WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 63


__ADS_3

Selamat membaca....


***


Malia segera membersihkan dirinya setelah ia selesai mengobrol dengan Reiji di ponsel.


Sebelumnya Malia menghabiskan dulu mi instannya yang sedikit agak membengkak, karena tertunda untuk dimakan karena sesi telpon-telponan nya dengan Reiji sedikit agak lama, bahkan mi instan yang Malia buat itu sudah hampir dingin.


Tapi Malia tidak membuangnya, karena tidak tega rasanya membuang makanan, apalagi masih banyak begitu. Selain perutnya sudah keroncongan, dan ia malas juga untuk merebus lagi mi instan, lalu memulai proses penyediaannya lagi dari awal.


Juga tidak memikirkan makanan lain untuk ia makan selain mi instan. Jadi Malia habiskan saja mi instan yang sudah ia buat tadi sebelum menerima panggilan telpon dari Reiji, meskipun mi instan dalam mangkoknya sudah agak bengkak dan sudah tidak panas menggugah selera lagi.


“Iseng juga ya, ga ada si Rei disini...”


Malia sudah berbaring di atas ranjangnya dalam kamar di apartemennya dan Reiji.


'Sebelum tidur cek pintu kompor, jendela balkon, Yang.'


Sebuah chat dari Reiji masuk ke ponsel Malia.


Malia mendengus geli membaca chat dari Reiji yang baru saja masuk ke ponselnya.


'Pintu apartemen kan otomatis juga kuncinya kali.'


Begitu chat balasan dari Malia, menanggapi chat dari Reiji.


'Iya, meski gitu ga ada salahnya dicek' – Reiji.


'Iyaa – Malia.


'Nyalain tivi ga?' – Reiji.


'Engga' – Malia.


'Tapi tetep dicek juga' – Reiji.


'Iyaaa' – Malia.


***


MALIA


Meski rasanya sudah yakin kalau aku sudah mematikan kompor setelah membuat mi instan tadi, tapi tetap saja apa yang Reiji minta aku untuk lakukan dalam chatnya yang tak beberapa lama lalu masuk ke ponselku itu membuatku berjalan ke arah pintu masuk apartemen, ke pantri dan ke pintu penghubung balkon untuk aku periksa dan nyatanya semua uda oke, aman terkendali.


Pintu apartemen sudah terkunci, ya seperti yang aku bilang sama Reiji, kalau pintu apartemen kan akan terkunci otomatis kalau setelah dibuka dan itu tertutup kembali. Cuma bisa dibuka pake kartu akses dan password.


Kompor aman, bahkan pantri sudah bersih, karena aku langsung mencuci mangkok plus sendok n garpu termasuk gelas minumku setelah aku selesai makan. Pintu balkon memang ga aku buka sedari datang, tapi tetep aku cek dan kupastikan terkunci sesuai titah Bapak Reiji Shakeel yang cerewet itu.


Termasuk tivi di ruang tamu yang merangkap ruang santai juga aku tengokin, padahal udah jelas-jelas ga nyala. Berlebihan banget khawatirnya itu orang sama aku yang sendirian di apartemen.


Jadi inget waktu aku dan Avi mau liburan ke Thailand dimana Reiji sedang bertugas ke luar negeri dan padat jadwalnya kalo ga salah, jadi dia ga bisa menyertai kami berdua ke Negara yang memiliki sebutan sebagai Lumbung Padi di Asia Tenggara itu.


Panjang banget itu repetan dari Reiji yang bilang, nanti disana kalian begini, begitu. Jangan ini, jangan itu.


Bahkan aku dan Avi hampir aja ga jadi berangkat ke Thailand, kalo bukan Papaku dan Avi yang mana adalah Papanya Reiji juga yang membuat aku dan Avi akhirnya bisa liburan ke Thailand.


Tapi ya akhirnya ada sepupu cowo Avi dan Reiji yang akhirnya ikut menemani kami buat nge-jagain.


Aku rasa kalau Reiji tuh CEO tajir melintir, dia udah sewa bodyguard buat jagain aku dan Avi ke Thailand waktu itu.


Dan pasti di depan pintu apartemen udah ada juga jejeran bodyguard yang badannya macem The Rock.


Hah, jadi geli sendiri ngebayanginnya.


Lagian kalo Reiji itu CEO kek di novel-novel online, kami ga akan tinggal di apartemen minimalis seperti apartemen kami ini, melainkan di Penthouse atau Mansion mewah.


