WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 115


__ADS_3

Selamat membaca....


***


MALIA


Aku yang tidak melihat keberadaan Reiji dalam unit apartemen kami, bertanya-tanya sendiri tentang keberadaan laki-laki yang merupakan suamiku itu.


Hari masih pagi dan Reiji tidak ada. Aku rasa tidak mungkin Reiji pergi jogging, karena sepatu olahraga miliknya berada di dalam walk in closet. Sudah berangkat kerja pun rasanya tidak, karena yang aku lihat di jadwal kerjanya tadi, Reiji baru akan bertugas saat sore hari.


Dan lagi, seragam termasuk Navy bag Reiji yang selalu ia bawa saat bekerja, juga masih berada di dalam walk in closet.


Atau mungkin Reiji punya stok cadangan seragam di Bandara?.


Tapi apa iya Reiji pergi begitu saja tanpa pamit padaku?... Yah, walaupun aku bersikap kelewatan dengan mengunci pintu kamar kami semalaman.


Tapi sebelum ini setelah kami pernah juga sempat bertengkar, Reiji tetap bicara dan tidak mendiamkanku.


Tetap memberitahu ia berangkat bekerja, walaupun tidak secara langsung-lewat pesan chat.


Dan kemudian otak-ku berspekulasi. Apa Reiji sudah pergi dari semalam?.. Aku bahkan menuding dalam dugaan, jika Reiji mungkin saja pergi ke tempat Shirly. Dadaku sedikit bergemuruh membayangkan jika hal itu benar.


Namun kemudian, dugaan negatifku itu menguap kala pintu apartemen terbuka, dan Reiji muncul setelah pintu terbuka dengan bungkusan yang ada di tangannya.


“Aku beli sarapan..”


Reiji berkata setelah ia melihatku berdiri di dekat pantri. Namun aku tidak menyahut.


“Lelaki impian kamu hebat—“


Tahu-tahu Reiji mencibir, saat aku telah membuka pintu kulkas.


“Sampai membuat kamu lupa dengan pembagian tugas yang bahkan kamu sendiri yang atur..”


Aku rasanya tahu ucapan Reiji itu mengarah kemana, kala aku melihat isi dalam kulkas yang cukup kosong. Aku lupa belanja isi dapur, yang mana itu adalah tugasku.


“Aku baru mau belanja hari ini ---“ elakku. “Kalo mau ingetin aku lupa biasa aja ga usah pake nyindir.”


“Oh sorry, aku ga ada maksud nyindir. Aku cuma bilang apa yang aku pikirin.” Ucap Reiji dengan santainya. "Nih, aku beliin kamu sarapan."


Aku tidak menyahut. Mulutku terkatup rapat walau untuk sekedar berterima kasih pada Reiji yang telah membelikanku sarapan, meski semalam kami bertengkar dan aku tidak membiarkannya masuk ke dalam kamar kami.


Aku hanya memperhatikan punggung Reiji yang orangnya kini sedang berjalan ke arah kamar kami itu. Tapi kemudian Reiji menghentikan sejenak langkahnya, lalu berdiri menyamping sambil ia memandang padaku. Lalu ia bicara.


“Sorry kalo kamu tersinggung sama ucapanku yang tadi.” Ucap Reiji. “Sekedar kamu tahu, kalo disindir tuh rasanya ga enak.”


Lalu Reiji kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar kami, setelah sebelumnya ia melempar senyum tipis selepas Reiji menyindir tentang sindiran yang mana aku bisa menangkap maksud ucapannya.


Sindiran yang sesekali aku layangkan pada Reiji soal dia dan Shirly. Yang mungkin dia berbicara begitu padaku, untuk menyampaikan perasaannya jika ada sindiran yang keluar dari mulutku tentang dia dan Shirly.


Iya benar, tidak enak disindir. Tapi tetap saja, sikap dan ucapan Reiji membuat mood ku anjlok.


Tapi mataku melirik pada bungkusan yang Reiji bilang ia belikan itu untuk sarapanku. Yang mana membuat aku bersyukur. Karena selain Reiji menyelamatkanku dari kelaparan-dimana seingatku aku tidak sampai menyempatkan untuk makan malam bersama Irsyad semalam, dan membuatku tidak harus memakan mi kemasan dalam cup pagi ini.


