WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 231


__ADS_3

Selamat membaca....


🕗🕘🕓


REIJI


Sebuah kutipan yang pernah aku baca menuliskan,


Tidak ada yang namanya bohong untuk kebaikan. Yang ada, s**atu kebohongan memiliki kekuatan untuk mematahkan seribu kebenaran. Dan kepercayaan dari orang yang kita bohongi, akan sangat sulit lagi untuk didapatkan.**


Dan aku mengalaminya. Satu kebohonganku pada Lia, akhirnya merambat kepada suatu hal yang amat sangat tidak menyenangkan.


Sekaligus harus mendengar ucapan Lia yang membuat hati rasa tak karuan.


“Rei, cerai yuk?”


------


Berawal dari hari ulang tahunku, dimana semua berjalan begitu menyenangkan. Ulang tahun yang aku anggap spesial, karena di ulang tahunku pada tahun ini ---- aku memiliki istri. Istri yang aku kenal dari sejak ia lahir ke dunia, yang kini tidak akan menodong  traktiran nonton di premiere bersama adikku.


Yang tidak sekedar memberiku ucapan hanya dengan sekedar jabat tangan dan cipika cipiki yang singkat.


Walaupun Lia rajin memberiku kado saat aku ulang tahun, namun kebiasaannya itu berhenti sejak Malia duduk di bangku kuliah.


Paling – paling Lia hanya akan mengulurkan tangannya, lalu bilang, “Happy birthday ya Rei, WATB ....”


Tapi sekarang berbeda.


Lia memberikanku sebuah cake berukuran sedang tepat di jam dua belas malam, dan hadiahnya di ulang tahunku ini sungguhlah luar biasa.


Bukan cakenya yang luar biasa, tapi penampilan Lia yang membuatku dengan cepat meniup lilin formalitas ---- dan cakenya aku simpan dengan cepat ke atas meja dalam kamar kami, kemudian aku langsung menikmati saja ‘kado’ dari Lia yang adalah dirinya, dalam balutan pakaian super seksi.


------


Aku sungguh tidak menyangka, jika Lia sampai memikirkan untuk mengadakan perayaan kecil – kecilan, namun spesial untuk ulang tahunku.


Dulu, sebelum kami menikah sih ---- dan beberapa tahun belakangan sudah tidak lagi dilakukan, setiap aku - Lia dan Avi bahkan orang tua kami ada yang berulang tahun, kami akan mengadakan acara makan bareng yang entah dirayakan di rumah, atau di restoran.


“Rei ....”


Lia yang berada dalam dekapanku dengan keadaan tubuh kami yang sama – sama polos itu memanggil sambil mengangkat dirinya, lalu menopangkan tangannya di atas dadaku.


“Kenapa, udah siap buat tempur lagi?” sahutku dan Malia langsung mencebik sambil memukul dada polosku.


“Amit ih!” kata Lia.


Dan aku tersenyum geli saja karenanya.


“Rei ....”panggil Lia lagi, dan aku kembali menyahut.


Lia tersenyum lembut, dan aku membalas senyumannya itu.


“Nanti beneran pulang kan, tugas hari ini ga ada acara stay di tempat kamu nganter itu anggota The Sultan? ....”


Aku pun lekas mengangguk karena memang aku pulang hari di jadwal kerjaku di hari ulang tahunku itu. “Iya, sayang ...”


Senyum Lia kian mengembang kemudian. “Sebentar ...” ucap Lia sambil mengangkat tubuh polosnya itu, kemudian membelakangiku yang juga sudah mengangkat tubuhku sedikit lebih tinggi.

__ADS_1


Memperhatikan Lia yang membuka laci di nakas tempat tidur sampingnya, dengan satu tangan memegangi selimut untuk menutupi dadanya.


“Ini ...”


Lia menyodorkan selembar kertas padaku, yang mana adalah sebuah form pemesanan sekaligus tanda terima yang keterangannya sudah Lunas.


“Aku udah nyiapin acara dinner kecil – kecilan buat ngerayain ulang tahun kamu, Rei. Tapi untuk sekarang ini kamu sama aku aja, ya? .... Yang acara keluarga nanti atur lagi, tergantung jadwal kamu.”


“Ya ampun, Yang ....”


Aku sampai terkesima, karena cetusan candle light dinner dari Lia ternyata benar – benar telah dia persiapkan, bahkan dengan matang.


“Kenapa?”


“Kamu sampe nyiapin ini semua?”


Aku senang dan haru disaat yang bersamaan.


“Iya .... Aku bingung mau kasih kado yang gimana, dan ini yang terbersit di otak aku ---“


“Makasih, ya, Yang?”