Halu!.


Hahaha!.


'Udah dicek semua?.'


Chat dari Reiji saat aku masuk kembali ke kamar, dan sudah kembali merebahkan diri di atas ranjang.


Setelah aku kembali meraih ponselku yang tadi aku taruh di atas kasur.


'Udah.'


Balasku singkat.


'Ya udah, kalo gitu, besok mungkin aku sampe Jakarta sekitar jam delapan atau sembilan malam' – Reiji.


'Iya' – Malia.


'Titipan aku jangan lupa dibeliin' – Malia.


'Iya Nyah' – Reiji.


'Siapin aja hadiah buat aku kalo semua titipan kamu ga ada yang  aku lupa' – Reiji.


'Mesum!' – Malia.


'Mesum juga sama istri sendiri' – Reiji.


'Dah ah, aku mau tidur' – Malia.


'Oke istriku' – Reiji.


'Nitey nite and sweet dream' – Reiji.


'Take care ya Rei' – Malia.


'I will' – Reiji.


'Love and Miss you' – Reiji.


Aku hanya bisa tersenyum tanpa bisa membalas ucapan terakhir Reiji dalam chat.


Dan untuk itu, aku selalu berkata maaf untuk Reiji dalam hatiku sendiri yang belum bisa bilang,


Love you too, Rei.


Cinta.


Satu kata, tapi bisa menyebabkan sebuah kerumitan dalam perasaan.


Masa lalu kamu. Apa kamu punya ‘seseorang’ dimasa lalu?.


Membuatku teringat kembali akan pertanyaan Reiji yang itu, saat kami mengobrol di telepon tadi.


Oh Rei, kenapa kamu harus mengajukan pertanyaan yang memantik ingatanku untuk mengingat seseorang yang selama tiga tahun ini aku tunggu.


Irsyad.


Satu nama dari laki-laki yang memenuhi ruang hatiku selama tiga tahun terakhir.


Yang membuat rasa hatiku tak menentu dalam masa tiga tahun itu. Tidak, bukan tiga tahun kala hatiku mulai tidak menentu karenanya.


Sudah dari tahun terakhir aku kuliah, hal itu aku sadari. Perasaanku pada Irsyad.


Cinta.


Aku mencintai laki-laki itu.

__ADS_1


Irsyad, kakak seniorku di Kampus dulu.


Yang pergi melanjutkan studinya ke Inggris, demi mengejar cita-citanya, yang sudah tidak aku tahu kabarnya selama dua tahun terakhir.


Yang orangnya udah keburu pergi, tanpa sempat aku mengutarakan perasaanku. Bahkan sampai saat hari terakhir dia berada di Jakarta.


Dimana memang, aku tidak memiliki keberanian untuk mengatakan pada Irsyad tentang perasaanku padanya.


Aku sudah bertekad untuk melupakannya, kala penghulu menyatakan SAH, selepas Reiji mengucapkan kalimat Ijab, dengan namaku yang tersebut didalamnya.


Aku sudah tidak lagi mengingat soal Irsyad sejak aku menikah dengan Reiji.


Tapi kenapa obrolan di telepon soal beberes dan soal barang-barang Reiji,  jadi malah membuat soal Irsyad malah aku ingat lagi di kepalaku.


Yang seharusnya tidak aku ingat dan kenang lagi, karena Irsyad sudah seharusnya berada dalam tumpukan masa lalu. Meskipun aku dan mantan kakak seniorku di kampus dulu tidak pernah memiliki hubungan apapun, walau kami juga cukup dekat kala itu.


Aku sudah seharusnya menghapus Irsyad dari hatiku, mengingat ia adalah suatu hal yang amat sangat ku inginkan dulu.


Seharusnya. Dan memang biasanya, aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan selama ini. terkecuali Irsyad. Dia keinginan yang tidak dapat aku gapai, sampai pada akhirnya aku dijodohkan dengan Reiji oleh kedua orang tua kami.


Banyak keinginanku dalam hidup, terkecuali Reiji. Yang tidak pernah aku inginkan, harapkan bahkan bayangkan untuk menjadi suamiku.


Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, aku hanya manusia biasa yang punya rencana dan keinginan.


Namun, ada Tuhan yang menentukan takdir manusia, bukan?.


Jadi kiranya aku pasrah.


Sudah tidak penting apa yang aku inginkan.


Oh bukan, siapa yang aku inginkan.