Dan yah, pagi ini aku rasakan perutku begitu keroncongan, karena setelah sampai di apartemen pun aku tidak juga mengisi perutku.


Aku seharusnya berterima kasih pada Reiji karena masih memikirkan untuk membelikan sarapan untukku, meski ia tahu kalau aku telah lalai membeli bahan makanan.


Tapi sindirannya membuat moodku jadi sedikit anjlok pagi ini. Yang mana seharusnya aku tidak marah jika Reiji melontarkan sindiran seperti itu padaku.


Karena rasanya sedikit banyak Reiji benar. Saat bersama Irsyad, aku seolah lupa segalanya, meski aku tidak bertindak kejauhan dari norma.

__ADS_1


Aku hanya merasa bahagia, dan bersama Irsyad aku menikmati kebahagiaan itu.


Dan yah, aku sampai tidak mengecek isi kulkas dan dapur, karena setiap kali aku dan Irsyad bertemu, kami akan menyempatkan makan terlebih dahulu.


Jadi aku tidak memperhatikan, jika hanya tertinggal mi instan dalam kemasan cup yang ada di kulkas, bahkan telur pun tidak ada.


Selain hanya makanan kecil saja yang jumlahnya juga tidak banyak berikut susu kotak yang juga hanya tinggal satu, dan teh celup yang hanya tinggal setengah kotak saja isinya.


Bahkan stok kopi Reiji pun juga kulihat tidak ada berikut kopi kemasan dengan satu brand yang aku stok. Kini kesal dan rasa bersalah kembali aku rasakan bersamaan pada Reiji. Mataku melirik lagi bungkusan yang ada di atas meja, setelah aku mengabaikan sejenak bungkusan yang berisi bubur ayam itu untuk mengecek isi dapur.


Dan aku putuskan untuk memakannya, karena perutku benar – benar terasa keroncongan. Tapi sebelum itu, aku akan menyeduh teh terlebih dahulu. Dan membuatkan secangkir juga untuk Reiji.


Biar bagaimanapun - meskipun aku sedang merasa jengkel pada Reiji akibat sindirannya tadi, aku – selain sebagai balasan terima kasih yang tidak aku ucapkan atas sarapan yang ia belikan untukku, setidaknya aku melakukan kewajibanku untuk menyiapkan kebutuhan Reiji, walaupun hanya secangkir teh hangat.


--


“Lebih baik kamu cepat sarapan—“ suara Reiji membuatku spontan menoleh ke arahnya. “Terlepas kamu sudah makan atau belum diluar semalam, yang jelas aku ga melihat kamu makan saat kamu sampai kesini.”


“Ya ----“ sahutku pelan. “Yang mana punya kamu?...” tanyaku kemudian, karena baru tersadar jika tidak hanya ada satu bungkusan saja, melainkan dua bungkusan, dimana yang satu adalah sebuah bungkus kertas makanan dari mini market plus yang ada di area gedung apartemen tempat kami tinggal.


Yang mana isinya sepertinya tidak hanya ada satu jenis makanan saja di dalamnya.


“Kamu pilih aja yang kamu mau.” Jawab Reiji datar.


Yang sepertinya hendak mandi, karena Reiji menjawabku tanpa bergeming dari tempatnya berdiri.


“Kamu ga sarapan sekalian?”


“Aku udah sarapan,” jawab Reiji.


“Nah terus makanan sebanyak ini?—“


“Emang perut aku gentong makan makanan sebanyak ini?---“ sahutku.


“Ya makan aja yang kamu suka, yang kamu mau.”


Sambil Reiji berjalan cuek menuju ke kamar mandi.


Aku terdiam, sampai Reiji masuk ke dalam kamar mandi.


Lalu aku melihat lagi makanan yang Reiji belikan untukku. Meskipun kami habis bertengkar, setidaknya apa dia tidak ingin menemaniku sarapan?.


Hah Lia, memang apa yang lo harapkan dari suami yang tahu kalau istrinya mendambakan laki-laki lain?.


**


“Bukannya jadwal terbang kamu nanti sore? ...” Malia sontak bertanya kala melihat Reiji yang beberapa saat yang lalu telah keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk sebatas pinggangnya lalu masuk ke kamar mereka, kini telah rapih dengan seragam pilotnya. Berikut Navy bag yang selalu Reiji bawa setiap kali ia bertugas.


