
Selamat membaca....
****************
REIJI
Sudah 24 jam kiranya aku tidak mendapat kabar apa – apa dari Lia.
Ponselnya belum aktif juga, karena status pesanku masih sama, dan nada dering setiap kali aku menghubungi ponsel Lia itupun sama menandakan jika ponselnya tidak aktif.
Menghubungi ponsel Lia di jalur telepon biasa pun, yang menjawab bukan Lia di akhir nada.
Aku putus asa.
Tapi hanya menunggu diam saja di apartemen pun aku mana bisa? ...
Tapi aku juga tidak memiliki nomor ponsel teman – teman Lia selain Avi.
Hah!
Nanti setelah Lia aku temukan dan membawanya kembali ke apartemen, ada dua hal yang benar – benar tidak akan aku tunda untuk lakukan.
Pertama, aku akan menanyakan pada Andra tentang alat pendeteksi ponsel yang pernah ia katakan padaku untuk aku pasang di ponsel Lia.
Kedua, aku akan mengkopi semua nomor kontak di ponsel Lia, tak peduli jika Lia mungkin memberikan protesnya untuk itu.
Lagipula, aku berpikir untuk akan diam – diam mengambil data semua nomor kontak di ponsel Lia tanpa sepengetahuannya nanti.
Itu yang pasti akan aku lakukan tanpa lagi menunda seperti sebelumnya, karena memang aku tidak sampai kepikiran akan mengalami lagi hal yang pernah aku alami sebelumnya terkait dengan Lia yang ‘menyembunyikan’ dirinya dariku karena hubungan kami kembali bermasalah.
Masalah yang timbul karena kesalahanku sih memang dari awalnya.
Yang seharusnya aku konsisten dengan janjiku pada Lia untuk menjauhi Irly.
Dan seharusnya aku tetap konsisten juga untuk itu meskipun berkaitan dengan Argan, sebesar apapun aku menyayanginya.
Tapi ya itu.
Aku tidak tega pada Argan, pun kasihan pada Irly.
Yang akhirnya ketidaktegaanku pada bocah itu dan rasa kasihanku pada Irly malah menjadi simalakama untukku, pada hubunganku dan Lia yang belum lama membaik karena aku yang ingkar janji.
Ya itu, karena Argan dan Irly --- bukan maksud menyalahkan keduanya. Yang pada akhirnya membuat aku sedikit terikat atas dasar tidak tega, yang pada akhirnya aku jadi mengorbankan Lia secara tidak langsung --- selain menjadi tidak jujur padanya.
Hhh Lia ...
Dimana sih dia? ...
*****
Triinnggg
“Lia!”
Nada dering ponselnya yang berbunyi, membuat Reiji yang baru keluar dari dalam kamar mandi apartemennya dan Malia langsung melesat ke arah ponselnya berada.
‘Duh! ...’
Reiji mengaduh spontan ketika ia telah sampai di tempat ponselnya berada, dan melihat nama pemanggil di layar ponselnya tersebut.
__ADS_1
“Ya, Ir? ...” sapa Reiji pada si pemanggil yang meneleponnya itu.
“Ji,” jawab si pemanggil yang adalah Shirly.
“Ada apa, Ir? –“
“Sorry kalau gue ganggu –“
“It’s okay.”
Reiji menukas ucapan Shirly.
“Ada apa? ...”
Lalu langsung bertanya kemudian.
“Tapi sorry sebelumnya, kalo gue ga bisa ngomong lama – lama sama lo, Ir,” sambung Reiji. “Dan setelah ini gue mohon, jangan lagi hubungi gue ya?” tambah Reiji. “Gue –“
“Istri lo yang larang? ...” tukas Shirly.
“Bukan. Tapi gue yang membatasi.”
“Lo berubah sejak nikah, Ji –“
“Ir ...”
Reiji memotong ucapan Shirly.
“To the point, ada apa? ...”
****
REIJI
Jawaban Irly yang aku dengar perihal pertanyaanku padanya tentang ada apa dia menghubungiku.
“Dan Argan manggilin lo terus.”
Apa yang selanjutnya Irly katakan membuat hatiku mencelos.
“Gue mohon Ji, dateng sini temuin Argan ...” Irly melirih.
****
Sementara itu, di tempat yang berbeda ...
“Kamu udah gila Irsyad!” adalah Malia yang memekik tajam pada seorang pria yang telah menculiknya, katakanlah begitu.
Karena Malia dibawa dengan diam – diam setelah lebih dulu dibuat tidak sadarkan diri. Lalu sekarang Malia tidak tahu dirinya berada di mana, selain ia sedang berada di dalam sebuah kamar dan tadi terbaring di atas ranjang dalam kamar tersebut.
Malia tidak sempat menyisir dengan detail tempatnya berada saat ini, karena sudah keburu di buat was – was oleh laki – laki yang sedang bersamanya itu dan nampak hilang akal di mata Malia.