Tuhan sudah menakdirkan Reiji yang menjadi suamiku.


Yang baiknya aku terima dengan lapang dada, karena aku juga sudah berjanji pada Reiji untuk membuka hatiku untuknya. Agar Reiji bisa dengan cepat masuk ke dalamnya dan benar-benar menghapus rasaku pada Irsyad.


Agar harapku pada Irsyad sepenuhnya hilang.


Harapan yang seharusnya sudah aku hilangkan, mengingat sekarang aku sudah menjadi istri seseorang.


Seharusnya aku sekarang lebih fokus pada Reiji, dan pada pernikahan kami.


Seharusnya aku mementingkan itu.


Mementingkan tentang apa dan siapa yang sudah aku dapat saat ini.


Iya, seharusnya ....


****


Hari berganti, dimana malam juga telah datang kembali.


Malia sudah sampai lagi di apartemennya, namun ia belum menemukan keberadaan Reiji disana.


Baru pukul 7.30 malam sih memang, karena Reiji bilang akan sampai di Jakarta sekitar jam 8 / 9 malam.


Belum lagi selepas memarkirkan pesawat kan Reiji juga tidak bisa langsung melenggang pulang.


Cukup banyak tanggung jawab suami Malia itu dengan profesinya sebagai Pilot.


Jadi ada kemungkinan, Reiji akan sampai ke apartemen sekitar jam 11, atau mungkin tengah malam.


Membuat Malia sedang menimbang-nimbang, apakah ia harus memasak atau tidak untuk suaminya itu. ‘Ponsel Rei pasti masih mati sekarang,’


Monolog Malia dalam hatinya.


‘Gue kirim pesan aja kali ya, tanya dia mau gue masakin apa engga?’


‘Nanti pas dia sampe kan, pasti dia langsung aktifin ponselnya....’


Malia menimbang-nimbang.


‘Ya gue kirim pesen aja deh mendingan.’


Malia pun segera meraih ponsel dari dalam tas kerjanya.


'Rei, bales cepet pas kamu baca in chat ya. Kamu mau aku masakin ga?. Aku udah sampe di apartemen.'


Malia mengirimkan pesan chat dalam sebuah aplikasi ke nomor kontak Reiji.


Dan setelahnya, Malia bergegas menuju kamarnya dan Reiji, untuk meletakkan tasnya di dalam sana, kemudian pergi mandi.


****


Rencana Malia adalah akan menunggu kabar dari Reiji, baru ia akan memasakkan sesuatu untuk Reiji.


“Apa gue masakin aja ya, ga usah nunggu kabar dari Rei?”


Malia menggumam saat ia hendak masuk ke dalam kamar mandi.


“Gue bikinin spaghetti aja yang gampang....”


Malia menggumam lagi, sambil melangkahkan kakinya menuju pantri dalam apartemennya dan Reiji.


“Oke, abis mandi langsung gue bikin ini spaghetti!”


Malia mengeluarkan satu pak spaghetti kering dan bumbu instan dari dalam kulkas, lalu meletakkannya di atas meja pantri.


“Kayaknya sama chicken wings juga deh ah!”


Lalu ia kembali membuka kulkas dan mengambil satu pak chicken wing kemasan siap goreng yang masih baru.


Reiji sebenarnya kurang menyukai makanan-makanan instan seperti itu, namun Reiji memaklumi kemampuan masak Malia yang terbatas, terlebih Malia juga seorang pekerja kantoran, yang hanya bisa menyediakan waktu memasak makanan rumahan, hanya pada saat weekend.


Hal itu sudah Malia dan Reiji bicarakan sebelumnya, saat membicarakan soal pembagian tugas mereka sejak pindah ke apartemen.


Makanan instan lainnya masih bisa Reiji tolerir, kecuali mi instan yang dibatasi oleh Reiji untuk dikonsumsi Malia.


“Spaghetti, chicken wings, minyak goreng,” Malia mengabsen barang-barang yang sudah ia jejer di atas meja pantri. Kemudian ia bergegas ke kamar mandi setelahnya, dengan membawa serta ponselnya.


****


Hampir satu jam, dan Malia baru selesai dengan ritual mandinya.


Jika tidak sedang ada Reiji kala ia mandi, rasanya Malia bisa merasa tenang memanjakan dirinya sendiri.