Aku langsung menarik pelan Lia dan membawanya masuk ke dalam dekapanku.


Lia pun langsung mendekap balik tubuhku.


“Iya, sama – sama,” jawab Lia. “Dari bandara, nanti langsung ke hotel aja ya?”


------


“Kayaknya engga akan ada perubahan, karena kamu tau sendiri kalau orang-orang di keluarga Adjieran Smith terlalu jarang untuk asal mengubah jadwal mereka,” ucapku kemudian.


Lia pun mengangguk senang.


Dan aku pun sama senangnya.


------


“Yang, aku udah siap – siap mau balik ke Jakarta. Tapi nanti pas sampai aku ga telfon lagi ya? Baru ngeh hp aku lowbat, dan kayaknya ga sempet waktu buat ngecharge karena pb juga ketinggalan di mobil.”


Yang aku katakan pada Lia


Tapi bukan seperti itu adanya.


Karena aku telah sampai di Jakarta lebih cepat dari jadwal yang sedikit dipercepat.


Tapi aku berbohong pada Lia.


Aku langsung bergegas pergi dari bandara selepas aku berbicara pada Lia setelah landing tadi.


Dan juga sesuai yang aku katakan, aku menghemat baterai ponselku.


Jadi aku tidak mengabari Lia jika aku sudah tiba di Jakarta, walaupun ponselku telah aku nyalakan kembali. Nanti akan aku charge saat aku sudah berada di dalam mobilku.


Toh aku juga akan langsung menyambangi hotel tempat kami janjian untuk bertemu dan melepas rindu sambil melepas semua pakaian kami.


Pikirku.

__ADS_1


Dan waktu kedatanganku di Jakarta yang lebih cepat dari jadwal----tapi aku mengatakan pada Lia satu jam lebih lambat tentang ketibaanku sekiranya karena aku berpikir mungkin saja aku dapat lebih dulu tiba di hotel sebelum Lia dan memberikannya kejutan kecil.


------


Di saat aku baru saja memasuki mobilku, ponselku yang baru aku nyalakan saat berjalan menuju mobil lalu aku masukan ke saku celana ---- berdering dan bergetar. Aku pikir adalah Lia, tapi ternyata nomor kontak seseorang yang aku hafal ---- namun tidak lagi aku simpan di buku teleponku nomor kontak itu.


Aku kenal siapa pemilik nomor kontak tersebut, tapi karena Lia aku tidak menerima panggilan yang berlangsung sampai dua kali itu ---- atas janjiku pada Lia untuk tidak lagi berhubungan dengan si pemilik nomor yang memang sedang aku jauhi demi Lia.


Aku menghela nafasku frustasi ketika deringan ponselku berhenti.


Sedikit banyak, aku rasanya tak enak hati pada orang yang barusan mencoba menghubungiku itu.


Irly, sahabat perempuanku yang tidak disukai istriku. Dan atas dasar itulah, aku mulai menjauhi Irly walau tak tega pada Argan sebenarnya ---- yang apabila Irly mencoba menghubungiku sejak aku benar – benar menjauhinya, itu atas permintaan Argan yang ingin berbicara denganku.


------


Irfan


Kulihat nama pemanggil di ponsel yang aku letakkan di atas kaca bawah setir mobilku yang sudah aku lajukan.


Yang kemudian aku terima panggilan dari salah satu sahabatku itu, saat aku berhenti akibat kemacetan.


“JI!”


Seruan Irfan yang memanggil namaku langsung terdengar ketika aku menjawab panggilannya.


“Ja! Ji! Ja! Ji!” sahutku. “Assalamu’alaikum, woy!” ucapku kemudian, sambil mengulum senyum.


“Wa’alaikumsalam,” balas Irfan, dan aku langsung mendengus geli.


“Ada apaan?”


“Ji ---“


“Ngomong singkat, padat, jelas, karena hp gue lowbat ---“


“Ji, Argan collapse.”


Aku spontan terdiam ketika ucapan itu aku dengar dari mulut Irfan.


“Collapse gimana maksud lo? ....”


Kemudian aku bertanya untuk memastikan.


“Argan punya kelainan jantung bawaan ternyata, Ji. Dan dia harus di operasi secepatnya. Tadi Irly telfon gue pas Argan kambuh, tapi dari beberapa jam lalu kita orang susah hubungin lo ---“


“Argan dimana sekarang?” tukasku.


“PHPC ---“


“Gue kesana ....“


Dan dari sini, kekacauan hubunganku dengan Lia bermula.


♣♣♣♣♣♣♣♣


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2