WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 80


__ADS_3

Selamat membaca....


***


“Kamu ke mobil aja duluan, Yang....” kata Reiji pada Malia, setelah roti-roti yang mereka pilih telah dihitung dalam mesin kasir oleh pegawai toko roti yang disambangi oleh Reiji dan Malia itu. Malia mengangguk.


Malia pun lalu berjalan meninggalkan Reiji dengan membawa dua plastik berisikan masing-masing satu dus yang terisi roti-roti sebagai buah tangan untuk orang tua Reiji dan Malia.


Malia telah masuk ke dalam mobil Reiji terlebih dahulu, dan langsung memasang sabuk pengaman setelah meletakkan plastik berisikan dus roti di dalamnya pada kursi penumpang belakang. Mata Malia tertuju ke kaca mobil di depannya, sembari menunggu Reiji keluar dari dalam toko roti yang mereka sambangi itu.


Mata Malia kemudian memicing, dengan tubuhnya yang ia sedikit majukan untuk memastikan penglihatannya, saat Reiji keluar dari dalam toko. Dimana Reiji nampak bertabrakan pelan dengan seorang pria, lalu Reiji dan pria tersebut sama-sama terlihat saling meminta maaf.


‘Ga mungkin!’


Malia berseru dalam hatinya.


‘Irsyad?!’ Sebuah nama Malia ucapkan di hatinya, dengan mata yang masih fokus melihat ke arah pada toko roti di depannya tersebut.


Malia kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat.


‘Ga mungkin kalau itu Irsyad! Dia di London demi mimpinya! Ga mungkin dia kembali kesini!’ batin Malia.


Seketika Malia merasa gelisah.


**


MALIA


Mungkin aku yang salah karena tidak pernah bertanya lebih jauh tentang masa lalu Reiji.


Aku hanya berporos pada perasaanku yang tidak mencintai Reiji, hingga keingin tahuan tentang perempuan-perempuan di masa lalu dalam hidup Reiji tidak ingin aku korek lebih dalam.


Hingga fakta mengenai Shirly aku temukan, dimana perasaan Reiji terlibat di dalamnya.


Dimana hal itu, entah mengapa mengusikku.


Namun Reiji telah menekankan jika perasaannya pada Shirly adalah masa lalu.


Dan aku yang terlalu curiga, karena foto-foto yang aku temukan perihal kedekatan Reiji dan Shirly, membuatku berpikir jika Reiji masih menyimpan rasa pada sahabat perempuannya itu.


Karena foto-foto yang seolah adalah kenangan masa lalu yang indah itu berat Reiji lepaskan, hingga ia sampai membawanya ke tempat dimana seharusnya hanya ada cerita tentang aku dan Reiji saja, tanpa melibatkan masa lalu kami masing-masing, dengan orang yang pernah tinggal dalam hati kami.


Tapi saat Reiji berkata dengan tegas, bahwa cintanya pada Shirly telah mati, aku memilih untuk percaya. Bukankah memang sudah seharusnya aku mempercayai suamiku?. Meski, masih ada ganjalan di hatiku perihal perasaan Reiji pada sahabat perempuannya itu. Sahabat perempuan yang memanggil Reiji dengan sebutan ‘My man’.


Otakku masih memikirkan Reiji dan masa lalunya dengan Shirly. Apa yang pernah Reiji rasakan pada sahabat perempuannya itu. Bagaimana ia akan melangkah bersamaku, jika kakinya masih terjerat masa lalu?. Masa lalu yang Reiji bawa dalam foto yang pastinya ada back-story kenangan atasnya. Yang mana sedikit terkadang membuatku emosi jika memikirkannya.


Ah sudahlah....


Apa yang ada di dalam hati Reiji, hanya dia sendiri dan Tuhan yang tahu.


Sebagaimana apa yang ada dalam hatiku juga sebenarnya.


Tapi soal Reiji dan masa lalunya bersama sahabat perempuannya itu, tentang apa yang pernah Reiji rasa padanya, lebih baik tidak perlu aku pikirkan lagi.


Toh Reiji mengatakan jika saat ini dia telah mencintaiku. Dan aku memilih untuk mempercayai hal itu. Dan rasanya itu yang memang harus aku lakukan. Mempercayai Reiji.


Dimana aku juga seharusnya mempercayai, bahwa masa laluku dan perasaanku pada seseorang dimasa itu sudah tidak penting lagi.


Gerbang masa laluku itu sudah seharusnya aku tutup rapat-rapat sejak aku menikah dengan Reiji.


Aku harus melupakannya. Harus yakin bisa melupakannya. Menutup segala harapan akan cinta masa laluku.