Malia bisa berlama-lama berendam di dalam bathtub yang juga merangkap sebagai bilik shower yang disesuaikan fungsinya oleh developer yang membangun gedung apartemen tersebut sesuai dengan konsep dari setiap unit apartemen dalam gedung tersebut.


Dan berhubung apartemen hunian Malia dan Reiji merupakan apartemen minimalis, jadi setiap ruangan memang tidak terlalu besar, namun dibuat agar terlihat menjadi luas.


*****


REIJI


Pukul 20.05 WIB, pesawat  yang aku kemudikan dari Korsel telah sampai di Bandara Internasional yang terletak di Kota Tangerang, Banten.


Setelah pesawat telah aku daratkan dan kuparkirkan dengan baik di Bandara tersebut, dan setelahnya aku memeriksa segala bentuk teknis selepas penerbangan, aku langsung mengeluarkan ponsel yang aku simpan dalam Nav Bag kecilku tiga puluh menit kemudian.


Kemudian aku menyalakan ponsel tersebut, yang selalunya aku matikan saat penerbangan.


Dan sudut bibirku tertarik, kala setelah aku nyalakan ponselku, ada chat dari Malia.


Aku pikir isi chat Malia akan berbunyi,

__ADS_1


'Rei, oleh-oleh aku lupa ga?.'


Tapi ternyata, Malia menanyakan apa aku ingin dia masakkan sesuatu.


Duh, perhatiannya istriku itu.


Bikin aku pengen cepet-cepet segera sampai apartemen aja.


Dan aku pun mesem-mesem sembari berjalan menuju area tempat dimana jemputan untuk kru pesawat telah menunggu aku dan beberapa kru yang ikut penerbangan bersamaku, dan tidak membawa kendaraan pribadi mereka.


'Ga usah Yang, nanti pesen online aja.'


Aku menuliskan sebuah pesan balasan pada Malia, yang tak seberapa lama datang chat balasan dari Malia.


'Telat ngomongnya, aku udah terlanjur ngolah spaghetti sama chicken wings.'


Membuat senyumku terbit lagi.


'Ya udah nanti aku kasih hadiah semaleman kalo gitu.'


Dan aku iseng menggoda Malia di balasan chat-ku selanjutnya.


Hanya saja pesan itu tak berbalas lagi, sampai aku telah masuk ke dalam mobil jemputan, lalu aku terlelap sepanjang perjalanan dari Bandara menuju apartemen.


Mungkin istriku itu sudah fokus membuat spaghetti dan chicken wings, yang mana instan itu.


Walau begitu, aku tetap senang, Malia masih memperhatikanku, menyempatkan membuat makanan untukku walau instan, meskipun dia telah bekerja dari pagi sampai sore.


Tapi begitu, kadang aku masih merasa miris.


Karena aku belum menemukan kehangatan saat aku pulang ke apartemen dari Malia.


Kehangatan dari cinta Malia yang belum ada untukku.


Hhh Malia, begitu sulitkah untuk kamu mencintaiku?.


****


Malia berusaha membuka matanya, saat ia merasakan kecupan-kecupan di sekitar wajahnya. Ia pun kemudian mengerjap kecil, saat kecupan-kecupan itu makin nyata ia rasakan menghujani wajahnya itu.


“Rei .... kamu udah pulang?” ucap Malia dengan suara yang sedikit serak, karena ia memang jatuh tertidur di sofa panjang pada ruang tamu dalam apartemennya dan Reiji.


Namun dengan ukuran sofa yang disesuaikan dengan ruang tamu apartemennya dan Reiji yang merangkap juga sebagai ruang santai itu.


“Kok tidur disini? ....” balas Reiji yang bersimpuh disisi sofa dekat kepala Malia.


“Abis masak aku tidur-tiduran sambil nonton tv, eh malah pules ....” ucap Malia lagi sambil bangkit dari posisinya.


“Ya udah, terusin tidurnya di kamar gih.”


Malia menjawab ucapan Reiji dengan gelengan.


“Aku siapin makanan dulu buat kamu.”


“Ga usah, aku bisa ambil sendiri kok ....”


Reiji tersenyum sambil tangannya terulur ke atas puncak kepala Malia.


“Udah sana kamu ke kamar aja dan tidur duluan .... Aku bisa ngurus diri aku sendiri kok, Yang ....”


“Mendingan kamu aja gih yang istirahat dulu, lagian spag -----”


Belum sempat Malia meneruskan kalimatnya, Reiji sudah dulu membungkam istrinya itu dengan sebuah ciuman.


