Jadi, Kak Irsyad mau bicara soal apa? ....”


Kepalang tanggung sudah diajak bicara, jadi aku langsung to the point aja bertanya pada Irsyad tentang hal yang ingin ia bicarakan denganku, sampai aku merasa jika Irsyad sedikit memaksa.


--


“Baru aku mau bilang, kamu tidur aja dulu, Li .... nanti kalo sudah sampe aku bangunin.” Alih – alih menjawab pertanyaanku to the point, Irsyad malah berkata seperti itu padaku.


Aku tersenyum kecil saja menanggapi ucapan Irsyad barusan itu. “Nanti aja sekalian aku istirahat di apartemen, Kak ....”


Irsyad hanya berdehem, tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapanku barusan.


Dan Irsyad terdiam lagi.


“Jadi, Kak? ....” Aku berucap lagi seraya bertanya pada Irsyad.


Tau sih, dia harus fokus juga pada jalanan.


Tapi dengan kondisi jalanan yang masih agak macet ini, aku rasa tidak masalah untuk mengajaknya bicara tanpa Irsyad akan kehilangan fokus dalam mengemudi, sambil ia menanggapi untuk bicara denganku.


Lagipula, aku ingin cepat – cepat saja rasanya menyelesaikan urusanku dengan Irsyad ini semata – mata agar aku tenang. Dan bukannya aku ingin terlalu – lalu menghindari atau menjauh dari Irsyad, tapi jika teringat kala dia menyatakan kembali perasaannya padaku dengan serius di Restoran kala itu sementara aku sudah pernah mengatakan padanya jika ada hati yang harus aku jaga, yang seharusnya Irsyad sudah paham maksudku itu – tapi sepertinya tidak.


Karena percakapanku dengan Irsyad yang kemudian terjadi sungguh membuatku sedikit geram padanya. Membuatku ingin segera pergi dari hadapan Irsyad dan lebih baik tidak perlu berhubungan lagi dengannya, walau hanya sekedar bertanya kabar.


“Jadi, Kak? ....” pertanyaanku sebelumnya pada Irsyad tentang apa yang ingin ia bicarakan padaku, sampai ia begitu ‘meluangkan’ waktunya menungguku selesai bekerja lembur. “Apa yang mau Kak Irsyad bicarakan denganku?-“


“Kamu udah makan, Li?”


Pertanyaanku bersamaan dengan Irsyad yang juga melontarkan pertanyaan denganku.


Aku spontan menggeleng. Jujur sekali aku ini, ya? .. padahal jawabanku itu bisa jadi boomerang buatku.


Dan begitulah yang terjadi. “Ya udah kita mampir dulu makan, ya?” Irsyad mencetuskan gagasan untuk mampir makan.


“Maaf, Kak. Tapi aku makan di apartemen aja. Udah malem juga ..”


Dan aku lekas saja menjawab memberi penolakan.


Tegas, namun halus.


Dan yah, aku harap Irsyad bisa menerima dan memakluminya.


Tapi .....


“Aku juga belum makan loh, Li .....”


Dan urusannya denganku?


Masih menjaga perasaan Irsyad. Yang mungkin karena aku sedikit naif – seperti yang pernah Rei katakan padaku, selain labil. Untuk naif, mungkin iya. Aku masih sedikit naif terkadang.


Namun labil sudah tidak.


Karena kelabilanku akan membuat hubunganku yang sudah harmonis dan mesra dengan Rei akan terganggu, yang mana aku tidak mau jika itu terjadi.


Terlebih jika kelabilan itu berhubungan dengan Irysad.


Aku tegaskan tidak, aku tidak akan menjadi labil dengan perasaanku cintaku pada Irsyad, yang sudah kupastikan tidak ada lagi sekarang.


Aku hanya dalam tahap menghargainya sebagai seorang teman yang baik dimasa kuliah dulu, saat ini. Jadi aku masih menjaga perasaan Irsyad, dalam aku bertutur kata dan bersikap padanya.


Dengan catatan, jika Irsyad bisa mengerti, memahami dan menerima apa yang menjadi keputusanku tanpa ada sebuah drama.


“Aku menyesal Kak Irsyad belum makan sih, tapi mau gimana ya, aku harus segera sampai apartemen, Kak,” responku pada ucapan Irsyad yang bilang kalau dia belum makan.


--


“Suami kamu memang ada di apartemen ya, Li?.....”


“Iya, ada.....”


Aku menjawab dusta.


“Oh-“


“Kak,” Aku memanggil Irsyad dengan kepalaku yang meneleng ke arahnya.


“Ya?-“


“Bisa sekarang Kakak katakan apa yang mau Kakak bicarakan sama aku?”


“Aku sebenarnya merasa kurang nyaman kalau kita ngomongin apa yang mau aku bahas ke kamu di mobil, Lia-“


“Ga nyamannya?”


Aku segera menukas.


“Di mobil ini juga Cuma ada kita berdua aja.”


“Meski begitu. Buat aku rasanya kurang nyaman aja sih, Lia.”


“Kak, kalo emang yang mau Kakak bahas itu dirasa penting, lebih baik Kakak bicarakan sekarang ke aku..” Aku memaksa. “Karena aku belum tentu lagi bisa menerima ajakan Kakak untuk bertemu, selain jika Kakak ingin membicarakannya di telepon..”


“Suami kamu yang melarang kamu untuk bertemu dengan aku?” tukas Irsyad dan aku dengan segera menggeleng.


“Kakak sebenarnya mau bicara apa?-“


“Kamu jawab dulu pertanyaan aku tadi, Li..”