Aku sudah berjanji untuk membuka pintu hatiku sangat lebar pada Reiji. Aku sudah menyayanginya sekarang.


Pasti kelak aku akan bisa mencintai Reiji.


Ya, aku harus meyakini hal itu, sebagaimana Reiji yang katanya telah benar dan sungguh mencintaiku.


Bahwa cinta Reiji pada sahabat perempuannya itu telah mati, dan kini hanya ada cinta di hatinya untukku.


Mungkin waktu yang akan membuktikannya. Menunjukkan padaku kesungguhan kata-kata Reiji yang katanya kini hanya mencintaiku.


Aku rasa, aku hanya perlu menunggu. Menunggu mendapatkan pembuktian atas Reiji yang mencintaiku, dan menunggu waktu datang untukku mencintainya.


Juga menunggu agar masa laluku sendiri tidak lagi membayangiku. Karena masa lalu rasanya memang tidak perlu dibawa dalam hidupku yang baru ini. Dan aku akan mulai melepaskan, segala sesuatu tentang Irsyad.


Karena memang sudah sepatutnya seperti itu.


Perlahan, akan aku buat diriku melupakannya.


Melupakan Irsyad dan segala tentangnya.


Mimpiku untuk bersama Irsyad, yang bahkan saat dia dekatpun, kami tidak pernah menjalin hubungan yang spesial.


Hanya dekat, akrab, saling membagi perhatian.


Hal-hal yang membuat rasa dan asa dihatiku tumbuh untuk seorang Irsyad, yang sudah seharusnya aku lupakan, dengan kebulatan tekad.


Tapi....


Apa yang tadinya sedang aku mantapkan dalam hati, seolah menguar begitu saja memecah konsentrasi.


Saat mataku menangkap sosok yang amat sangat mirip dengan Irsyad.


Tidak, itu tidak mungkin Irsyad!. Irsyad sudah nyaman tinggal di London dengan pekerjaan pada perusahaan impiannya.


Impian yang mengalahkanku, hingga Irsyad bahkan tak punya waktu untuk sekedar menyapaku lewat e-mail. Jadi tidak mungkin.


Tidak mungkin kalau laki-laki yang sempat bertabrakan dengan Reiji di depan pintu toko yang tadi kami sambangi itu adalah Irsyad. Yang kemudian masuk ke dalam toko roti yang sama, setelah saling mengucap maaf dengan Reiji.


Namun aku, rasanya ingin melepaskan sabuk pengaman yang telah mengait tubuhku, lalu turun dari mobil dan masuk kembali ke dalam toko roti untuk memastikan dugaanku. Mungkin akan aku lakukan, jika aku tidak sedang bersama Reiji.


Oh Tuhan, aku gelisah.


Benarkah itu Irsyad?.


Jikapun itu benar adalah Irsyad, lalu?....

__ADS_1


Aku tak mampu menjawab pertanyaanku sendiri saat ini.


Jikapun itu Irsyad, tidak mungkin tahu-tahu dia kesini untuk menemuiku setelah sekian lama bukan?.


Huh, rasanya tidak mungkin.


Tapi kenapa aku berharap akan itu?.


**


Dari hari dimana aku melihat sosok laki-laki yang amat sangat mirip dengan Irsyad, sejak itu hatiku yang tadinya sudah aku mantapkan untuk melupakan segala hal tentangnya, seolah tersangkut, tak jadi terbang.


Mungkin lebih tepatnya, aku yang menahannya terbang. Harapan tentang Irsyad yang ingin aku hilangkan, jadi tetap berada di tempatnya. Begitu labilnya aku.


Aku seharusnya sudah tidak mengharapkan Irsyad lagi. Sudah sepantasnya begitu bukan?. Mengingat jika aku menyandang status sebagai seorang istri sekarang.


Tapi dengan melihat sosok yang mirip Irsyad itu, gelombang-gelombang masa laluku menghempasku lagi. Merasakan kembali getar cinta yang dulu pernah aku rasa pada laki-laki itu, sebelum aku coba untuk aku kuburkan.


*


‘Ya Tuhan, kenapa gue jadi terus-terusan mikirin Irsyad sih??!!’


Malia sedang merutuk dalam hatinya.


Disamping Malia, ada Reiji yang sedang mengemudikan mobil dan hendak mengantar Malia ke gedung perkantoran tempat Malia bekerja.


“Eh?!” Malia terkesiap. Saat merasakan belaian lembut di pucuk kepalanya.


Reiji tersenyum disampingnya. “Mikirin apa sih?”


