WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 248


__ADS_3

Selamat membaca....


****************


MALIA


“Kita ditakdirkan untuk bersama Lia. Aku tahu kamu mencintaiku, tapi kamu takut pada suami kamu kan?...”


Aku bergidik, namun juga kesal disaat yang bersamaan mendengar ucapan Irsyad yang barusan itu. “Ngaco kamu!” dan atas kekesalanku itu, aku sedikit melupakan rasa takutku pada laki-laki yang sudah rasanya tidak waras ini.


“Dia terlalu menekan kamu Lia, dan aku tidak akan membiarkannya...“


Namun Irsyad tetap dengan pikirannya yang ngaco itu.


“Rei ga pernah menekan aku...“ Dan aku dengan spontan memberikan sergahan atas ke-ngaco-an si Irsyad itu.


"DIAM!" Namun kemudian Irsyad langsung berseru dengan sangat kencang dan menatapku dengan nyalang.


Dan kembali, aku dibuat menjadi sangat takut dengan Irsyad yang seperti itu.


Sama takutnya seperti saat Irsyad menunjukkan ekspresi tersebut dikala aku mengatakan padanya jika aku mencintai Rei.


Hanya saja, kali ini Irsyad tidak mencengkeram daguku.


Namun tetap saja aku takut dan juga waspada, karena setelah berseru dengan kencang tadi --- berteriak sih lebih tepatnya, Irsyad berseru lagi.


"Ini peringatan kedua! Kamu yang sudah aku larang menyebut nama suami sialan kamu di depan aku!"


Irsyad memberikanku peringatan sekali lagi dengan tajamnya.


Namun kemudian,


"Dia sudah mencuci otak kamu, tau?..."


Irsyad bicara dengan tak lagi berseru tajam padaku.


Namun datar suaranya. Dan meski begitu, aku tetap mengambil sikap waspada.


🍂


🍂


Memilih untuk diam, Malia tidak lagi menanggapi ucapan Irsyad.


Istri Reiji itu pun telah spontan mundur dari sejak Irsyad berseru kencang padanya.


Namun Malia tetap memasang sikap waspada nya, selama Irsyad masih ada di dekatnya.


"Tapi tenang saja, karena aku akan menghentikannya..." lanjut Irsyad sementara Malia masih pada posisi waspadanya.


'Irsyad begitu mengerikan sekarang.'


Malia membatin setelah ia memperhatikan sikap Irsyad yang bisa berubah ekspresinya hanya dalam sekejap mata.


'Bisa-bisanya dia bilang Rei mencuci otak gue? Otaknya sendiri yang harus direparasi!---'


"Dia tidak akan menemukanmu sih. Tapi jika dia sampai bisa menemukan kamu di sini, maka aku tidak akan segan untuk membuatnya berhenti menekan kamu, untuk selama-lamanya."


"Ir-syad, i-tu..." gagap Malia. Dimana Malia spontan gemetar ketika melihat sesuatu yang Irsyad keluarkan dari salah satu saku celananya.


"Lebih baik kamu berharap dia tidak pernah bisa mengetahui keberadaan kamu, karena tepat disaat aku melihatnya, aku tidak akan segan melubangi kepala dan tubuh suamimu itu dengan peluru yang ada di dalam pistol ini---"


Gluk!


Malia menelan ketat salivanya.


🍂


🍂


MALIA

__ADS_1


"Jika kamu memang khawatir pada suamimu itu, lebih baik kamu berdoa agar dia jangan sampai menemukan kamu dan datang ke sini."


Irsyad bicara lagi padaku, setelah ia mengeluarkan ancaman yang sungguh membuatku takut dan dilema disaat yang bersamaan.


Dimana sejak aku menyadari jika Irsyad telah menculikku, aku berkali-kali berdoa dalam hati agar Rei segera datang ke sini dan menyelamatkanku dari Irsyad yang sudah tidak waras ini.


Walaupun aku ragu jika Tuhan mendengar doaku yang tidak menjalankan kewajibanku sebagai umat sejak Irsyad menawanku di tempatku berada sekarang ini. Tidak ada mukena disini, dan aku enggan memintanya pada Irsyad.