Reiji hanya tersenyum tipis menanggapi Malia yang telah selesai sarapan dengan bubur ayam, sementara makanan lainnya Malia simpan di dalam kulkas.


“Makasih masih perhatiin jadwal kerja aku.”


“Kan kamu sendiri yang ngirim jadwal kerja kamu ke aku?”


“Iya. Makasih aja kalo kamu masih ada perhatiannya walau Cuma sama jam kerja aku, saat perhatian kamu sudah mulai tersita dengan yang lain.”


“Kamu lagi ngebales aku?” ucapku pada Reiji yang habis meletakkan navy bag berikut ponselnya di meja ruang tamu dekatku duduk - yang merasa kalau lagi – lagi Reiji sedang mencibir atau menyindir soal aku dan Irsyad.


**


Malia langsung saja menyembur Reiji dengan tudingan akibat ucapan suaminya itu yang terdengar bak cibiran ataupun sindiran pada dirinya.

__ADS_1


“Jadi hobi sekarang nyindir-nyindir aku?”


Malia berkata dengan sinis. Sementara Reiji tersenyum tipis.


“Ini teh buat aku bukan? –“ Reiji tak menanggapi tudingan Malia.


Dimana Reiji berada di meja makan sambil menunjuk secangkir teh di atasnya.


“Iya.” Jawab Malia singkat dan datar.


“Thanks ....”


Reiji mengucapkan terima kasih sambil mengangkat cangkir berisikan teh yang telah dibuatkan Malia untuknya, namun Malia tidak menyahut.


“Mau bilang lagi kalo aku masih ada perhatiannya walau cuma sama jam kerja kamu, saat perhatian aku sudah mulai tersita dengan yang lain?!” sinis Malia.


“Yang, Yang ....” sahut Reiji. “Aku kan udah bilang, aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan, selain kebenaran.” Ucap Reiji kemudian.


Malia pun mendengus sinis. “Kalo maksud ucapan kamu mau membahas hal yang ujung – ujungnya si Shirly itu, sorry aku ga minat ngebicarain dia—“


“Aku juga ga ada niatan untuk membahas dia kok.”


Reiji pun menyahut.


“Kamu terlalu skeptis ....”


Malia hendak menyahut pada Reiji, namun suara dering telepon ponsel Reiji membuat Malia mengurungkan niatnya untuk menanggapi Reiji yang mengatakan dirinya skeptis.


Reiji yang barusan mengatakan jika Malia skeptis, menyeruput santai tehnya. Sementara Malia spontan saja melirik ponsel Reiji yang sedang berdering itu dan memang berada didekat Malia.


Dimana si empunya nampak santai saja, meski ia mendengar ponselnya berdering.


‘Paling si Jill yang nelpon ngingetin gue untuk buru-buru dateng buat meeting sama owner.’ Batin Reiji.


Malas untuk buru-buru menerima panggilan, karena dia sendiri juga sudah rapih dan siap berangkat. Dan Reiji lebih memilih untuk menikmati teh buatan Malia yang sudah lama sepertinya tidak Reiji nikmati.


“Irly is calling!”


Malia berseru dengan sengaja setelah melihat nama pemanggil yang nampak di layar ponsel Reiji.


Reiji melirik Malia dengan santainya.


“Angkat aja ---“ sahut Reiji tetap nampak santai.


“Ogah banget!” Malia menyahut ketus. “Angkat sih? Berisik tau ga?!”


Malia kemudian berucap dengan ketus sekali lagi.


Reiji menghela nafasnya, lalu berjalan mendekati Malia dan meraih ponselnya.


“Mati.” Ucap Reiji setelah ia meraih ponselnya dan mendudukkan dirinya di samping Malia.


Malia kemudian membuang mukanya, dan meraih remot televisi, yang kemudian ia tekan salah satu tombolnya hingga televisi di ruang tamu dalam apartemennya dan Reiji menyala.


“Kamu yang setahu aku jadwal terbangnya sore terus sekarang tau-tau udah rapih, jangan-jangan kamu janji ketemuan sama dia makanya dia telpon kamu tuh?---“


“Kalo iya, kenapa?---“


*


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2