__ADS_1


Irsyad memotong ucapanku yang bertanya lagi padanya.


“Suami kamu yang melarang kamu untuk bertemu dengan aku?-“


“Aku menolak untuk menjawabnya, sebelum Kak Irsyad mengatakan apa yang ingin Kakak bicarakan denganku sampai Kakak bela – belain nunggu aku selesai lembur.”


Aku berbicara dengan tegas, namun dengan tetap mempertahankan intonasi bicaraku.


Jujur saja, aku berpikiran positif atas ajakan Irsyad yang walaupun sedikit memaksa ini.


Aku berharap dia tidak akan membahas lagi soal perasaannya padaku, yang mana secara tidak langsung pernah aku tegaskan padanya baik via chat juga sambungan telepon tentang aku yang tidak mungkin lagi membalas perasaannya itu, walaupun tidak aku ucapkan secara mendetail soal alasanku – yang mana rasanya memang tidak perlu.


Dan aku berharap hal yang ingin Irsyad bicarakan ya bukan soal itu. Lagipula aku juga mungkin akan mengelak terang – terangan jika Irsyad tau – tau datang lagi dengan tiba – tiba dihadapanku.


Jadi aku mendesak Irsyad untuk bicara sekarang, dimana kulihat Irsyad menghela nafasnya yang terdengar berat setelah aku berucap tegas dengan tidak mau menjawab pertanyaannya soal Rei yang melarangku bertemu dengannya, seperti apa yang Irsyad duga.


"Aku ga main-main dengan apa yang aku katakan waktu di restoran waktu itu Lia .... Aku cinta kamu, sangat ...."


Gantian aku yang menghela nafasku dengan berat, setelah Irsyad berucap.


Kenapalah aku tidak membawa mobil sendiri hari ini? ....


Jadi aku tidak perlu berada dalam situasi yang sama lagi – dimana Irsyad mengungkapkan lagi perasaan cintanya padaku.


"Aku kembali ke Jakarta, itu karena kamu," lanjut Irsyad.


Aku memalingkan wajahku dari Irsyad kemudian, dan memandang lurus saja ke luar kaca mobil depan.


Aku sungguh malas menanggapinya.


Siapa juga yang meminta dia kembali ke Jakarta setelah sekian lama Irsyad asik sendiri dengan hidupnya di London sana?.


Bukan salahku, apalagi salah Rei, jika aku kemudian bisa jatuh cinta pada suamiku sendiri yang menyadarkanku, jika apa yang aku rasa pada Irsyad mungkin sebenarnya bukan sebuah cinta, namun obsesi.


Irsyad terdiam sejenak. Namun di detik berikutnya aku sungguh terkejut dengan apa yang Irsyad perbuat dengan lancangnya, karena Irsyad tau-tau memegang tanganku.


Menggenggamnya erat bahkan.


Dan disaat aku sedang berusaha melepaskan genggaman tangan Irsyad di tangan kananku itu, Irsyad kembali berbicara satu kalimat yang membuatku geleng – geleng miris.


"Dan aku ga percaya, waktu kamu bilang, kalau kamu udah cinta sama suami kamu ...."


Sok tau banget dia!.


“Kak-“


“Jangan membohongi hati kamu. Karena dari sejak kita bertemu lagi lalu menghabiskan waktu bersama, aku yakin kalau kamu juga mencintai aku, Lia ...."


Dimana aku terperangah dengan sangat setelah ucapan Irsyad yang memotongku untuk bicara tadi.


“Kamu begini ke aku karena tekanan suami dan orang tua kamu kan untuk menerima perjodohan kamu dan suami kamu tanpa kamu diperbolehkan untuk protes kan?-“


Demi Tuhan, apa – apaan Irysad itu?! ....


“A – apa Kakak bilang? ....” responsku.


“Kamu-“


“Tidak ada yang menekanku. Tidak orang tua, apalagi suami aku!-“


“Ga perlu takut untuk mengakui perasaan kamu ke aku, Lia. Hanya ada kita disini-“


“Stop, Kak,” potongku tegas. Aku jadi lumayan geram pada Irsyad sekarang karena membawa – bawa orang tuaku segala.


Irsyad menatapku lekat, karena aku yang berucap tegas padanya barusan itu.


“Aku tekankan sekali lagi pada Kakak, jika baik orang tua atau suamiku, tidak ada dari mereka yang menekanku untuk menerima perjodohanku ini..  So mind your words, please.”


Aku bicara dengan lebih tegas pada Irsyad.


Namun kemudian Irsyad malah terkekeh.


“Aku ga percaya-“


“Itu urusan Kakak-“


“Tentu itu seharusnya menjadi urusan aku. Kebahagiaan kamu prioritas aku, Lia. Dan aku sangat yakin kalau kamu tidak bahagia dengan pernikahan perjodohan kamu ini ... Seyakin aku merasa, jika kamu mencintaiku-“


Antara Irsyad sedang mabuk, atau dia sudah gila! ...


“Aku akan membantu kamu menyadarinya-“


“Aku sadar betul kalau aku mencintai suamiku! ... Reiji Shakeel!”


“Kamu mencintai aku, Lia ...”


Jantungku berdegup kencang.


“Sebesar aku mencintai kamu ...”


Bukan berdegup karena bahagia atas ucapan Irsyad.


Namun jantungku yang berdegup dengan cepat ini, justru sedang merasa was – was atas sikap Irsyad sekarang.


***


Bersambung ...


Episode ini lebih dari 2.000 kata, sebagai penebusan kemaren ga update.


Hehehe ...


Terima kasih masih setia.

__ADS_1


__ADS_2