Jangankan melakukan kewajibanku sebagai umat.


Aku saja belum mengganti pakaianku sejak aku di tawan Irsyad di tempatku berada sekarang ini, dan aku juga tidak bebersih diri.


Hanya sekedar cuci muka dan kumur-kumur saja.


Karena meskipun ada kamar mandi dalam kamar tidur tempat Irsyad menawanku ini, dan lengkap juga peralatan mandi di dalam kamar mandi tersebut, aku enggan untuk membersihkan diri dengan total karena aku takut jika Irsyad yang tak waras itu meletakkan sebuah kamera tersembunyi di dalam sana.


----


“Tenang saja, Lia... Aku hanya membius kamu dan membawa kamu ke tempatku, dan tidak melakukan hal yang lebih dari itu... Meskipun aku ingin sekali membuat kamu menjadi milikku seutuhnya. Dan kita bersama selamanya.”


Ucapan Irsyad yang itu, yang membuatku enggan selain waspada dan takut hingga aku paranoid jika Irsyad memasang kamera tersembunyi dalam kamar mandi dalam kamar tempatku berada ini.


Sekali lagi, aku tidak ingin kecolongan seperti halnya aku yang sudah kecolongan hingga Irsyad bisa sampai membiusku tanpa aku sadari.


Tidak sudi juga jika Irsyad sampai melihat tubuh polosku jika aku memutuskan untuk mandi guna menghilangkan ketidaknyamananku atas tubuh yang rasanya sudah lengket ini.


Selain pakaianku yang belum aku ganti.


Tapi tidak, aku tidak mempedulikan tubuhku yang kurasa lengket ini, dan pakaian yang sudah dua hari masih aku kenakan.


Jangankan mandi, mengganti pakaianku dengan pakaian yang telah Irsyad persiapkan untukku dalam sebuah paperbag pun aku tidak mau.


Sungguh aku tidak ingin mengambil resiko. Karena aku sudah amat sangat paranoid tentang hal-hal yang dapat Irsyad lakukan, yang mana itu adalah sebuah ancaman bagiku.


“Tapi tenang saja, karena aku akan menghentikannya.. dia tidak akan menemukan kamu sih..”


Dan bicara tentang ancaman, kali ini Irsyad memberikan ancaman yang tidak main-main.


“Tapi jika dia sampai bisa menemukan kamu di sini, maka aku tidak akan segan untuk membuatnya berhenti menekan kamu, untuk selama-lamanya..“


🍂


🍂


‘Ya Tuhan..’


Malia langsung melirih takut dalam hatinya, ketika Irsyad mengeluarkan sebuah senjata api dari dalam saku celananya----termasuk kalimat ancamannya, yang Irsyad tujukan untuk Reiji.


‘Aku berharap suamiku itu segera datang untuk menolongku, tapi aku juga tidak mau jika sampai nyawa Rei terancam bahaya karena kegilaan Irsyad.‘ lirih Malia lagi dalam hatinya.


Malia mulai gemetar, dan rasanya keringat dingin mulai ia rasakan keluar dari dalam tubuhnya setelah melihat senjata api yang Irsyad tunjukkan padanya.


‘Engga, engga, Rei jangan sampai datang kesini! Gue yang harus mencari cara untuk bisa kabur dari sini! Tapi bagaimana?---‘


“Makan makanan kamu, Lia. Atau aku yang akan memaksa kamu makan dari mulut aku. Mau?..”


Gluk!


Malia menelan ketat lagi salivanya.


🍂


🍂


Sementara itu di tempat di mana Reiji berada...


“Jadi, berikan saja alamat Villa tempat pria itu membawa istri saya.”


Ada Reiji yang tengah sangat gusar setelah mengetahui keadaan Malia.


Ucapan yang keluar dari mulut Reiji terdengar sedikit memaksa kepada lawan bicaranya yang merupakan bosnya itu, tapi mau bagaimana? Reiji sudah ingin buru-buru menyelamatkan Malia yang diketahui diculik oleh Irsyad bahkan sampai dibius segala.