Reiji yang sudah memiringkan tubuhnya dan tak lagi fokus pada kemudi itu, kemudian bertanya pada Malia.


Malia menarik sudut bibirnya. Tersenyum pada Reiji. “Ga mikirin apa-apa.”


Malia menjawab dengan ekspresi yang ia buat normal saja pada Reiji.


“Ada masalah lagi di kantor? ..” tanya Reiji lagi.


Malia menggeleng. “Engga kok,” jawab Malia. “Kerjaan aku oke aja ..”


“Tapi seperti ada yang sedang mengganggu pikiran kamu, Yang.”


“Perasaan kamu aja itu sih, Rei..” sahut Malia. “Aku biasa-biasa aja perasaan.” sambungnya.


Reiji berdehem pelan.


“Aku turun ya?” kata Malia yang telah menyadari jika mobil yang dikemudikan Reiji telah berada di parkiran basement gedung perkantoran tempatnya bekerja.


Malia mengkode untuk menyalim tangan Reiji.


Reiji pun segera menyodorkan tangan kanannya pada Malia.


“Assalamu’alaikum..”


Malia mengucapkan salam setelah mencium takdzim punggung tangan Reiji.


Malia pun urung membuka pintu mobil yang berada disisi kirinya itu. “Apa?..” tanya Malia. “Cium?..” sambung Malia dan Reiji tersenyum geli.


Cup!.


Satu kecupan di bibir Reiji, Malia layangkan sebelum Reiji bersuara untuk menanggapi ucapan Malia barusan.


Reiji pun tersenyum teduh setelah mendapatkan satu kecupan dari Malia di bibirnya itu.


“Makasih,” ucap Reiji setelahnya. Dan Malia menanggapi ucapan terima kasih Reiji dengan anggukkan kepala yang disertai senyuman.


“Ya udah aku turun sekarang ya?” pamit Malia.


“Buru-buru ya?”


Reiji bertanya.


Malia pun menggeleng.


“Kenapa?.. Minta nambah ciumnya?..” celoteh Malia.


Reiji terkekeh. “Nanti aja bonus ciumannya, pas aku balik dari Monaco aku tagih..”


Malia mendengus geli.


“Jadi kenapa?..” tanya Malia. Ia menjeda dirinya untuk keluar dari mobil.


Perjalanan dari apartemennya dan Reiji tidak terlalu macet tadi, jadi Malia punya cukup waktu luang sekarang, sebelum jam masuk kantor tiba.


“Beneran lagi ga ada yang kamu pikirin, Yang?” Reiji memastikan.


Malia menganggukkan kepalanya beberapa kali.


“Bener Reii..” sahut Malia.


Reiji menarik sudut bibirnya.


“Aku perhatikan, dari sejak kita kembali dari rumah mama dan papa, kamu banyak bengong soalnya.”


“Perasaan kamu aja Rei..”


“Humm..”


“Aku oke kok, Rei..”


“Syukurlah kalau memang kamu ga lagi kenapa-kenapa, Yang.”


Reiji kembali mengusap puncak kepala Malia, dimana si empunya kepala menampakkan senyumnya.


“Aku hanya khawatir, kalau kamu masih menyimpan ganjalan soal..” Reiji menggantungkan kalimatnya. “Masa lalu aku..”


“Kita ga usah bahas itu ya?”

__ADS_1


“.....”


“Yang jelas aku lagi ga mikirin hal itu juga kok..” Malia menampik dugaan Reiji soal hal yang sedang mengganggu pikirannya.


“Beneran?”


“Bener.”


Malia menyahut pasti.


“Syukur kalo begitu..”


Ada sedikit kelegaan dalam hati Reiji.


Setidaknya Reiji dapat menangkap jika Malia jujur soal masa lalunya yang sempat memicu pertengkaran kecil dengan Malia beberapa hari yang lalu.


“Aku kan udah ga jutek lagi sama kamu, Rei..” ucap Malia dan Reiji kembali tersenyum. “Ga nolak di iya-iya-in juga kan?..” sambungnya dan senyuman Reiji berubah menjadi kekehan.


“Iya juga sih. Udah pasang mode pasrah kalo udah dig***in.”


“Ih! Rese!” Malia mencebik.


Reiji tersenyum geli dan memencet gemas hidung Malia.


Setelahnya Malia keluar dari mobil setelah berpamitan lagi pada Reiji.


Reiji menampakkan senyuman sampai Malia menutup pintu mobil, lalu melambaikan tangan pada Reiji yang membuka kaca jendela di sisi pintu tempat Malia duduk tadi.