Bukan hanya ciuman singkat, tapi sudah berbalut ga*rah yang sudah tidak tertahan, karena Reiji memang tidak tahan jika sehari aja tidak bergelut di atas ranjang dengan istrinya itu.


“Rei ....”


Suara lirih Malia yang terdengar seksi di telinga Reiji itu makin menambah ga*rah Reiji saja. “Aku dapet ....”


Reiji yang bibirnya kini sudah berada di leher Malia itu menghentikan aksinya.


“Heu? ....”


Reiji memandang Malia sembari ia sedang menelaah kata-kata Malia barusan.


“Aku lagi halangan ....” kata Malia dengan menarik sudut bibirnya. “Palang merah ....”


Lalu Malia berdiri dari duduknya, dan melangkah ke pantri untuk mengeluarkan spaghetti yang sudah ia rebus namun belum ia campur bumbu dari dalam kulkas, dan memanaskannya kemudian.


Sementara Reiji berikut adik kecilnya pun seketika menjadi lesu, sembari memandang Malia yang berlenggak lenggok menuju pantri dari tempat Reiji sekarang yang duduk bersandar di sofa yang tadi Malia tiduri, dengan bahu Malia yang nampak sedikit bergetar, karena kenyataannya Malia sedang cekikikan.


‘Apes!’


Reiji merutuk dalam hatinya.


‘Lagi on-on nya terus taunya istri lagi dateng bulan tuh .... disini ....’


Reiji menatap lesu dan iba pada sesuatu yang sudah terasa sakit di dalam celananya.


Kesiiiiiaaaannn ....


****


Malia rasanya puas cekikikan setelah melihat wajah lesu Reiji saat dia mengatakan kalau dirinya sedang datang bulan saat ini, kala Reiji sudah mulai mencumbuinya di sofa pada ruang tamu merangkap ruang santai apartemen mereka itu.


Dan memang benar adanya Malia sedang datang bulan, yang mana baru dia ketahui saat mandi tadi ketika ia sampai di apartemen, setelah pulang kerja.


Dan entah apa yang dilakukan Reiji di kamar mandi, karena durasi mandi Reiji Malia sadari sedikit lama dari biasanya.


Dan Malia telah selesai mengolah spaghetti berikut saus bolognaise yang telah ia campurkan dengan spaghetti yang telah tersaji di dua piring.


Berikut chicken wings dalam wadah berbeda, yang sudah juga Malia panaskan sebentar di dalam microwave dan sudah juga ia sajikan di atas meja makan, berikut air minum untuknya dan Reiji.


Malia kembali ke ruang tamu yang merangkap ruang santai, sambil menunggu Reiji selesai mandi, untuk makan bersama. Malia juga merasakan perutnya sudah kembali lapar padahal tadi sudah ia isi dengan roti dan susu.


Tapi kemudian matanya melihat Navy Bag Reiji, berikut ponsel suaminya di atas sofa.


Malia yang risih melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya itu, kemudian mengambil Nav bag Reiji berikut ponsel suaminya itu, untuk ia bawa ke dalam kamar.


Reiji hanya membawa koper kecil berisi pakaian gantinya saja saat ia masuk ke dalam kamar dengan wajah lesu karena sang istri sedang tidak bisa diajak ulala beibeh, karena sedang datang bulan.


Namun perhatian Malia tersita, kala ponsel Reiji bergetar dan berdering pelan ditangannya, dan melihat ada panggilan masuk ke ponsel suaminya itu.


Tidak aneh sih jika ada panggilan yang masuk ke dalam ponsel suaminya itu, hanya saja nama pemanggil yang masuk ke ponsel Reiji membuat Malia mengernyitkan sedikit dahinya.


Shirly.


Dan waktu yang tertera di sudut kiri atas ponsel Reiji membuat Malia membatin, karena merasa tak wajar atas panggilan dari Shirly tersebut.


‘Ngapain dia jam segini nelponin laki orang?’


****


Bersambung ....


Noted: Untuk kalian pembaca novel ini yang mengikuti juga sekuel kedua dari Bukan Sekedar Sahabat, yakni ‘Heirs of The Adjieran Smith’, mohon bersabar dengan update-an, karena authornya sedang ngejar target kata di karya ini, dan satu karya lainnya othor yang sudah kontrak.


Update episode terbaru ‘Heirs of The Adjieran Smith’ akan diusahakan secepatnya.


Jadi harap maklum ya,


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2