__ADS_1


“Orang kami akan menemanimu. Dan sudah ada juga orang kami yang sudah on the way pergi ke Villa itu untuk melihat situasi..“ Sang bos muda pun menanggapi ucapan Reiji.


“Kami tau kau gusar, tapi kau tidak bisa bertindak gegabah. Pria yang terobsesi dengan istrimu itu mungkin bukan kriminal kelas kakap yang pernah mencari masalah dengan keluarga kami. Tapi kau tidak bisa meremehkan orang gila, karena keselamatan istrimu taruhannya.“ Setelahnya, salah satu ayah angkat dari bos muda Reiji itu menimpali ucapan anak angkatnya itu.


“Beberapa orangku akan menyertaimu.”


Sang bos muda bicara lagi.


Dan Reiji pada akhirnya menganggukkan kepala, setelah ia menelaah dengan cepat perkataan bos muda dan salah satu ayah angkatnya tersebut. “Baiklah Tuan..”


Reiji lalu berujar, dan satu orang yang Reiji ketahui adalah salah satu orang kepercayaan bos mudanya selain dari pria yang bernama Kafeel itu kemudian berdiri dari duduknya.


“Kita berangkat sekarang, Pak Reiji?..”


🍂


🍂


MALIA


Aku terpaksa memakan makanan yang Irsyad bawakan untukku, karena aku takut akan ancamannya.


Yang mana aku tidak sudi, jika Irsyad sampai mencium bibirku lagi seperti waktu itu.


Dan aku melihat Irsyad tersenyum ketika kulirik dia sedang memperhatikanku mengambil sepotong sandwich dari piring yang berada di atas nampan pada meja sedang yang ada di dalam kamar tempatku berada ini.


“Dihabiskan ya?”


Aku tidak menjawab ucapan Irsyad yang barusan itu.


“Tenang saja, aku ga memasukkan obat tidur atau obat perangsang di dalam sandwich dan teh itu..”


Irsyad berkata lagi.


“Sekarang bisa tinggalkan aku sendiri?..”


Aku berkata dengan datar tanpa menolehkan kepalaku untuk melihat ke arah Irsyad, namun ekor mataku memperhatikan gerak-geriknya.


“Baiklah,” jawab Irsyad. “Jangan lupa memanggilku dengan lonceng ini jika kamu butuh sesuatu..”


Irsyad menyentuh lonceng yang ia letakkan di atas meja yang sama dengan nampan berisikan dua potong sandwich di piring dan secangkir teh hangat yang sudah aku pegang ini.


“Jika ada makanan dan minuman lain yang kamu inginkan, jangan sungkan untuk memintanya ya?..” ucap Irsyad lagi, dan aku tak menanggapinya. “Ah iya, satu lagi. Entah sudah aku katakan ke kamu atau belum. Tapi aku tidak memasang kamera tersembunyi di sini, termasuk di dalam kamar mandi..”


Ish! Ingin sekali aku sumpal mulut si Irsyad itu.


----


Aku sudah tak tahan mendengar ocehan Irsyad, selain aku tak tahan untuk segera kabur darinya.


Dan aku sedang menunggu momen itu, setelah aku tidak bisa membuka pintu balkon ataupun kabur dari jendela karena jendela dalam kamar tempatku berada ini dipasang teralis.


Momen dimana Irsyad lengah, lalu aku harus menggapai pintu kamar yang menjadi jalan keluarku satu-satunya untuk bisa kabur dari Irsyad karena aku tidak ingin Rei sampai menemukanku di sini karena nyawa Rei sungguh terancam.


“Ya sudah, aku tinggal dulu, ya?”


Irsyad berujar, dan momen yang aku tunggu pun datang.


Laki-laki yang sudah tak waras itu membalikkan badannya sebelum ia mencapai pintu.


Maka,


BRUKK!


Kuhantamkan sebuah pot bunga hiasan yang ada di atas meja ke kepala Irsyad dari arah belakangnya.


🍂🍂🍂


Bersambung.......


Mohon maaf untuk update yang sangat slow.

__ADS_1


Harap maklum, bulan puasa en udah deket lebaran.


😁


__ADS_2