Lalu Reiji menutup kembali kaca jendela mobil yang terbuka tadi, setelah Malia berbalik untuk berjalan menuju lift yang ada di area parkir basement tersebut dan menjalankan mobilnya kembali menuju Bandara.


Disaat yang sama, Reiji berucap dalam hatinya.


‘Jika bukan soal aku dan perasaanku di masa lalu pada Irly, lalu apa yang sedang mengganggu pikiran kamu, Yang?’


Meskipun Malia mengatakan pada Reiji jika ia baik-baik saja, namun Reiji merasakan jika ada yang sedikit berbeda dengan sikap Malia.


‘Seperti ada hal yang sedang Lia tutupi?’


Reiji membatin.


‘Tapi apa?’


*


“Lo mau langsung balik apa ada rencana mau kemana dulu?..” Itu Malia yang bersuara untuk bertanya pada salah seorang teman disatu divisinya, saat waktu bekerja mereka sudah hampir selesai dan tidak ada satupun dari mereka yang harus lembur hari ini.


“Langsung balik gue kayaknya beibs. Laki gue jemput nih hari,” sahut teman satu divisi yang mejanya tepat berada disamping Malia itu.


Rekan perempuan yang cukup dikatakan dekat dengan Malia dalam satu divisinya.


“Hm,” Malia menggumam pelan sambil manggut-manggut singkat. “Yauds kalo gitu.”


“Laki lo lagi terbang ya?” tanya rekan kerja Malia tersebut.


“Iya..” jawab Malia.


“Pantes lo ngajak jalan.”


Malia nyengir kuda. “Daripada gue gabut sendirian di apartemen.” Malia berucap kemudian.


Lalu Malia dan rekan kerja perempuan yang cukup dekat dengannya di kantor itu, sedikit mengobrol ngalor ngidul sampai jam kerja mereka berakhir.


Malia sudah bersiap untuk segera meninggalkan kubikel kerjanya yang telah ia rapihkan itu dan hendak melangkah untuk keluar dari lantai tempat divisinya berada menuju lift.


Namun langkah Malia terjeda, karena ia mendengar ponselnya yang berada di dalam tas itu berdering sekaligus bergetar.


“Kebetulan!” Malia berseru dalam gumaman saat melihat nama pemanggil di layar ponselnya.


*


MALIA


Sudut bibirku otomatis tertarik ke atas, saat kulihat nama Avi Bestih yang terpampang di layar ponselku kala aku mengeluarkan ponselku dari dalam tas.


Macam paham aja nih anak kalo sahabatnya lagi gabut. Kebetulan Avi sedang ada di Jakarta, jadi kupikir aku akan janjian buat nongkrong cantik dengannya sore ini.


Banyak hal yang ingin aku ceritakan pada Avi sebenarnya.


Dari sejak aku melihat sosok laki-laki yang mirip dengan Irsyad hari itu.


Avi sih tahu tentang Irsyad jaman kami kuliah dulu, namun Avi tidak pernah bertemu dengan Irsyad.


Tidak pernah ada kesempatan untuk itu.


Karena Irsyad memang tipe-tipe cowok rumahan, yang susah buat diajak hang out, kecuali pas kami sedang ada jadwal kuliah dihari yang sama.


Itupun hanya sekedar jalan untuk hangout sebentar, nonton dan makan.


Banyaknya malah menghabiskan waktu di perpustakaan kampus, karena Irsyad memang sangat serius untuk mengejar cita-citanya.


Terlalu serius, hingga kurasa ia tak peka dengan perasaanku padanya.


Perasaan yang sudah ingin ku kubur, seharusnya sudah. Namun nyatanya kembali menggeliat, karena kulihat sosok yang mirip dengan Irsyad beberapa hari yang lalu.


Dulu aku membagi segalanya pada Avi. Tentang perasaanku pada Irsyad pun, sedikit banyak Avi tahu. Dulu. Dimana yang Avi tahu sekarang, jika aku telah menguburkan perasaan itu, sejak aku menikah dengan abangnya.


Dan sekarang ini, sebenarnya aku ingin curhat panjang lebar pada Avi.


Tentang masalah rumah tanggaku dan abangnya yang masih mengganjal dihatiku, yang memicu rasa pada masa laluku sendiri.


Tapi apa pantas jika sekarang aku curhat pada Avi?.. yang mana kini dia bukan hanya seorang sahabat, tapi adik iparku sendiri.


Terlebih lagi, kini aku kembali terganggu dengan bayangan seorang Irsyad.


*


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih masih setia baca sampai sini, dan maafkan jika typo masih bertebaran.


__ADS_2