Lagipun, tirai dalam kamar tempatnya berada itu tertutup. Jadi Malia tidak tahu pasti apakah kamar tempatnya berada sekarang itu adalah kamar dari sebuah hotel, apartemen atau bahkan rumah dari pria yang menculiknya itu.
Irsyad.
“Memang! Dan kamu yang membuat aku gila!”
Irsyad meracau.
__ADS_1
“Kamu dan kemunafikan kamu yang tidak mau mengakui bahwa kamu sebenarnya mencintai aku!”
“Aku mencintai suamiku! Reiji Shakeel!”
Malia menukas tajam.
“Akh!”
Namun didetik berikutnya, Malia terdengar memekik.
“Jangan pernah menyebut namanya di depanku, atau aku tidak segan melucuti pakaian kamu.”
“Ja-jangan...“
“Tapi sepertinya itu ide bagus. Mengirimkan foto-foto kebersamaan kita di kamar ini pada suamimu itu...“
“Ja-ngan, Irsyad... aku mohon. Jangan...“ lirih Malia yang sudah benar-benar ketakutan dengan Irsyad saat ini.
“Makanya kamu harus patuh sama aku, Lia. Oke?...” ucap Irsyad yang kini ekspresi wajahnya telah berubah lagi menjadi lembut.
‘Rei...’ Malia melirih dalam hatinya. ‘Semoga kamu mencari aku...’
****
REIJI
“Argan panas banget badannya dari semalem, Ji ... Dan Argan manggilin lo terus. Gue mohon Ji, dateng sini temuin Argan ...”
Suara Irly yang melirih itu terdengar putus asa saat ia menjawab alasan mengapa ia menghubungiku, padahal kemarin aku sudah mengatakan pada Irly, kalau kemarin adalah hari terakhir aku datang berkunjung ke apartemennya.
Yah walau tidak tega sebenarnya meninggalkan Irly sendiri dengan kondisi Argan yang mengidap penyakit serius. Tapi mau bagaimana? Aku sudah menikah sekarang, dan aku mencintai perempuan yang aku nikahi itu. Dan aku menyadari kesalahanku padanya, meski Lia terkesan egois dengan memintaku menjauhi Irly atas dasar rasa cemburunya.
Aku sudah sering mencoba untuk mendekatkan Lia pada Irly, atau sekedar berkenalan lebih dekat.
Namun Lia begitu antipati pada sahabat perempuanku itu, dengan satu – satunya alasan yang aku tahu adalah Lia cemburu pada Irly. Dan semua itu karena Lia tahu aku pernah mencintai Irly di masa lalu.
Dan lagi, Lia sudah memergokiku yang sembunyi – sembunyi menemui Irly di belakangnya walau tidak ada embel – embel selingkuh atas itu. Jadi akan semakin tidak mungkin bagiku untuk membuat Lia mau berhubungan dengan Irly sebagai sahabatku.
Maka setelah kejadian Lia yang memergokiku kemarin itu, aku sudah membulatkan tekad untuk benar – benar menjauhi Irly.
Dan walau dengan berat hati juga, aku harus berhenti mengurusi Argan walau aku kasihan sekali pada anak itu. Sekali lagi mau bagaimana?
Aku juga tidak mau kehilangan Lia. Karena aku sangat mencintainya. Jadi lebih baik seperti ini saja. “Ir, gue menghargai persahabatan kita selama bertahun – tahun... Amat sangat berterima kasih, karena sedikit banyak lo ada jasanya dalam gue menentukan pilihan profesi yang gue ambil, dan pilihan gue tepat karena bantuan juga dukungan lo...”
Aku bicara panjang lebar, memilah – milih kata agar Irly tidak tersinggung dalam aku yang ingin memutuskan hubungan persahabatanku dengannya. Bagaimana nanti ke depannya, entah mungkin Lia bisa melunak, mungkin jalinan persahabatanku dan Irly dapat terjalin lagi. Hanya saja, untuk sementara ini aku harus benar – benar menjauhi Irly.
Bagaimana selanjutnya, akan tergantung pada Lia saja.
Jika ia melunak, Alhamdulillah. Namun jika tidak, ya sudah mau bilang apa kalau aku dan Irly bersahabat sampai sini saja.
“Tapi maaf Ir. Gue udah nikah sekarang. Gue punya istri yang harus jadi prioritas utama gue... Sorry, gue ga bisa nemuin Argan apapun yang terjadi...”
Lalu aku putuskan sambungan teleponku dan Irly. Kemudian aku langsung blok nomornya. Kejam. Tapi aku tidak mau hubunganku dengan Lia yang malah terancam.
Ah Tuhan, dimana istriku itu sekarang?
*******
Bersambung ...
__ADS_1